Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Wanita hamil seperti Ratu


__ADS_3

Tapi Bastian tetap saja yakin kalau Kenzo di tuduh menyukainya, walau sudah di jelaskan hubungannya dengan Kenzo, tetap saja penjelasan Rara tidak penting.


“Aku! ingatkan sama kamu, jangan dekat-dekat dengannya, jangan terima teleponnya, itu membuatku marah,” kata Bastian tidak suka mendengar nama Kenzo, bahkan nama Kenzo di ganti dengan sebutan si brengsek.


Rara tidak tau ada masalah apa ia dan ken, padahal dulu katanya mereka sangat dekat


“Tidak, sayang, lagian siapa sih yang suka dengan wanita yang sedang bunting, yang ada lelaki lain akan merasa geli kali melihatku, aku saja merasa tubuhku ini seperti badut Ancol, apa lagi lelaki lain. Jadi jangan berpikir seperti itu saat aku hamil.” Kata Rara.


“Itu pikiran kamu, justru aku merasa saat kamu hamil, kamu sangat cantik ,Ra dan terlihat sangat seksi” Bastian memuji Rara “Jangan-jangan si Ken begitu juga, suka sama kamu”


“Aduh, Tian, sudahlah kita berhenti berdebat tentang itu, dengar, iya .intinya aku mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu, percaya padaku,” kata Rara.


“Aku mau, jangan dekat-dekat sama dia itu membuat mara-“


Kring


Kriiiiiing


Ponsel Rara berbunyi dan yang terjadi selanjutnya.


Matanya langsung menatap Rara tajam,


Kenzo tiba-tiba menelepon Rara, mata itu benar-benar tajam menatap istrinya.


“Halo.” Suaranya, terdengar tegas


“Rara, ada gak, bisa bicara sementara,” suara Ken, di ujung telepon.


“Loe, kalau mau ngomong, ngomong saja sama gue ada apa? Rara lagi kelelahan habis aku pakai barusan,” katanya, mulutnya terdengar tidak sopan.


“Baiklah nanti saja,” kata kenzo menutup teleponnya. Ia tau Bastian lagi marah.


Mata Rara melotot, ia tidak pernah menduga kalau Bastian secemburu itu. Apa lagi mendengar kata di “Pakai” itu kesannya seperti wanita murahan. Merasa kesal ia meninggalkan Bastian yang masih duduk di sisi ranjang.


Bastian terlihat sangat cemburu kemarahan tergambar di wajahnya, ia mengikuti Rara kekamar mandi.


“Saya sudah bilang, kalau kamu jangan berhubungan dengannya lagi Rara, katanya. Ia mendorong tubuh Rara di tembok


******* bibir itu lagi, Rara tau, kalau Bastian lagi cemburu dan marah pasti akan melakukan itu lagi, tidak peduli ia baru saja melakukannya, tidak perduli ia mau apa tidak, biasanya ia akan melakukanya hubungan badan baru ia merasa amarahnya berkurang,


“Tian, apa yang kamu lakukan, kalau kamu melakukannya lagi yang ada aku pendarahan dan kamu menyakitinya,” kata Rara, bibirnya berhenti diam di leher Rara. Dadanya naik turun tangannya terkepal kuat di tembok diatas kepala Rara. Ia sangat marah, terlihat dari urat rahangnya yang mengeras dan otot-otot tangannya mengeras, Rara masih terdiam dia di kunci diantara dua lengan yang yang kokoh.


Bastian mungkin akan merasa kesal padanya karena ia menolak melakukanya, ia akan uring-uringan nantinya.


Ia meninggalkan Rara dengan kesal pintu kamar mandi ia buka dengan kasar.


“Iya ampun, kamu kenapa jadi marah begitu sih padaku ? memangnya kamu saja yang bisa marah? Aku akan membalas perbuatanmu sekarang juga, kamu akan tau kekuatan seorang wanita hamil, wanita hamil itu adalah Ratu,” kata Rara dalam hatinya.


“Ayo sayang, kita kerjain Ayahmu, ia pikir hamil itu mudah?” Kata Rara mengusap perutnya.

__ADS_1


Ia siap mengerjai Bastian, ia akan membalas sikap marah-marah Bastian padanya.


Ia keluar dari kamar mandi dengan pura-pura lemas dan tangan memegang perutnya.


“Aku lapar, Ayah,” kata Rara mengusap perutnya, suara di buat berbeda seolah yang bicara itu anak dalam perutnya.


Bastian saat itu lagi tidur-tiduran, langsung duduk mendengar Rara bilang lapar, kemarahannya yang tadi untuk sementara ia simpan dulu


Mari kita coba apa ia bisa, menolaknya gumam Rara tertawa dalam hatinya


“Dia, ingin nasi goreng,” kata Rara, ia mulai melakukan aksi balas dendamnya,


“Tapi ini masih terlalu siang untuk pesan nasi goreng,” kata Bastian, sisa-sisa kemarahan masih ada di wajahnya.


“Siapa bilang mau pesan, aku mau di masakin Sama kamu,” kata Rara, mengusap perutnya dengan raut wajah di buat seperti orang kelaparan.


