
Bastian tidak menduga akan bertemu dengan Ken dan Aisah saat ini, Aisah menatap Bastian diam-diam, ada perasaan sedih melihat abang iparnya.
Ini tidak adil bagi Bastian, memisahkannya dari istrinya dan anaknya.
Menurut pengakuan pak Agus Bastian beberapa kali datang ke rumah mereka saat ia tau, kalau keluarga Istrinya kembali ke Jakarta, ia ingin melihat Calvin.
Tapi pak Agus menyuruh pulang, menolaknya menemui Calvin, kali ini ia melihat Ken yang menggendong Baby Tiara. Ia melihat dengan tatapan iri pada Ken sahabatnya.
“Aku pulang duluan ,iya,” ia pamit berdiri.
“Tunggu..tunggu.. mau kemana sih bro, ini baru jam berapa?,” kata Bimo mencoba menahannya.
“Masih ada urusan, bentar,” ia meninggalkan Aisah dan teman-temannya, wajah sedih, matanya berat berusaha keras agar air mata itu tidak tumpah di depan teman-temannya.
Melihat Aisah mengingatkannya akan Rara, ia memilih pulang duluan, tapi Aisah merasa tidak tega melihat kesedihan Bastian.
Ia lelaki yang baik, aku berharap mereka bertemu lagi dengan kakak, dengan waktu yang tepat kata Aisah. Walau keluarganya memisahkan kakaknya dan Bastian, tapi Aisah berharap suatu saat mereka berdua bersatu kembali.
“Tunggu sebentar iya mas, aku ingin memberikan sesuatu pada Bastian,” kata Aisah berlari kecil menyusul Bastian.
“Bang..tunggu !,” panggil Aisah dengan nafas ter engah-engah karena berlari, ia menghembuskan nafas berat dari mulutnya.
“Ada apa Sa?”
“Abang apa kabar?” Ia bertanya lagi. “Maaf aku tadi belum sempat menanyakan kabar.”
“Aku sehat , Sah,” katanya menyembunyikan matanya.
“Aku hanya memberikan ini, aku harap bang Bastian yang lebih berhak memilikinya,” kata Aisah memberikan kalung yang bandolannya cincin pernikahan yang biasa di pakai Rara.
Tangannya menerimanya, meremas dengan kuat menahan rasa yang berkecamuk.
“Terimakasih ,Sah,” meninggalkan Aisah.
Dalam mobilnya, ia menangis sendirian, rasa sesak di dadanya, ia tumpahkan melihat Aisah dan anak itu mengingatkannya dengan Rara.
Aku merindukanmu Ra..! kata Bastian dengan tangisan.
Ia meninggalkan tempat itu melajukan mobilnya, membawanya apartemen.
__ADS_1
Bastian mulai lagi kariernya sebagai seorang aktor.
Pak Bardi terlilit hutang pada keluarga Viona, karena Bastian menolak menjadikan Viona jadi istrinya, ia masih yakin kalau keluarga Viona yang dibalik kecelakaan Rara. Tapi ia tidak berdaya, semakin ia menyelidiki lebih dalam semakin ia dan keluarganya di tekan oleh seseorang.
Terakhir ia berusaha mencari tau tentang “Ilalang lebat” akhirnya mengetahui kalimat itu, salah satu kata kunci untuk masuk dalam sebuah tempat, tempat dunia malam seperti sebuah perkumpulan orang-orang yang mengalami Penyimpanan S*k.
Sedikit lagi ia ingin membuka rahasia itu, tapi ada seseorang mengancamnya menekannya dengan Ayahnya, tiba-tiba Pak Bardi terlilit hutang, ia masuk jebakan penipuan. Bastian yakin ada hubungannya dengan kasus yang tengah ia selidikinya.
“Berhentilah Nak, cukup sampai disini, jangan mengungkit masa lalu,” kata Bardi, membuatnya melupakan penyelidikan, dan menyimpan dendam pada orang yang mencelakai istrinya.
Kini hidup keluarganya benar-benar terpuruk dalam keuangan, penghasilannya ia buat membayar hutang-hutang Ayahnya.
Ia menghentikannya mobilnya disalah satu apartemen sederhana di daerah Jakarta pusat, kemewahan itu tidak lagi mereka miliki saat ini, hidup keluarganya saat ini benar-benar di uji.
Ia merebahkan tubuhnya, ia memikirkan pertemuannya dengan Aisah, mata indah bayi perempuan itu mirip seperti mata Rara bulat dan bibirnya mungil.
Andai ia masih ada, mungkin ia sudah lari-larian, kata Bastian tidak tahan dengan perasaan sedih. Tangannya membuka lemari pendingin, mengeluarkan botol yang pasti botol yang isinya bisa membuatnya melupakan masalahnya sementara. Menuangkannya dalam gelas meneguknya sampai habis.
