
Dalam studio Rara masih bertemu dengan Bastian, tapi ia sudah kehilangan empati pada lelaki tampan itu, karena sikap Bastian yang malam itu, membuatnya salah paham pada Bastian, ia pikir ia lelaki tampan itu salah satu lelaki hidung belang yang mengejarnya.
Dalam studio tidak bisa di pungkiri, Bastian selalu mencuri-curi pandang untuk melihat Jenny, bukan karena ia cantik tapi karena ia melihat ada banyak kesamaan Rara di dalam jenny.
Iya, iyalah secara Jenny itu Rara kata author.
Dalam studio jadwal rintangan yang mereka lalui selama proses shooting
Jadwal yang di targetkan hanya dua hari molor menjadi tiga hari.
Penyebabnya karena talent atau aktor yang di datangkan dari beberapa Negara susah di atur dan susah menerima peraturan yang sudah di sepakati.
Untungnya Rara membawa bagian editing dan visual dari kantornya, mempermudahnya mengontrol dan mengatur orang-orangnya sendiri.
Kalau tidak, kepalanya bisa-bisa pecah banyak kesalahan informasi, membuat banyak masalah saat shooting pembacaan naskah tidak terjemahannya, kru film yang tidak tepat waktu dari pihak tuan rumah, hingga waktu shooting ngaret sampai beberapa jam.
Hadeeh apa-apaan ini? tidak professional kata Jenny kesal.
Hari kedua baru mulai shooting, walau banyak pengulangan pembacaan Naskah, hingga hari ketiga masih berlanjut hari keempat baru benar-benar tuntas.
Akhirnya selesai juga kata Jenny merasa lengah.
Jenny hanya mengawasi layar memastikan suara talent nyambung dengan gambar animasi karyanya dan bergerak sesuai gerakan suara.
Kesannya sih tidak terlalu capek, kelihatanya lebih capek talent atau aktor dan artis , karena mereka pikir harus di ulang-ulang membaca naskahnya. Mengulang kadang sampai puluhan, terkadang membuat para Aktor atau talent merasa bosan.
Tapi itu hanya kelihatannya saja, Tapi saat itu Jenny dan krunya terlihat capek luar biasa juga, merekalah aktor sesungguhnya orang-orang yang bekerja di belakang layar seperti Jenny dan teman-temanya.
Ia harus tetap teliti agar suara dan gerakan sama atau sejalan, otak, mata yang kelelahan. Akhirnya shooting hari ini selesai juga, tinggal promosi filmnya dan launching di Bioskop.
Semua team dan artis di ajak minum sebagai tanda keberhasilan dan untuk perpisahan juga.
“Apa aku boleh duduk di sini?” Bastian sepertinya masih penasaran dengan sosok Jenny, bahkan dalam studio pun Bastian selalu mengawasinya seperti seekor buruan. Tapi Jenny tau akan hal itu, ia tidak merasa senang dengan cara Bastian melihatnya.
“Boleh, tidak ada yang larang.”
__ADS_1
“Aku ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kita,” kata Bastian.
Jenny yang sudah memvonisnya sebagai lelaki hidung belang, duduk dengan Bastian karena terpaksa.
“Kesalahpahaman yang mana? Saya berpikir kita tidak saling kenal dan tidak pernah ada masalah, mungkin bapak sendiri yang merasa ada masalah ,’ wajah Jenny terlihat datar.
Ia menuangkan isi botol itu lagi ke gelasnya dan menghabiskannya dalam satu tegukan.
“Baiklah, aku mengakuinya, aku ingin lebih kenal dengan kamu,” ia menjulurkan tangannya “Namaku Bastian,” katanya kemudian.
Jenny hanya menatapnya sekilas, matanya kembali terfokus ke depan .Ia menyambut tangan Bastian dengan wajah datar
“Aku Jenny.” Jawabnya kemudian.
Untuk sekian detik mata mereka saling menatap, tatapan Jenny yang membuat Jantung Bastian berirama, irama gendang yang di tabuh, bagaimana mungkin mata itu bisa sama, itu mata indah persis seperti milik istriku kata Bastian.
Ia mengepal tangannya dengan kuat menahan perasaannya, matanya tanpa sadar menatap kearah Jenny lagi, ia sangat merindukan sosok istrinya.
“Apa kamu tidak pernah ingat kalau kita pernah bertemu?” Tanya Bastian lagi.
