Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Kemarahan yang Salah Sasaran


__ADS_3

Satu tembakan ia hadiahkan untuk Ayah Viona . tepat di lengan kiri. Ayah Viona tidak apa-apa, tapi Viona yang parah.


Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan membuat penyesalan seumur hidup.


Nasi sudah menjadi bubur, kini Bastian menanggung dari tindakannya sendiri.


Saat Rara berjuang hidup mati, ia duduk di dalam Hotel prodeo menyesali kebodohannya.


Lalu siapa pelakunya? Aku melakukan kesalahan besar, tapi aku yakin ada campur tangan Viona di sana. Gumam Bastian dalam benaknya saat itu, ia yakin mobil hitam itu sering keluar masuk dari rumah Viona.


Flas-on.


.


“Aku pergi bunda, bangunlah dan tunggu aku, aku akan menerima konsekuensi dari kemarahan dan kesalahan yang aku lakukan, walau ragaku tidak bersamamu, tapi percayalah , kamu tetap akan di hatiku, aku mencintaimu bidadariku,” cepatlah bangun dan jenguk aku nanti,” bisik Bastian ke kuping Rara mengecup keningnya.


Emak Rara yang tau menantunya datang, ia berlari dan mendapati polisi dan di dalam kamar itu ada Bastian dengan tangan terborgol.


“Iya ampun apa yang telah kamu lakukan Nak Bastian? bagaimana ini? bagaimana Rara?” kata Bu Soimah dengan tangisan dan memegangi dadanya, orang satu-satu yang ia harapkan menyelematkan Rara, kini sudah terbelenggu. Bastian tidak akan bisa berbuat apa–apa lagi itu yang ia pikirkan.


“Maafkan Bastian ,Mak,” kata Bastian dan meninggalkan kamar Rara.


Tapi matanya dengan sendu melihat ke arah Rara. Ia sangat menyesali tindakan sia-sia yang ia lakukan.


“Iya ampun nasib malang apa lagi kamu alami Ra? kini suami masuk penjara, babe harus di operasi, kamu harus bangun Nak, kamu harus kuat, ayo kita hadapi sama-sama,” kata Bu soimah mengusap tangan putrinya, Bu Soimah sejak saat Rara ia pukul terakhir kali, ia sudah menerima Rara seperti anak sendiri.


Aisah izin keluar untuk emaknya, ia bilang mau beli makan untuknya, padahal ia ingin menyelesaikan administrasi Rara dan babenya. Ia ingin gunakan kartu yang di berikan Bastian, ia tidak mau menjadi tawanan karena hutang budi.


Ia melunasi semua tagihannya, walau semua biayanya membuat mata hampir keluar melihat nominalnya, Tapi dengan kartu yang di berikan Bastian ia menyelesaikannya.


Tapi tidak diduga Ken melihatnya.


“Apa yang kamu lakukan Sah?”


“Saya hanya melihat administrasi kakak,” katanya dengan acuh, karena omongan nenek Ken, ia merasa malas untuk menemui lelaki itu.


“Jangan khawatir, pihak rumah sakit sudah membantunya,” katanya, tapi wajah aisa terlihat sangat datar.


Tidak ada raut gembira, seperti saat ia menawarkan bantuannya beberapa hari yang lalu.


“Apa ada yang salah?” Tanya Ken, menatap ke dalam mata wanita cantik itu.

__ADS_1


Aisah menunduk dan mengalihkan pandangannya, ia tidak menjawabnya. Tapi melihat itu Ken yakin telah terjadi sesuatu.


“Mas, begini..! saya tidak menginginkan bantuan mas lagi, jadi-“


“Apa aku melakukan kesalahan lagi?” potongnya dengan cepat, ia memotongnya sebelum Aisah mengusirnya dan menyuruhnya menjauh.


“Tidak, tapi saya tidak suka cara yang seperti itu, jika ingin membantu, bantulah dengan tulus, kalau tidak ada niat tulus, jangan lakukan itu, itu menyakitkan buat saya, karena perasaan tidak bisa beli dengan uang.”


“Apa maksudnya Sah? aku tidak mengerti,” katanya terlihat bingung.


“Mas, dari awal Aisah kan sudah bilang , saya dan keluarga sederhana, saya itu hanya orang miskin, tapi jangan memanfaatkan kemiskinan saya.”


“Bisa kamu bicara lebih jelas, aku tidak paham,” kata Kenzo. Ia terlihat sangat gelisah.


“Kemarin ibu dan neneknya Mas menemui saya, menurutku nenek dan ibunya mas, merendahkan keluarga kami, karena tidak mampu membayar pengobatan kakak Rara.Nenekmu menawarkan, akan menanggung pengobatan Babe dan kak Rara, tapi dengan syarat aku harus menikah denganmu,” kata Aisah wajah itu terlihat tidak suka.


“Kapan keluargaku melakukannya?” wajah Ken terlihat terkejut mendengarnya.


“Kemarin, beliau bahkan melamar di hadapan Emak saya,” kata Aisah.


“Aku tidak tau, sungguh Sah, kata Ken dengan tatapan terlihat sangat menyesal.“ Saya akan menasehati orang tuaku,” kata Ken.


