Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Menunggu Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

“Kenapa seperti ini Ra? mak juga meminta maaf, tapi mak juga sangat menyayangimu,” kata mak Soimah memeluk Rara dengan tangisan.


Ibunya mencoba mengerti Rara karena ini kehamilan pertamanya, ia berpikir Rara meminta maaf untuk seorang ibu, itu semacam ritual untuk kemudahan proses kelahiran biasanya.


“Jangan khawatir kakak, kami ada untuk kakak disini,” kata Aisah ikut penasaran dan khawatir atas perilaku Rara.


Apa penyakit depresi kakak parah? Apa penyakit sindrom baby bluesnya kakak Rara memang sudah parah bangat? ini perilaku kakak seperti ingin pergi jauh, tunggu apa kakak Rara ingin ada niat menyakiti diri sendiri,Ya Allah, jangan seperti ini kak gumam Aisah menatap kakaknya.


“Aku tau sah, terimakasih karena kalian selalu ada untuk kakak dan selalu mengerti Rara.”


Apakah kekuatan cinta mampu mengubah seseorang? mungkin benar kata para pujangga. Cinta yang tulus dapat memberi kekuatan untuk orang yang di cintai.


Rara saat ini sangat berbeda dengan Rara yang dulu. Saat dia mengenal Bastian, Rara sangat berbeda, dulu bahasanya kasar dan gaya bicara ceplos-ceplos, berpakaian cuek terhadap semuanya, tapi saat ini penampilannya dan sikapnya sangat berbeda.


“Kita akan selalu bersama kakak, percayalah,”Rizky adek laki-lakinya ia sendiri tau kalau sikap kakak perempuannya sangat berbeda saat ini.


“Sudah-sudah, mari kita serapan, cukup bersedih nya,” Emaknya Rara menyendok nasi ke piring membuatnya semua terdiam, dan pikiran dan pembahasan itu beralih ke menu serapan yang tersedia di atas meja.


Rara menyuapi Calvin. ia sudah lama tidak melakukannya, terlihat Calvin sangat senang saat ibunya melakukannya, sesekali Rara memeluknya, wajahnya terlihat bersemangat saat menyuapi anaknya.


Habis serapan, Rara duduk di teras.


Babe terpaksa mengumpulkan semua, orang baik sekuriti dan asisten rumah tangga mereka, memanggil semua orang berkumpul untuk menjelaskan keadaan Rara yang sedang depresi, agar semua orang dapat mengawasinya, agar ia tidak melakukan hal-hal yang nekat yang bisa melukai diri sendiri.


Saat ini Rara duduk di teras, terlihat gelisah menunggu Bastian yang katanya akan datang dengan ibunya.


Sesekali matanya melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya,


Pak Agus hanya bisa melihat putri sulungnya dalam kegelisahan, tidak ada yang tau apa yang di pikirkan lelaki berpostur tinggi itu, tapi yang jelas terlihat ada rasa khawatir di benaknya,


Rara terlihat masih sibuk dengan layar ponselnya, tangannya juga sibuk membalas pesan dengan seseorang sesekali matanya melirik kearah jam kecil yang melingkar di tangannya.


Hingga akhirnya Bastian meneleponnya.

__ADS_1


“Halo sayang nanti sore saja kami datang menjemput mu, aku datang dengan Ibu, Iya,” Kata Bastian di ujung telepon.


Terlihat ada rasa kecewa di mata Rara, tapi tidak berlangsung lama.


“Baiklah kalau begitu, sampai ketemu nanti.”


“Tidak apa-apakan sayang, kalau saya dan ibu datangnya sorean?” suara Bastian terdengar memelas.


“Tidak apa-apa, saya akan sabar menunggu, tapi kalau kamu sama ibu datangnya sore, aku dan Sukma mau kekantor dululah kalau begitu, ada yang harus kami selesaikan.”


“Tapi, hati-hati iya, jangan lama-lama disana,” pesan Bastian


“Baiklah” Rara menutup telepon.


Rara masuk lagi kedalam Rumah, babe dan emaknya masih duduk di ruang tamu, ia ikut duduk bergabung.


“Ada apa Ra, sepertinya wajah kurang senang?” tanya babenya.


