Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bastian Menghilang


__ADS_3

Rara mencoba menjauh dari Bastian dan keluarganya, ia tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Bastian yang menurutnya sombong, tetapi apa kata takdir?


Saat Ken meminta untuk di bawa ke Bali. Rara setuju, ia ingin buktikan pada keluarga Bastian, kalau ia bisa dapat pekerjaan yang lebih baik, selain di tempat Bastian.


Rara juga ingin membuktikan pada keluarga Salim, kalau ia tidak punya niat untuk menjadikan Bastian ayah untuk anaknya, seperti yang di katakan Hartati ibu Bastian padanya.


Saat mendengar Rara dan anaknya liburan kembali bersama Ken, Bastian merasa gila.


Padahal selama ini, ia beberapa kali niat ingin mengajak Alvian liburan tetapi belum kesampaian. Tetapi, kali ini justru Ken sahabat yang mengajak liburan.


“Kenapa harus Ken, kenapa harus dia …?” Bastian merasa kesal. " Ada banyak lelaki lain di muka bumi ini Rara, tapi kenapa harus Kenzo yang menggantikanku?"


Ia merasa kecewa, marah pada ibunya karena melarang Rara bersamanya.


Bastian tidak pulang ke rumah, ia juga tidak pulang ke apartemen, sejak Rara tidak bekerja di apartemen nya, ia juga tidak pulang lagi ke sana. Bahkan Bastian mengundurkan diri dari film yang ia bintangi bersama Viona, membuat ia terkena sangsi karena melanggar kontrak kerja sama.


Ternyata Rara dan Alvian bisa membuat hidup Bastian hancur, ia menghabiskan hari-harinya di bar dan di tempat hiburan malam, selama beberapa hari bergelut dengan pikirannya, ia memutuskan mengikuti Rara ke Bali.


Saat ia membaca berita, seorang wartawan mengambil gambar Ken sedang memilih pakaian untuk Alvian dan Ken juga menemani Rara belanja. Bastian merasa sangat cemburu.


Bastian merasa Kalau Rara dan Alvin miliknya, Bastian merasa kalau Ken merebut Rara dan anaknya darinya.


Satu minggu ia menghilang, keluarganya mencari Bastian, sebagai anak satu-satunya dari keluarga Salim, tentu membuat keluarga itu panik dan mencari kemana-mana.


*


Saat Ken dan Alvian sedang bakar-bakar ikan malam itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel Rara, omanya Bastian menelepon;


“Iya oma”


“Ra, apa oma menganggu kamu?” tanya oma di ujung telepon.


“Tidak oma, ada apa?”


“Apa, Bastian pernah menghubungi satu minggu ini?”


“Tidak Oma, kebetulan kami lagi Bali saat ini, ada pekerjaan bersama Pak Kenzo. Apa anakmu ikut juga Ra?”


“Iya Oma”


“Oh, baiklah, Oma mengerti. Rara ... Oma boleh minta tolong?"


"Iya apa Oma?"

__ADS_1


"CCTV bandara menunjukkan Bastian menuju Bali, mungkin dia ingin menemui dan anakmu Ra, tolong sampaikan padanya kami semua khawatir"


"Baik oma, akan aku katakan jika bertemu"


"Terimakasih Ra, ini rahasia antara kita berdua, iya"


"Baik Oma." Rara menutup teleponnya.


Marisa paham kenapa Bastian, bersikap seperti itu selama beberapa hari terakhir, karena ia berpikir bahwa Kenzo dan Rara liburan ke Bali.


‘Aku yakin, Bastian marah karena Rara dan anaknya bersama Ken, dugaanku benar ... Bastian mencintai Rara dan anaknya’ ucap marisa dalam hati. Tetapi wanita tua itu sadar kalau Rara tidak akan mudah masuk ke keluarganya.


Tidak ingin hal buruk terjadi pada cucunya Marisa memutuskan menceritakan semuanya pada Bardi ayah Bastian.


“Jadi wanita yang di maksud Bastian malam itu dia?”


“Yah, aku yakin Bastian pasti keliru, ia hanya butuh menenangkan pikirannya," ucap Hartati tidak ingin membahas tentang Rara, Ibu Bastian sangat membenci Rara.


