Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Melawan apa di tindas


__ADS_3

Bastian sangat berubah sejak menikah dan hidup bersamanya , dulu awal Puasa.  Ia masih susah di bangun pagi untuk sahur. Tapi belakangan ini ia sangat pengertian dan terkadang ia yang menyiapkan menu sahur dan membangunkan Rara.


Harusnya ia mendapat pujian dari ibu mertuanya karena ia membawa anaknya menuju hidup yang lebih baik lagi.


Bahkan belakangan ini setiap ada  masalah Tian selalu mengajaknya sholat kalau tidak membaca AlQuran


Padahal dulu pertama ia mengenal Bastian hampir tidak pernah ia melihat lelaki itu untuk sholat, tapi sekarang Ia sering mengingatkan istrinya.


Hidupnya lebih baik sekarang ini. Rara harusnya sudah bisa mendapat pujian dari ibu mertuanya , tapi saat ini boro-boro  dapat pujian, di jahatin iya, bukan hanya dirinya,  keluarganya juga ikut getahnya, sebagai manusia biasa ia punya batas kesabaran.  Ia berpikir akan melawan dari pada di tindas


Rara mulai merasa lelah karena di serang dari  semua penjuru,  tapi bukan berarti ia akan diam kalau di tindas bukan Rara winarti namanya kalau ia mau di tindas, ia akan bertindak kalau ia merasa benar.


Mungkin kalau cuman hidupnya yang di ganggu ia tidak masalah baginya karena kerasnya hidup ia sudah sering mengalaminya. Tapi yang membuatnya menjadi marah dan lemah karena Ibu mertuanya juga menyeret putra kesayangannya, Ia yakin kalau ibu mertuanya lah yang mengikuti dan mengawasi Calvin belakangan ini,  bocah tampan anaknya.


Ia duduk di pinggir kasur menatap dalam suaminya, ada rasa sedih dalam hatinya,  mungkin jika ia memilih melawan balik Ibu mertuanya,  ia tau Bastian juga akan di merasa bingung antara istri dan ibunya. Tapi disinilah ujian berat untuk kelanjutan rumah tangga mereka .


“Sayang, bangun kita sahur, yo.” Rara menepuk-nepuk pundak suaminya.


“Oh, udah pagi iya, sahut Bastian  dengan mata memerah dan pipi berbekas bantal,  karena ia kebiasaan tidur tengkurap. Tidak butuh lama untuk membangunkannya hanya satu kali sentuhan ia sudah berdiri dan membasuh wajahnya.


Melihat Rara tidak marah lagi,  ia terlihat tersenyum, dan mendaratkan kecupan hangat di pipi istrinya  “Makasih Bunda.” Ia mulai melahapnya


Mendapat pujian dan perhatian dari suami tentu idaman semua wanita di muka bumi ini.  Kadang di satu sisi Rara selalu berpikir,  ia bersyukur karena mendapat kesempatan menjadi istri dari Bastian


Walau perbedaan umur yang lumayan jauh, tapi Bastian bisa  menempatkan dirinya  sebagai suami yang baik dan yang pantas untuk Rara. Keluarga Rara sangat menyayangi Bastian seperti anak, karena Bastian sering datang mengunjungi ibu mertuanya tidak perlu harus ikut Rara. Ia selalu menanyakan apa yang  di butuhkan mertuanya. Ia semakin menyayangi keluarga Rara karena mereka tidak memanfaatkannya  karena ia kaya.


Setiap kali di tawarin dan ingin di beli sesuatu Ayah mertuanya Babenya Ara selalu menolak dan memilih menikmati hasil kerja kerasnya. Walau emaknya sedikit berbeda penyuka yang gratisan.

__ADS_1


Tapi ia maklum semua ibu rumah tangga pasti akan menerima bila di kasih, apa  lagi yang mengasih menantunya, ia tidak pernah menolak tapi tidak pernah meminta juga.


Tapi semakin di tolak Bastian semakin ingin memberi. Terakhir tanpa sepengetahuan Ara, ia membelikan ruko kecil untuk ibunya Rara  untuk menjual makanan. Rumah makan sederhana di daerah Cibubur


Bastian juga merasa bersalah karena ulah ibunya lah banyak masalah dan kejadian untuk keluarga mertuanya.


