Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Berbadan dua 1


__ADS_3

Ia terpaksa menyiram badan Rara di lantai basement apartemen itu, karena mereka tidak tahan menahan bau busuk dari badan Rara.


Setelah bersih baru, ia di bawah ke apartemen itu, tapi setelah tiba Sukma menyeretnya ke kamar dan menguncinya.


“Mey ,apa yang loe lakukan?.” Tanya Rara dari dalam kamarnya. Suaranya sendu.


“Maaf Ra, gue harus melakukan itu, demi kebaikan loe, jika loe pergi kesana polisi akan menangkap loe dan masuk penjara,” kata Sukma


“Tapi gue tidak melakukan kesalahan kan Mey ? gue hanya ingin menemui suami saya,” kata Rara.


Tapi Sukma tidak ingin Rara mendapat masalah , ia membuang rasa kasihan pada sahabatnya demi kebaikan bersama, ia membiarkan Rara di kamar terkunci, Sukma menemaninya dari luar jika Rara perlu apa-apa Sukma hanya mengantarnya ke dalam kamar.


“Loe, pulang saja Rio, biar gue yang jaga,” kata Sukma menyuruh Mario pulang.


“Maaf iya, tante Rara, belum bisa ngasih THR biar tante cipit saja dulu yang ngasih,” katanya dengan bercanda, ia membagi-bagi amplop pada ketiga anak Mario, mereka dapat duit dari Sukma ketiga bocah itu melompat-lompat kegirangan.


“Mey, buka dulu, gue juga mau ngasih hadiah juga buat meraka,” Kata Rara dari kamar


“Loe yakin, tidak mau kabur?,” tanya Sukma


“Kagak Mey, percaya deh,” kata Rara dari kamar


Sukma menatap Mario, dengan sigap Mario menguncinya pintu rumah. Sukma membukanya, benar saja. Rara memberi bingkisan untuk ketiga anak Mario, dua bocah laki-laki dan satu anak perempuan terlihat sangat senang, mereka juga tau Rara akan memberikan itu untuk mereka, karena setiap tahun mereka akan dapat baju lebaran dan duit dari Rara, bagi ketiga bocah itu Rara bukan sekedar teman kecil Ayahnya, tapi Rara sudah menjelma seperti bibi kandung untuk anak-anak Mario


Terkadang mereka tidak khawatir jika ibu mereka tidak membeli baju lebaran , karena Rara akan membelikan untuk mereka bertiga.


Setiap tahun sudah seperti itu. Walau dulu Rara belum kerja tapi selalu membelikan mereka baju lebaran , walau duitnya Rara dari engkongnya yang seorang juragan kontrakan dan juragan lele dulu.


Karena istri Mario tidak bekerja, hanya mengharapkan gaji suaminya sebagai pekerja keamanan.


Tapi hidup Mario sudah lebih baik sejak Rara menjabat sebagai Direktur. Mario sudah punya rumah sendiri dan dapat pekerjaan tetap di perusaan XX TV


Bukanya hanya bingkisan yang dapat untuk anak-anak itu, mereka juga dapat amplop duit dan istrinya Mario kebagian kali ini. Mata istri Mario terharu dan mengucapkan terimakasih, walau dulu pernah ia cemburu melihat kedekatan suaminya dengan Rara, tapi setelah ia tau dan sudah lama, ia akhirnya mengerti kalau Rara hanya sahabat dekat suaminya dan Rara seperti dewi penolong bagi keluarganya.


Maka terkadang kalau suaminya tidak pulang berhari hari seperti baru-baru ini, ia tidak marah lagi. Ia sudah maklum dan sudah paham tentang persahabatan tiga anak manusia itu.


“Pulanglah , makasih iya sudah temenin tante, rumah ini jadi hidup dan ramai sejak kalian ada,” kata Rara


“Ra, gue khawatir meninggalkan kalian berdua, tapi mertua menunggu kami mau lebaran di sono, tolong jaga diri baik-baik,” kata Mario


“Baiklah,” kata Rara terlihat sudah tenang


Mario dengan berat hati meninggalkan Rara dan Sukma.