“Ibu jangan egois, kalau Bastian sampai menghilang selamanya, bagaimana?” Bardi menatap tajam pada istrinya.


“Wanita itu sudah punya satu orang putra Yah, bagaimana aku menerimanya di keluarga kita, itu tidak akan terjadi.” Hartati menolak.


“Maka bersiaplah kehilangan putramu kalau seperti itu, Bastian sudah dewasa ia berhak memilih yang terbaik untuk pasangannya," ujar Bardi Salim.


"Saya tidak akan menerima seorang janda untuk menjadi menantuku. Saya harus memilih yang terbaik untuk pasangan Bastian, saya pikir Bastian akan sadar akan hal itu." Hartati istrinya bersikeras menolak Rara.


‘Apa yang kamu lakukan Bastian, kemana kamu?’ ucap Rara dalam hati.


Ia menekan nomor Bastian, tetapi tidak aktif. Besok pagi-pagi sekali ia meminta pulang pada Kenzo .


“Kenapa buru-buru Ra, apa ada masalah?”


“Tidak ada, ini sudah lebih dari satu minggu Alvin di sini”


“Apa karena Bastian?” tanya Kenzo, ternyata ia juga tahu tentang Bastian yang tiba-tiba menghilang.


“Kamu tahu? Kok kamu gak bilang” Rara terlihat kesal.


“Untuk apa Ra, memangnya dia suamimu?”


“Ken, dia bukan suamiku, tapi dia orang yang baik”


“Kalian sama-sama munafik sih," ujar Ken ketus.

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Aku tahu kalian berdua sama-sama saling suka saling mencintai, tapi tidak mau jujur satu sama lain”


“Bapak hanya melihat dari sudut pandang bapak saja, tidak semua yang kamu lihat itu, hal yang sebenarnya Pak Kenzo”


“Maksudnya?”


“Sudahlah jangan dibahas lagi, urusannya panjang” Rara memutuskan untuk pulang hari itu juga.


Rara meninggalkan Kenzo di Bali dan ia dan Alvin akan kembali ke Jakarta. Namun, saat Rara naik bus ke Bandara, di tengah jalan, ia melihat seseorang mirip Bastian mengendarai motor sendirian.


‘Apa itu Bastian? Apa aku salah lihat? Apa benar ia datang juga ke Bali?’


Rara, turun dari bus dan menyewa satu motor.


“Apa kamu mau naik motor keliling Bali sama Ibu?” tanya Rara pada Alvin.


“Mau Bu.” Alvin melompat kegirangan, sebenarnya ia belum mau pulang, tadinya, Alvin masih ingin liburan di pantai ia ingin pulang karena Bastian.


Hingga tiba di sebuah pedesaan, di desa Ubut Bali, sebuah pedesaan di area persawahan. Rara baru ingat Bastian pernah punya keinginan ingin berlibur di sana,


Saat Bastian duduk di atas motor, menatap hamparan sawah, ia dikejutkan dengan kehadiran Rara.


Rara berhenti.


“Ra-Rara …?”


“Om …! ” Panggil Alvin, lalu memeluk Bastian.


“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” wajah Bastian bersinar bagai rembulan malam.


“Liburan, menikmati persawahan dan mendengar kicauan burung, tapi aku lapar," ucap Rara, ia kelaparan setelah mengendarai motor.


“Ayo, ayo kita makan, Alvin sama om saja," ujar Bastian terlihat sangat bersemangat, bibir lelaki berwajah tampan itu tidak berhenti tersenyum pada Alvin.


Menuju restaurant di tengah sawah, Bastian dengan senang menaikkan Alvin ke pundaknya, kini momen itu terulang lagi, kebersamaan Bastian dan Alvin.


‘Aku berharap, aku tidak melakukan kesalahan dan berharap tidak ada wartawan yang melihat kami’ ujar Rara dalam hati.


Ia takut Ibu Bastian mengetahui ke bersamaan mereka saat ini, kalau hal itu sampai terjadi Rara yakin ia akan di teror lagi.


Ia menghela napas panjang, Rara berdoa dalam hati dan berharap pertemuannya dengan Bastian tidak bocor pada ibu Bastian, ia kasihan pada Putranya kalau hal itu sampai terjadi.

__ADS_1


Bersambung ...


Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih komentar dan hadiah juga.


__ADS_2