Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bastian keluar dari rumah sakit


__ADS_3

Mata Bastian terlihat mencari ke setiap sudut ruangan, tidak ada yang menyadari siapa yang di cari mata Bastian. Kecuali Bardi salim, Ia tau mata Bastian mencari Rara istrinya.


Mulutnya belum bicara, tapi mungkin ia berpikir bermimpi mendengar suara Rara, karena dari tadi, ia tidak ada menemukanya Rara dalam kamar itu. Hingga terlihat guratan kesedihan di wajahnya.


“Ia baik-baik saja. Tian, kamu tidak mimpi, tadi Rara datang dengan anakmu kesini, makanya bangunlah,” bisik Ayahnya ke kuping Bastian membuat tubuhnya bereaksi.


Matanya menatap ayahnya dengan mata memburu, terlalu lama berbaring membuat tubuhnya dan tangannya dan kaki belum bisa di gerakkan dan belum berfungsi.


Nyonya Hartati belum tau siapa wanita yang di maksud Perawat, ia sangat penasaran sesuai nazarnya, ia bernazar siapapun orang yang bisa membangunkan anaknya, ia akan memberikan apapun yang di minta. Sebagai ucapan terimakasihnya. Ia tidak tau, kalau yang datang membangunkan putranya adalah menantunya sendiri.


Apa yang terjadi, Dokter? “ kata Hartati


“Sepertinya ada yang membuat hatinya senang.” Kata Dokter ia ikut senang melihat Bastian akhirnya bangun.


“Mungkin wanita yang tadi,” kata salah satu perawat yang melihat Rara keluar dari kamar Bastian


“Yah, siapa wanita yang di maksud perawat itu,” ia bertanya pada suaminya,


“ Ibu punya janji soalnya, ibu janji siapapun orang yang akan bisa membangunkan Bastian saat itu, saya akan menuruti apapun yang ia diinginkannya,” katanya dengan raut wajah serius.


Bardi salim, menggerakkan pundaknya tanda tidak tau. ia sibuk mengurut-urut kaki Bastian agar ia mampu mengerakkan tubuhnya. Bastian menurut sama, apa yang dikatakan ayahnya berharap ia sembuh dan Rara datang


Setelah beberapa hari kemudian sejak Bastian siuman, Hartati baru saja duduk setelah melakukan olah raga pagi, ia rutin ia lakukan setiap pagi, alhasil tubuhnya terlihat masih muda.


Ia duduk dan beberapa lama Bardi salim terlihat duduk gelisah.


“Apa Yah?.”


“Tapi benarkah Ibu tidak akan mengingkari nazar, Ibu?,” tanya Bardi Salim tiba-tiba, matanya menatap Bastian dengan kedipan mata


Bastian terlihat tersenyum


“Ibumu akan kita buat terkejut,Tian, kata Bastian ke kuping Bastian,


“Ayah, bisik apa sih?,” tanya wanita yang selalu berpenampilan cantik itu. menggelitik pinggang suaminya. Bastian di duduk di kursi Roda terlihat heran melihat kedua orang tuanya yang tiba-tiba sangat akrap bahkan bercanda. Ini bagai mimpi baginya, karena ia tau kedua orang tuanya tidak pernah melakukan itu, selama ia menjadi anak mereka baru kali melihatnya.


Biasanya mereka akan selalu berdebat dan tidak pernah cocok satu samai lain.


Melihat orang tua akur, ia semangat untuk


Sembuh. Bardi salim terlihat tertawa lepas dan menghindar saat Hartati menyentuh pinggangnya.


Bastian terlihat tersenyum kecil, saat Ayahnya juga menggelitik balik istrinya, kehangatan terjadi di kamar Bastian kelihatan sangat harmonis.


Apa yang sudah saya lewatkan selama saya koma, apa mereka sudah berbaikan? Tanya Bastian terlihat ikut senang.

__ADS_1


Hati yang senang, obat yang paling mujarab. Bastian ikut tertawa melihat kelakuan orang tuanya.


Ini sangat menyenangkan melihat kedekatan mereka, aku sangat bersyukur, hal yang sudah lama saya impi-impikan kata Bastian dalam hatinya.


Melihat Bastian ikut tertawa. Bardi memeluk istrinya dari belakang “Aku mencintaimu,Bu,” katanya tiba-tiba,


Mata Nyonya Hartati melotot melihat kearah Bastian, wajahnya merah bagai tomat rebus.


“Ayah mau ngapain sih, ada Bastian melihat kita,” kata Hartati malu-malu tapi mau.


Bardi mengedipkan mata pada anaknya,


“Tidak apa-apa ia sudah dewasa, Bu, aku minta maaf kalau selama ini tidak pernah menjadi suami yang baik buat ibu dan tidak pernah menjadi ayah yang baik untuk Tian, sekarang aku sadar kalian berdua hartaku, keluargaku, aku tidak perduli dengan yang lain, saat ini aku hanya peduli pada Ibu dan Bastian dan cucuku nanti,” Kata Bardi


Hartati langsung membalikkan badannya menatap suaminya,


“Itu artinya yang datang kesini yang membangunkan,Tian, adalah Rara?.” Matanya menatap Bastian. “kapan dia datang ke Indonesia?.’


“Iya, ibu sudah membuat Janji, jadi, aku sama Bastian jadi saksinya. Aku mewakili Rara, berarti Ibu sudah mau menerima Rara di keluarga kita,kan?”


“Ayah, merencanakan ,iya?.”


