Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Terungkap


__ADS_3

Apa!? Ibu memukuli Rara lagi? membawa ke kantor polisi?’ dada Bastian terlihat naik turun tangan terkepal kuat lagi “ Apa ibu harus sejahat itu, apa ibu harus melakukanya. Bu? Emang aku apa bu, sehingga ibu tega berbuat seperti itu padanya .


Pantas tadi dia sangat membenciku, pantas ia mengusirku, itu karena ibu wanita yang sangat jahat dan menakutkan!.”


“Bastian, Ibu hany-“


“Cukup Bu, aku sangat membenci kelakuan ibu, aku muak dengan sikap menjijikkan kalian berdua,”


Tangan Bastian menyambar kunci mobilnya, dengan langkah buru-buru ia meninggalkan kedua wanita itu.


“Bastian mau kemana? dengar dulu, ibu mau bicara,” Ibunya memanggilnya. Ia memilih menghiraukan panggilan ibunya memilih berjalan dengan langkah buru-buru.


Sekarang Bastian mengerti kenapa Rara begitu membencinya saat ini.


Kaki melangkah tegas meninggalkan rumah sakit, matanya tidak lagi menghiraukan sekelilingnya, karena kemarahan yang menyelimutinya. Ia sangat kecewa dengan sikap arongan ibunya yang selalu melakukan pemukulan pada Rara. ini ketiga kalinya, ibunya menyakiti wanita itu dengan kekerasan ia sangat kecewa pada ibunya.


Harusnya seorang ibu mengerti masalah anaknya, kenapa malah aku yang haru mengerti pada Ibu, kata Bastian dalam hatinya


Langkah kakinya buru-buru, ia sampai tidak menghiraukan Sukma yang kebetulan berpapasan dengannya.


Raut wajahnya terlihat suram memperlihatkan kemarahan.


Bastian benar-benar marah, karena perkataan kasar Rara, kata Sukma dalam hatinya. Ia juga mempercepat langkah kakinya, ia juga ingin melapor pada Rara.


Hingga tiba di parkiran rumah sakit Bastian menekan kunci mobilnya. Mobil mewah berwarna merah itu berkedik menunjukkan keberadaanya, Bastian memundurkan langkahnya karena mobilnya terlewatkan olehnya , mobil itu berbaris diantara deretan mobil pengunjung rumah sakit.


Ia masuk kedalam mobilnya dengan sikap buru-buru, di balut amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun, dalam benaknya ada rasa amarah membara yang hampir membakar jiwanya,


Bagaimana seorang ibu berbuat seperti itu pada anaknya?.” Tanya Bastian dalam hati


Ban mobil merah itu mengeluarkan suara decitan meringkik, ketika Bastian dengan kasar membelokkan badan mobilnya, dan berlalu dengan cepat meninggalkan parkiran rumah sakit, ia ingin berlari jauh dari jangkauan Ibunya dan Viona. Ingin rasanya ia pindah ke planet Mars agar ibunya tidak menemukannya lagi.


Dalam benak akhirnya ia menemukan tujuannya sementara, menuju apartemennya, ia belum bisa percaya kalau Rara yang mengantarkan mobilnya, ia yakin, ada banyak hal yang ingin di lakukan. Viona dan Ibunya, Ia berpikir jangan-jangan apartemennya juga ikut di acak-acak kedua wanita itu.


Langkahnya cepat ia menekan lift dan mengangkut tubuhnya ke lantai apartemennya, apartemen yang memberinya banyak kenangan indah, kenangan bersama Rara, dimana pertama kali istrinya datang untuk bekerja sebagai tukang beres-beres di apartemennya, banyak pertengkaran dan hal lucu yang mereka alami, hingga ia jatuh cinta pada wanita itu, walau umurnya jauh diatasnya tapi tidak menghalanginya, karena cinta tidak mengenal umur.

__ADS_1


Hingga akhirnya ia menikah walau awal pernikahan mereka dipenuhi drama. Ia menikahi Rara karena ia berpikir mabuk malam itu, berakhir di tempat tidur yang sama dengan Rara. Walau tidak sampai tuntas, tapi malam itu ia mabuk terjerat hasrat yang panas dengan Rara dan ia pingsan sebelum pada puncaknya.


Proses acara pernikahan mereka berdua singkat, Rara tampil sederhana hari itu tapi tetap cantik, walau hari itu pernikahan mereka berdua terkesan terlalu di paksakan oleh Rara.


Tapi Bastian tidak menolak bahkan ia sangat bahagia hari itu, hingga pernikahan mereka terlaksana hanya di saksikan orang tua wali dari pantai asuhan dan di saksikan dua orang saksi, ia mengucapkan janji sucinya dengan lancar tanpa ada beban karena ia juga memang mencintai Rara.


Ting...


Ia terbangun dari bayangan kenangan itu, ia memperlambat langkah kakinya di depan pintu kamar apartemennya.


Ia menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak ada rasa yang bergejolak dalam dadanya, hampir dua bulan ia meninggalkan apartemennya, terakhir ia pamit mengadakan pertemuan di Bali’


Itu jadi hari terakhir, untuknya bersama Rara istrinya di apartemen itu.


