
Bastian menatap wajah Rara yang tertidur pulas, keringat membasahi keningnya, mulutnya sedikit terbuka dan dengkuran halus terdengar dari bibir Rara.
Ia mengambil ponselnya ia ingin mengabadikan pemandangan indah. Mulut Rara menganga perutnya melendung tangan menggantung bebas di samping terlihat seperti orang mabuk.
Akhirnya senyum terukir di bibir Bastian, ia menyalakan pendingin mobilnya dan menyelimuti tubuh istrinya dengan jaket dan menurunkan sandaran jok membuatnya posisi nyaman dan kembali menghidupkan mesin mobilnya.
Membawa Rara ke rumah yang baru, sesuai dengan yang di rencanakan ayahnya, ia ingin Rara tinggal bersama mereka
Apakah Rara akan mau tinggal dengan ibu mertua yang sudah sempat ia benci?
Saat ini kedua orang tuanya sedang liburan berdua untuk pertama kalinya. Bastian sangat senang melihat orang tuanya bersatu kembali.
Tapi saat ini, ia malah khawatir pada istrinya yang selalu mengabaikannya .
Mobil Bastian berhenti di salah satu perumahan mewah di daerah Kelapa gading Jakarta Utara.
Bardi salim tidak main-main dengan ucapannya, ia meninggalkan rumah istana milik ibunya . Pertama kalinya untuk menentang keinginan ibunya si Ratu besar.
Walau ibunya sangat marah dan menentang, ia kembali pada Hartati ibu dari anaknya, ia rela meninggalkan Perusahaan dan segalanya, saat ibunya mengancamnya tidak akan memberikan hartanya padanya, jika ia pergi. Tapi ia memilih keluarga dari pada Harta kekayaan.
Ia tidak perduli harta dan uang yang di miliki Ibunya. Saat Bastian sakit, ia baru menyadari banyak hal. Salah satunya, kalau uang tidak bisa membeli waktu.
Hartati istrinya wanita yang bisa berubah dan mau menerimanya dan mereka saling memaafkan satu sama lain.
Tapi yang penting dari semua itu adalah cucunya yang di kandung Rara, mereka ingin menikmati menjadi seorang kakek.
Saat ini.
Bastian merasa, tidak perlu membangunkan Rara ia hanya akan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Saat Bastian ingin menggendong, ia terbangun dan mengejapkan-ejapkan matanya, ia mendapati wajah Bastian di depan matanya tangan lelaki itu berada di antara pinggang dan kakinya dengan posisi siap mengangkatnya.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Rara menatap wajahnya .
“Menggendongmu masuk ke rumah,” ujarnya, bersiap ingin mengangkatnya.
“Kamu baru pulang dari rumah sakit Tian bagaimana kalau kamu menjatuhkan kami nantinya," ujar Rara.
“ Aku sudah pulih Ra, Kamu tidak berat, kamu tidak akan membuatku kelelahan dan terus menjatuhkan tubuhmu, aku tidak selemah itu"
“Bastian buk-“
__ADS_1
Ia belum juga bicara, tapi sepertinya tenaga Bastian sudah pulih, ia mengangkat tubuh Rara degan begitu enteng.
“Bastian hati-hati! kamu bisa menyakitinya nanti,” kata Rara dengan kuat ia memegang leher lelaki itu “Kamu masih marah, kamu salah paha-“
“Diam-diamlah Rara jangan bahas si kepara itu sekarang kepalaku sakit,” katanya masih dengan kemarahannya.
“Tapi ini rumah siapa? Tanya Rara melihat sekeliling, ia belum pernah menginjakkan kaki di rumah yang satu ini.
Walau Rara tau keluarga Bastian memliki property yang banyak, tapi ia tidak pernah tau kalau bastian punya di daerah itu.
“Ini Rumah siapa,Tian”
“Rumah kami Ra, siapa lagi?”
Mata itu itu terlihat masih marah, bahkan saat ini terlihat sangat marah.
Hingga ia meletakkan Rara dengan hati-hati di salah satu kamar dan ia yakin itu kamar milik Bastian.
“Bastian, sepertinya kamu salah paham pada Ken"
Mendengar nama itu disebut. Tiba-tiba Bastian menatap tajam, sangat tajam kearah Rara
“Aku sudah bilang jangan menyebutnya Ra, aku sangat marah saat ini,” katanya terlihat sangat –sangat marah urat lehernya sampai kelihatan
Tapi sebelum ia sempat menjelaskan, Bastian berbalik badan membungkam bulut Rara dengan mulutnya.
“Bastian apa yang kamu lakukan, hati-hati,” kata Rara dibalik aktivitas itu, suaranya hampir tidak terdengar
Karena Bastian mengulum bibirnya dengan lembut dan penuh semangat.
