Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Buaya darat tiba-tiba Jinak


__ADS_3

“Apa kakak tidak pernah merasa takut?” Aisah menatap mpoknya tidak ada raut wajah panik ataupun takut. Ia tidak panggil Mpok lagi saat Rara menikah dengan Bastian Rara juga mulai merubah bahasa lu gue walau belum sepenuhnya apalagi sama Sukma.


“Takut sih, tapi aku tidak menunjukkannya padamu jika aku menunjukkan rasa takutku di depanmu aku yakin kamu pasti tambah takut, kan?"


“Tapi Aisah tau,  kalau kakak marah, tidak akan mengenal rasa takut.”


Rara hanya diam menangapi komentar adiknya, ia dan Aisah terpaksa harus menjalani malam yang panjang, Ia membawa Kenzo kembali ke hotel.


Sepertinya lelaki itu belum menyadari kalau Rara memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan ayahnya.


Ia tidak tau Rara telah mengancam Ayahnya.


“Mari kita urus satu-satu dulu, berikan dulu ia obat tidur, sementara aku tidak ingin  ia bangun menambah sakit kepalaku,” ujar Rara setelah ia  membawa Kenzo ke hotel


Ia tidak ingin nanti salah paham karena ini, dengan Bastian, karena ia tau suaminya lelaki tukang cemburu apalagi yang mendekatinya Kenzo.


Memberitahukannya lebih awal hal yang tepat. Ia tidak ingin masalah semakin bertambah berderet-deret nantinya.


Lelaki itu sudah tepar di  kasur, sejahat apapun ia Aisah tetap saja membersihkan  darah dari wajahnya dan mengobati luka di bibirnya


Walau hatinya sebenarnya sangat membenci lelaki playboy seperti Kenzo,  tapi sebagai perawat ia mengobati lukanya dan memperlakukannya seperti pasien.


Rara merasa kasihan pada adiknya, ia terpaksa kehilangan pekerjaannya dan kehilangan tunangan karena ulah mertuanya.


Melihat itu ia kembali bersemangat ingin melawan Ibu mertuanya yang seperti nenek lampir itu.


Disalah satu Hotel di Jakarta Utara, tempat ayah mertuanya berada ia akhirnya membawa kenzo kesitu juga.


Sudah pagi


3:00 WIB


Bahkan matanya tidak merasa ngantuk, ia menelepon Bastian.


“Halo, sayang, ada apa suaranya terdengar berat


“Aku membangunkan mu untuk sahur,” Kata Rara memulai obrolan.


“Oh, ini sudah waktunya sahur, iyah.”


“Iya waktu sahur.  Sayang!” Rara menarik nafas lembut  “ tadi Kenzo datang kerumah babeh dengan keadaan mabuk.”   Ia mengirim video Kenzo yang mabuk yang ia rekam sebagai bukti ia mengirim ke Bastian agar suaminya tidak curiga.


“Kurang ajar ni orang!  dasar penghianat,” terdengar Bastian emosi di ujung telepon.

__ADS_1


“Gini, aku memberitahumu bukan untuk membuatmu jadi marah, apalagi jadi jealous. Tapi tidak ingin nanti kita ada salah paham, karena memang itu tujuan mereka membuat bertengkar dan berpisah,” kata Rara menjelaskan.


“Baiklah, besok aku pulang.” Kata Bastian  kemudian masih terdengar marah.


“Jangan!  selesaikan dulu pekerjaanmu disitu serahkan padaku yang ini.”


Rara menjelaskan rencana pada Bastian  awalnya suami tampannya tidak mau Rara melakukanya rencananya,  tapi karena ia bilang ada Aisah dan Mario bersamanya , ia akhirnya ia setuju.


