
Sudah menjelang siang, Rara masih tidak keluar-keluar dari kamar sejak pertengkaran dengan Bastian, padahal Bastian sudah memesan banyak makanan yang enak untuk ia makan degan Rara, tetapi sampai siang wanita itu belum juga bangun.
Bos tampan itu padahal, sudah mengambil alih semua pekerjaan rumah, mulai dari menggiling pakaian kotor mereka berdua, membersihkan rumah lagi, sampai benar-benar kinclong, ia juga menyiram dan merawat tanaman hias milik Rara yang ada di balkon, semua ia kerjakan, berharap Rara tidak marah lagi padanya, sampai siang juga ia tidak bangun .
“Hadeh, apa dia tidak merasa lapar apa? Ini sudah siang,” ucap Bastian ia mondar-mandir ruang tengah dan balkon sengaja ia berdendang ria mengikuti alunan musik yang ia putar, niatnya agar
Tetapi Rara tidak menggubrisnya, ia masih tidur, tepat jam satu siang Rara bangun, tetapi ia menentang tas.
Bastian hanya mematung dalam diam, melihat Rara menenteng tas besar itu,’Pada akhirnya ia akan keluar juga dari rumah ini, apa aku harus senang atau mencegahnya?’ Bastian membatin.
“Aku kel-“
“Tidak boleh!” Bastian memegang tangan Rara.”Kamu yang buat perjanjian selama dua tahun aku akan menuntut kamu jika kamu seperti ini, kamu tidak bertanggung jawab,” ucap Bastian memegang lengan Rara menyeretnya ke ruang tengah.
“Siapa yang mau berhenti, aku mau nitip pakaian yang aku beli ini, sama Rio, satpam di bawah”
“Haaa? Oh … begitu iya.” Bastian melepaskan tangan Rara dengan cepat.
Ia merasa malu karena sudah marah-marah duluan tanpa bertanya dulu apa masalahnya.
“Berikan kartumu, aku kelupaan kartu cepat,” ucap Rara dengan sikap buru-buru. Bastian meraih card kunci apartemennya, lalu menyerahkannya pada Hara. Rara bergegas dan turun,
*
Setelah memberikan titipannya pada Rio tetangga temannya, temanya Sukma yang akan memberikan pada putranya, Rara naik lagi ke atas,
“Ra, ayo makan, aku pesan banyak makanan, nih …,” ujar Bastian dan ia menarik satu kursi untuk Rara duduki.
Bahkan makanan yang ia pesan sudah ia panaskan kembali dan sudah di masukkan dalam Bangkok kaca semuanya tersusun rapi mengunggah selera.
“Wah, banyak, apa ada perayaan khusus?” tanya Rara menyendok makanan dalam piringnya.
“Tidak juga hanya malas makan di luar sendirian, di suruh masak pasti kamu bilang lagi malas”
Rara yang biasanya bawal dan banyak makan tetapi kali ini tiba-tiba ia sedikit berubah, ia makan seakan-akan tidak berselera, suasananya tiba-tiba jadi hening, entah kenapa Bastian tidak menyukai keheningan dan kecanggungan yang terjadi.
“Apa tidak enak?” tanya Bastian saat Rara terlihat tidak menikmati makanannya.
“Enak sih "
“Terus ada apa?” tanya Bastian menatap Rara dengan penasaran.
__ADS_1
Rara menghela napas, ia ingin mengungkapkan sesuatu hal yang penting sepertinya pada Bastian.
“Aku ingin bicara sesuatu boleh?” Rara menatap majikannya dengan wajah ragu.
“Kalau kamu ingin membahas yang tadi, nanti saja, aku sudah minta maaf, apa kamu belum memaafkan ku?” Bastian terlihat jutek
“Bukan itu”
‘Aduh … apa ini, apa dia mau pindah ? apa ia setuju bekerja pada Kenzo?’ Bastian membatin
Bastian menyudahi makannya dan ia mengusap mulut dan tangannya, ia berpikir apa yang akan dikatakan Rara akan membuat marah, ia sudah berpikir kalau Rara akan pindah ke tempat Kenzo.
“Ya, katakana saja ada apa?”
“Aku, ingin membawa anak aku kesini, hanya beberapa hari boleh, gak?”
“Haaa!”
