
Bangunlah Rara terangin sekitarmu dengan senyuman indahmu.
Disisi lain polisi berusaha mencari siapa yang mencoba ingin melukai Rara atas permintaan Bardi salim, mendesak polisi agar mencari siapa yang tega melakukan hal yang kejam itu pada menantu dan cucunya.
Hartati. Ibu Bastian ikut terpukul juga, ia jatuh sakit, sudah kehilangan cucunya harus melihat anaknya mendekam di penjara, dan satu sisi lain Viona juga belum sadarkan diri.
Keadaan jadi rumit dan runyam, sedangkan pelaku sesungguhnya belum juga di temukan.
Bastian menghuni kamar yang satu kamar itu isinya 12 orang, tidak bisa di bayangkan bagaimana sempit dan pengapnya tempat yang ia tempati.
Tapi karena Bastian menyerahkan diri dan bersikap baik dan polisi juga mengenalnya, maka itu ia tidak di masukkan ke kamar yang di huni tindakan kriminal, ia di masukkan ke kamar yang didalamnya di huni para kebanyakan para kasus yang ringan –ringan, jadi ia tidak mengalami kekerasan dalam lapas.
Memikirkan penjara membuat Hartati ibunya sangat sedih, membayangkan Bastian masuk kedalam kamar sumpek itu, padahal Bastian sudah biasa hidup senang dan hidup mewah sejak lahir, ibunya sudah memerintahkan pengacara terbaik untuk membeli kamar untuk Bastian. Bukan rahasia umum lagi, ada kamar yang di diperjualkan di lapas. Kamar yang di sediakan di penjara yang biasanya di huni orang-orang kaya yang tidak mau tinggal di kamar yang sama dengan penghuni lain.
Hartati bersedia membayar berapapun harganya, tapi Bastian menolaknya, ia memilih mendapat hukumannya atas tindakannya, kejadian itu bukan hanya mengubah kehidupannya juga mengubah sikap lebih dewasa lagi.
Ia sangat menyesal, karena ia tidak bertanya dulu kebenarannya, mendengar Viona terluka dan belum sadarkan diri juga membuatnya semakin merasa bersalah, kini di isi otaknya menyesali perbuatan nekatnya.
Ia hanya duduk sendirian, sesekali ia mengusap air matanya , setiap kali mengingat anak yang di kandung Rara ia akan menangis.
Maaf nak, karena ayah tidak bisa menjagamu gumamnya dalam hatinya.
Ia mengingat kembali tanda-tanda yang di berikan Rara belakangan ini. Saat ia meminta foto maternity beberapa waktu lalu.
Rara bilang saat itu, ia takut tidak di kasih kesempatan untuk memiliki momen kehamilannya. Hal itu benar.
Harusnya aku menurutinya hari itu, kata Bastian dalam hatinya menatap kosong ke arah tembok.
Penghuni kamar itu untungnya membiarkannya dan tidak mengusiknya seperti itulah kehidupan barunya di penjara , duduk diam dan melukis,
__ADS_1
Kalau biasanya, seperti yang ceritakan orang-orang , kalau penjara itu bagai neraka, bagi para penghuni.
Para penghuni baru biasanya akan di kerjai habis-habisan bahkan di lecehkan.
Tapi Bastian ia tidak mengalami kekerasan tapi saat ini, ia mencoba mengalihkan pikirannya pada kegiatan yang mengisi hari-harinya dengan belajar melukis. Belajar melukis wajah Rara saat ia masih hamil, karena Rara sangat menginginkan hal itu sejak ia hamil, sayang Bastian tidak menurutinya, karena ia pikir belum waktunya untuk melakukan foto maternity karena belum lewat dari 7 bulan, maka saat ini ia banyak memikirkan hal itu, mungkin Rara sudah punya firasat kalau ia tidak akan melewati masa kehamilannya sampai tujuh bulan.
Dalam penjara Bastian hanya banyak diam dan bengong berat dan tubuhnya turun drastis dan wajahnya kusam, kehidupan di penjara membuatnya banyak memikirkan banyak hal dan melakukan hal baru, saat asistennya datang ia tidak meminta apa-apa selain buku gambar dan pensil.
Hari itu asistennya sengaja bawa banyak cemilan dan buah-buahan, ia memberikannya pada satu kamarnya, ia hanya mengambil buku gambar dan pensil mencoba melukis wajah Rara, butuh kerja keras baginya karena ia tidak ada keahliannya.
