Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Sholat tarawih bersama keluarga besar suami


__ADS_3

Iya Bu maaf saya akan selidiki,” jawab Rara dengan  wajah terlihat  pucat, tentu sangat takut dan khawatir siapa yang terus mengikuti Putranya. Setelah sebelumnya rambutnya  yang di ambil dan  mengambil Fotonya diam-diam.


“Iya mam,  tolong di urus dan di selesaikan secepatnya  kalau ada masalah, agar kita juga tenang mengajar anak-anak yang lain” Kata  wanita itu dengan Ramah


“Baik bu makasih”


Dengan perasaan yang sangat takut dan kepala  di penuhi banyak pertanyaan . Rara meninggalkan ruangan kepala sekolah itu.


kemudian dengan langkah sedikit sempoyongan karena ada rasa takut  dalam hatinya. Takut jika terjadi sesuatu  pada anaknya


Hatinya tidak tenang, hanya satu yang mampu membuatnya tenang, ziarah ke tempat ibunya Calvin sahabatnya.


Karena kebetulan setiap mau Ramadan, ia selalu melakukanya, ia mengadukan pada sahabatnya  siapa yang melakukan ini pada anaknya.


Mata Rara terasa berat, kepalanya semakin berdenyut karena kurang tidur, itu belum lagi ulah emaknya yang memberinya obat yang membuat perutnya semakin mual, hari itu hari yang berat untuknya.


Cuaca hari ini sangat mendung seolah mendampingi hatinya  yang sedih. Langit mendung dan gelap, ia menarik nafas panjang sebelum melangkah masuk kedalam  mobil Bastian .


“Sudah?” Tanya Bastian meletakkan ponselnya dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Mobil mewah berwarna Merah itu perlahan meninggalkan sekolah Calvin.


“Sudah,” jawab Rara  singkat. Mencoba bersikap biasa dan tidak ingin menceritakan kejadian itu pada Bastian,  karena ia pikir  Bastian sudah banyak masalah.  Ia tidak ingin menambah masalah  dan menambah beban pikiran suaminya.


“Bilang apa gurunya? sepertinya serius banget, wajah gurunya tadi.” Tanya Bastian ikut penasaran.


“Biasa tentang teman-temannya,”  Ara hanya menjawab seadanya,


“Bertengkar?” Tanya Bastian dengan  satu alis mata menyengit seperti tidak percaya.


“Iya”


“Rasanya tidak percaya karena Calvin anak yang sangat baik, dan aku yakin ia tidak pernah nakal’ Kata Bastian. Memang benar adanya. Ia selalu jadi panutan di kelasnya.


“Mungkin  temannya iseng, Oh kita ke satu tempat dulu iya tidak jauh dari sini” Rara mengalihkan pembahasan tentang calvin


“Kemana?” Bastian menolehnya sebentar  dan fokus lagi mengendalikan kemudinya.


“TPU pondok Ranggon,”


“Untuk apa?” Ia sedikit terkejut.


“Mau melapor” Kata Ara terlihat kurang bersemangat.


Bastian menunggu Rara dalam mobil membiarkan wanita  memegang Alquran kecil dan terlihat membacanya di kuburan sahabatnya  Yolanda.


Ia beberapa kali mengusap airmatanya, ia mencurahkan isi hatinya dan kekhawatirannya di tanah  gundukan itu. Ia curhat segalanya buat sahabat


Setelah tiga puluh menit  duduk disana Rara meninggalkan kuburan itu .Dadanya yang sedari tadi sesak sedikit berkurang tenang.


Bastian melirik mata istrinya yang  sembab,  ia tau kalau wanita itu dalam kesedihan tapi biar juga sudah istrinya sepertinya ia tidak ingin menceritakan semuanya pada Bastian.


“Kita akan kerumahmu  saja, iya, apa yang akan kita bawa iya”?  Tanya  Rara tiba-tiba seolah ia tidak ingin membahas panjang lebar tentang sahabatnya lagi.


Bastian  langsung tau kalau Rara tidak ingin membahasnya tentang sahabatnya


Walau ia  merasa  tidak dipercaya,  tapi suaminya mencoba memahami dan mencoba mengerti  sifat Rara,


“Baiklah, kita bawa buah tangan apa saja boleh, buah-buahan saya rasa tidak apa-apa.” Kata Bastian memberikan saran.


“Apa kamu baik-baik saja ,Ra?  Mukamu pucat,” tangan Bastian meraba keningnya sedikit hangat.

