Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bencilah aku biar kamu bisa pergi


__ADS_3

“Ah, kamu membuat kesulitan untukku nanti. Bro,”


“Tapi tolong, lah, ini demi keselamatan istriku,” kata Bastian, wajahnya terlihat ada rasa ketakutan , karena berpikir Rara dam bahaya


Rara dalam bahaya aku harus bisa menyelamatkannya kata Bastian dalam benaknya.


Di lantai atas Rara terbaring dalam satu ruangan khusus, di kawal dua orang penjaga berbadan tegap, sengaja di buat terlihat sangat mencolok. Para penjaga yang berdiri didepan pintu, mereka selalu memeriksa setiap orang yang mau masuk keruangan Rara, bahkan Dokter dan perawat tidak luput dari pemeriksaan mereka.


Sukma terpaksa menyewa dua orang bodyguard untuk Rara setelah dari kemarin sejak dari kantor Rara mendapat teror yang bernada mengancam .


Rara tertidur lelap dalam ranjang, ia baru bisa tidur setelah ada sukma, Aisah dan dua orang penjaga itu.


Dari tadi malam tak sedikitpun ia bisa memejamkan matanya karena takut akan teror-teror yang menghantuinya.


Kali ini ia tidur terlelap dengan tangan masih menempel selang infus.


Seorang perawat Pria datang membawa meja dorong, dan seorang Dokter pria, setelah di periksa di luar dan Dokter pria itu menunjukkan izin tugas pada kedua pengawal, Dokter baru akan berganti memeriksa Rara.


Mereka berdua masuk.


“Kok Dokternya berganti?.” Sukma menyelidiki , wajahnya panik dan takut


“Dokter? Kenapa Dokter yang memeriksa,”?Aisah ikut ketakutan


“Kamu kenal Sah?,” sukma sudah siap-siap ingin memanggil para pengawal itu.


Bastian membuka penyamarannya.


“Bastian? Apa yang kamu lakukan ? wajah Sukma terkejut karena Bastian bisa masuk ke ruangan Rara, padahal ia dan Rara lagi menyusun rencana besar.


“Iya, ini aku, kita harus membawa Rara keluar dari tempat ini, ia berbahaya di sini,” Kata Bastian


Sukma terlihat santai sedangkan Aisah ketakutan, ia memegang tangan Rara yang masih bobo cantik,


“Memang, ada apa?”


“Nanti aku ceritakan, pokoknya kita harus membawa Rara juga keluar dari sini,” katanya kemudian.


Tiba-tiba Rara bangun, matanya masih merah, “Apa yang kamu lakukan?” matanya mengigit melihat penampilan Bastian, karena lelaki menyamar.


“Ra,kita harus keluar dari sini, kamu dalam Bahaya,” kata Bastian dengan tatapan mata Serius.

__ADS_1


“Bahaya apaan? justru kamu akan mengacaukan jika kamu disini? “ kata Rara terlihat masih tenang


Giliran Bastian sekarang yang bingung “Apa maksudnya, kamu sudah tau semua ini? Jangan bilang kamu merencanakan sesuatu?” Matanya menatap Rara dengan lugas.


“Kamu menganggu semua.” Kata Rara


Saat itulah terlihat Bastian panik dan berjalan mondar-mandir


“Ra, kamu membahayakan diri kamu, kamu tau gak!” Katanya saat rara mengutarakan rencananya, ia harus berbuat seperti itu agar peneror dirinya keluar,


“Aku harus melakukannya agar orang yang menerorku belakangan ini, muncul.” Kata Rara,


“Tapi itu sangat berbahaya Ra, kamu membahayakan dirimu dan bayimu,” kata Bastian tiba-tiba.


“Bayi, Bayi apa?,” kata Rara, membuat Dokter dan Bastian saling menatap


“Baiklah, aku keluar sajalah dulu, sepertinya hanya kesalahpahaman,” kata Dokter merasa tidak enak, ia keluar, Bastian masih berdiri. Ia terlihat bingung mendengar perkataan Rara.


“Tapi bukannya-“?


“Apa, aku pernah bilang aku punya bayi padamu? Justru kamu sangat merepotkanku, apa yang kamu lakukan disini, mengikutiku kerumah sakit? mengikuti seperti pengungkit, kamu mengacaukan semua rencana ku, kamu!. Kalau tidak bisa membantuku, setidaknya diam, jangan malah menggangguku, kalau kamu sudah memutuskan meninggalkanku dan memilih Ibumu, kenapa kamu masih peduli dengan hidupku sih? Kenapa kamu tidak tidur di bawah ketek Ibumu saja!.”


Rara terlihat sangat emosi, sifat emosian itu tiba-tiba muncul


“Salah Bastian, salah! Dengan omonganmu yang plin-plan, membuatku bingung mengambil langkah, dengan kamu selalu datang menemuiku seperti ini, Ibumu akan salah paham dan mengancam aku lagi,”kata Rara terlihat wajahnya mengeras.


Bastian kaget melihat kemarahan Rara.


“Aku hanya ingin menemui ra, apa salah aku ingin menemui istriku, karena rindu?.” Kata Bastian wajahnya terlihat merah padam.


