Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Hampir keguguran karena egois


__ADS_3

Bastian juga diam, tapi sikap diamnya bukan karena marah, tapi lebih tepatnya, ia ingin memberi waktu untuk Rara menenangkan diri.


Aku tidak apa- apa kamu pukul Ra, kalau itu bisa membuatmu tenang kata Bastian dalam hatinya.


Bahkan kamu tampar sekalipun aku terima agar kamu tidak marah lagi kata Bastian dalam hatinya.


Saat ia menarik tissue yang menyumpal hidungnya, lagi lagi-lagi hidungnya mimisan.


“Tian, Tian itu hidungmu berd*rah lagi, pinggirkan mobilmu, kata Rara panik.


Bastian meminggirkan mobilnya, Rara dengan sigap menekan hidung Bastian, menekan lubang hidungnya menghentikannya aliran darah agar tidak mengucur lagi.


Bastian menyandarkan kepalanya di jok mobilnya, menutup matanya, tapi tiba-tiba ada tetesan air mengenai pipinya, ia membuka matanya kini air itu, terjatuh lagi ke lengan tangannya. Rara menangis, Ia tidak pernah melihat wanita itu menangis seberat apapun masalahnya,


Ah…hatiku sangat sakit, bila melihatnya menangis.Bastian bermonolog dalam hatinya.


Apa karena kata-kataku membuatnya menangis kata Bastin dalam hatinya. Ia menutup matanya lagi, ia juga tidak tahan melihat Rara menangis.


“Sudah Ra?” Bastian masih menutup matanya. Ia tidak membuka matanya sebelum Rara mengusap air matanya.


“Sudah, sekarang antarkan aku pulang, saja,”


Bastian menarik nafas panjang


“Ra aku ingin memperbaiki rumah tangga, kita biarkan aku melakukan tugasku,” Bastian menghidupkan mesin mobilnya kembali.


Suasana kembali memanas saat ia menolak, untuk mengantar Rara pulang kerumahnya.


“Kamu! mau membawaku kerumah orang tuamu? jangan harap, aku belum siap melihat ibu, hentikan gak!” Kata Rara menarik tangan Bastian dengan tidak sengaja.


Karena kaget suaminya membanting stir mobilnya ke kanan, berdentum menabrak tiang listrik.


Tiba-tiba suara hening.


Hampir saja kecelakaan terjadi dan kalau Rara tidak memakai sabuk pengaman mungkin sesuatu akan terjadi pada bayinya


Hanya kepalanya terbentur ke dasbor di depan mobil.


“Apa yang kamu lakukan sih, Ra?” suara Bastian meninggi dan wajahnya merah menahan amarah, disertai kepanikan.


Rara terdiam wajahnya pucat, tangannya memegang perutnya.


Karena kecerobohannya hampir saja ia mencelakai mereka bertiga.

__ADS_1


“Ra, kamu tidak apa-apa? ya. Tuhan.. Bastian langsung panik, apa yang terjadi? apa kamu tidak apa-apa, mana yang sakit?” Tanya Bastian. Ia panik saat Istrinya memegang perut besarnya.


Rara masih diam, dengan wajah panik dan ketakutan ia membuka sabuk pengamannya, memeluk istrinya.


“Apa aku melukainya, Ra?” Suara Bastian bergetar, karena takut, ia takut Rara keguguran.


“Aaa..aaa aku tidak bermaksud melakukannya, aku sudah gila,” kata Rara benar-benar menangis dengan kencang di pelukan Bastian.


“Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa, kita akan berhenti di sini, baiklah kita tidak akan pulang kerumah keluargaku, tadi niatnya, aku mau bawa kamu ke rumah kita, ke apartemen kita, aku pikir dalam situasi kita rumah itulah yang tepat untuk kita berada di tengah-tengah,” kata Bastian, masih memeluknya,


Karena terbentur di kepala Rara, kepalanya bengkak segede telur puyuh.


“Aku pusing Bastian,” kata Rara memegang kepalanya.


“Baik-baik sayang, aku akan membawamu,” Tian membaringkan kepalanya dengan hati –hati menyandarkannya di jok depan,


Jok di depan dengan perlahan ia turunkan Rara membaringkan tubuhnya, Bastian masih sangat ketakutan


Ia mengecek mobilnya tidak terlalu parah masih bisa di bawa jalan. Ia masuk lagi dan menghidupkan lagi mesin mobilnya.


Hingga tiba di apartemen milik Bastian di daerah Casablanca.


Ia terpaksa mengendong Rara naik ke apartemennya, walau Rara bilang tidak perlu, tapi ia melakukannya, pikirannya kacau.


