
“Aku akan mengurusnya, Mak, mulai sekarang ia akan tanggung jawabku,”
Semua orang menjadi panik melihat Rara di bawa oleh Bastian.
“Bastian kamu sudah gila iya?” teriak Rizky, ia orang yang membuat Bastian marah.
Mungkin jika ia tidak melarang Bastian menemui istrinya, mungkin Rara masih bersama mereka, tapi karena emosi dari Rizky semuanya menjadi berantakan.
“Sudah diam, kamu yang membuat semuanya menjadi berantakan ,” bentak pak Agus pada anaknya.
“Be, ia itu lelaki yang tidak bertanggung jawab,” kata Rizky.
“Kamu tidak tau, apa yang ia lakukan selama ini, kamu juga tidak tau pengorbanan yang ia lakukan. Jadi sudah, jangan berisik biarkan ia mengurus istrinya,” kata pak Agus, ia masuk kembali ke dalam rumahnya.
Ia yakin Bastian akan mengurus istrinya dengan baik, ia juga bisa melihat reaksi Rara tadi saat suaminya datang.
Jadi Pak Agus yakin Bastian akan menjaga Rara dengan baik, wajahnya terlihat tenang.
“Bang..! loe bagaimana sih.. anak di biarkan begitu?” Kata Bu soimah.
“Sudah bu, biarkan saja, ia akan mengurus istrinya dengan baik,” kata Pak Agus terlihat tenang.
Saat semua orang panik atas kelakuan Bastian yang membawa kabur istrinya, Pak agus terlihat sangat santai. Ia begitu percaya pada Bastian.
Dalam mobil Rara terlihat duduk tenang, matanya mengawasi setiap sudut jalanan yang mereka lewati.
“Apa kamu capek, sayang?” Tanya Bastian melirik Rara yang duduk di sampingnya, Rara diam tidak merespon omongannya.
Bastian meminggirkan mobilnya memeriksa apakah Rara duduk dengan nyaman, ia juga tidak tau apa yang sudah ia lakukan, ia khawatir melakukan kesalahan karena membawa Rara tanpa obat-obatannya.
“Sayang, apa kamu merasa sakit?” tanya Bastian memegang pipinya dengan kedua tangannya.
Tidak ada jawaban ia hanya melihat Bastian dengan tatap kosong .
“Maaf,” kata Bastian lagi, terlihat putus asa, tidak ada sedikitpun niatnya membawa Rara kabur hari ini, tapi saat ini ia jadi takut, ia takut melakukan kesalahan, mengingat Rara masih sakit.
Bastian menundukkan kepalanya di setir mobilnya, ia mengusap matanya terlihat bingung, memutuskan ingin mengembalikan Rara kembali, demi kebaikan istrinya.
“Aku lapar” kata Rara,
Bastian menegakkan kepalanya mendengar ucapan Rara.
“Sayang apa kamu bicara?” katanya, dengan wajah kaget.
__ADS_1
“Aku lapar," katanya lagi memegang perutnya.
“Baik, kita akan akan makan , kita mau makan apa Iya?”Tanya Bastian memikirkan makanan apa yang pas buat Rara. Ia takut nanti akan memberi makan yang salah.
Ia menempelkan satu jari di kening, seolah ia sedang berpikir keras.
”Pizza,” sahut Rara.
Bastian menoleh nya, karena ia sempat berpikir Rara sudah mengingat kembali, ternyata di tangannya, ia memegang kertas bergambar pizza, ia hanya melihat apa yang di tangannya.
“Astaga, aku pikir kamu sudah mengingatnya sayang,” kata Bastian mengecup pipi Rara.
“Tidak, kita tidak boleh memesan makanan seperti itu , aku takut ada yang tidak bisa kamu konsumsi,” kata Bastian mengambil kertas itu dari tangannya menjalankan mobilnya dan membawa Rara ke sebuah rumah mewah miliknya.
Bastian sudah menjual apartemen lamanya dan menggantikannya menjadi sebuah rumah mewah yang super nyaman. Ia tidak main-main dengan pemilihan rumah barunya, halamannya luas seluas lapangan bola,
Mobilnya menekan remote pintu gerbangnya dan membuka perlahan. Rara hanya melihat sekilas dan kali ini matanya terfokus pada halaman rumah itu.
Rumah baru Rara sudah besar, tapi rumah Bastian yang ini lebih besar dari rumah milik Rara.
“Selamat datang sayang, ini rumah baru kita,” kata Bastian membatunya duduk di kursi rodanya.
Membantunya mendorong ke dalam rumah, Bastian sudah punya rencana kalau Rara sudah sembuh, ia akan membawa keluarga ke rumah besar mereka.