“Rindu,rindu! Persetan dengan kamu dan cintamu , dasar bocah ingusan, sebentar omongannya ini, sebentar itu, kenapa kamu jadi laki-laki tidak bisa mengambil sikap tegas, memang jika kamu mempertahan rumah tangga kita, apa ibumu akan mengutukmu jadi Batu? Pulanglah sana, ke pangkuan ibumu dasar anak mama!.”


Rara marah, emosinya tiba-tiba menguap ke permukaan, kata-katanya menyakitkan dan terasa menusuk hati.


“Kamu , keterlaluan bicaranya Ra, aku menyesal datang kesini,” Wajah Bastian ikut mengeras juga mendengar kata-kata menyakitkan itu.


“Menyesal, katamu!? Aku yang lebih menyesal telah mengenal kamu, pergilah dari hidupku selamanya, menikah dengan Viona sana! agar ibumu bahagia,” Kata Rara dengan nada suara yang lebih tinggi. Ia seperti habis kesabaran melihat kelakuan Ibunya Bastian, tapi pelampiasannya pada Bastian,


“Ra, sudah dong, jangan seperti itu,” sukma terpaksa menenangkannya, takut Rara kenapa-kenapa.


“Kak, Bastian lebih baik pergi saja, tolong!.” Kata Aisah wajahnya memelas.

__ADS_1


Bastian benar-benar merasa sangat marah mendengar kata-kata Rara, wajahnya merah dadanya naik turun.


“Baiklah aku akan pergi selamanya dari hidupmu, aku tidak akan perduli lagi padamu,” kata Bastian


“Iya! pergilah jangan pernah muncul lagi di depanku, sebelum kamu menjadi dewasa dan setidaknya kamu lepas dari ketek ibumu,”


“Mulut kamu, Ra, aku masih suami.” Kata Bastian suaranya meninggi, dengan wajah memerah seperti tomat.


Sukma terpaksa menyuruh pengawal itu membawa Bastian keluar.


Bastian, terpaksa naik kelantai atas rumah sakit ia berdiri di lantai atap rumah sakit.


Berteriak sekuat tenaga, ia melampiaskan amarahnya dengan cara berteriak, dengan nafas terengah-engah tangannya terkepal kuat, menahan emosinya yang memuncak.


“Aku sangat membencimu. Ra! Aku sangat membencimu! aku akan membalas semua penghinaan yang kamu lakukan padaku,” teriaknya dengan lantang


Di kamar Rara.


“Gila loe. Ra, Parah loe tau gak! kamu tidak pantas ngomong seperti itu pada Bastian.” Kata Sukma.


Rara terlihat tenang, jika kamu ingin mengusir kucing, kalau tidak mampu dengan kata-kata. Maka lakukan dengan ketegasan, kalau perlu kucingnya pukul, pakai sapu, agar ia pergi, bukan karena kita tidak suka, tapi agar kucingnya paham kalau kita lagi marah,” kata Rara membuat perumpamaan, membandingkan suami dengan kucing.


“Masa suami di samain sama kucing, gak nyambung,” kata sukma


“Aku harus melakukannya agar ia mau meninggalkanku, dan dengan begitu ia bisa menentukan pilihannya, iya sudah pasti Viona, tapi itulah keinginan Ibunya.” kata Rara. “Tapi aku juga harus melakukan satu hal lagi agar semuanya selesai,” kata Rara


“Mau kemana? Menemui siapa loe Ra, berhenti!” Kata sukma. “Berhenti dong Ra, kenapa sih kalau kamu marah selalu berbuat nekat, membuatku jadi takut, ayo dong Ra jangan seperti itu ,” kata sukma membujuk Rara


Ia tau, saat ini Rara dalam kemarahan dan jika sudah marah semuanya tampak rata baginya, ia tidak perduli apapun, padahal rencana awal mereka hanya ingin menangkap si pembuat teror, tapi semuanya berubah saat Rara marah.


Tapi usahanya sia-sia. Rara masuk ke ruangan Ibu Bastian.


“Hai, Ibu,” sapa Rara


Wanita itu kaget karena musuhnya tiba-tiba datang menjenguknya.


“Kamu ngapain kesini?.”


“Menjenguk Ibu, saya dengar Ibu mau bunuh diri karena Bastian tidak mau menikah dengan Viona, mendengar itu sebenarnya aku kasihan pada ibu, rasanya, kok hina sekali seorang ibu memaksa anaknya yang sudah menikah, menikah lagi demi harta “ah sudahlah” tapi itulah karakter dari ibu suami saya, dan aku merasa muak juga , aku sudah mengusir dan menghina Bastian habis-habisan tadi, agar ia membenci dan meninggalkanku, sekarang aku


menyerahkan sama ibu. Kata Rara terlihat sangat tenang, tapi kata-katanya menusuk hati. “ Tapi ,Bu, harta dan uang tidak akan bisa membeli kebahagian , tapi ibu menukar kebahagian anak ibu sendiri, saya harap ia juga bahagia dengan harta Viona nantinya,” kata Rara. “Aku mundur, agar ibu puas.”

__ADS_1


“Kamu mengajariku?.”


“Tidak, itu tidak perlu diajari, karena diajarin pun tidak mengerti juga,” Kata Rara


__ADS_2