Bodoh.. bodoh bagaimana kalau aku menyakitinya dan menyakiti anakku.Wajah Bastian mengeras, sebagai calon Ayah, tentu ia merasa takut, takut anak dan istrinya tersakiti karena keras kepalanya karena keegoisan.


Keringat bercucuran di keningnya, karena mengendong tubuh Rara plus bayinya dari parkiran sampai ke atas,


“Ya, Allah mudah-mudahan ia tidak kenapa-kenapa, aku sangat takut,” kata Bastian. Berucap pelan


Rara meringis memegang perutnya, membuatnya semakin takut, posisinya sebagai calon papa muda, ia bingung harus berbuat apa.


“Ra , aku akan membawamu ke Dokter,” kata Bastian dengan keringat yang masih bercucuran di campur air bening keluar dari kelopak matanya juga.


“Jangan, aku hanya merasa ulu hatiku sakit. Kita atas berbaring, mungkin nanti sudah baikan,”


kata Rara menatap wajah bastian yang bermandikan keringat dan buliran air itu jatuh tepat di pipinya.


“Bertahanlah, Ra, kita sebentar lagi akan sampai,” kata Bastian hingga tiba di apartemennya, dengan buru-buru menekan password pintunya, karena panik sampai beberapa kali salah memasukkan password.


Karena otak dan hatinya tidak saling sinkron dengan usaha yang keras akhirnya ia bisa membuka pintu itu, ia meletakkan Istrinya di kasur masih dengan bermandikan keringat, ia mencondongkan wajahnya kearah Rara


“Ra, apa yang sakit matanya hampir menangis, apa kah ia terbentur?” Bastian tersiksa bahunya sedikit terguncang.

__ADS_1


“Tidak, ia tidak terbentur, aku yang kaget,” kata Rara


“Ya, Allah, syukurlah, aku hampir mati pingsan,” kata Bastian masih dengan posisi berjongkok


Lututnya benar-benar gemetaran dan sampai-sampai tidak bisa menopang kakinya.


“Aku hanya merasa pusing sedikit, karena kepalaku,” ia menunjuk kepalanya yang meninggalkan jejak segede telur puyu, tepat di keningnya.


“Baiklah, aku akan mengambil es batu untuk mengompresnya,” kata Bastian, dengan cepat melangkah ke dapur.


Untung Bastian menyuruh orang selalu membersihkan apartemennya .


Ia berpikir sewaktu-waktu ia datang rumahnya tetap bersih , tangannya kanannya membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bongkahan batu es dan meletakkannya di sapu tangan, ia mulai mengompres benjolan di kepala Rara


“Ah sakit,,” rintih Rara saat ia menekannya


Setelah beberapa lama.


Bastian duduk di sisi ranjangnya, kedua tangannya memegang kepalanya terlihat jelas ada kepanikan dan ketakutan padanya.


Jantungnya bahkan belum berdetak degan normal. Ia masih merasa lutut kakinya masih gemetaran, baju yang di pakai basah kuyup, ia tidak menghiraukannya .Rara sudah menutup matanya ingin tidur.


Apa ia masih merasa sakit? apa aku perlu memangil Dokter, gumam Bastian, ia melirik Rara, wanita cantik itu sudah tidur pulas dengan cara memiringkan tubuhnya kesamping.


Bastian masih menatap wajahnya Rara dan matanya turun melirik kebagian perutnya.


Hatinya masih sangat khawatir, ia menyisihkan baju Rara, ia tempelkan tangannya di atas perutnya, ia memastikan bayinya masih bergerak apa tidak, tapi tangannya tidak merasakan apa-apa jantung Bastian kembali berdetak dengan kencang, tidak sampai di situ ia menempelkan wajahnya tepat di kulit perut Rara. Kulit putih mulus itu saling bertarikan seperti balon yang di tiup.


“Apa kamu baik-baik saja, sayang?” Bastian bertanya pada gundukan perut Rara.


Gerakkan halus terasa di pipinya, gerakkan lembut yang menyentuh pipi Bastian. ”Ya ampun ini sangat luar biasa,” pungkas Bastian, saat calon anaknya menyapa suaranya,


ia menyisikan baju atasan Rara hingga ke atas memperlihatkan celana karet yang di pakai istrinya menempel di bawah perutnya.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Rara melihat kelakuan suaminya, “Apa aku terlihat seperti badut?” tanya Rara mengusap-usap Perutnya


“Tidak sayang, kamu cantik seperti putri duyung terdampar,” kata Bastian , dengan candaan.


Mengecup keningnya, ia bersyukur kalau Rara dan bayinya baik-baik saja.


Apa yang aku harus lakukan selanjutnya? saat ibu menolak menjemput Rara.Tapi Rara inginnya Ibunya yang datang. Bastian terlihat pusing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2