
Mendadak menikah
Bagaimana reaksi ibu Bastian, saat ia tau kalau anak semata wayangnya sudah menikah dengan musuhnya, wanita yang paling ia dibenci.
Kini semakin ia bayangkan dan semakin ia pikirkan, merasa lututnya bergetar, tetapi Rara menepi rasa gugup itu, ia mantap dengan pilihannya.
Saat mereka berdua masih di dalam apartemen, tiba-tiba bel berbunyi, Rara menatap dengan panik, ia berpikir kalau yang datang adalah Ibu Bastian.
“Iya Tuhan tamat sudah,” gumam Rara menatap Bastian, tetapi lelaki itu hanya mengedipkan mata Rara terduduk lemas terlihat semakin gugup, ia sudah membayangkan yang datang adalah Hartati.
“Siapa?” Bastian menyengit melihat ketakutan di wajah itu.
“Jangan khawatir.” Bastian mengintip lubang kecil dari daun pintunya “ Tidak apa-apa, itu orang yang mengantar pakaian yang aku pesan,”
Ternyata Bastian, tidak ingin terlihat biasa-biasa saja, ia ingin terlihat keren untuk pernikahan itu, ia memesan setelan jas dari butik langganannya.
“Ayo, kita harus segera berangkat, mereka sudah menunggu kita di sana,” kata Rara menarik tangan Bastian, ia tidak tahan lagi menahan kepanikannya, setidaknya ia sudah merasa tenang jika sudah meninggalkan Apartemen itu, ia seperti punya firasat kalau ibunya Bastian akan datang menggagalkan pernikahan mereka.
Dalam lift Rara terlihat semakin pucat,keringat membasahi dahinya, ia sampai beberapa kali mengusap keringat di telapak tangannya, entah beberapa lembar tissue ia habiskan mengusap dahinya yang berkeringat.
Dalam lift ada beberapa orang yang menatap mereka berdua, dengan tatapan aneh.
“Sedikit lagi, sedikit lagi,” bisik Rara dengan mulut komat- kamit
“Kamu tidak apa-apa Ra? Kamu pucat, riasan kamu sudah berantakan dan makeup kamu sudah hilang,” Bastian memegang dahi Rara.
“Tidaka apa-apa aku hanya merasa gerah”
Rara memaksakan senyum untuk menutup rasa gugup itu, biar bagaimanapun rasa takut dan panik pasti ada padanya, hanya Rara bisa mengatasi semuanya.
Saat keluar dari lift matanya kembali celangak-celenguk, ia mengunakan selendang sebagai penutup kepala. Bastian juga terpaksa memakai kaca mata hitam, untuk menghindari wartawan.
Saat tiba dalam mobil berwarna merah itu, Rara belum bisa bernapas tenang, matanya masih sibuk mengawasi sekitar dari balik kaca mobil, saat mobil Bastian meninggalkan apartemen barulah ia bisa merasa tenang.
__ADS_1
‘Aku tahu …. Apa yang aku lakukan ini bukan yang terbaik, tetapi aku hanya berharap apa yang aku pilih hari ini berjalan sesuai rencana’ ucap Rara dalam hati.
“Kenapa jadi diam Ra, takut sama wartawan, takut mereka mengikuti kita?” Bastian terfokus pada kemudi dan tatapan matanya memandang lurus,
“Iya.” Rara terpaksa berbohong, sebenarnya bukan hanya itu yang membuatnya takut adalah ibunya dan viona, ia takut rencana sia-sia.
“Ra, apa kita sudah melakukan hal yang tepat?” Tanya Bastian ia ragu.
Bagaimana tidak ragu, karena kejadian malam itu, terpaksa menyeretnya ke pernikahan dadakan, walau ia mencintai Rara tetapi kalau mendadak seperti ini, tentu saja Bastian takut
“Iya, kita sudah melakukan hal benar,” jawab Rara tanpa minat, wajahnya terlihat tidak bahagia, karena sesungguhnya ia tidak ada niat sedikitpun untuk menikah diam-diam seperti saat ini. Ia sebenarnya tidak ingin mengecewakan orang tuanya apalagi engkongnya, Lelaki tua itu punya mimpi untuk mengantar Rara ke pelaminan.
