
“Haahaa, perutku sudah mau meledak, berdiri saja sudah susah, kamu duluan saja deh, aku mau balik ke kantor lagi, kan,” kata Sukma.
Rara turun menghampiri suaminya yang menunggunya di pinggir jalan, di depan Restoran jadi ia tidak perlu menyebrang jalan lagi, lelaki tampan itu lagi bersandar di depan mobil berwarna merah miliknya, ia tersenyum melihat Rara yang berjalan dari halaman restauran menuju ke arahnya.
Rara berjalan perlahan, ia sangat menjaga janin dalam kandungannya, maka itu ia berjalan perlahan saja dan tangannya memegang bawah perutnya, makan besar dengan sukma membuat tubuhnya semakin berat dan terasa sesak.
Malang tak boleh di tolak, mujur tak bisa raih, nasih buruk tak dapat di hindarkan begitu juga nasib baik tidak dapat di cari cari.
Mungkin peribahasa itu yang cocok untuk Rara saat ini, ia menjaga kehamilannya dengan sangat hati-hati, tapi sesuatu yang buruk mengincarnya.
Rasa sakit hati seperti sebuah bibit yang di tanam dalam hati, bijih itu akan tumbuh besar dan merambat ke hati dan pikiran membuat orang yang mengalami sakit hati, membuatnya gelap dan nekat. Dendam sebuah penyakit yang sangat merugikan, baik yang melakukan dan yang menjadi korbannya.
Sebuah mobil berwarna hitam, sepertinya sudah mengawasinya sejak ia datang tadi ke kantor, kini menunggunya keluar dari Restauran.
Entah apa yang di pikirkan yang empunya mobil itu pada wanita yang sedang berbadan dua, entah apa yang ada dalam isi otaknya?
Ia menunggunya di depan restauran saat Rara berjalan kaerah Bastian. mobil hitam itu melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi, semakin cepat dan semakin cepat Bastian yang melihat ada bahaya mengincar Istrinya ia berlari ke Arah Rara dan mobil itu semakin dekat dan…….!-“
“Awaaaaas Raaaaa” Bastian mencoba berlari
Gubruaaaaaaak...
“Aaaaaaaaa” jeritan suara Sukma dari restoran.
Ia melihat sebuah mobil yang sengaja menabrak tubuh Rara dari belakang, tubuh sahabatnya itu bahkan terpental.
Sukma berlari dari dalam Restauran mendapati tubuh sahabatnya berlumuran dar*h.
Bagaimana dengan bayinya? ya Allah tolong dia, tolong selamatkan anaknya dan Rara hanya itu yang terbesit dalam benak Sukma.
Tubuh yang sedang berbadan dua terpental sejauh tiga meter di aspal dan kepalanya membentur pembatas jalan.
__ADS_1
Kejadiannya begitu cepat, bahkan Bastian yang melihat bahaya di belakang istrinya juga tidak mampu menyelamatkan istrinya, walau ia sudah berlari berusaha menghampiri, tapi sudah keduluan sama hantaman keras dari mobil berwarna hitam itu.
Penabraknya melarikan diri setelah Rara terpental.
Kengerian itu terjadi cairan merah mengalir deras mengalir dari kepala Rara. Ia masih sadar memegangi perutnya.
“Ah..sakit..” Rintihnya dengan suara yang pelan.
“Ra, ya Allah. Ya Allah , tolong istriku tolong anakku,” kata Bastian dengan suara isakan tangisan pilu dari lelaki tampan itu.
Bastian hanya bisa memeluk tubuh istrinya, Sukma yang melihat langsung membatu dengan tangan gemetaran, bahkan mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara, dengan tangan gemetaran ia mendekat memeluk kaki Rara, melihat celana berwarna coklat itu juga bernoda merah dari pangkal pahanya, membuatnya tubuh Sukma semakin terguncang karena takut.
Dari pangkal pahanya mengalir deras cairan merah menodai semua celana berbahan karet berwarna coklat itu.
Bastian meraung menangis memegang tubuh istrinya yang terluka parah.
Ini bagai mimpi bagi Bastian, di depan matanya Istri tercintanya di tabrak seseorang.
