
Bastian mengambil napas sebentar untuk melakukan serangan terakhirnya,
Ia menanggalkan celana boxter yang yang dipakai hinga menyisakan CD untuk membungkus senjatanya,
Ia melihat Rara mulai panik. Ia mengecup pipinya dengan lembut untuk mengalihkan kepanikan di wajahnya.
“Jangan takut Ra, kita akan melakukanya dengan pelan-pelan percaya samaku,” bisik Bastian lagi.
Ia memperpanjang durasinya lagi, karena lagi-lagi Rara sepertinya belum siap untuk pertempuran terakhir.
Sepertinya Rara sangat tegang. Bastian mengulangi lagi membuatnya lebih rileks, ia kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Rara, bermain beberapa lama, dibibir berwarna merah itu, untuk mencairkan kepanikan dan mengalihkan ketegangan yang dirasakan Rara. Rara kembali membalasnya saling memberi saling dan menerima.
Ia kembali menyentuh bagian lembut dari dada Rara, memberinya sensasi mengitari setiap sisi bukit dan menekan puncaknya.
“Jangan takut Ra,”ucap Bastian saat Rara menarik napas berat.
Rara hanya membalasnya dengan anggukan kecil setelah hampir satu jam melakukan pemanasan.
Rara sudah siap sesi terakhir, Bastian kembali mengecup perut rata Istrinya dan turun kepahanya, ia mengusapnya dengan lembut pangkal paha, Bastian baru menyadari kalau kakinya jenjang dengan kulitnya yang lembut menyambut tangan Bastian
Kali ini dengan gerakan yang lembut dan hati-hati, ia membuka pengaman berbentuk segitiga itu, hingga terlihat satu mahkota indah milik Rara yang tersembunyi di antara ke dua pangkal pahanya.
Mata Bastian tidak berkedip, akhirnya ia bisa melihat dengan jelas milik Rara yang sudah lama membuatnya penasaran, dulu pernah pas pertama kali Ara datang, ia menyentuhnya dengan tidak sengaja karena sebuah insiden, tetapi sejak saat itu, Bastian selalu penasaran dibuatnya.
Tidak ada bulu satupun yang tumbuh di area itu, terlihat mulus seperti kulit bayi. Rara tidak mencukurnya karena pas ia raba, ia tidak merasa risih-risih karena bekas cukuran, tetapi karena milik Rara mulus tanpa tumbuh bulu dari sananya,
Matanya tidak berkedip, tetapi ia merasakan kerongkongannya serasa kering seperti ada butiran pasir di kerongkongan itu, ia menelan savilanya dengan susah payah.
Bastian memberi kecupan di mahkota milik Rara. Membuat mata bulat Ara semakin membelalak panik.
Ia membuka pangkal paha itu pelan dan mengusapnya dan ia merasakan sentuhan lembut dari kulit paha Rara yang sangat lembut dan halus . Hingga tangannya meraba hingga menemukan pinggir bibirnya yang sudah mulai lembab,
Ia mencari lobang gua itu, memasukkan salah satu jarinya tapi Rara melonjak panik, ia mencoba memberi penolakan lagi, telapak tangannya menutup wajahnya saat Bastian membuka pangkal pahanya, ia terlihat terkejut membuat Bastian semakin penasaran.
“Tidak-tidak apa-apa sayang,” bisik Bastian.
Tetapi wajah Rara hampir menangis karena ketakutan rambutnya benar-benar basah, ia bermandikan keringat, baik tubuh Bastian sudah bermandikan peluh-peluh keringat juga, Rara kembali ketakutan setiap kali Bastian menyentuh mahkotanya.
Bastian dengan sabar menuntunnya, mencoba menenangkannya lagi.
“Bastian a-ku a—ku belum pernah melakukannya,” ucap Rara akhirnya ia mengaku dengan tangisan ketakutan
__ADS_1
Bastian langsung berhenti, wajahnya tiba-tiba ikut tegang, ia diam sejenak.
‘Benarkah istriku masih perawan? apakah masih ada wanita yang masih perawan di jaman ini?’ ia berbisik dalam hati.
Walau ia juga ikut panik karena pengakuan dari istrinya, tetapi mencoba bersikap tenang pada Ara. Ia tidak mau terlihat ketakutan juga,
“Percayalah ,Ra, sakitnya cuman sebentar saja kok, habis itu, akan sangat enak” Bastian berusaha menenangkannya dengan sabar, ia tidak ingin terlihat bernafsu di mata Rara.
