
Saat pagi pagi tiba, ibu dan neneknya dan ayahnya sudah menunggunya di meja makan.
“Selamat pagi, Omah, Ibu, Ayah sapa Bastian terlihat bersemangat” Satu tangannya menyeret kursi di samping Omanya,
Tapi mata omanya mengawasi sekeliling. Oma berpikir kalau Rara sudah ikut kerumahnya hari itu.
“Loh mana istrimu gak jadi dibawa ke rumah?” wajah neneknya melirik mencari sekeliling.
Tapi berbeda dengan Ibu Bastian, cantik-cantik tapi sayang galak.Ia tidak suka membahasnya bahkan terlihat sangat cuek kala mereka membahas istrinya. bahkan hubungannya dengan anak semata wayangnya meregang saat ia memutuskan menikah dengan Rara.
Kalau dulu ia selalu membanggakan anaknya, anak penurut sama teman sosialitanya maka saat itu, ia bilang anaknya rusak karena seorang wanita kampung yang mengguna-gunai anaknya hinga sampai terpikat,
“Itulah, yang aku ingin bicarakan Omah pagi ini” kata Bastian dengan tangganya mengoleskan selai srikaya ke lapisan roti di tangannya. Di temani satu gelas minuman gandum panas.
“Ada apa?” Tanya Ayahnya di buat penasaran, sama anak semata wayangnya. Hubungan mereka memang tidak terlalu akur, tapi Bastian selalu menghormati.
“Begini, Yah” Rara pulang kerumah orang tuanya, tapi orang tuanya menyuruhku membawa keluarga untuk membawanya pulang dan melaksanakan sesuai adat baru aku bisa membawa istriku kembali” Bastian kali ini menatap kedua orang tuanya tatapan membutuhkan pertolongan dan membutuhkan bantuan dari keluarganya.
“Lah, kok pulang bukanya kemarin kamu mau bawa kesini secara resmi” tanya Omahnya
“IYa omah, tadinya saya mau kesini dulu, tapi keluarganya menyuruhku datang , tapi malah tidak boleh Rara di bawa pulang, harus bawa orang tua”
“Iya,iya memang harus ada adatnya kalau ayahnya Rara masih hidup” Kata ayahnya Bastian
“Iya , yah , bapaknya Rara galak bangat, Bastian sampai di marahin” kata Bastian mengadu sama ayahnya untuk pertama kalinya mereka berdua mengobrol enak seperti itu, layaknya anak dan bapak.
“Apa ayahnya memarahimu?” tanya lelaki berbadan tambun itu pada Bastian.
“Iya. tapi karena Tian juga salah, tidak tau dan tidak paham tentang adat, aku datang saja seperti bertamu seperti biasa ternyata salah” Bastian tersenyum kecut mengingat kebodohannya.
“Apa perlunya membawa gadis kampung itu kesini malu-maluin keluarga kita aja , Tian, kayak tidak ada lagi wanita yang lain.” Ibunya mulai mengeluarkan lidah berbisanya.
“Ibu sudah dong, jangan seperti itu lagi, saya sudah bilang kami sudah menikah, kita sudah membahas dari kemarin-kemarin,kan”
“Tapi sampai kapanpun ibu tidak bakalan setuju, tidak akan menerima wanita kampung itu jadi menantuku” kata ibunya dengan nada tinggi.
“Baiklah, Ayah mau menemui keluarganya Tian , saya juga melihat seperti apa orang yang memarahi anak saya” kata Ayahnya Bastian dengan nada bergurau.
“Ayah, mau ikut?” Tanya Bastin dengan wajah sumringah seperti anak kecil yang kesenangan saat ayahnya ingin ikut menemaninya naik odong-odong.
“Tentu, mari kita lakukan kata Pak Bardi bersemangat.
Ia juga senang, saat anaknya terlihat senang karena ia juga merasa sudah sangat lama mereka tidak mengobrol seperti itu.
Pak Bardi juga tidak pernah sejalan dengan istrinya, ia selalu bertentangan, mereka terlihat seperti api dan air tidak pernah bisa bersatu,
__ADS_1
Hanya nama yang terlihat suami istri, tapi dalam kamar bahkan mereka berdua tidur terpisah.
Tapi orang tua Bastian tetap berstatus suami istri demi kerja sama bisnis keluarga besar mereka. Sudah lama tidak ada cinta di pada hubungan orang tua Bastian
.
“Baiklah, Omah juga ikut, benar juga kata orang tuanya kita harus menjemputnya dengan baik, saya akan siapkan diri” kata Omahnya mulai bersiap, ia pihak Bastian
“Saya tidak mau ikut, kerumah kumuh itu, itu menjijikkan” kata Ibunya Bastian
“Baiklah, kalau ibu tidak mau datang itu lebih bagus, biar ayah dan Omah yang ikut” Kata Bastian dengan yakin, ia berpikir kalau ibunya tidak ikut itu lebih baik,
Pak Bardi terlihat senang, ketika anaknya akhirnya melibatkannya dalam urusan rumah tangga anaknya. Karena selama ini, Ibunya yang selalu menguasai hidup Bastian.
