Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bertengkar Dengan Rara


__ADS_3

“Tadi pagi datang dengan Viona tanpa basa –basi ibu memukuli ku, dan menampar dan menarik rambutku tanpa memberitahukan di mana letak kesalahan yang aku lakukan, seandainya ia membicarakannya dulu sebelum memukul , mungkin aku akan membela diri , tapi yang di  lakukan ibumu, hanya memukuliku terus dan menerus Olivia memanas-manisan ya dan ..."


“Apa Olivia ikut?”


“Iya, wanita gila itu, terus saja menghasut ibumu, menghasut hingga ibumu makin kalap, dengar …! katakan pada wanita gila itu, aku bukan wanita penggoda dan wanita murahan seperti yang dia utarakan pada ibumu.


Dengar Bastian, aku tahu diri kok, aku tidak pernah  berharap akan menjadi istrimu atau  jadi apa mu lah. Aku tidak tahu apa yang sudah kamu katakan pada wanita gila itu.” Suara Rara meninggi.


“Kok, kamu jadi marah samaku sih Ra, kan, aku tidak tahu."Wajah Bastian bingung.


“Kalau kamu tidak omong apa-apa pada Viona si gila itu, tidak mungkin ia tahu  tentang hidupku, aku hanya cerita padamu seorang Pak Bastian …!”


“Ra, kenapa jadi marah sama ku , bisa saja ia mencari tahu sendiri tentang hidup kamu, zaman sekarang semuanya mudah di temukan Ra,  bahkan masalah sedikit saja bisa jadi viral, sungguh, aku tidak pernah bilang apa-apa pada Viona,” ucap Bastian ia berucap pelan dan menahan diri, ia tahu Rara sudah di ambang kemarahan, kalau ia ikut marah, maka wanita itu akan meledak.


“Apa kamu tahu, apa yang dikatakan ibumu padaku! Ia menyumpahi anakku mati  dan ia  mengancam akan melenyapkan anakku jika melihat kamu menggendong lagi dan tertangkap camera wartawan, anakku masih bocah Pak Bastian, dia tidak tahu apa-apa.


Apa pantas seorang ibu mengatakan hal  seperti itu pada seorang anak kecil? Ayo katakan, apa aku  salah melaporkan wanita barbar itu?”


“Rara, tolong dia ibuku, aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, karena aku tidak melihatnya,” ucap Bastian, wajahnya mulai memerah saat Rara menyebut ibunya wanita bar-bar.


Biar bagaimanapun, di mata anak-anaknya ibu mereka yang terbaik, begitu juga dengan Bastian, ia tidak akan rela jika ada seseorang yang menjelekkan ibunya di hadapannya.


“Aku tahu Bastian,  kamu akan membela ibumu, walaupun,  salah”


“Rara Winarti tolong hentikan, aku bukan hakim atau jaksa yang bisa menilai mana yang salah mana yang benar!” Bastian marah.


“Jadi kamu menuduhku berbohong?”


“Rara aku lelah, aku tidak bilang kamu berbohong dan aku juga tidak membenarkan sikap ibuku, tolong, aku hanya tidak ingin kamu menjelekkan ibuku itu saja”


“Aku bukan menjelekkan Bastian, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, ibumu melakukan pemukulan padaku dengan cara bar-bar seperti preman”


“Rara hentikan!” Bastian sampai berdiri  dengan wajah menghitam, rahang mengeras, ia sangat tidak terima saat Rara menyebut ibunya bar-bar.

__ADS_1


“Dia ibuku Rara,  jadi jangan katakan lagi kata kasar tentangnya,  kamu harus tahu siapa dirimu saat menyebut kata-kata itu padaku”


“Oh .. baiklah, karena diriku  hanya pembantu di rumahmu, aku harus diam saat ibumu melakukan itu padaku, begitu, kan, maksudmu? Oh, aku lupa,  kalian ibu dan anak.


Dengar Bastian Salim …. JIka kamu mengukur kelayakan derajat manusia itu dari harta yang dimiliki, kamu salah,  tapi sudahlah, selamat malam”


Rara berdiri,  berjalan meninggalkan Bastian.


“Ra, aku tidak seperti yang kamu katakan,” ujarnya menatap punggung Rara.


“Selamat malam, Pak Bastian”


“Apa aku salah membela Ibuku Ra? Katakan!”


Rara membalikkan badannya,  ia menatap Bastian.


“Tidak, lakukan apa yang menurutmu benar,” ucap Rara masuk ke kamarnya.