“Apa yang ingin kamu katakan, kamu mau tidur denganku?” Wajah jenny merah menahan emosi.
“Tidak..tidak jangan salah paham, kamu hanya mirip dengan seseorang yang aku cintai dan aku rindukan,” kata Bastian menahan sedih.
“Aku pastikan kita tidak pernah bertemu, semoga itu bisa membantu,” kata Jenny dengan tatapan sinis.
“Tapi coba kamu pikirkan lagi, apa kamu pernah tinggal di Jakarta?” ia bertanya lagi.
“Hadeeeeh kamu sangat menggangguku, di sana-di situ banyak wanita cantik yang bisa kamu tiduri sesuka hatimu, jangan aku yamg kamu rayu.”
“Tapi aku hanya ingin kamu,” kata Bastian dengan tatapan serius.
“Dasar gila..,” kata Jenny, ia keluar dari Bar, kebetulan tidak jauh dari tempatnya menginap. Ia jalan dengan menahan emosi, Ia mendorong kamar Daniel. Ia butuh seseorang untuk pelampiasan kemarahannya.
Sepasang muda-mudi yang sedang di mabuk asmara itu menghentikan kegiatan mesra mereka, terkejut dengan kedatangan tamu yang menganggu. Ia dan kekasihnya lagi saling berpangutan di atas sofa, ia melampiaskannya pada Daniel.
__ADS_1
“Ini gara-gara kamu ne, coba kamu bekerja serius, kita tidak berlama-lama di tempat ini, makanya kalau bekerja berkerja saja, tidak usah bawa-bawa pacar jadi pikiran kamu tidak konsentrasi saat bekerja.”
Ia menjadikan Daniel jadi pelampiasan kemarahannya, Ia marah pada salah seorang anak buahnya bagian visual, karena kemarin ia melakukan kesalahan dalam pekerjaannya itu sebabnya waktu mereka pulang tertunda lagi.
Sepasang kekasih itu hanya diam mendengarnya coleteh mengeluarkan semua unek-unek kemarahannya.
“Maaf Jenny itu tidak sengaja,” kata lelaki bertubuh kurus itu penuh sesal, ia warga Indonesia yang kuliah di Daego dan bekerja pada Perusahaan Jenny, kekasihnya orang wanita Korea , jadi apapun yang mereka bicarakan saat ini, di pastikan ia tidak mengerti.
Terlihat saat Jenny ikut memarahinya ia terlihat kebingungan minta di terjemahkan sama kekasihnya.
“Iya, kalau bekerja pacar tidak usah di bawa-bawa, gara-gara kamu aku kena sial sama laki-laki gila, kalau kamu bekerja serius mungkin kemarin aku sudah pulang , tapi karena kamu..! aku tertahan kata,” suara Jenny meninggi, karena marah-marah kerongkongannya langsung merasa kering, ia membutuhkan segelas air.
Ia tangannya langsung menyambar gelas yang di nakas di samping Daniel. ia menghabiskan isi tanpa tersisa.
“Eeeeeh jangan…!.” Cegah Daniel menghalanginya ,tapi terlambat, gelasnya sudah kosong.
Wajah Daniel tiba-tiba pucat dan menegang, seakan sudah melakukan kesalahan besar dan kesalahan itu tidak bisa di maafkan seumur hidup.
“Mati aku..!” pekiknya memegang kepalanya dengan putus asa.
“Ada apa?” tanya Jenny tidak menghiraukan kepanikan dari Daniel
“Itu-itu o-o-obat perangsang Jeeeen,” kata Daniel terbata-bata .
“What??”
Kepanikan pun terjadi, Daniel panik ia memikirkan obat penangkal untuk mencegahnya reaksi obatnya. Tapi sayang karena kepanikannya, otaknya jadi buntu, ia memikirkan hal terburuk ia takut Jenny menariknya paksa dan menjadikannya pelampiasan, tidak apa-apa baginya, tapi bagaimana dengan kekasihnya.
“Ohhh gila, bagaimana ini” Ia mondar- mandir.
Jenny terlihat pucat, ia menduga hal yang buruk akan terjadi, kemana ia harus mengadu, siapa yang akan menyelamatkannya.
Tangannya bergetar memikirkan hal itu, ia menatap Daniel, ingin menyalahkannya tapi tidak ini bukan salahnya ini salahku.
“Oh tidak…!”
__ADS_1
Bersambung...