Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Susahnya mengucapkan sebuah kebenaran


__ADS_3

“Lah … ! tunggu.  Bastian mintanya tadi malam ,ape barusan?”


“Barusan,” jawab Rara jujur.


“Lah, ini masih siang .Ra, apa dia minta jatah siang-siang?”


Sukma ngakak di ujung telepon.


“Bukan begitu, hanya kebetulan saja tadi, tapi aku sudah menolaknya duluan,” ujar Rara mengelak ia malu karena ditertawakan Sukma.


“Oh, kirain dia niat bangat gitu minta siang-siang, tapi entar malam lu harus lakukan  kewajiban lu sebagai istri, ingat Ra, jangan sampai elu  nyesel nanti,’ pinta Sukma tegas.


“Iye baiklah, lu doain gue sukses,”ucap Rara .


“Iye gue doain elu minta nambah terus ampe pagi, ya udah” Sukma menutup sambungan telepon.


Pukul 2:00 WIB


Rara merasa kelaparan. Merasakan  binatang peliharaanya sudah mulai berdemo minta jatah makan, ia memakai pakaian  satu persatu.


Di sisi lain Bastian  duduk  melamun di Balkon apartemennya.


Matanya memandang jauh ke jalanan ibu kota, ada perasaan sakit di dadanya ia merasa tiba-tiba merindukan Bastian yang dulu.


Tangannya memegang   segelas kopi yang di buatkan sendiri, ia menyadari   banyak hal yang berubah dari dirinya seperti saat ini.


Setengah tahun yang lalu,  ia bagai seorang pangeran yang semuanya serba di layani. Matanya menatap gelas kopi yang ada  ditangannya,


Tapi sekarang, ia bisa semuanya dengan mandiri. Bahkan jika Rara malas memasak ia yang melakukannya.


Sibuk dengan pikiran sendiri, tiba –tiba Rara sudah berdiri di depannya dengan wajah memelas  dan langkah berat.


Ia menatap Bastian dengan seribu perasaan bersalah. Melihat Rara berdiri didepannya,  Bastian membuang muka kearah lain. Tapi Rara belum juga bicara, mulutnya seolah berat untuk mengatakan sesuatu.


Melihat hal itu Bastian semakin marah, ia berpikir yang tidak-tidak dengan istrinya.


Ia berdiri dan berbalik arah tapi tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang kedua tangan itu sangat kokoh menahan otot perutnya.


“Maafkan aku Bastian,” suara lirih dan hampir tidak terdengar di kuping  Bastian.


Terdiam beberapa saat, Bastian  juga membiarkan tubuhnya di peluk dengan erat oleh Ara.


Hingga isakan pilu terdengar,  mungkin ini pecah telur pertama buat Rara menangis, ia menangis di punggung suaminya,

__ADS_1


Kalau biasanya, ia kuat  dan tanggung dalam menghadapi masalah, ia selalu bilang menangis salah satu bukti kelemahan, tapi saat ini, ia benar-benar menangis.


Mendengar isakan itu dengan reflek Bastian membalikkan badannya menatap wajah Rara yang menangis.


“Ada apa Ra?”


“Maafkan aku Tian”


“Untuk apa?”


“Karena aku menolakmu,” Terlihat Bastian menarik napas lengah, ia sempat berpikir  akan mendapat jawaban lain yang lebih menyakitkan. Sekilas dalam bayangannya ia berpikir akan mengucapkan selamat tinggal untuknya, walau terdengar konyol tapi setiap kali Ara marah, ia berpikir kalau wanita ini akan meninggalkannya, seperti waktu dulu Ara meninggalkannya tanpa alasan ia sempat terpuruk. Ia mungkin akan merasa sakit sakit jika Sukma tidak menceritakan semuanya,


 ia menyadari betapa ia sangat mencintai Rara


“Kenapa?” aku hanya ingin tau alasannya,” suara Bastian lembut, hal itu bisa membuat hati Rara sedikit tenang,


“Aku takut Bastian,” mendengar alasan itu lagi alis Bastian menyengit.


Melihat Rara menangis seperti  itu. Bastian merasa ada  yang ingin mereka bicarakan dari hati ke hati.


Tangannya menuntun Istrinya duduk kembali, ia memposisikan dirinya sebagai seorang pendengar.