Dua bulan sudah berlalu ia tidak menginjakkan kakinya di apartemennya kini ia datang . Ia semakin penasaran tentang apa yang sudah di lakukan ibunya dan Viona di dalam Apartemennya.


Karena apartemen itu sudah ia berikan pada Rara Istrinya sebagai hadiah darinya.


Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum ia menekan password pintunya.


Pintunya terbuka, nafasnya tertahan didada, ia melangkah perlahan masuk, rasa sepi menyayat hati , saat lampu apartemennya mati.


Trit..


Lagi-lagi menahan guncangan dadanya, ia sangat merindukan Rara, ia merindukan tawa yang terlepas saat mereka saling bercanda diruangan itu.


Ia mematung dengan mata mengawasi sekeliling nya, ia mengawasi sekitarnya tidak ada yang berubah sofa jadi saksi kebersamaan mereka berdua, sofa jadi tempat favorit dan Rara menghabiskan banyak waktu di tempat Sofa mewah berbahan full busa itu.


Kesukaan Rara menonton drama membuat sofa jadi tempat favoritnya, baik Bastian mau tidak mau jadi mengikuti selera istrinya.


Dan tempat favorit Rara kedua Balkon apartemennya, karena ia mau menghabiskan banyak waktu mengurus tanaman hias miliknya


Oh, apa kabar tamanan itu sekarang? Pasti sudah pada layu tidak ada yang urus, kata Bastian dalam hatinya.


Tapi matanya melongo terkejut, tanaman Rara tumbuh indah bermekaran seolah menyapa Bastian dengan senyuman kuncup tanaman bunga Rara bermekaran berwarna-warni.

__ADS_1


Kalau Rara melihat ini pasti ia tersenyum bahagia kata Bastian dalam hatinya .Tapi apa yang terjadi? kenapa tanaman ini bisa tumbuh subur siapa yang menyiramnya? Tanya Bastian dalam hati. Matanya mencari di sekelilingnya


“Oh, harusnya aku tidak usah bertanya lagi, Rara dengan kepintaran otaknya pasti sudah melakukan ini, kamu memang wanita yang unik . Ra,” Bastian berucap sendiri. Karena matanya menemukan benda hasil buatan Rara.


Rara merakit penyiraman otomatis untuk tanamannya, ia membuat semacam alarm, jadi setiap 4 jam akan otomatis tersiram sendiri, tanpa ada orang yang melakukannya.


Bastian tersenyum indah, menatap tanaman milik Rara walau tidak ada orangnya mengurusnya tapi tanaman itu bisa hidup dan tumbuh subur


Kamu wanita yang luar biasa Ra, kata Bastian ia sangat mengagumi karakter dan kepintaran istrinya, tapi satu yang tidak ia sukai, sikap istrinya jika sudah marah, omongannya menusuk hati jika sudah lagi marah.


“Aku merindukanmu Ra, kuharap aku bisa memperbaiki semua ini agar aku membawa lagi ke sini, rumah kita,” kata bastian mengusap air matanya


Kepalanya terasa berdenyut karena kurang tidur, belum lagi mengingat kata-kata Rara yang menyakitkan tadi.


Jadi, ia tidak hamil? Padahal aku sudah berharap bangat kalau kita akan punya anak, gumam bastian dalam hatinya.


Ia masuk ke kamarnya berniat merebahkan tubuhnya


` Kreak..


Suara pintu kamar itu terbuka, tapi matanya terlihat bingung karena kamar itu terlihat sangat berbeda, banyak dekorasi-dekorasi di sana sini.


Sebulan yang lalu Rara dan Sukma membuat dekorasi untuk niat membuat kejutan ulang tahun untuk Bastian dan dalam kadonya testpack bukti kehamilannya. Niatnya Rara ingin menyambut Bastian dengan membuat pesta kejutan yang kebetulan ulang tahun Bastian bulan kemarin.


Tapi sayang, saat Rara membuat kejutan itu Bastian tak kunjung datang karena paksaan orang tuanya Rara tinggal bersama orang tuanya.


“Apa ini, bukan ini hasil USG? Untuk apa ini?” Bastian terlihat sangat antusias melihatnya hingga jantungnya mulai berdetak cepat saat ia menemukan tulisan-tulisan tangan Rara, hingga ia menemukan kotak kado terakhir.


Tangannya gemetaran testpack dan tulisan tangan Rara ia pegang. Apa yang terjadi Ra, jadi beneran kamu hamil?” tapi, kenapa tadi kamu bilang tidak, apa yang kamu rencanakan?


Matanya memerah dan akhirnya menangis memeluk benda kecil dan hasil usg di dadanya.


Ia bahagia karena Rara hamil tapi ia takut karena Rara sudah mengusirnya tadi.


Tidak..tidak, ia anakku, kamu tidak boleh memisahkan aku dan calon anakku Ra. Bersabarlah sayang, jagan dia, aku akan memperbaikinya.kata Bastian dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2