__ADS_1


“Aku kurang tidur tadi malam,  pusing tapi tidak apa-apa masih kuat.”


Rara memukul-mukul wajahnya, meyakinkan.


Setelah pamit dari keluarga Rara kedua orang Tua rara memberi Izin , ia dan Bastian sepakat akan tinggal di Rumah besar Bastian. Harusnya sesuai adat mestinya Rara sudah ikut dengan keluarga Bastian pada saat datang,  tapi karena satu permasalahan . belum dapat restu dari Orang tua Bastian terpaksa banyak adat dan tradisi yang lewatkan Rara dalam keluarganya.


Termasuk acara resepsi yang terpaksa di tunda sementara waktu, orang tua Rara termasuk orang tua yang baik dan sederhana,  Mereka selalu memilih mementingkan  kebahagian Rara, dari pada menyalahkannya dan menuntutnya ini  dan itu. Emaknya  dan Babehnya Rara memilih mendukung anaknya dari pada menuntut banyak hal.


Tatapan  mata babeh Rara terlihat sendu, saat Rara pamit pulang, ia sempat mengusap matanya,  Ia pasti sangat sedih melihat anaknya tidak di terima mertuanya .


Ayah manapun akan merasakan hal yang sama bila mendengar dan melihat putrinya seperti itu,  untung  saat ibu Ibunya menghinanya  habis-habisan hari itu,  tidak di dengar babehnya Rara,  karena Beliau lagi   pergi ke luar saat itu bersama Ayah Bastian.


Ia akhirnya menyetujuinya karena Omah dan Ayahnya Bastian pernikahan mereka maka itu ia memberi Izin putrinya,  di bawa Bastian, mereka sangat senang karena Bastian ayah kandung Alvin.


Tapi karena sebelumnya ia sudah memberi peringatan pada Bastian, ia bilang akan membawa Rara pulang kalau ia sampai  menderita di keluarga Bastian,  ia akan membawanya pulang nya kembali.


Bastian berjanji pada babenya Ara hari itu,  kalau ia akan menjaga wanitanya dengan baik, berarti ada dua orang  yang ia sudah ajak membuat janji. Berjanji akan menjaga ara  Istrinya . Janji pada almarhum engkongnya dan sekarang ia berjanji pada Babenya rara juga saat ini.


Mobil  Bastian akhirnya meninggalkan Rumah Rara, Ia menarik nafas panjang,  menatap sekilas  ke arah Bastian yang melihatnya dengan senyuman.


“Apa kamu yakin,Ra. Kita akan kerumah keluargaku?”


Ia menatap Rara dengan wajah terlihat ragu.


“Aku yakin Tian, kita akan tinggal di rumahmu selama Ramadan nanti” Kata Rara menyakinkan Suaminya, tidak lupa juga mampir ke apartemen,  memasukkan beberapa lembar pakaian kedalam koper kecil untuk mereka bawa kerumah Bastian.


Setelah selesai dan mereka rasa sudah cukup, Ara memeriksa semua segala sudut ruangan


,mencabut semua colokan listrik. Seperti kebiasaan yang ia lihat yang di lakukan emaknya.


“Apa yang kamu lakukan sayang, jangan khawatir semua ini sudah ada standar keamanannya, tidak  usah di cabut” kata Bastian melihat Rara yang mondar-mandir merapikan segala sesuatunya sebelum meninggalkan tempatnya


“Lebih baik mencegah dari pada menyesali. Tian” kata Rara terlihat seperti ibu-ibu rempong.


Karena mbok Atin yang biasanya mondar- mandir apartemen Bastian pulang kampung ke Jawa menemui keluarganya yang  tinggal di kampung.


sebab setiap tahun seperti itu sebelum Ramadan ia kan pulang.


Hari sudah semakin sore, Awan  masih sama seperti tadi pagi,  masih mendung tapi tidak turun hujan.


Rara dan bastian tidak lupa juga mampir  Toko buah membeli oleh-oleh untuk ia bawa  kerumah Bastian, walau di keluarga Bastian tidak ada seperti itu tapi Rara tetap membawanya


“Pamali datang ke rumah Orang tua tidak membawa orang apa-apa. Nanti rezekinya serat.


Itulah nasehat emaknya Rara yang selalu ia Ingat.


Akhirnya Mobil Bastian berhenti di rumah elit, bergaya Eropa berlantai  dua yang terletak di Pondok indah Jakarta selatan. Rumah besar itu milik keluarga Bastian Salim”


Rumah sebesar itu terasa sunyi dan sepi,  yang terlihat hanya beberapa asisten Rumah tangga yang sibuk berbenah.