“Nanti katanya Bastian sama Ibu mertuaku mau kesini, saya pikir pagi ini, ternyata sore katanya sore.”


“Tidak tau, Mak, tadi Tian yang ngomong mau bawa Ibu kesini , walau aku kurang yakin kalau wanita itu akan datang kesini,”kata Rara.


“Baiklah Emak harus mempersiapkan semuanya, kalau memang benar Ibu mertuamu datang, itu bagus Ra, Mak, akan terima dengan baik, mak kudu buang kemarahan selama ini.. dah, itu demi kebaikan anak-anakku,” kata Emak Rara terdengar tulus.


“Terus kalau misalkan Ibunya Ken yang datang bagaimana,Mak?” tanya Rara.


Tiba-tiba semuanya mendadak diam, tatapan mata menuju wanita paruh baya itu. Karena masalah Rara tidak ada yang mengingat tentang Ken, lelaki yang mereka tolak.


“Mak tidak tau, kalau mak sih siapa saja yang jadi jodoh buat anak-anakku aku menyetujuinya kalau ia anak yang baik.Tapi keputusannya ada ama babe,” kata Bu Ima.


“Ia orang teguh, Mak, kalau ia bilang suka sama seseorang ia akan berjuang,” Rara menjelaskan sifat Ken.


“Bagaimana, Be?.”

__ADS_1


“Kalau ia sudah datang bawa keluarganya baru kita bicara ,” kata Pak Agus santai.


Tapi tidak di duga ungkapan panjang umur untuk kelurga Ken, hal yang tepat saat ini, baru saja dibicarakan. Ken sudah mengabari mau datang membawa keluarganya.


“Be, Mak…” wajah Aisah terlihat menegang.


“Ada apa Sah?” Ibu menatap wajah aisah yang terlihat panik.


“Ken dan keluarganya mau datang besok untuk melamar Aisah,” ungkapnya dengan wajah menegang.


“Bagaimana ini Bang? Abang setuju kagak sama itu orang?,” tanya maknya pada pak Agus.


“Kalau orang niat baik, masa di tolak? biarkan saja datang,” jawab pak agus, tapi terlihat ada rasa kurang senang terlihat di wajah orang tua Rara.


Ia tidak ingin apa yang di alami Rara di alami Aisah juga, karena dari dulu Pak Agus tidak senang kedua anak perempuannya berjodoh dengan lelaki dari kelurga orang kaya.


“Loe, bagaimana ,Sah? loe mau kagak?” Emaknya menatap Aisah dengan tatapan memburu.


“Aku juga bingung Emak, aku belum mengenalnya sama sekali,” jawab Aisah dengan nada pelan.


Kalau Babe Rara tidak suka pada anak orang kaya, tapi berbeda dengan Emaknya. Pemikiran emaknya kalau bisa, kedua anaknya menikah dengan orang berada agar ia juga ikut menikmatinya.


“Lah, bagaimane? ngapain di pikirkan kalau sudah serius? iya kenapa ga di terima saja,” kata Emaknya dengan nada memaksa.


Hal itu juga yang membuat sorot mata dari Babenya menatap istrinya dengan tajam.


“Maksud emak, agar di pikirkan dengan baik-baik bang,” kata mak Soimah kemudian, ia takut kerena pak Agus menatapnya dengan tajam.


“Ibu jangan macam-macam, jangan mulai lagi jadi mata duitan, dalam hidup kebahagianlah yang paling penting, bukan duit dan harta, semua tergantung Aisah karena dialah yang menjalaninya, ini rumah tangga nanti, sebagai orang tua kita hanya mendukung apapun keputusan anak kita, apapun,” kata Pak agus menekan kata-katanya. “Sa, apapun keputusanmu babe akan mendukung kamu nak, kalau tidak suka, maka tolaklah, jika kamu suka katakan,iya, Babe tidak ingin suatu saat kamu menyesal atas keputusanmu.


Semua keputusan ada di tanganmu pikirkan baik-baik, ingatlah babe akan selalu mendukungmu, jangan pikirkan perasaan Mak dan Babe, iya!.” kata Pak agus.


“Baik Be, Aisah akan pikirkan,” katanya , ketengan di wajahnya terlihat berkurang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2