Tapi dengan keadaan Rara seperti itu ,apa ia bisa mengatasinya? Rara belum bisa berjalan, ia juga lupa ingatan. Tapi Bastian yakin kalau dirinya bisa mengatasi Rara dan merawatnya.
“Ra , apa kamu percaya padaku?” Ia bertanya matanya menatap serius kearah istrinya, Rara hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
Bastian tidak ingin membahayakan kesehatan Rara, ia memanggil Dokter dan perawat untuk Rara, ia ingin istrinya sembuh jika ia yang merawatnya.
Malam itu juga Rara sudah ditangani Dokter dan satu orang perawat, perawat untuk merawatnya.
Tapi besoknya saat perawat ingin menyuntik lengannya, ia menolaknya menepis jarum itu beberapa kali, ia tidak mau menerima pengobatan dari perawat.
“pak, bu Rara menolak terus dari tadi, aku tidak tau apa yang salah,” kata perawat terlihat cemas.
Ia ingin menelepon Aisah apa yang terjadi, ternyata wanita itu menghubunginya.
kringg....
Nada panggilan khas dari ponsel Bastian, ia sepertinya betah mendengar nada itu, sudah sejak lama ia mengunakannya.
“Halo, sah.”
__ADS_1
“Bang, kakak Ara sudah makan obat apa belum?” Ia menghawatirkan.
“Aku sudah memanggil Dokter dan perawat Sah, tapi ia menolaknya,” kata Bastian.
“Berikan ponselnya Bang, ia tidak mau menerima perawat lain selain aku, hanya aku yang ia mau,” kata Aisah.
Bastian mengarahkan ponselnya ke arah kuping Rara, membiarkan Aisah bicara padanya, tidak jelas apa yang mereka bicarakan, tapi hal itu berhasil membuat Rara tenang, ia mau akhirnya menerima Perawatan. Begitu selanjutnya ia jadi penurut tidak pernah menolak apapun yang dikatakan Bastian.
“Ini pasien yang paling baik yang aku rawat Pak,” kata Perawat itu memuji sikap Rara yang lembut, “ biasanya yang pasien seperti ini mempunyai emosi yang labil, kadang marah kadang menangis, tapi bu Rara sudah hampir satu minggu aku disini tidak pernah sekalipun ia menolak bahkan marah apa yang aku lakukan,” kata Perawat itu lagi.
“Aku yakin ada cinta yang menjaganya,” kata Dokter.
Saat ini Bastian hanya di rumah menjaganya, ia yakin suatu saat istrinya akan sembuh dan normal kembali.
Dua bulan ia lewati menjaga Rara, kini Rara sudah mulai bangkit dari kursi rodanya, walau ia tidak mengingat, tapi setidaknya ini awal yang baik, kerena sudah mulai berdiri dan mengunakan tongkat. Bastian selalu membawanya jalan-jalan. Mengajarinya berjalan, berdiri, berbicara juga.
Ini bulan ke empat Rara, ia Rawat sendiri, ia menyembunyikan dirinya dari semua keluarga, bahkan ponselnya ia matikan. Ia hanya ingin Rara sembuh bagaimanapun caranya.
Tapi saat ini ada yang aneh.
“Aku merasa ini sakit,” katanya menunjuk dadanya.
“Apa yang kamu rasakan?” tanya Bastian mencoba melihat salah satu bagian dadanya membengkak.
Bastian terlihat panik, pikirannya sudah mulai memikirkan hal yang buruk. Ia berpikir Rara sudah terkena kangker.
Dokter masih memeriksanya, Bastian menunggu dengan sangat khawatir Dokter keluar.
“Apa, istrimu melahirkan anak?”
Bastian diam. Ia tidak bisa menutupi kesedihannya, ia ingin mengubur rasa sedihnya memikirkan calon buah hatinya membuatnya ingin depresi, tapi ia mencoba kuat.
“Iya, sebelum kecelakaan ia memang sedang hamil jalan 6 bulan, tapi bayi kami tidak selamat.”
“Tapi apa kamu yakin, ia tidak selamat?”
“Apa maksud Dokter, Mertuaku bilang ia tidak selamat,”kata Bastian mata itu terlihat ragu.
“Apa hubunganmu dan mertuamu baik-baik, saja?” Tanya dokter lagi, ia menggeleng lemah.
“Maaf, bukannya saya membuat tuduhan palsu dan diagnosa yang salah, masalah istrimu itu bukan penyakit yang kita khawatirkan.
Itu asi yang tidak di keluarkan, sudah sejak lama, jika di biarkan akan memicu kangker payu dara, kita harus mengeluarkannya kata Dokter.Bastian terlihat diam.
__ADS_1
Apa anakku masih hidup?apa mertuaku berbohong denganku?
Bersambung...