
Tapi ini kesempatan Rara memberi pelajaran buat Ibu mertuanya, kalau Ibu mertuanya benar-benar sudah berubah seperti yang di katakan Bastian, ia akan berani datang, karena itu demi anaknya Bastian dan demi cucunya.
Saat Ibumu datang ia harus meminta maaf dulu pada keluargaku, baru bisa aku maafkan, kalau tidak, aku juga tidak akan datang kerumah ini kata Rara dalam hati,meninggalkan Bastian yang masih menatapnya dengan tatapan sedih.
“Aku harus pergi ,iya. kata menenteng tasnya meninggalkan Bastian yang masih melihatnya,
Padahal Bastian hanya ingin menawarkan tumpangan, kerena ia juga mau ke Bandara.
Rara bisa lihat ada rasa khawatir diwajahnya, ia takut Rara tidak akan kembali, tapi karena ia merasa bersalah maka itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sukma sudah menunggu Rara di bawah, saat ia turun Rara menoleh keatas. Bastian berdiri di balkon masih melihatnya sampai ia masuk ke dalam mobil. Mobil hitam milik Sukma meninggalkan komplek perumahan mewah itu.
“Bagiamana? berapa Ronde?” tanya Sukma langsung padaa intinya. Wajah Rara terlihat merah bak udang rebus,
“Loe kayak dukun, dari mana loe tau, jangan-jangan kamu ngikutin kita iya?,” kata Rara memegang wajahnya yang terasa panas karena malu.
“Ra, umur kita boleh sama, tapi pengalaman soal menjalani rumah tangga gue yang pertama,” kata Rara.
“Benar, benar loe emang pengalaman dalam soal itu,”
“Ra, harusnya loe, saat hamil itu butuh Bastian, karena loe pasti menginginkan lebih banyak hubungan suami istri dari biasanya, bukan karena kegatelan atau ganjen, tapi emang karena faktor hormon dan kadang pembawaan orok.” Sukma menatapnya.
“Aku tau, aku juga sering merasa seperti itu,Mey, tapi masalahnya saat ini, kita harus seperti itu ini dulu, aku tidak ingin memaafkan nenek lampir itu dengan mudah, aku suka dengan Bastian, Tapi aku benci bangat sama wanita penyihir itu, biar dia ibunya suamiku tapi entah lah.. Mey, gue benci bangat sama Ibu mertuaku, sampai-sampai aku merasa mual bila ingat wajahnya, aneh, mungkin bawaan orok juga,” kata Rara, tangannya mengusap perutnya.
“Jangan membenci mertua loe kayak begitu, Ra, yang ada anak loe, ntar, mirip ibu mertua loe.” Sukma tertawa terkekeh
“Ogah, amit-amit jabang bayi,” kata Rara mengusap-usap perutnya.
Sukma tertawa lepas melihat reaksi Rara yang tidak terima kalau anaknya akan mirip Ibu mertuanya. Ibu mertua yang ia panggil nenek lampir.
“Tapi benar iya Ra, kenape gue bilang begitu, anak gue si bagas mirip adikku,kan! tapi tau gak waktu gue hamil dia, gue benci bangat ama adik gue, Ra, sangat benci. Sampai-sampai air satu teko gue siram ke kepalanya saking bencinya sama dia dulu, minta duit mulu sama emak, di suruh apa-apa kagak mau ngerjain, itu yang buat gue berantem dulu, terus ne, iya, dia nyumpahin anak dalam perut gue mirip die ..eh beneran, Ra, bagas kata orang mirip adik gue yang bontot.”
Sukma dan Rara tertawa bersama, mendengar cerita-cerita dari sukma memang sering bikin Rara tertawa, bisa sampai sakit perut.
Tidak terasa mobil sukma tiba di bandara Inter nasional Soekarno Hatta.Tangerang.
Sukma memarkirkannya mobilnya tidak jauh dari terminal 3. Terminal penurunan Internasional
Rara berdiri di pintu keluar menunggu Sukma yang memarkirkan mobilnya,
Rara berdiri, matanya terfokus pada layar ponselnya, ia memantau perusahaan yang ia pimpin dan menanyakan skedulnya hari ini.
“Hai.”
__ADS_1
Ia menoleh dari asal suara, mata bulat itu mendadak melotot terkejut.
“Ridho,” katanya merasa tidak enak, karena terakhir ia bertemu di taman beberapa bulan lalu
Saat ia membobol semua informasi dari lelaki berbadan tegap itu. Rara merasa gugup , tapi bukan karena, ia mantannya. Tapi karena ada rasa bersalah karena ia memanfaatkan lelaki itu
“Lagi ngapain Ra?,” ia bertanya tapi matanya melihat gundukan perut Rara dengan senyuman manis. Karena senyuman manis itu Rara mendadak salting.