Hidup sendirian, ia tidak perduli lagi pada dirinya sendiri, bahkan isi lemari pendingin itu hanya diisi beberapa botol minuman yang membuatnya mabuk.
Ujian berat itu mengubah prilakunya,
Tapi ia tetap mau bekerja, posisinya sebagai anak tunggal membuat harus bertanggung jawab untuk kedua orang tuanya.
Kepalanya sudah mulai berat dan pandangan mata sudah mulai muram, tidak terhitung entah berapa gelas yang sudah ia habiskan hingga ia tertidur.
“Ayah…” suara anak kecilnya itu memangilnya dengan riang, langkah mungilnya berlari menghampirinya, terlihat dalam mimpinya Rara menenteng tangan anak kecil itu, menghampirinya, wajah mereka berdua tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya dari pintu.
Ia hanya tau kalau suara itu milik istrinya, ia tidak melihat dengan jelas wajahnya.
“Rara..!,” panggil Bastian dalam mimpinya ia terbangun matanya basa karena air matanya.
“Aku bermimpi lagi,” kata Bastian membasuh wajahnya, ia melirik jam yang melingkar di tangannya, menunjukkan jam 2 siang, cacing dalam perutnya mulai keroncong.
Ia turun lagi untuk makan di lantai bawah apartemennya.
Kring....
Kriing....
__ADS_1
Asistennya menelepon.
“Ada job ni bos, mau di ambil apa gak ini? soalnya di luar negeri,” kata Dino alias Dina, dengan takut-takut.
“Ambil saja,” katanya, tanpa bertanya job apa yang ia dapat.
Saat ini ia tidak pernah memilih-milih pekerjaan lagi, walau teman sesama aktor menyebutnya Aktor receh, ia tidak perduli, sekarang urusannya perut, bukan untuk sekedar cari kegiatan lagi seperti saat dulu.
Banyak yang wanita yang mengambil kesempatan dalam kesusahannya, menawarkan bantuan keuangan tapi ujung-ujungnya memintanya jadi pacar settingan atau suami pura-pura.
Ia menolaknya, hatinya belum bisa lepas dari Rara.
Bastian akan pengisi suara dalam satu proyek pembuatan Film animasi, kerja sama antara china dan Indonesia dalam sebuah pembuatan film animasi.
Seperti sebuah takdir yang di lukis dalam surat tangan, saat orang tua Rara ingin menjauhkannya dari Bastian, Tapi Allah punya rencana dan mungkin melihat ketulusan hati seorang Bastian.
Pekerja pembuatan gambarnya 3Dnya atau team kreatornya yang menangani Film yang di bintangi Bastian. Rara dan teamnya yang membuat gambarnya dan settingan tempatnya dan semuanya.
ASKA com Perusaan besar pembuatan Film dan game berada di china, hanya saja cabang perusaan itu ada di Daego Korea selatan perusaan di mana Rara bekerja.
Saat ada proyek besar itu, Rara yang berhasil memenangkan tendernya dan berhak membuat semua gambarnya.
Kini ia sudah tiba di Beijing China bersama ke empat anggotanya. Ia tiba di Hotel Beijing dan Bastian sudah tiba satu jam lebih lebih awal.
Hotel yang bertempat di ibukota China itu, tempat Rara dan kru menginap, kebetulan dekat dengan studio.
Bastian memilih tidur dalam kamar hotel saat mereka tiba, sedangkan asistennya dan managernya mengambil kesempatan jalan-jalan.
Kamar Rara bersebelahan dengan kamar Bastian. Sama halnya dengan Bastian, ia lebih memilih di kamar menatap layar laptopnya mengecek semua persiapan sebelum launching.
Ia merasa mengantuk, Rara menenteng laptop ke balkon kamarnya, memandang gedung-gedung tinggi pencakar langit gedung tinggi itu tampak berdesakan, seakan beradu siapa yang paling tinggi.
Sebelahnya kamarnya juga Bastian juga duduk di balkon melirik kearah Rara, tapi ia hanya meliriknya sekilas sebelum
mengalihkan pandangannya lagi, ia tidak tau wanita yang ia lihat saat ini, wanita yang membuatnya selalu sedih setiap kali ia mengingatnya, ia tidak tau wanita yang di sebelah kamarnya adalah istrinya Rara, wanita yang kehilangan ingatan membuatnya melupakan semuanya termasuk melupakan dirinya.
Apakah Bastian akan mengenali Rara atau Jenny istrinya, saat melihatnya nanti?
Ikuti terus ceritanya, iya kak.
__ADS_1
Bersambung.....