“Panggilkan Ambulan,” teriak Bastian.
Anehnya orang-orang, lebih mementingkan megambil gambar dan merekam mereka dari pada menelepon pertolongan untuk orang yang terluka.
Sudah jadi tradisi orang Indonesia memang seperti itu, apa lagi seperti saat-saat ini, saat ada orang terluka yang pertama mereka keluarkan hanya ponsel. Bukan air atau bukan menelepon bantuan, melainkan merekamnya untuk di kirim ke dunia maya, untuk sebuah laman status dan demi dapat like dan memenuhi kolom komentar.
“Ra, aku mohon bangunlah,” kata Bastian memeluk Tubuh istrinya, ia tidak tau lagi harus berbuat apa-apa, melihat Rara terluka parah di pangkuannya, membuatnya kalut dan seperti orang kebingungan, tubuh Bastian bergetar hebat, ia beberapa kali memukul wajahnya berharap apa di lihat saat itu, hanya sebuah mimpi. Tapi saat ia merasa pipinya sakit saat ia tampar, ia yakin lagi kalau ini bukan mimpi , ia menangis meraung-raung,
Ini mimpikan? ini bukan kenyataannya? ia terus meranjau, bagaimana ini katanya lagi bagaimana anakku?
“Tolong, aku mohon, tolong istriku dan anakku,” kata Bastian pada kerumunan orang itu.
“Sabar pak ambulance sudah datang,” kata seorang lelaki.
__ADS_1
Ia tidak sabar lagi menunggu ambulance, ia ingin mengendong Rara ingin membawa sendiri ke dalam rumah sakit.
“Mey, tolong kamu yang nyetir mobilku.” pintanya pada Sukma.
Tapi sayang, wanita itu terlihat shock, ia terus saja meranjau, kejadiannya terlalu cepat, ini bagai mimpi buruk, ia baru saja makan dengan sahabatnya, bahkan makanan yang mereka makan belum juga turun ke lambungnya sepenuhnya , tapi wanita yang selalu ada untuknya itu, Rara segalanya baginya, sahabat yang selalu ada untuknya baik senang maupun duka, tapi kini wanita itu terkapar dan terluka parah di depan matanya.
Sukma seperti kehilangan kesadaran, karena shok ia malah diam dengan tangisan tanpa suara, tangannya gemetaran.
“Ini tidak mungkin..ini tidak mungkin, ini hanya mimpi, itu bukan Rara kami. Ia tidak kenapa-kenapa? Ini mimpi kan?.” Sukma terguncang hebat, ia seperti orang stres
“Haaaa..haaa Raraa ..haaaaaa” Ia menangis sejadi-jadinya dengan suara yang amat keras memecah kerumunan orang.
“Mey sadarlah, kita harus membawanya dari sini,” kata Bastian mencoba mengangkat tubuh Rara yang sudah di banjiri dar*h yang mengotori seluruh tubuhnya dan dan lebih parah kepalanya.
Sabar pak, istrinya di letakkan saja pak, kebetulan saya seorang Dokter, istri bapak mengalami pendarahan hebat dari kepala. Itu sangat sangat berbahaya, takutnya lehernya patah kalau angkat seperti itu lehernya akan semakin cedera,” katanya menjelaskan menurut analisanya sebagai Dokter.
“Jadi lebih baik menunggu ambulance, itu lebih baik dan janinnya dalam rahimnya, tidak terguncang, ia harus sedikit pegerakan,
Dokter tampan itu membuat pertolongan untuk Rara.
“Aku tidak sabar lagi menunggu ambulance, istri saya akan mati jika belum dapat pertolongan.” bentak Bastian ketakutan.
Untungnya ambulance langsung datang membawa Rara yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Leher Rara di pasang penyangga leher dan di kepalanya di bungkus untuk menghentikan pendarahan.
Bastian masuk kedalam mobil ambulance.
“Bagaimana nasib Rara selanjutnya bagaimana janin yang mereka tunggu, dan mereka harapkan itu.
Siapa pelakunya? Siapapun itu pastilah dia manusia berhati iblis, Karena dengan tega melakukannya pada wanita hamil.
__ADS_1
Bersambung