“Ja-ja-jangan marah, kalau tidak boleh tidak apa-apa,” ucap Rara merasa tidak enak, biar bagaimanapun ia bekerja di sana.
“Bukan, aku pikir ada hal yang lain"
“Tenang saja, anakku baik kok, kamu pasti akan menyukainya kalau sudah mengenalnya,
“ Tapi kapan? Bukanya kamu bilang menghindar dari keluargamu?”
“Ia aku sudah lumayan lama menghilang , aku kangen sama anakku,” Rara menghabiskan makanannya,
“Boleh tapi, aku tidak suka anak yang nakal,” kata Bastian menatapnya. ‘Jika mamanya saja absurd seperti ini, bagaimana bentuk anaknya?’ tanya Bastian dalam hatinya.
Karena ia berpikir, setiap anak akan meniru apa yang ia lakukan orang tuanya,
Karena menurut Bastian, anak kecil itu, seperti kaset kosong, dan merekam apa yang dilihat matanya dan menyimpan nya di dalam memory otaknya.
“Jangan salah menilai, walau kelihatannya aku amburadul, tapi aku seorang ibu yang baik kok untuk anakku. Hanya saja kamu belum mengenalku, kalau saja kamu mengenalku dengan baik, aku yakin kamu akan jatuh hati dengan pesonaku,” kata Rara dengan nada bercanda.
“Ha,ha … gak bakalan. Aku tipe lelaki punya standar yang tinggi terhadap wanita, jadi jangan kamu pikir, karena aku baik, jadi aku cinta?”
“Baiklah, aku percaya, jangan diambil hati, aku hanya bercanda, aku juga tidak berniat masuk ke dalam keluargamu.
Ibumu sepertinya wanita yang tegas dan hebat, aku tidak berani, aku akan memilih jodoh dari duniaku sendiri kelak, jika memang harus menikah,” ujar Rara.
__ADS_1
“Aku juga tidak suka, dengan lelaki yang masih bocah, aku ingin nanti ayah anakku seorang lelaki yang dewasa.”
“Ckkk masih saja panggil aku sebutan bocah, aku ini sudah jambutan, jadi tidak pantas di sebut bocah lagi.
Memang berapa sih selisih umur kita, memangnya kamu udah tua bangat”
“ Intinya, umurku di atas kamu, jadi harusnya panggil aku mbak ,kakak, tante”
“Baiklah, kakak kalau itu yang kamu mau” ucap Bastian santai.
Lalu ia membereskan bekas piring makan mereka berdua dan mencuci. Bastian, tanpa ia sadari banyak mengalami perubahan, dari gaya hidup dan pola pikir sejak ada Rara di rumahnya.
Bastian, terkadang yang lebih dewasa, pembawanya dari pada Rara yang yang cara ngomong asal ceplak.
Setelah mencuci piring, Bastian juga mengeluarkan beberapa buah dari kulkas mengupasnya dan meletakkannya di piring,
“Terus bagaimana, gue … eh ralat anakku, boleh aku bawa kesini?” tanya Rara, ikut duduk dan memakan buah yang dipotong majikanya, mereka berdua duduk berhadap-hadapan, tidak ada jarak diantara mereka berdua, antara pembantu dan majikan. Terlihat seperti pasangan kekasih
“Baiklah, yang penting jangan mengganggu hidupku”
“Tidak, akan, percaya dah.” Ia menyakinkan Bastian kalau anak nya sangat baik.
“Baiklah, kamu boleh bawa ke sini.” Bastian memberinya izin “Ni, ambillah.” Bastian memberikan kartu ATM pada Rara.
“Aku tidak bisa menerimanya, berikan saja aku uang cas kalau mau bantu”
“Aku tidak punya uang cas, Ra dan tidak pernah menyimpan uang cas.” Bastian menatapnya dengan tatapan serius.
“Oh, tidak usah kalau begitu.”
“Kenapa sih, kan, tinggal menarik di ATM”
“Aku sudah terlalu banyak memakai uangmu, itu tidak bagus nanti membuatku jadi orang yang tamak”
Rara menolak card ia akan terima jika itu uang cas.
Bersambung ....
Bantu like dan komen ya kakak biar makin semangat menulisnya,baca juga karya saya yang lain.
Terima kasih
__ADS_1