Seorang asisten  Rumah tangga yang sudah berumur  lumayan tua,  berjalan terburu-buru menghampiri Rara dan Bastian.


“Selamat datang, Aden selamat Non Rara.” Sapa wanita itu dengan sangat Ramah.


“Ibu ada Bi?”


“Anu den..Nyonya anu” ia terlihat gugup tidak ingin meneruskan.


Bastian mengeluarkan ponselnya dari sakunya, menekan nomor Ayahnya.

__ADS_1


“Ayah di mana?” tanya Bastian.


“Saya di Kantor , Kenapa Tian?’


“Kita makan di rumah iya, yah, wajah pak Bardi terlihat bersemangat, saat anaknya mengajaknya makan bersama setelah sekian lama memusuhinya,


“Ada acara Apa?” Tanya lelaki itu penasaran


“Ara  datang ke rumah Yah, sesuai yang kita sepakati, iya ingin kita  berpuasa di rumah ini. Ayah pulangkan?”


“Ok, baiklah, Ayah pulang sekarang pungkas Pak Bardi  bersemangat, menutup laptopnya  dan bersiap untuk pulang,


“Ayo Bastian mengajak Rara masuk ke kekamarnya, meletakan koper kecil yang mereka bawa.


Rara ingin keluar tapi.  Bastian melarangnya menyuruhnya istirahat karena wajah Rara terlihat lelah.


“Istirahatlah Ra nanti saja  menyapa Imah dan ibu.  Mereka juga belum di sini” Kata bastian terlihat sangat khawatir melihat istrinya pucat pasih,


“Baiklah” Rara setuju walau sangat berat memejamkan mata, tapi ia memilih menurut apa kata suaminya.


Makan malam akhirnya tiba, Rara sudah siap.  Ia akan jadi tamu istimewa malam itu.


Omahnya Bastian  bahkan menyediakan menu spesial  untuk menyambut kedatangan  Rara dan Bastian. sebagai sepasang suami istri dan sekaligus untuk menyambut bulan Ramadan dan menuaikan puasa bersama. Berkumpul bersama keluarga  hal yang langkah di keluarga itu.


Setelah  saling menyapa,  di rumah itu ada tiga keluarganya yang tinggal  kedua  Bibi Bastian dan anak-anaknya  ikut tinggal di rumah itu juga ,


Boleh di bilang penghuni rumah itu sebenarnya banyak hanya mempunyai kehidupan masing-masing dan jarang ada waktu berkumpul bersama.


Acara makan  malam akhirnya selesai, tanpa di hadiri Ibu Bastian.


Saat Bastian pergi Ibunya pergi juga dari rumah, setelah ia bertengkar dengan Pak Bardi suaminya.


Hubungan Bastian dengan bibinya dan sepupunya terlihat akrap


Omahnya sangat bersemangat saat Rara mengajak semua  keluarga besar dan asisten rumah tangga.  Menjalankan shalat Tarawih hari pertama mungkin ini yang pertama  untuk keluarga besar mereka


Baik  dengan tante Bastian juga dan omnya bersemangat.   Tante Bastian yang paling kecil Non muslim karena menikah kedua kalinya dengan suaminya dengan orang Belanda mereka tetap saling menghormati.


Bibi dan omanya menawarkan diri menjaga rumah dan semua keluarga besar  dan asistennya, supir ikut mengikuti shalat tarawih pertama mereka.


  Keluarga Bastian beriringan sangat bergembira, halaman depan Bastian terlihat orang yang berpakaian serba putih ber iringan menuju masjid terdekat tidak jauh dari rumah mereka


“Masya Allah”


Pemandangan indah ketika  halaman rumah luas itu, itu di penuhi orang –orang yang berpakaian putih kelurga besar Bastian Salim


Mungkin ini akan jadi kenangan indah dan  pertama untuk Marisa Queen karena untuk pertama kalinya, ia bisa melihat anak-anaknya berkumpul bersama.


Karena biasanya anak-anaknya dan cucunya selalu ada kegiatan yang lain saat menjelang Ramadan. Maka untuk Omahnya Bastian, ini kebahagian tersendiri baginya, karena bisa berkumpul bersama anak-anaknya dan  cucunya untuk menjalankan Ibadah puasa pertamanya . Ini akan berkesan nanti untuk keluarga besar itu, Berkat Rara Winarti mereka semua bisa berkumpul.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2