Ia memberi Rara waktu mengambil napas dan menenangkan dirinya. Rara mencoba menarik napas panjang, membuangnya melalui mulut.
“Baiklah,” ujar Rara ia tidak ingin mengecewakan Bastian kedua kalinya.
Sadar istrinya belum berpengalaman dan ketakutan. Bastian mencari posisi tubuh yang membuatnya nyaman. ia memberi bantal di bawah panggul Rara, sebagai penopang, Bastian mengambil posisi berdiri di sisi ranjang,
Dengan wajah tegang, ia juga merasakan ketengan yang sama seperti Rara. Ia takut menyakiti wanita yang sedang ketakutan itu.
Dengan lembut, ia membuka pangkal paha Rara lagi dan mengarahkan senjatanya tumpul ke lobang kecil milik Rara.
Butuh kerja keras untuk menerobos lobang kecil itu, dengan senjata tumpul milik Bastian, setelah hampir sepuluh menit lamanya, akhirnya senjata milik Bastian bisa menerobos masuk berkat bantuan pelumas yang dioleskan Bastian ke bagian batangnya.
Tab
Kreeek …
Suara seperti kain kasa robek, terdengar dari pangkal Rara Perawannya akhirnya robek, darah segar itu mengalir deras mengotori seprai dan bantal yang di bawahnya
Rara meringis kesakitan, menyambar lengan Bastian dengan kuku panjangnya meninggalkan jejak di area lengan.
Tap ....
Dorongan kedua Rara mengerang Kesakitan dan kembali mencakar badan Bastian
Tap-tap-tap
Ia menggeliat dan menjadikan badan Bastian pelampiasan rasa sakit yang di berikan suaminya,
Bastian memeluknya dengan erat membiarkan tubuhnya di cakar sepuasnya.
Untuk selanjutnya ia tidak meringis kesakitan lagi, tapi mengeluarkan erangan –erangan kecil dari tubuhnya. Ia masih memeluk tubuh suaminya meninggalkan banyak jejak cakaran di tubuh Bastian.
Bastian masih berkutat dengan iramanya, dari tempo lambat hingga tempo cepat, setelah sekian menit memberi hentakan naik turun ke tubuh Rara, Bastian akhirnya mengerang panjang seperti auman singa jantan, di susul Rara juga mengerang panjang, junior milik Bastian akhirnya memuntahkan lahar hangat di goa milik istrinya, bercampur dengan cairan merah dari Rara hingga mereka berdua lemas, aktivitas halal itu, membuat Bastian merasa sangat puas tanpa beban.
__ADS_1
Saat Bastian menarik senjata yang sudah tak berdaya itu dari lobang gua milik Rara.
Ia merintih lagi merasa nyeri dan berdenyut di antara kedua pangkal pahanya.
“Ah sakit” rintihnya, hingga benar-benar lelah.
Bastian memberinya kecupan di kening istrinya, akhirnya ia ikut tepar di samping istrinya, dengan napas ter engah-engah dan dada naik turun. Ia memeluk tubuh Rara dari belakang.
“Apa aku menyakitimu Ra?” Tanya Bastian, dari belakang, dagunya diletakkan di pundak Rara, tangannya memeluk pinggang ramping istrinya, merasakan kulitnya menyatu dengan kulit Rara, ia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
“Sangat sakit,” jawab Rara pelan,
Mendengar itu Bastian tersenyum, ia benar-benar puas dan sekaligus sangat bahagia, senyuman manis mengembang di bibirnya, mengecup pundak Rata dengan lembut.
“Apa aku perlu menggendong mu ke kamar mandi?”
“Aku lelah," ucap Rara membelakanginya, tapi dengan pundak terisak seperti menangis, ia menangis karena ia merasa bahagia. Akhirnya ia bisa melewati trauma yang selama ini membelenggu hidupnya.
“Kamu tidak apa-apa , sayang?” Tanya Bastian dengan wajah panik, ia membalikkan tubuh Rara, melihat Istrinya benar-benar menangis tanpa suara.
“Apa, a-pa sangat sakit?” tanya Bastian panik.
Tetapi yang terjadi ....Rara memeluk tubuhnya dan berkata;
“Terimakasih Bastian telah melepaskan ku dari rasa ketakutan selama ini,”ucap Rara, wajah cantiknya dipendamkan di dada Bastian.
“Aku yang berterimakasih padamu Ra, karena sudah percaya padaku,” ucap Bastian, mengecup pipi Rara dengan lembut.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1