“Kamu jangan bicara dia di depanku, aku sudah peringatkan kamu Ra, kamu milikku,” katanya mengangkat tubuh Rara duduk di atas meja rias
“Tian ,apa yang kamu lakukan,” Kata Rara terlihat terkejut atas kelakuan Bastian.
Bibirnya, ia tempelkan awalnya di Perut buncitnya, tangannya dengan lembut menyisihkan baju yang menutupi perutnya memperlihatkan satu gundukan Ia mengusap-usapnya dan mulai menempelkan bibirnya di area gundukan itu , hingga bibir itu menyusuri bagian dada.
Secara spontan Rara menegang.
“Tian. Aku takut kamu akan menyakitinya , kata Rara walau ia sangat ingin juga tapi ia takut.
“Tidak apa- apa sayang, kita akan mencari posisi yang aman, aku tidak membahayakannya, aku sudah membaca banyak buku tentang kehamilan,” kata Bastian percaya diri.
__ADS_1
Tangannya menyingkirkan pakaian Rara memperlihatkan pemandangan indah, dada Rara semakin berisi seiring kehamilannya semakin bertambah bulan
“Apa bisa dalam semester segini kita melakukannya? “Tanya Rara pada Bastian,
“Apa kamu tidak ingin melakukannya? Tanya Bastian menatap wajah rara yang terlihat tersipu.
“Aku mau aku juga ingin tapi aku takut,”ujar Rara berkata jujur.
Dalam usia kehamilan seperti itu terkadang orang hamil menginginkannya, karena pembawaan hormon bahkan Rara pada usia semester 2 dan 3 malah sangat menginginkan itu padahal itu usia rawan keguguran, semua orang berbeda-beda saat hamil, tergantung pembawaan hormonnya,
usianya kandungan Rara delapan belas minggu, boleh dibilang sudah sedikit aman.
Bastian mengecup bagian inda itu dengan lembut, Rara masih didudukkan di atas meja Rias Bastian walau sangat menginginkannya, tapi ia tetap melakukanya degan hati-hati
Setiap kali ia merasa cemburu pada Rara, ia akan melakukan hubungan badan dengan Rara itu semacam pengingat . Kalau tubuhnya milik Bastian, setiap kali ia cemburu, pasti menyatukan tubuhnya dengan Istrinya dengan begitu ia merasa amarahnya berkurang,
Rara dalam posisi seperti itu hanya bisa mengusap –usap kepala dan dada bidang milik suaminya, gerakkan ya tidak leluasa orang normal, ia hanya jadi pihak penerima. Bibir Bastian merayap ke leher jenjang milik Istrinya, tubuh Rara bereaksi mengikuti irama tangan Bastian yang mencekram bagian dadanya, tetaapi ia tetap menjaga tubuh Rara agar tidak jatuh karena posisi tubuhnya di dudukkan di atas meja.
Suara manja Rara membuatnya bersemangat gundukan milik istrinya tidak menghalanginya nya untuk menyalurkan hasrat yang sudah lama terpendam.
Ia menikmati bibir mungil itu dan mencekram bagian dada dengan lembut, tangannya menanggalkan kain segi tiga milik Rara dan miliknya juga hingga tubuh mereka berdua polos.
Bastian mendekapnya dengan lembut memberi pemanasan-pemanasan yang membuat tubuh Rara bergerak liar seperti cacing kepanasan, tubuh mereka berdua sudah di banjiri keringat dan Rara terlihat sudah menginginkan puncak permaianan.
Bastian menarik kursi meja Rias itu dan ia memangku tubuh Rara dan memasukkan benda tumpulnya dari bawah dan ia mendekap Rara
mendorongnya dengan lembut dan melakukannya dengan hati-hati.
Rara semakin mendekapnya dengan hangat, saat ia mendorong pedangnya ke dalam perut itu
Batang milik Bastian yang lumayan besar membuat Rara menikmati saat suaminya memberinya hentakan.
Mengingat perut istrinya yang tidak mungkin melakukan gaya lain, pada saat usia kehamilannya saat ini seperti itu gaya itu yang tepat.
Bastian merasa tubuhnya semakin panas. Bastian mendorong dengan tempo yang lebih cepat di ikuti suara yang panjang mengikuti ritme gerakan Bastian, hingga mereka berdua mengerang nikmat bersama-sama.
Rara masih membiarkan tubuh mereka menyatu.
Bermandikan keringat dan napas terengah-engah
Rara tersenyum puas, ia berdiri dari pangkuan suaminya dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri di susul Bastian dari belakang Lanjut lagi mandi berdua dan berendam berdua.
__ADS_1
Bersambung ....
Bantu vote dan like iya