“Aku mulai muak berada di sini, mereka semua tidak ada yang mengakui ku, mereka menganggap ku seperti anak kemari sore, Kata Bastian akhirnya berterus-terang pada Rara,  itu hari kelima ia berada di Bali


Tadinya Bastian menutupinya pada Rara karena ia malu pada istrinya. Tapi Rara sudah tau semuanya .Ia hanya ingin Bastian menjadi lelaki yang tangguh  walau sangat berat , tapi ia ingin suaminya menyelesaikan masalah itu sendiri.


“Bertahanlah sayang, aku percaya padamu, disini juga kami berusaha mengurus hal lainya.” Rara menyakinkan Bastian . Ia tau suaminya kesulitan mendapatkan dukungan dari para anggota dewan itu, karena Bastian tidak tau,  karena  Ibunya yang menyogok para anggota dewan itu agar tidak mendukung Putranya. Karena memihak pada  suaminya


“Aku, bukanya tidak mau,  tapi disini saya hanya buang-buang waktu,” kata Bastian .


“Baiklah bertahanlah satu hari lagi,” kata rara menahan Bastian, walau ia tau Bastian tidak akan berhasil . Karena Nyonya besar yang menyogok mereka.


“Baiklah, saya akan mencoba berusaha sekali lagi,” kata Bastian kurang semangat.


“Oh , begini saja,  saya ganti tujuan kamu kesana,  biar ada manfaatnya, ini memang  tidak pantas pekerjaan ini diberikan padamu. Tapi begini Sayang, apapun yang akan kusuruh nanti jangan berkecil hati, tapi bisa jadi pekerjaan ini,  akan sangat bermanfaat untuk kita ke depannya.” Kata Rara terlihat serius.          “ Aku ingin kamu mendata siapa saja yang datang dalam pertemuan itu,  karena persetujuannya dari  kantor hanya  50 orang  dan hanya 2 hari.


Tapi semuanya  berubah,  waktu pelaksanaanya ngaret menjadi 1 minggu  dan orang yang di laporkan ke kantor lebih dari lima puluh orang, kamu bisa bayangkan Sayang, perusahaan membiayai mereka.


Harusnya pekerja yang di bawah itu juga harus dapat upah yang layak. Tapi mereka yang diatas hanya duduk senang-senang di gaji  lebih tinggi, itu tidak adil sayang, aku ingin kamu mendata mereka semua, siapa-siapa yang ikut apakah mereka membawa kelurganya dan  apa  saja hasil dari rapat itu, apakah menghasilkan.”  Kata Rara berpikir kritis layaknya seorang pemilik Perusaan.


“Baiklah sayang,  saya juga merasakan hal yang sama.”  kata Bastian menyetujui idenya istrinya.


Bastian tidak lagi  ingin mendapat  dukungan,  tapi malah menyelidiki mereka semua seperti yang di sarankan Rara.


Itu ide dari Rara sendiri, itu untuk salah satu alat untuk menyingkirkan  orang-orang di belakang Ibu mertuanya. Mereka yang hanya duduk tanpa melakukan apa-apa,  tapi Rara tau bagaimana sulit orang-orang yang bekerja di bawah tapi tidak dapat gaji yang layak ia punya ide ingin merombak, karena ayah mertuanya mempercayai semuanya padanya.


Biar sudah di percayai Ayah mertuanya ia tetap selalu minta saran dan pendapat dari Mertuanya, ia tidak mau bertindak melampaui batas kewenangannya.


Hingga pagi tiba, Kenzo akhirnya bangun dengan wajah tampak panik,  karena ia bingung tiba-tiba berada dalam kamar  Hotel bersama Rara.


“Kamu sudah bagun?.” Tanya Rara baru keluar dari kamar mandi,


“Apa yang terjadi?” Kenzo terlihat panik melihat Rara keluar dari kamar mandi.


“Kamu ingin aku kesini dengan kamu, jadi kita kesini,” kata Rara terlihat tenang


“Terus, apa yang terjadi!?” wajahnya terlihat bingung.