“Tidak,Bu, Ia yang datang sendiri, tapi ia berani tidak bertemu ibu, maka pas Ibu olahraga Rara, Ayah suruh masuk makanya anakmu bangun ,bu.” Kata Bardi


“Justru itu, Bu,bagaimana ia mau datang kalau ibu sendiri tidak menyukainya, ia butuh suaminya, ia mengandung cucu kita, kita harus melindunginya.”


“Tapi aku tidak mau menerima anak itu,” Kata Hartati terlihat marah.


“Tenang Bu, ia akan tetap tinggal di kelurga Rara, Ayahnya yang akan menjaganya, bu, tidak bisakah kita melupakan masa lalu,” kata Bardi dengan lembut.


“Tapi Ayah jahat dulu,” kata Hartati, tapi kali ini nada bicara terdengar lebih lembut, tidak pakai urat lagi kalau bicara.


“Ayah minta maaf, Ayah tidak ingin bercerai,


Aku akan menarik suratan cerai itu, aku ingin kita sama-sama menimang cucu, Ayah ingin kita pindah kerumah kita sendiri, jadi tidak ada yang mencampuri urusan rumah tangga kita lagi,” kata Bardi terlihat sangat tulus, ia terlihat seperti lelaki sejati.


Berani mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, berani meminta maaf pada istrinya dan anaknya dan berjanji memperbaiki sikap.


Rumah tangganya sudah lama tidak pernah harmonis, terlalu banyak konflik dan banyak campur tangan Orang tuanya membuatnya gerah, ia ingin di masa tuanya ia menikmati hidup.


“Apa Ayah bicara serius? kata Hartati, menangis di pelukan suaminya “Ibu, sudah lama ingin mendengar hal itu dari Ayah, aku juga ingin rumah tangga yang harmonis seperti yang lain, hanya saja selama ini. Ayah membiarkan ku sendirian dan melihatku seperti monster, jadi ibu beneran menjadi monster kata,” Hartati mengaku, kedua orang tua Bastian sepakat membatalkan perceraian mereka dan rukun kembali.


Saling terbuka dan saling jujur akan jadi awal yang baik untuk memulai hubungan .


“Terus, bagaimana? Ibu, mau menerima Rarakan di keluarga kita, agar kita bisa mengawasinya bu, setelah Bastian pulih, ia akan membawa Rara kerumah kita, setelah cucu kita lahir kita bisa menjaganya biarkan mereka berdua bekerja , kita akan menghabiskan waktu kita liburan dan jaga cucu ,” kata Bardi merangkai angan-angan yang indah.

__ADS_1


“Baiklah, aku mau, jawab Hartati dengan yakin


Dibalas pelukan hangat dari suaminya .


“Kamu harus kuat kuat Tian, kamu sehat dulu agar kita panggil Rara,” Kata pak Bardi memberi semangat untuk Bastian


Terlihat mengangguk, tanda mau atau tanda mengerti


.


Hingga dua minggu sudah berlalu sejak Rara datang membangunkan Bastian


Ayahnya terpaksa menggunakan nama Rara agar Bastian mau minum obat, Ia selalu menurut pada ayahnya agar ia cepat pulih dan keadaanya sudah mulai membaik, sudah bicara jelas.


“Cepatlah sembuh, kamu yang menjemputnya sepertinya, ia masih takut sama Ibumu.” Kata Bardi.


Maka pagi itu akhirnya Bastian menunjukkan perubahan yang sangat besar, ia sudah mulai mengerakkan kakinya, kakinya berusaha berjalan sendiri.


Bardi mengangkat tubuh Bastian kekursi roda,


Kata Dokter, kepalanya tidak apa-apa


Hanya, pecahan melukai otaknya, sampai kulit kepala tidak mengenai saraf-saraf otaknya. Hanya leher yang di cidera.


“Ayah akan membawamu jalan –jalan biar ga bosan” kata Bastian mendorong kursi rodanya dan Hartati menenteng lengang suaminya. Hampir sebulan lebih di rumah sakit membuat hubungan mereka semakin dekat.


“Rara tidak pernah datang, Yah? Kata Ayah ia akan datang.”


“Sabarlah, cepatlah bisa jalan Tian, ia banyak kerjaan.” Kata Ayahnya.


“Apa pekerjaan lebih penting dari suami?” kata Bastian terlihat marah


Padahal ia tidak tau Rara datang juga ke rumah sakit mencuri-curi waktu, ia tidak ingin terlihat sama ibu mertuanya dan tidak ingin di lihat orang lain


Hingga Hampir sebulan lebih Bastian akhirnya pulih. Ia marah, karena Rara tidak pernah mengunjunginya kerumah sakit hanya lewat telepon. Hal itu juga membuat ia berusaha keras untuk sembuh penasaran apa yang dilakukan Rara sampai ia tidak punya waktu menjenguknya.


Hingga ia benar-benar pulih dan pulang kerumah. Orang tuanya terlihat sangat harmonis saat itu, Ibu dan Ayahnya seperti pasangan yang baru menikah,


Bastin hanya tertawa geli melihat ibunya yang menempel seperti prangko, pada suaminya. Tapi Bastian sangat bahagia melihat kedua orang tuanya akhirnya akur.


Mendukung Bastian membawa Rara dengan cara apapun kerumahnya, dan kedua orang tua itu memutuskan liburan.


Apa yang kamu lakukan Ra, padahal aku sangat merindukanmu di rumah sakit, kenapa kamu datang saat aku sudah , tidur aku penasaran melihat bentuk kamu saat ini,kata dalam hatinya Bastian senyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2