
Orang akan berpikir, pemilik apartemen itu seorang wanita, kalau tidak pasangan yang sudah berkeluarga, apartemen milik Bastian terlihat sangat indah karena sentuhan tangan seorang wanita di dalamnya, bunga- bunga berwarna-warni menghiasi balkon apartemen Bastian.
Untuk dekorasi saja, untuk taman mini dalam balkon, Rara meminta Bastian melakukannya, Bastian akhirnya luluh, setelah Rara merengek, ia memangil seorang arsitek untuk membuat tempat kembang- kembang tanaman Rara
Pada awalnya ia menertawakan keinginan Rara, ia tidak yakin wanita yang terlihat cuek itu akan bisa mengurusnya, tetapi setelah di dilihat tiap hari ia mengurus tanaman miliknya, akhirnya ia paham Rara orang yang tepat janji dan orang yang punya komitmen yang kuat , akhirnya ia ikut tertarik, Bastian ikut membeli beberapa taman mahal untuk ia rawat juga.
Setiap ada job keluar kota dan ada kembang yang unik dan cantik, ia akan membawanya dan menyuruh asisten nya untuk membawanya pulang. Pernah sekali asistennya bertanya karena Ia pikir kenapa Bosnya mendadak suka sama kembang. Karena selama dua tahun, ia mendampingi lelaki tampan berkulit putih itu, belum pernah melakukan hal itu. Tetapi saat ini ia merasa Bastian banyak berubah, baik penampilannya yang biasanya harus selalu perfeksionis tetapi kali ini, berkurang.
“Untuk siapa, Bos? tanya Laras saat itu.
“ Ratu Queen yang ada rumahnya yang dimaksud neneknya si nyonya besar. Neneknya memang mengkoleksi berbagai jenis kembang yang mahal dari seluruh belahan dunia.
Bahkan setengah dari halaman rumah besarnya dihiasi segala jenis kembang yang cantik dan indah.
Laras sudah pernah mendengar Nenek Bastian, sangat senang merawat kembang, makanya belakangan ini, setiap kali ia disuruh untuk membeli bunga, ia tidak akan protes lagi, asistennya tidak tahu kalau ia tidak memberikan pada neneknya, Bastian menanamnya di balkon bersama dengan tanaman-tanaman milik Rara. Maka taman rias milik Rara, lumayan banyak dan cantik, terawat, Rara juga menambah tanaman herbal yang banyak bermanfaat.
**
Falashon.
Kembali para Ara dan Bastian pagi itu.
Bastian masih menatap Rara, sepertinya ia ingin menanyakan sesuatu, tetapi wajahnya terlihat ragu, melihat sikap ragu-ragu yang diperlihatkan Bastian Rara sudah mulai merasakan panas di wajahnya ia yakin kalau Bastian ingin, meledeknya tentang tragedi kolor robek yang tadi malam .
Ara yang membaca gelagat yang kurang enak dari pemuda itu, ia pura –pura menyibukkan dirinya sendiri dengan tanamannya.
“Mbak Rara” Suara Bastian berirama.
“Apa ….?” Rara mulai merasa hawa kejahilan atau hawa untuk meledak dirinya sudah mulai,
“Tentang tadi malam.”
__ADS_1
‘Benar, kan' bisik Rara dalam hatinya, ia akan membahas itu lagi, itu sangat memalukan
“Jangan bilang, kamu mau membahas Kolor gue yang bolong itu,iya,” ujar Rara spontan
“Ha …ha … ha ….”
Bastian tertawa terbahak-bahak, ia sampai harus memegang perutnya, tentu saja membuat muka Rara merah, bagai tomat rebus, mengingat barang koleksinya yang memalukan itu. ****** ******** ada banyak sebenarnya , hanya kebetulan saat itu, ada tiga dalam laci, yang lainya lagi di jemuran. Tetapi tidak mungkin malam itu, ia menceritakan kalau celananya lagi di jemuran.
“Berhenti menertawakan ku,” ucap Rara, ia meninggalkan Bastian yang masih tertawa.
Ia masuk ke kamarnya, tetapi lelaki itu masih mengikutinya dan terus meledak Rara, mengekorinya dengan guyonan-guyonan tentang si kolor bolong.
“Kamu masih memakainya?” tanya Bastian masih mengekori Rara.
“Ckkk … kamu ngekor kesini gara-gara kolor robek ini.” Rara, membuka laci, memburu Bastian dan memakaikannya kekepala Bastin, sebuah ****** *****, bercorak kucing yang sudah kehilangan dayanya alias sudah mati karet.