“Gu-gue,” Rara tiba-tiba gagap,
Ridho tersenyum melihat Rara kagok, Rara juga menutupi perutnya, menarik cardingan yang ia pakai, ia mendadak merasa tidak pede,
Ya, ampun ini cowok ngapain jadi mendadak jadi manis bangat sih, kata Rara dalam hatinya.
“Kok, loe takut gitu Ra, emang gue mau makan loe, eeis.. Bastian sudah tanam saham rupanya,” katanya lagi, membuat wajah Rara mendadak merah padam.
Kok gue merasa malu gitu sih, memangnya gue bunting karena kecelakaan apa? kan aku punya suami kata Rara dalam hatinya.
“Siapa yang takut?” Rara mencoba bersikap bersikap normal.
“Sama siapa, Tian?”
“Kagak, gue ama Mey” Rara menunjuk Sukma yang kebetulan datang.
“Aku baru pulang tapi dari LA. Bastian mau jemput” kata Ridho.
Ha? Tian mau kesini? Kok tadi gak ngomong kata Rara dalam hatinya.
“Kami mau pergi duluan, iya, ada janji,” kata Sukma menarik tangan Rara sedikit menyeret
Sukma menyeret Rara agak jauh mata cipit sukma menatap Rara dengan tatapan tajam.
“Loe ngapain curi-curi mata melihatnya, haa?” Tanya sukma menginterogasi. Rara.
“Emang iya,Iya?.” kata Rara mengusap pipi
“Loe masih suka? Sadar Ra, sadar lihat itu! loe sudah bawa drumband ,” Kata Sukma. Menunjuk perut Rara
“Soalnya ia ganteng bangat sih,” kata dengan wajah berseri-seri bagai tomat ceri.
“Loe, gila apa Ra! Ia mantan loe, loe cari masalah apa sama Bastian?.” Sukma hampir berteriak di kuping Rara.
“Ini bawaan orok ,Mey gue gak bisa lihat orang ganteng sekarang ini bawaannya ingin peluk” kata Rara, matanya masih jeleletan.
__ADS_1
Sembari nunggu pesawat keluarganya. Rara menunggu di salah satu restoran cepat saji.
Mata Rara masih jejeleletan
“Ra, loe jangan buat alasan karena ngidam, mana ada ngidam yang tempan tampan tampan memang Bastian kurang tampan apa?”
“Kalau Bastian ma sangat tampan, tapi mataku masih belum puas, jangan marah dong..’ namanya orang ngidam,” kata Rara.
“Kamu, sudah tau Bastian orang cemburuan masih saja mata kamu jeleletan yang ada nanti kamu di pelolotin kayak kemarin lagi,” kata Sukma mengingatkan
Tapi Rara masih saja ganjen,
“Mey, lihat cowok yang sebelah sana. ya ampun tampan bangat” Rara menunjuk lelaki yang duduk sendirian di pojok Restoran
“Ra, hei sadarkan matamu ,nanti Bastian ada di sini ,”kata Sukma.
“Tapi dia tidak ada, ia sudah pulang paling sama Ridho,” kata Rara menatap kesamping, dagunya di panggung tangannya
“Ra..! Panggil Sukma, karena tiba-tiba Bastian dan Ridho berdiri di depan meja mereka, mengawasi kelakuan Rara.
Bastian dan Ridho saling menatap, melihat kelakuan Rara
“Ra..!” Panggil Sukma mengingatkan Rara tapi ia belum sadar.
Wah bisa bencana ini kata Sukma dalam hati.
“Mey, menurut loe lelaki tampan yang duduk di sana sudah punya istri apa belum?” Tanya Rara masih dengan gayanya, dagunya di letakkan di tangannya dan sikutnya berpangku di atas Meja.
“Ra..!” Panggil Sukma
“Apa yang ia pikirkan mey..’ Hamm kasihan!” Kata Rara.
Kedua lelaki itu masih diam melihat kelakuannya , bahkan kedua lelaki itu ikut melihat siapa yang di maksud Rara.
“Ra..!
Pak
“Waooh” Rara menjerit memegang kepalanya.
Sukma terpaksa mengetok kepala bumil itu dengan sendok.
Dan melihat kedua lelaki itu, yang satu senyum-senyum manis yang satunya marah seolah keluar api dari kupingnya.Bastian terlihat sangat marah.
__ADS_1
Bersambung