Wajah Ken langsung berubah seperti ada kilatan api di ujung matanya.


“Saya meminta maaf,” kata Aisah sekali lagi.


Ken berdiri dengan langkah panjang, ia dengan wajah yang terlihat marah. Langsung masuk ke ruangan neneknya dan kebetulan ada beberapa ada Dokter ada di dalam ruangan itu, sepertinya membahas hal penting termasuk ada ibunya juga.


“Ok kalian boleh keluar, sepertinya akan ada badai kecil ini,” bisik orang tua itu, pada maminya ken.


Setelah para Dokter itu sudah keluar. Ken Menutup pintu itu kembali.


“Apa yang Mami dan nenek lakukan? kenapa kalian mengkhianati ku? Ken sudah bilang ia bukan wanita yang mudah di sogok dengan uang, kalian menghancurkan usaha kerasku selama ini, aku hampir mendapatkannya, tapi karena kalian, ia tidak ingin menemui ku, kenapa sih Mami tidak mendukungku saat aku ingin berubah? Apa nenek dan mami ingin aku kembali seperti dulu lagi? baiklah kalau itu yang kalian inginkan,” katanya meninggalkan kantor neneknya.


“Ken , kamu tidak mau mendengar penjelasan nenek dulu?” bujuk Maminya.


“Cukup, aku sudah tau, kalian mau bilang mengtesnyalah, kamus lama, aku muak,” kata Ken meninggalkan kedua wanita itu.


“Saat ia keluar. Aisah, lagi membeli minum di mesin penjual minuman, ia terlihat kesusahan memasukkan lembaran duitnya karena basah mesin itu tidak bisa membacanya. Ia ingin membantunya sebelum ia pergi untuk selamanya, ia berpikir ini mungkin bantuan terakhir karena ia sudah di usir pergi.


Baru ia ingin mengeluarkan lembaran duit dari dompetnya. Seseorang yang tidak asing menghampiri Aisah.

__ADS_1


“Hai Sa,”


“Oh..Dokter Huda,” katanya, hanya sekilas, habis itu ia sibuk dengan usaha kerasnya membeli minuman itu.


“Siapa yang sakit Sah?” Kata lelaki berjubah Dokter itu, tangannya memasukkan beberapa lembar pecahan lima ribuan dan minuman itu berhasil keluar.


“Terimakasih,: kata Aisa, telapak tangannya meminta minumannya.


“Tapi, kamu belum menjawab pertanyaan ku sah. Siapa yang sakit?”


“Babe,” katanya berbalik badan meninggalkan mantan tunangannya, ia tidak memperdulikan minuman yang ia inginkan itu lagi, ia muak dengan mantan tunangannya.


“Sah, apa kamu harus semarah itu padaku, apa kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita ? ayolah.. jangan membenciku seperti itu,”kata Dokter Huda sedikit berlari agar bisa menyeimbangkan dan berjalan di samping Aisah.


Ken yang sudah terlanjur berada di situ ada rasa jealous dalam hatinya, tapi “ siapa aku, aku tidak pantas,” katanya,


Ia sudah terlanjur berjalan kearah Rara, sudah terjebak ingin berbalik badan , tapi Aisah sudah sempat melihatnya.


“Sah”


“Eh…Mas Ken sudah? Ayo kata Aisah menggandeng tangan Ken menjauhi Dokter Huda hanya bisa melihatnya.


Jantung lelaki berdetak sangat kencang, hampir saja ia merasa jantungnya ingin melompat keluar, saat Aisah menggandeng tangannya, walau ia tau kalau itu hanya di buat pelarian sementara, tapi tetap saja ada perasaan senang dalam hatinya, niat ingin pergi jadi tertunda,


“Maaf iya mas, aku melakukannya.” Kata Aisah melepaskan tangannya.


“Tidak apa-apa sah, kamu boleh kok memakainya, kapan saja.”


Tidak diduga Aisah tersenyum, tidak ada kemarahan lagi di wajah cantik itu.


Bagaimana aku bisa melepaskan wajah cantik seperti itu, tidak akan kulepaskan Sah, aku akan tetap berusaha kata Ken dalam benaknya, melihat kearah Aisah yang meninggalkannya menuju kamar Rara


Aisah tidak memikirkan hal lain selain kesembuhan kakaknya.


Didalam kamar itu, Rara masih tidur panjang tidak tau kapan bangunnya.


“Kak, Abang Bastian sepertinya melakukan kesalahan, ia membalaskan sakit hatinya pada Viona, tapi kak.. ia salah sasaran, aku dengar dari polisi bukan Viona yang melakukannya, kamu tau, betapa hancurnya hati Bastian kak, ia melampiaskan kemarahannya pada orang yang salah, Kak.. bangunlah, buka matamu, aku sangat takut, Mak, kembali mendesak kak, ia memaksakan kemauannya lagi padaku, bangunlah kak, bela aku lagi ,”kata Aisah meletakkan pipinya di telapak tangan kakaknya, ia menumpahkan semua kesedihannya di tangan kakaknya.


Bangunlah Rara terangin sekitarmu dengan senyuman indah mu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2