“Jangan coba-coba kabur ngerti gak!? Kata Sukma


“Iye mey, kata Sukma


Tapi tidak berapa lama berdiri, ia jatuh pingsan di lantai, membuat Sukma panik, badan Rara panas. Sukma sudah menduga hal ini akan terjadi, tidak tidur selama berhari-hari karena bergadang mencari suaminya, ia kurang tidur dan dibebani banyak masalah dan ia malah di siram dengan air pakai selang.

__ADS_1


Sukma juga sudah menduga ia akan tumbang karena tadi saat ia memeluk tubuh Ara sebenarnya sudah panas, tapi ia memaksakan berdiri dan bersikap sok kuat, pada akhirnya tumbang juga


Sukma panik . Mario yang baru saja meninggalkan tempat itu terpaksa putar balik untuk menggotong tubuh Rara membawanya kerumah sakit.


“Panasnya, seperti kompor,” kata Mario terpaksa menggendongnya di punggung


“Tadi juga sebenarnya sudah panas, tapi ia memaksakan diri, ia mungkin karena disiram pakai selang sama penyihir jahat itu,” kata Sukma, dengan buru-buru ia menekan tombol lift dan mengangkut mereka kebawah.


“ Biar gue yang membawa ke rumah sakit, urus saja anak istrimu kasihan mereka nungguin loe,” kata Sukma masuk kedalam mobilnya


“Loe yakin mey?.” Tanya Mario


“Iya pergilah ini hanya panas biasa, kurang tidur, tidak makan , banyak pikiran tidak ada perlu di khawatirkan, nanti kalau sudah keluar hasilnya gue kabarin,” kata Sukma menyakinkan Mario


Sama seperti dirinya Mario sangat perhatian pada Rara. bagi Rara kedua orang sahabatnya, sudah seperti tangan dan kaki baginya.


Makanya setiap kali ada yang sakit diantara mereka bertiga yang lainnya seolah ikut merasakan kesakitan


“Makasih iya Mey, hati-hati dan langsung kabarin iya biar gue juga tenang, kalau gue gak janji ama mertua gue tidak usah datang,” kata Mario.


“Ok, ok loe pergi saja tidak apa-apa.” sahut Sukma, dengan sikap buru-buru, ia menyalakan mesin mobilnya melaju menuju rumah sakit terdekat.


Hingga tiba di sebuah klinik tidak jauh dari apartemen Bastian, ia memilih klinik terdekat saja , karena ia pikir Rara hanya sakit panas biasa faktor capek dan kurang istirahat.


Seorang perawat bertubuh mungil membantu Sukma membopong tubuh Rara dari mobil


Membaringkannya di atas ranjang


Ia jatuh pingsan tadi sus, badannya panas, Sukma menjelaskan semua kronologinya, dengan cepat juga susternya memasang selang infus ditangan Rara, karena perutnya juga kosong belum masuk apa-apa, ia sepertinya lemas karena tidak punya tenaga.


“Tunggu sebentar iya mbak. Dokternya sebentar lagi tiba, karena ini hari lebaran maklum , mungkin Dokternya juga berlebaran ,” kata perawat dengan ramah.


“Oh benar harusnya kita berlebaran Ra, makan ketupat buatan emak,” kata Sukma, wajahnya juga terlihat lelah dan tertidur di kursi ruang tunggu, kebetulan klinik itu hanya mereka pasiennya. Rara juga masih bobo cantik. Suster membiarkan Sukma berbaring di sofa klinik itu.


Bukannya hanya Rara yang kurang tidur, Sukma dan Mario terpaksa bergadang di buat Rara.