‘Maaf Kong, cucu ini kurang ajar, tapi tidak aku biarkan wanita jahat itu mengusik keluarga kita’ ucap Rara dalam hati.
Rara mendadak jadi pendiam sepanjang perjalanan, ia membiarkan Bastian bicara sendiri seperti burung beo dalam mobil. Bastian tidak marah, ia berpikir Rara gugup karena akan menikah
Menempuh perjalanan, akhirnya tiba juga di tempat akad nikah yang sudah di siapkan
“Ra, apa lu yakin bisa, kan, orang tua gak ada?”
“Lalu bagaimane?”
“Bastian sudah mengurus semuanya, dia mengenal orang KUA”
Sukma dan Mario, sebagai saksi pernikahan . Kali ini, justru berbeda Rara yang terlihat santai. Namun lelaki tampan yang memakai setelan Jas itu justru terlihat gugup ia beberapa kali mengusap tangannya yang berkeringat.
Bastian sampai beberapa kali mengulang dan salah menyebut nama, saat ijab Kabul, terlihat sangat gugup. Hingga akhirnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Rara Winarti binti Slamet dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai,” ucap Bastian lantang.
“Sah …?” Tanya penghulu.
“Sah!” Jawab saksi serempak.
__ADS_1
Detik itu juga status Rara menjadi nyonya dari Bastian Salim.
“Aku berhasil, apa yang akan kamu katakan lagi’ ucap dalam hati.
Saat Bastian tertawa bahagia, tapi tidak bagi Rara ia merasa lengah tapi tidak merasa bahagia,
Mungkin bagi Bastian,ini sebuah pernikahan suci dan sebuah janji cinta, ia beberapa kali tertawa bahagia. Akhirnya resmi menjadi suami dari Rara Winarti wanita yang ia cintai, kecupan sangat dari Bastian untuk istrinya.
Saat Bastian tidak ada beban, tetapi apa kabar untuk Rara? Sebagi pencetus ide pernikahan dadakan itu, Rara jadi orang yang irit bicara, diam dengan tatapan mata kosong .
Ia membayangkan penikahannya ke depan bukanlah pernikahan impiannya, berhadapan dengan ibu mertua yang jahat membuatnya kurang bersemangat.
Untuk Bastian, pernikahannya dengan Rara awal kebahagian untuknya.
Tetapi untuk seorang Rara ini bentuk perlawanan untuk seseorang yang mengusik keluarganya
Rara ingin mengatakan pada wanita itu, Ia sudah mengambil sesuatu yang berharga darinya, ia ingin menyuruh wanita itu untuk berhenti menggangu anaknya
Seorang ibu kucing sekalipun bisa berubah menjadi singa betina, jika ada yang menggangu anaknya
Calvin bukan darah dagingnya, tapi ia akan tetap menjadi ibunya sampai kapanpun, rela melakukan apapun, untuk kebahagiannya. Alvin anaknya demi sahabat Rara yang sudah meninggal.
“JIka ia menggangu Alvin lagi, jangan salahkan gue, suaminya bisa ambil juga,” bisik Rara pada Sukma.
“Jahat lu,” timpal Sukma kesal, ia tidak ingin Rara menikah dengan cara seperti itu.
“Kalau di bilang gue jahat itu benar, tapi wanita itu yang pancing duluan,” ucap Rara ia membela diri,
“ Gue tidak ingin di tindas selamanya, maka harus melawan, jika dia mengigit di tangan, maka gue gigit dia di bagian kaki,” ucap Rara terlihat seperti iblis betina.
“Lo itu menakutkan kalau sudah marah,” ujar Sukma menatap sinis pada sahabatnya “Udah, lupakan si nenek lampir itu, mulailah bahagia dengan suami brondong,” ucap Sukma berbisik
“Bagaimana untuk mulai bahagia, karena perang baru saja di mulai,” ujar Rara menarik napas panjang.
__ADS_1
Bersambung ….