“Haa, haaa kamu bercanda, kamu sudah tau aku tidak bisa masak, apalagi nasi goreng,” kata Bastian


“Kamu tega ia dan aku akan kelaparan ,” kata Rara dengan mata yang buat hampir menangis


“Baik, baik aku akan masak, minta bantuan si bibi boleh gak?.”


“Tidak-tidak boleh, ia ingin kamu saja yang masak.”


“Baiklah,” kata Bastian, ia menuju dapur


Rara mulai menyusun rencana apa saja yang perlu di kerjakan lelaki itu.


“Ra, ini sudah,” kata Bastian membawa nasi goreng kedalam kamar, di tata indah di buat semenarik mungkin, ia bekerja keras melakukanya.


“Aduh, dia tiba-tiba ia ingin yang berkuah-kuah tidak suka nasi goreng lagi,” kata Rara.


“Apa!? kok bisa, ini sudah aku masakin degan susah payah, aku masaknya sampai tangan kebakar, ini lihat tanganku,Ra,” kata Bastian dengan raut wajah terlihat putus asa.


“Ini, anakmu gak mau, terus aku harus bagaimana?,” kata Rara mengabaikan nasi goreng itu.


“Benar, gak mau ini? Padahal enak loh, rasain dulu pasti nanti suka,” kata mencoba membujuknya lagi.


“Tidak. Tiba aku merasa mual mencium baunya, uaah.uaah. Rara pura-pura ingin muntah, tolang singkirkan itu,” kata Rara


Bastian dengan cepat menyimpan piring keramik berwarna putih itu kedapur.


“Terus, kamu mau makan apa? tadi katanya lapar,” tanya Bastian dengan penuh perhatian.


“Aku mau makan yang ada kuahnya, misalkan soto apa bakso, gitu,” kata Rara, bernada lemas,


“ Baiklah, aku beli naik motor, biar cepat, iya.” Bastian , bergegas turun dan ingin membelinya untuk Rara


Rara turun kebawa melihat nasi goreng yang di buat Bastian masih ada di atas meja di dapur.

__ADS_1


Ia mengambil sendok, awalnya satu sendok, ia mulai mengunyah perlahan dan matanya memicing,


“Enak,” kata Rara, dari satu sendok kini suapan ketiga dan terus berlanjut dan akhirnya habis.


“Ini minumnya Non,” kata si mbo, wanita paruh baya itu tersenyum manis, saat Rara menghabiskan satu piring besar dalam sekejap.


“Wah kenyang bangat,” kata Rara mengusap-usap perutnya,


Ia sudah menghabiskan satu piring porsi besar tapi Bastian belum juga datang.


“Lama bangat Bastian apa ia nangkap ayamnya dulu baru dimasak buat soto ayam,” kata Rara menoleh pintu masuk.


“Belinya jauh kali non, makannya lama.”


“Ah, ia lama , bilang ,Tian, aku tidur yan, Bi. Jangan bilang aku yang habiskan nasi gorengnya kata Rara” Ia naik lagi dan tidur.


Baru ia saja menutup mata, Basti terdengar buka pintu, Rara pura-pura tidur.


“Ra, ini makannya sudah saya beli,” kata Bastian menggoyang punggung Rara di balik selimut,


“Aku ngantuk, ingin tidur saja,” kata Rara dengan suara yang di buat berat.


“Haa, tapi aku membelinya jauh, ayo makan dulu,”


Mau jauh mau dekat aku mau tidur kata Rara dalam hatinya dan mengabaikannya.


Bastian terlihat membuang nafas kesal ke udara tangannya mengusap dahinya yang berkeringat, ia membelinya agak jauh, membelinya pakai motor, macet panas, tapi sekarang tidak di makan ia malah tidur.


Rara tersenyum licik melihat Bastian kesal. Bastian membawa Bangkok berisi soto itu kedapur dan ia datang lagi ke kamar.


“Tian” panggil Rara lagi, ia sepertinya belum puas melihat suaminya kelelahan.


“Iya apa,” suaranya tidak berselera lagi ada rasa kekesalan di wajah itu.


“Aku mau Icecream dong..”


“Apa? kamu mau mengerjai ku Ra,” matanya menatap Rara.


“Siapa yang ngerjain kamu,ia minta seperti itu, kok..” kata Rara mulai mewek


“Oh, baik.baik.’


“Kamu tidak tau sih bagaiman hamil, kamu tidak tau bagaimana ngidam, kamu tidak pernah ada disisiku saat aku melewati masa sulit itu, kamu malah seenaknya marah-marah padaku,” kata Rara


“Baik, baik aku beli,” Kata Bastian ia bergegas lagi ke supermarket terdekat tapi saat ia datang lagi-lagi Rara menolaknya.


“Tidak mau lagi, ia sudah kehilangan selera,”


Bersambung...

__ADS_1


BANTU KASIH BINTANG DAN VOTE DAN SHARE BERI HADIAH JUGA IYA GAES. JIKA KALIAN SUKA CERITANYA IYA


TERIMAKASIH


__ADS_2