Tapi rasa lapar semakin mendera, jam semakin berlari dengan cepat dan Rara  merasa tidak  tahan lagi, untuk menahan merasa laparnya


Bastian hanya memiringkan bibirnya,  Rara masih memikirkan makan dalam situasi seperti ini.


“Apa kamu menangis karena lapar?” Bastian bergurau melihat Rara yang kelaparan .wajar ia kelaparan, nasi goreng porsi kuli itu, hanya  seperempat ia habiskan  tadi pagi,  semuanya terbuang di kamar mandi karena perutnya mules.


“Tidaklah, nanti kita  bahas kita makan dulu,” ujar Rara menarik tangan suaminya kemeja makan. Untung si Mbok sudah memasak menu makan siang untuk mereka berdua


Menu hari ini ikan kakap di masak asam manis pedas, melihatnya saja sudah membuatnya semakin lapar ia  sigap memanaskan semua makanan.


‘ Seberat  apa masalah perut harus tetap di isi’ nasehat emaknya Rara selalu ia ingat,


Bastian  hanya menonton Rara yang mondar-mandir kesana kemari,  hinga ia duduk tenang di meja makan. Bastin masih menatapnya Rara, tau kalau suaminya mengawasinya sejak dari tadi,  ia meliriknya dari  sudut matanya.


“Apa, aku bisa makan?” Tanya Ara menatap suaminya, karena ia merasa tidak tenang karena  dilihatin sedari tadi.


“OH, baiklah , berikan juga untukku”


Dalam meja makan Rara  dan Bastian yang sibuk  dengan sendok dan piring yang saling bersahut-sahutan. Bastian sepertinya tidak begitu menikmati makannya, terlihat adanya banyak sisa di dalam piringnya, berbeda dengan Rara yang menghabiskan hampir satu piring , lambungnya sepertinya balas dendam.


Ia membereskan semuanya dan berkutat dalam diam, Bastian kembali hanya mengawasinya seperti tidak sabar lagi mendengar alasan penolakan dari istrinya.

__ADS_1


Tidak ingin membuat lelaki itu menunggu terlalu lama, ia mendengar  nasehat sahabatnya Sukma, ia mematung sebentar  di depan wastafel pencuci piring, pada akhirnya ia menghentikan pekerjaannya mencuci piring .


“Baiklah mari kita bicara.” Rara  menarik kursi di samping Bastian.


Bastin masih diam, hanya mengikuti apa yang dikatakan Ara, wajahnya  tenang.


“Katakanlah” Akhirnya ia membuka mulut juga,


“Aku meminta maaf Bastian, karena tadi menolak, bukanya aku tidak suka denganmu,  tadi karena aku belum siap melakukanya,” Rara menjelaskan alasannya.


“Tapi kita sudah beberapa kali melakukannya, kenapa baru sekarang kamu merasa takut, itu yang tidak aku mengerti Ra, takut karena apanya?” takut kamu hamil? Apa takut karena ada yang lain, berikan alasan yang  bisa aku terima” Bastian menatapnya,


“Iya tapi ….”  Lagi-lagi mulut Rara berat untuk menceritakan kebenaranya, ia kembali menunduk.


“Jangan mutar mutar dong, Ra, aku jadi bingung dan curiga sama kamu, katakan secara terus terang.  Apa kamu punya pria lain di hatimu?”


“Apa? bukan-bukan Bastian, hal itu tidak akan ada,”ucap Rara dengan tegas.


“Terus, apa hanya  takut, alasan kamu gunakan untuk menolakku, apa itu masuk akal, apa kita ini, pacaran anak SD yang mengunakan kata takut?”


Rara mendadak tidak bisa bicara, ia tidak tahu harus memberikan alasan yang tepat pada suaminya. Padahal sebelum makan, ia sudah menyiapkan mental dan segala jawaban untuk Bastian .Tetapi setelah makan selesai, ia mendadak lupa dan tidak tahu harus memulai dari mana lagi.


Melihat Rara kebingungan lagi,  Bastian merasa di permainkan.


“Aku bukan anak kecil,Ra, berhenti mempermainkan ku”


Ia marah dan membentak Rara


Jam berlalu dengan cepat satu hari mereka habiskan hanya membahas hal  itu, tapi seolah tak berujung.


Bastian meninggalkan Rara dengan segala kebingungannya dan segala  kegagapan nya.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2