“Nanti  pagi saya ingin bertemu ayah, apa kamu ikut?” Ara menoleh suaminya yang lagi melahap menu sahur yang di buatnya.


“Untuk apa?.”


“Tidak tau, beliau hanya menyuruhku datang, kalau kamu ikut lebih bagus.”


“Pasti masalah pekerjaan yang kemarin , sampaikan minta maafku pada Ayah, iya, aku ada kerjaan lain, katakan pada ayah nanti aku akan menghubunginya lagi,” kata Bastian menatap dalam ke mata Rara ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, ia sepertinya ingin mengungkapkannya tapi ia ragu


“Ada apa?”  Tanya Ara tersenyum simpul,  ia tau kalau suaminya ingin memberinya peringatan.


“Tapi hanya menemui,  Ayah kan? Tidak berbelok kemana-mana?,” tanya Bastian ia menatap dalam ke mata ara, tadinya ia ingin tertawa melihat kecemburuan suaminya, tapi melihat ketulusan di balik sorot mata sendunya,  ia tersenyum meyakinkan suami brondongnya.


“Tidak menemui paman lagi kan?” lagi-lagi mata itu menatap dengan sendu,  seolah Ara akan menghilang dengan pamannya dan meninggalkannya.


“Tidak sayang, justru aku ingin meminta  Ayah,  agar memindahkan ku dari sana,  agar aku tidak perlu lagi bertemu dengan Ridho. Bukanya aku belum siap.  Tapi lebih baik menghindari selagi  masih layak di hindari.” kata Rara terlihat bijak


“Baiklah, aku akan mencoba  bersikap,  tenang walau sebenarnya aku sangat gelisah, aku takut  kamu pergi meninggalkanku,” kata Bastian ia berkata jujur.


“Aku  tipe wanita yang setia,iya,” kata Rara dengan senyum manis.


“Baiklah aku percaya.”

__ADS_1


**


Rara berangkat lebih awal, Bastian masih berdiri di wastafel mencuci peralatan masak yang di gunakan Ara memasak sahur. Ia menawari istrinya untuk di antar tapi rara memilih naik busway.


Ia berdiri di halte busway khusus wanita.  Ia sengaja berangkat lebih awal agar lebih santai. Siapa menduga wanita yang berdiri didepan itu, istri dari seorang anak miliader.  Sebenarnya dengan kekayaan yang di miliki suaminya,  ia bisa saja membeli satu unit mobil mewah untuk dirinya sendiri.


Bastian bahkan menawarinya beberapa kali, tapi ia menolaknya , ia tidak ingin Ibu mertuanya semakin menuduhnya mempeloroti harta suaminya.


Baru-baru ini juga Bastian memberikannya  Atm  yang nominalnya bisa di pastikan baru kali ini ia memilikinya,  waktu ia mengeceknya dengan Sukma. Mata sipit milik sukma bisa melotot seketika,  karena deretan angka nol di belakangnya.


Tapi itu juga enggan ia gunakan untuk saat ini, mungkin nanti.


Kriing


Kriing


Panggilan dari ayah mertuanya ia buru-buru mengangkatnya.


“Iya Ayah,  Ara,  menuju kantor, lagi menunggu busway.” Kata Rara sigap


“Lah , kok nak Ara naik kendaraan umum, Bastian tidak ikut?” lagi-lagi nada suaranya terdengar kecewa.


“Tidak Ayah,  ia ada pekerjaan lain katanya nanti ia siangan kekantor,” kata Rara mencoba menjelaskan dengan lembut agar  beliau tidak marah pada Bastian


“Baiklah, nak Arah keluar dari halte saja,  biar supir saya yang jemput.”  Kata ayah mertuanya sangat perhatian.


“Tidak usah, Yah, ini juga buswaynya sudah datang, sampai jumpa di kantor Yah, kata Rara buru-buru memasukkan ponselnya kedalam tasnya, ia harus melakukanya , kalau tidak bisa-bisa ia terhimpit karena di dorong-dorong berebut tempat duduk dalam bus.

__ADS_1


Karena seperti itulah pesona kendaraan yang satu ini. Saling desakan apalagi pulang kerja. Tapi bagi Rara ia sudah terbiasa seperti itu,  kekayaan suaminya tidak lantas membuatnya lupa diri


Bersambung ..


__ADS_2