Kini Bastian berdiri dengan dada naik turun, ia juga marah, tetapi ia tidak tahu  kemarahannya untuk siapa. Ia juga masuk ke dalam kamarnya,  merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


                                       **


Pagi-pagi sekali, Bastian sudah tidak ada di kamarnya, ia sudah pergi ke kantor polisi,


Memang ibunya tidak diperlakukan seperti tahanan  pada umumnya , ia didampingi empat pengacara keluarganya. Ibunya Bastian di periksa di ruangan khusus.


Seorang lelaki terlihat marah-marah, ia adalah Bardi Salim, ayah Bastin ia marah pada semua pengacara yang gagal mengeluarkan istrinya dengan cepat. Ia juga marah pada Hartika istrinya,


Bukan mendampingi di saat sulit,  ia malah menyalahkan istrinya karena berperilaku kasar. Ia menyebut istrinya berperilaku seperti preman pasar yang tidak punya etika.


“Kamu ingin menghancurkan ku ingin meruntuhkan saham perusahaan? Jika kamu sampai masuk berita, maka hancur semua kerja keras ku, saham perusahaan kita akan terjun bebas ke level paling rendah, apa kamu tahu itu!” kata lelaki bertubuh tambun itu di depan polisi yang memeriksa istrinya dan di depan ke empat pengacara yang mendampingi istrinya.


Sikap kasar dari ayahnya dan neneknya pada ibu Bastian, membuat lelaki tampan itu,  selalu merasa kasihan pada ibunya dan selalu membela ibunya, karena sikap kasar ayahnya pada ibunya membuat Bastian memilih tinggal sendiri di apartemen.

__ADS_1


Hartika istrinya,  hanya diam saat Bardi Salim  marah-marah, ia terduduk lesu dengan mata sayu dan lembab.  Ia tidak pernah berpikir wanita yang ia anggap pembantu anaknya harus menyeretnya ke ranah hukum, tidak pernah berpikir atas kelakuannya kemarin,  akan membuatnya berurusan dengan polisi, belum lagi disalahkan suaminya dan dipojokkan.


Bastian baru tiba di kantor polisi, ia masuk ke ruangan pemeriksaan ia memeluk ibunya, ia sungguh tidak tega melihat wanita yang ia sayangi duduk dalam ruangan pemeriksaan polisi.


“Bagaimana kalau ini sampai bocor ke media , ibu kamu akan menghancurkan  saham ku akan hancur gara-gara Ibumu,’ ujar lelaki itu lagi saat Bastian tiba.


Ayahnya Bastian terus saja menyalahkan istrinya di hadapan penyidik dan pengacara itu, ia tidak  menghiraukan tatapan polisi yang memeriksa istrinya.


“Bapak, biarkan kami melakukan tugas kami sebagai penyidik”


“Jangan lama-lama dong, kalau ia memang salah masukkan saja ke dalam sel, cukup, kan?”


“Ayah cukup!” Bastian marah pada lelaki berbadan tambun itu.


“Urus itu ibumu, ajarin ia sekalian bagaimana harusnya menjadi istri dan ibu yang baik, sungguh , memalukan.”  Ia menggerutu kesal sambil berdiri.


Pak Bardi meninggalkan Bastian dan ibunya dalam ruangan penyidik.


“Maaf Bu,  kami tidak bisa menghentikan penyelidikannya,  kami melakukan sesuai prosedur kepolisian.


Kecuali pelapor dan berdamai dengan ibu dan Ia mencabut laporannya baru semua ini, bisa berhenti, kalau ia belum mencabut laporannya.  Berkasnya akan tetap berlanjut ke meja hijau dan akan di sidang tindak penganiayaan di atur dalam pasal 351) Kitab undang-undang Hukum pidana


(“KUHP”) Tentang penganiayaan diancam dengan pidana penjara selama 2 Tahun.”


Polis menjelaskan pada Bastian dan ibunya.


Bastian hanya diam, lesu.  Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi , karena tadi malam ia dan Rara sudah bertengkar, Rara juga tidak mau memaafkan dan  tidak ingin berdamai,  tidak ingin mencabut laporan pada ibunya.


“Kamu pasti marah pada, Ibu?" Hartika menatap wajahnya anaknya.


Bastian hanya menggeleng, ia menunduk lemah. Munafik kalau dibilang ia tidak marah yang ia rasakan, perasaan kecewa, marah dan bingung, tetapi tidak mungkin ia menunjukkan pada ibunya, Ia tidak mungkin memarahi Ibunya,  karena ayahnya sudah menyalahkan ibunya dari tadi.


                                       Bersambung ...

__ADS_1


Halo Kakak semua selamat datang di karya kedua iya.


Bantu like dan vote iya Kakak, biar viewersnya naik.


__ADS_2