__ADS_1


“Seperti yang kamu inginkan.”  Kata Rara memberikan foto-foto  yang dinginkan lelaki itu. “Kamu ingin mobil yang di tawarkan Viona, ini aku bantu kamu mendapatkannya, ini berikan pada Viona dan minta mobilnya, aku akan membantu kamu mendapatkannya,  habis itu jangan menggangguku lagi dan Bastian. Kata Rara duduk di pinggir ranjang itu menatap tajam pada lelaki berbadan atletis itu.


“Dengar Bung,  gue bukan wanita gampang loe tidurin,  seperti wanita  diluar sana,”  kata Rara masih menatap  tajam ke dalam mata lelaki itu, sampai lelaki itu tidak bisa berkutik karena keberaniannya.  


“Saat loe baru lahir gue sudah sudah bermain lari-larian, dan sudah main cinta-cinta monyet , artinya umur gue sudah jauh diatas loe, jadi berhenti menggangu atau ingin mendekatiku, gue sudah punya suami yang amat gue cintai.


Kalau gue mau  tadi malam saat loe datang kerumah orang tua gue, bisa saja gue  matiin loe atau  gue teriakin maling, tapi gue ingin berakhir baik dan ngomong baik-baik.”


“Loe ngancam gue?  Kenzo balik menantang.


“Tidak!  tapi gue mau bilang berhenti menggangu, karena gue sangat kasar bila sudah marah,”  kata Rara terlihat menakutkan, loe masih terlalu kecil untuk bertarung denganku,  gue punya pekerjaan yang lain.”


“Loe , pikir gue takut?” kata Rara tidak mau kalah.


“Loe akan takut,  jika loe sudah mengenalku nanti kata Rara.  “ Loe hanya pengen mobil yang di tawarkan viona ,kan?  Loe  tidak perlu kerja keras,  gue bantu loe mendapatkannya , ambil itu amplopnya berikan pada Viona dan minta mobilnya,”  kita impas kata Rara.


Tiba-tiba Aisah datang,


“Bagaimana keadaan bapak sudah sehat?,” tanya aisah dengan sangat ramah.


“Siapa kamu?” tanya Kenzo menatap heran gadis cantik itu.


“Ia adikku, ia yang tadi malam merawatmu, ia seorang perawat, kalau ia tidak mengurus mu mungkin kamu sudah mati,  karena loe minum terlalu banyak hingga loe pingsan,”  kata Rara.


Wajah kenzo memerah, tapi matanya tidak bisa berpaling dari Aisah,


“Apa kamu yang mengganti pakaianku?.” Ia bertanya, wajahnya semakin memerah menyadari wanita cantik itu mengganti pakainya.


“Iya, kamu muntah sepanjang malam, aku harus menggantinya,  agar kamu tidak masuk angin, tidak usah malu, aku sudah biasa melakukannya,  karena aku seorang perawat,”  kata Aisah dengan sopan dan lembut, tangannya membetulkan kerudungnya,  dengan senyum selalu terpancar dari bibir kecilnya.


Siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh  hati.


Kenzo sepertinya terpesona dengan  Aisah , gadis cantik berkerudung,  itu membuat Kenzo si buaya darat tidak berkedip.


“Apa kamu  mengerti?.” Bentak Rara  mengagetkannya.


“Baiklah, aku mengerti,”  tiba- tiba menurut, tapi matanya tidak pernah lepas dari Aisah. Tapi wanita berkerudung itu bukan tipe yang gampang tergoda dengan rayuan lelaki. Sifat mirip  Rara tidak gampang tergoda pada lelaki. Ia bersikap tenang dan  acuh saat Kenzo terus menatap.


“Berhenti memandang adikku seperti itu!  dasar buaya,” maki Rara kesal.


“Kok, loe galak amat sih, adik kamu malah beda, lembut dan ramah.” Kata kenzo


Tiba-tiba  menuruti semua apa yang  dikatakan Rara.

__ADS_1


Urusan si buaya darat ini , bisa diatasi berkat  kecantikan  adiknya Aisah.


__ADS_2