
Keluar dari apartemen Bastian dengan wajah kesal dan mulut mengutuk kelakuan Bastian memasang cincin lamaran di jarinya, tanpa izin
'Dasar Bastian, kenapa ia harus melakukan itu, membuatku dalam masalah saja sih' ujar Rara dalam hati, ia mencoba melepaskan cincin dari jari-jarinya, tetapi yang terjadi cincin berlian berwarna putih itu bagai di pasang lem di jari-jarinya. Cincinnya tidak mau lepas, bagaimanapun Rara berusaha melepaskan.
“Ibu tidak apa-apa, sini alvin bantu,” ujar Alvin.
“Tidak apa-apa sayang, begini Om sama Bastian hanya bercanda dan main-main jadi ini bukan apa-apa,” ucap Rara saat Alvin menatap cincin indah di jari manis ibunya. Ia khawatir Alvin memberitahukan pada keluarganya, kalau ia dilamar.
Bisa-bisa engkong dan babenya terkena serangan jantung untuk kedua kalinya, karena yang pertama saat Rara gagal menikah.
Bibir Alvin diam, tetapi Rara tahu kalau Alvin mencerna dalam otaknya, apa yang ia lihat maka itu yang akan di rekam otak cerdasnya. Makanya sebelum putra bertanya, Rara sudah menjelaskan, kalau ia dan Bastian hanya teman.
“Baiklah Bu,”ucap Alvin tetapi matanya masih menatap Rara dengan tatapan ragu,. tatapan itu seolah-olah mencari kejujuran di setiap ucapan ibunya.
“Vin, jangan menatap ibu seperti itu, ibu tidak bohong kok,” ujar Rara dengan tangan melipat di dada, ia merasa mengobrol dengan orang dewasa, setiap kali bicara dengan putranya Alvin anak yang sangat cerdas, bahkan semua guru di TK Alvin selalu memujinya.
“Tetapi Om Tian katanya suka sama ibu”
“Iya suka sebagai teman, sama seperti kamu dan Minah," ujar Rara mencontohkan hubungannya dengan Bastian sebagai hubungan teman seperti Alvin dengan teman bermainnya seorang perempuan.
“Tapi aku tidak pernah mencium Minah Bu’
Mendengar itu Rara duduk menegak. “Haaa ...? emang siapa mencium?”
“Om Tian dalam pesawat saat ibu mabuk, ia memeluk ibu dan mengelus-elus seperti ini, lalu ia mencium kening Ibu"
‘Ah, Bastian ...! Kamu merusak pikiran anakku, otak anakku terkontaminasi karena ulahmu' teriak Rara dalam hati, seandainya saat itu ada Bastian, ia pasti sudah mencekik nya sampai pingsan.
“Iya, itu karena dia peduli sama Ibu sebagai teman,” ujar Rara mencari alasan.
“Oh, berarti, nanti aku bisa mencium kening Minah iya Bu, karena iya teman aku . Ia sering jatuh saat bermain, berarti setiap kali ia jatuh aku akan menciumnya, menunjukkan kalau kita perduli”
“Oh ... tidak, bukan seperti itu. Maksud ibu tidak boleh, Alvin masih kecil,” ujar Rara
Lagi-lagi kening Alvin berkerut tanda bingung.
”Tapi Om Bastian bisa melakukan pada Ibu, kenapa aku tidak, kami, kan, sama-sama lelaki”
“Susah menjelaskannya secara rinci padamu Nak, kehidupan anak kecil dan orang dewasa itu berbeda-beda,” ujar Rara menghela napas panjang, ia kewalahan meladeni otak pintar putranya, berharap putranya jangan memberi pertanyaan lagi, kepalanya terasa pusing memikirkan hal tentang Bastian dan cincin di jarinya.
__ADS_1
“Baiklah Bu”
“Jangan bilang apa-apa sama nenek sama kakek maupun ama tante Aisah baik sama Om Risky, iya," ujar Rara dengan tatapan serius.
“Baiklah ibu"
Melihat Alvin yang masih bersikap penasaran membuat Rara ragu untuk mengantarnya pulang hari itu, bisa-bisa ia menceritakan semuanya pada keluarganya.
Jadi ia menelepon adiknya Aisah mengabari kalau hari ini Alvin tidak jadi pulang.