Hingga tidak beberapa lama, datang Dokter lelaki yang sudah lumayan kelihatan sudah ber umur, berkulit putih dan bertubuh tinggi


“ Selamat siang,” sapanya menatap sukma dengan ramah.


Perawat memberi penjelasan dan dan Dokter itu memeriksa Rara.


“Apa suaminya tidak ikut?” Tanya pada Sukma


“Haa, kok Dokter tau, kalau ia sudah punya suami,” tanya Sukma kepo


“Karena Dokter itu terkadang seperti dukun,” jawabnya degan bercanda.


“Dok, bisa saja,” Kata Sukma berdiri

__ADS_1


“Sini duduklah, biar aku jelaskan kenapa Dokter bisa tau,” katanya kemudian bibirnya tersenyum hingga ujung bibirnya membentuk lubang-lubang kecil seperti lesung pipit.


“Apa Dok?.” Tanya Sukma ikut duduk didepannya


“Apa hubunganmu dengan pasien ? dan dimana suaminya?,” terlihat seperti sedang menyelidiki


“Saya kakaknya Dok”, terpaksa Sukma berbohong


“Suaminya tidak ikut ?.” Matanya penuh penyelidikan.


Terlalu banyak bahaya mengincar hidup Rara belakangan ini, membuat mereka selalu bersikap waspada


Ada apa ? kenapa ia menatapku seperti itu, ia seperti menginterogasi jadinya, kata Sukma dalam hatinya.


“Iya Dok, suaminya kerja di luar Kota,” Jawab Sukma


“Baiklah saya percaya pada anda nyonya, pertama saya ingin saya ucapkan selamat iya, adik anda, nyonya Rara sedang berbadan dua,” kata Dokter, membuat Sukma kaget serta terharu matanya berkaca-kaca tidak percaya.


“Apa, hamil Dok?” Tanya Sukma memperjelas, seolah ia tidak percaya.


“Iya hamil, selamat,” kata Dokter itu lagi


“Iya Dok, apa aku harus menangis apa harus tertawa,” kata Sukma masih menutup mulutnya tidak percaya


“Menurut perkiraan Dokter, masih hitungan minggu, usianya masih sangat mudah sekitar empat minggu,” kata Dokternya


“ Itu waktu rentan, ia tidak bisa banyak beban pikiran dan tidak bisa terlalu banyak bergerak dan jangan capek,’ katanya mengingatkan Sukma


“Saya mengerti Dokter, saya akan mengajarinya nantinya, saya ahlinya ,” kata Sukma bangga


“ Karena anak saya empat,” kata sukma tersenyum malu.


“Wah hebat amat mesinnya,” kata Dokternya bercanda


Dibalas tawa lebar dari Sukma, Dokternya sangat ramah dan baik


Rara belum bangun, Sukma sudah membereskan semuanya administrasinya,


“Sus, bisa tidak, ia disuruh bangun saja , saya bosan menunggu ia tidur disini, mendingan ia tidur dirumah saya juga mengantuk,” kata Sukma


Perawat yang bertubuh mungil itu tertawa ramah


“Baiklah, saya coba bangunkan iya,” katanya. Ia mengoleskan Rara minyak gosok ke hidung Rara, tidak beberapa lama. Si putri tidur itu pun bangun


Sukma mengedipkan matanya pada perawatnya agar tidak membahasnya tentang kehamilannya, biar ia akan memberitahukannya secara langsung nantinya.


“Ah aku di rumah sakit, iya!,”wajahnya terlihat masih pucat.


“Iya, kita pulang saja iya, sus tolong bantu bawa ke mobil iya,” kata Sukma membawa Rara hati-hati sadar ada janin di rahim sahabatnya, ia bersikap sangat was-was. Ia belum memberitahukan pada Rara tentang kehamilannya.

__ADS_1


Ia tidak tau nanti reaksinya, Sukma saja terlihat sangat senang dan bahagia apa lagi Rara.


Bersambung


__ADS_2