Ibu bastian, diam berpikir keras, karena walau ia tidak ikut Bastian juga tetap akan membawa istrinya . apalagi Bastian tadi berpihak sama suaminya. Maka ia takut Bastian akan menjauhinya, maka setelah berpikir keras . Ibunya bastian menjilat Omongannya sendiri , ia memutuskan ikut ke rumah Rara.
Hingga mereka siap berangkat.
Cuaca hari terlihat sangat cerah dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Tapi bastian dengan langkah pasti keyakinan yang kuat, setelan kemeja putih dan di padukan celana berwarna hitam, ia terlihat sangat tampan.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah berlantai satu, bukan tempat kumuh lagi seperti yang di bicarakan Ibunya.
Rumah kediaman orang tua Ara. Di sambut orang tua ara yang sudah berdiri di depan pintu dan beberapa saudara terdekat ibunya dan orang tua sukma juga.
Mereka berdiri tersenyum sangat ramah dan menyambut kedatangan besan Horang kaya.
Mereka di sambut dengan sangat baik. Rara terlihat sangat anggun dengan balutan dresbrokat panjang berkerudung berwarna pink bajunya samaan dengan ibunya.
Bastian mencuri-curi pandang melihat Rara yang sangat terlihat sangat cantik dan anggun
Saat Bastian dan ayahnya duduk degan sopan dan dan tenang, tapi tidak begitu dengan Ibunya Bastian sudah mulai membuat masalah.
Ibu rara terlihat sudah sangat sabar, walau wanita tangguh itu sabar tapi kalau terus di pancing wanita asli Betawi itupun bisa mengamuk seperti singa betina,
Ibunya Bastian sepertinya datang bukan untuk mendukung melainkan ingin membuat masalah bagaimana agar mereka melarang Rara. Berhubungan dengan anaknya.
Saat di tawari minuman- minuman ibunya tidak mau meminumnya, saat di berikan disuguhkan makanan juga tidak mau. Ia selalu bersikap agar mendencis seperti jijik
Acara yang di buat seperti pengajian itupun akhirnya selesai,
Sebagian tamunya sudah pulang tinggal Tamu intinya saja,
Saat emak Rara mulai panas dan ia mulai menggenggam bajunya, ia bertahan demi Rara sesuai janjinya, ia beberapa kali meneguk air putih untuk menenangkan dadanya.
Setiap kali ia ingin bertindak, Aisah selalu menggeleng agar emaknya menahan diri,
__ADS_1
Rara bisa melihat kekesalan emaknya, ia sendiri sudah tidak kuat ingin menyingkirkan mertuanya ke tempat sampah.
Tapi saat ibunya bertindak tidak sopan seperti itu, Bastian hanya diam menunduk malu terhadap keluarga Rara. Berkat kesabaran keluarga acara berjalan dengan baik sesuai dengan yang mereka di harapkan.
Ibunya Bastian sangat marah karena usahanya mempermalukan keluarga Rara gagal total, malah ia yang terlihat mempermalukan diri sendiri.
“Dengar iya, saya tidak akan terima sampai kapanpun anak kampung miskin ini, masuk kekeluarga saya” Teriaknya tiba-tiba.
Merasa tidak tahan lagi dan sudah habis batas kesabaran. Emaknya Rara dengan marah, menyiram wanita itu dengan segelas sirup berwarna merah.
Rara bukanya panik, ia malah senang dalam hati, saat Aisah dan sukma melihat kearah Rara, ternyata Ia tersenyum mengedipkan mata dan mengangkat jempol dari sisi gaunnya.
Aisah dan sukma akhirnya ikut tertawa menutup mulut dengan ujung kerudung, membiarkan emaknya memberi pelajaran pada wanita itu.
Babehnya Rara melihat tingkah Rara malah ikut senyum dan memilih keluar,
“Mari pak, kita duduk di luar saja, biarkan para ibu yang menyelesaikannya Kata Pak agus pada besannya, maka hal yang lucupun terjadi bapak Rara dan Bastian terlihat akrap duduk di luar, ternyata mereka berdua punya selera sama, suka sama yang namanya binatang bersayap tersebut, burung maka keakraban terjadi
Mereka terlihat tertawa saling berbagi cerita dan melihat-lihat burung babeh rara yang lumayan banyak di buat gantungan di samping Rumah dari yang mahal sampai yang murah.
Di dalam rumah Ibunya Bastian ,masih terlihat adu mulut dengan emaknya Rara. Tapi mereka seolah cuek Omahnya bastian malah bercanda dan mengobrol dengan si tampan calvin yang kebetulan baru pulang sekolah.
Melihat cucunya datang dengan cepat Emaknya Rara langsung berhenti,
Berantemnya di skip dulu, ia tidak ingin cucunya melihat kekerasan lagi atau pertengkaran lagi, ia bisa trauma sama seperti saat ibunya Rara yang terluka saat itu
Maka emaknya rara berubah
“Eh,cucuku sudah pulang, ia mengecup kening si tampan menyuruh Rizki membawanya ke atas.
“Nenek lagi ngapain?” ia bertanya dengan wajah tampannya terlihat bingung
“Oh,Nenek lagi main, acting sama ibunya om Bastian” wajah emak.
Rara, dan Aisah, dan lainnya nyengir kuda mendengar alasan emaknya.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)