“Kenapa mpo? padahal babe sudah nanya terus,” ujar Aisah.
“Bilangin babe besok mpo antar, iye”
“Iye, dari kemarin babe sudah nanya “
“Iya bilangin saja liburannya di perpanjang”
“Baik”
Aisa menutup teleponnya, Sementara Rara membawa Alvin ke salah satu hotel terdekat, ia ingin menenangkan pikiran Alvin terlebih dahulu sebelum ia semakin ribet.
Alvin hanya mendengarkan apa kata sang ibu, ia belum mengerti posisi ibunya dan alasan kenapa ia dan Bastian tidak bisa menjadi pasangan.
"Om Bastian baik,Bu"
“Iya ibu tahu dia baik, tetapi seperti yang ibu jelaskan tadi kami berdua tidak bisa melakukan itu, jadi tolong bantu ibu untuk jangan berharap banyak padanya Iya sayang"
“Baiklah ibu. Apa kalau ibu kaya, orang tua Om mau menerima Ibu?”
“Mungkin ucap Rara santai. Alvin diam seperti memikirkan sesuatu. “Kalau begitu ibu tidak usah menikah, nanti kalau sudah besar aku akan menikah dengan Ibu,” ujar Alvin dengan wajah polos.
Rara tertawa mendengar anaknya akan menikahinya. “Aku akan menerima ibu, tidak perlu kaya”
“Sayang, ibu dan anak itu tidak boleh menikah, hubungan mereka akan tetap jadi ibu dan anak yang saling menyayangi”
Alvin mengangguk, ia berjanji pada ibunya kalau tidak akan menceritakan apa-apa tentang Bastian
*
__ADS_1
Rara mengantar Alvin atas permintaan keluarganya, ayahnya memintanya pulang , awalnya ia sangat keberatan. Tetapi setelah mendengar, kalau ada orang yang bertanya mencari tahu tentang putranya ia akhirnya pulang.
Walau rasa sakit dan marah pada ibunya masih melekat tetapi ia mencoba bersikap baik.
“Rara, kamu pulang.” Engkong memeluk Rara.
“Emak.” Rara menarik tangan emaknya dan menciumnya dan mencium punggung tangan babehnya.
Tetapi Rara seakan-akan tidak mau berlama-lama di rumah orang tuanya, tatapan para tetangga yang sengaja mondar -mandir dari depan rumah mereka untuk melihat wujud Rara setelah gagal nikah. Mereka mulai bergosip ria saat tahu Rara pulang.
“Apa yang mereka katakan Be?”
“Babe mengusirnya dan mengatakan kalau Alvin cucuku “
“Apa mereka bertanya hal-hal yang lain, siapa mereka apa pihak keluarga almarhum ibu Alvin”
“Babe juga tidak tahu, tetapi saat ia mulai menyelidiki latar belakang Alvin bertanya siapa ayahnya dan siapa ibunya, aku langsung mengusirnya”
Dalam rumah semua keluarga Rara berkumpul membahas siapa orang yang menyelidiki kehidupan Alvin dan kehidupan keluarganya.
“Mpo, saat babe mengusirnya aku sempat mengambil fotonya ini orangnya”
Risky memberikan foto lelaki yang menyelidiki latar kehidupan anaknya, melihat foto itu Rara panik. Lelaki itu adalah pengacara keluarga dari keluarga Bastian, ia sempat bertemu dengannya di kantor polisi saat ia melaporkan Hartati ibunda Bastian.
“Apa yang mereka inginkan dari anakku?”
Keluarganya heran saat Rara tampak marah besar melihat layar ponsel,
“Mpo, apa kamu mengenalnya?”
“Aku mau pulang. Nanti aku kabarin.” Rara berjalan buru-buru meninggalkan rumah mereka.
Risky mengejarnya Rara.” Mpo, apa kamu mengenalnya, mereka sepertinya orang-orang kaya?”
“Iya aku mengenalnya, jaga Alvin baik-baik aku akan menemui mereka, nanti aku kabarin”
Rara menghidupkan motor yang ia pinjam untuk mengantar Alvin pulang, ia menuju Rumah keluarga Bastian.
Bersambung ....
__ADS_1
Bantu like dan vote iya Kakak.