Walau bolak-balik banyak yang menjenguknya, tapi ia tidak mau menerima siapapun baik Ibunya dan teman-temanya, ia menganggap penjara tempat bermeditasi untuknya.
Hanya asisten yang ia terima, hampir tiap hari ia datang melihat keadaan Bastian, padahal waktu jenguk di batasin , tapi tetap saja ia bisa, bahkan ia rela di masukkan ke sel yang sama dengan Bastian, agar bisa menjaga Bos Bastian katanya, tapi lelaki tampan itu tidak mau, Bastian ingin lelaki gemulai itu, menyambung antara dunia luar dan penjara. Terlebih tentang pengobatan untuk Rara.
“Sibuk melukis apa bro,” tanya seorang teman satu kamar Bastian, melihatnya membuang banyak kertas, karena terus gagal.
Bastian memegang kepalanya dengan frustasi, tangannya menyerahkan kertas hasil lukisannya tanpa berkomentar.
Dengan cepat tangannya melukis sesuai yang di inginkan Bastian.
“Wah.. abang bisa melakukannya?” kata Bastian saat kertas itu berhasil menunjukkan wujud istri cantiknya lewat goresan tangan lelaki itu.
sejak masuk ke dalam kamar itu, baru kali ini Bastian senyum dan mau bicara pada mereka.
“Ini gampang, kamu bisa pola dasarnya dulu,” kata lelaki berambut putih itu mengajarinya.
Sejak itu ia ada kegiatan baru di penjara dan lelaki itu jadi akrap dengannya.
Dalam kamar Bastian ia banyak menemukan latar belakang yang berbeda dan banyak kasus dari bermacam-macam mulai dari kasus menipu dan ditipu hingga di jebak
__ADS_1
.
Bahkan berambut putih di jebak menantunya sendiri dan perusahaanya di rebut.
Bastian seperti hidup di dunia baru menggunakan fasilitas penjara mulai dari kamar mandi di depan kepala saat tidur, kloset buang air besar di samping mereka duduk, hanya di sekat tembok setengah badan.
Bastian tidak memperdulikannya lagi, ia hanya ingin menjalani seperti itu, ia tidak menerima bantuan keluarganya.
Hartati sudah seperti orang yang stress memikirkan Bastian di kamar penjara.
Ia bisa saja memindahkan Bastian ke kamar yang lebih bagus.
Tapi sayang bastian inginnya seperti itu, ia tidak mau menerima bantuan dari keluarganya, ia seperti menghukum dirinya sendiri.
Kini ia menunggu sidang ia akan menerima hukuman, belum pasti berapa tahun nanti ia akan di hukum. Ia berharap Viona tidak meninggal, agar hukumannya tidak berat, ia berharap wanita itu baik-baik saja ,setidaknya kalau ia hidup mungkin hukumannya akan ringan.
“Bangunlah sayangku,” kata Bastian berucap pelan melihat lukisan Rara.
Malam harinya saat ia tidur.
“Siapa yang melakukan itu pada Rara? siapa pelakunya?” Tanya Bastian , ia menyeka keringat yang menetes keras dari keningnya.
Hampir tiap malam, ia mengalami mimpi buruk, kecelakaan yang di alami Rara sepertinya sudah tertanam di bawah alam sadar Bastian, setiap ia menutup mata bayangan hari naas itu selalu datang.
Jadi setiap tengah malam ia akan terbangun, kalau sudah seperti itu ia tidak akan bisa tidur lagi.
Untuk menunggu pagi ia akan melukis lagi, ia akan melakukan untuk menghabiskan waktu, karena di suruh tidur juga ia tidak akan bisa tidur dalam ruangan sempit itu, mereka sudah seperti ikan rebus disusun.
Di kamar penjara itu, kalau sudah tidur, ia balik badan ketemu muka yang brewokan plus mendengkur, balik badan lagi ketemu muka yang yang berbau keringat sekaligus mengupil.
__ADS_1
Tidak bisa di bayangkan hidupnya yang biasa hidup mewah, harus berakhir di penjara sempit,ia berusaha tegar walau berat, ia hanya ingin Rara sembuh. Ia selalu berbisik lewat kata-kata dan doa agar istrinya bisa bangun kembali.
Bersambung...