Ia semakin tertawa keras saat Rara memakaikannya, mereka bercanda tertawa dan terkekeh, siapapun yang melihatnya tidak akan menduga, mereka antara Bos dan asisten rumah tangga.
Bastian meringkuk di ranjang Rara dan menyembunyikan wajah tampannya , ia terus menghindar dan merasa jijik dan tertawa ngakak dan merasa geli karena Rara juga memburunya ikut naik keatas ranjang dan menjejelin wajah dengan barang pribadi miliknya. Tepat saat itu juga, ada seorang wanita berdiri di depan pintu kamar Rara. Ia Menyaksikan kelakuan mereka berdua.
Ia batu-batuk kecil saat itu juga Bastian langsung diam tak berkutik di hadapan seorang wanita yang berumur kira –kira setengah abad dengan tantanan rambut sempurna dan berpenampilan elegan. Ia lagi berdiri tepat didepan pintu menyaksikan aksi bercandaan mereka berdua.
Dialah neneknya yang ia disebut Bastian Nyonya Besar, Marisa Queen neneknya.
“Oma …?”
Wajah Bastian terlihat terkejut, melihat kedatangan neneknya, berbeda pada ibunya yang waktu datang beberapa saat lalu.
Saat bertemu ibunya Bastian terlihat sangat hangat baik akrap sama ibunya tetapi kalau sama wanita ini ia terlihat kaku.
“Iya, Omah datang kesini menjenguk kamu karena sudah lama tidak mampir ke rumah,” ujar omah nya, matanya mengawasi Rara yang duduk diam di sofa.
__ADS_1
“Mari, Oma duduk “ Bastian membawa neneknya duduk di ruang tamu.
“Baiklah, ajak juga teman wanita mu juga , untuk duduk bersama kita,” pinta omah nya dengan nada tegas.
Saat mendengar sebutan ‘teman wanita’ tiba-tiba jantung Bastian serasa mau loncat dari dalam dadanya, dengan spontan ia menatap Rara dengan wajah panik. Tetapi berbeda dengan wanita yang satu itu,ia bersikap tenang dan menyengitkan alisnya pada Bastian, tetapi ia menurut, ia mengikuti omanya Bastian ke ruang tamu.
‘Teman wanita apa?’ tanya Bastian menghela nafas pendek dari mulutnya.
“Oma, ini bukan seperti yang pikirkan,” ujar Bastian, setelah mereka bertiga duduk di ruang tamu. Dengan jantung yang masih berdebar sangat kencang, ia menjelaskan kalau ia dan Rara tidak dalam satu hubungan yang spesial.
Tapi siapapun tidak percaya dengan penjelasan Bastian yang mengaku Rara seorang yang bekerja di tempatnya saat ini.
Semua tentang mereka sepertinya sudah didengar Neneknya, mulai dari menantunya, yaitu Ibunya Bastian yang mengaku memergoki mereka berdua lagi melakukan hal- hal yang tak terpuji.
“Apa kamu pikir Oma akan percaya dengan apa yang kamu katakana setelah apa yang saya lihat tadi. Olivia yang juga mengatakan kamu menyimpan seorang wanita dewasa di apartemen mu, dan terakhir tadi malam.”
Ternyata dokter keluarga mereka yang memeriksa Rara, sudah bercerita pada keluarga kalau Bastian, tinggal dengan seorang wanita. Sang dokter juga, menyebut Bastian sangat kawatir pada Rara, oma juga ia memergoki keduanya dalam ranjang kamar bercanda cengengesan.
“Siapa nama kamu?” tanya wanita itu pada Rara.
“Saya Rara winarti, Bu”
“Apa pekerjaan kamu?” Omanya Bastian bertanya lagi.
“Kalau ibu bertanya pekerjaan saya. saya bekerja di sini jadi pembantu Bastian,” ujar Rara, langsung pada intinya.
“Kamu mengaku pembantu tapi bertindak dan berperilaku seperti yang tadi dengan tuan kamu? itu bukan perilaku seperti pembantu,” ujar Ny. Marisa dengan tegas
“Oma, tolong biarkan ia pergi, ia tidak salah,” ujar Bastian membelanya di depan omanya.
“Jika Nyonya mengatakan seorang pembantu tidak bisa berteman dengan bosnya, saya pikir anda salah besar, ia manusia dan saya manusia juga, apa bedanya? hanya membedakan harta dan kedudukan, dan jika besok mati ia tidak akan membawa hartanya, bukan,” ujar Rara, mata wanita Ny. Marisa membelalak, ia kaget dengan sikap berani Rara.
__ADS_1
Bersambung ….
Bantu Vote dan lika dan tekan tombol Favorit iya.