Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Malam Pertama


__ADS_3

Bastian mengambil napas sebentar untuk melakukan serangan terakhirnya,


Ia menanggalkan celana boxter yang yang dipakai hinga menyisakan CD untuk membungkus senjatanya,


Ia melihat Rara mulai panik. Ia mengecup pipinya dengan lembut untuk mengalihkan kepanikan di wajahnya.


“Jangan takut  Ra, kita akan melakukanya dengan pelan-pelan percaya samaku,” bisik Bastian lagi.


Ia  memperpanjang durasinya lagi, karena  lagi-lagi Rara  sepertinya belum siap untuk pertempuran terakhir.


Sepertinya Rara sangat tegang.  Bastian mengulangi lagi  membuatnya lebih rileks, ia kembali  mendaratkan bibirnya ke bibir Rara, bermain  beberapa lama, dibibir berwarna merah itu,  untuk mencairkan kepanikan dan mengalihkan ketegangan yang dirasakan Rara. Rara  kembali membalasnya  saling memberi saling dan menerima.


Ia kembali menyentuh bagian lembut dari dada Rara, memberinya sensasi mengitari setiap  sisi  bukit dan menekan puncaknya.


“Jangan takut Ra,”ucap Bastian saat Rara menarik napas berat.


Rara hanya membalasnya dengan anggukan kecil setelah hampir satu jam melakukan pemanasan.


Rara sudah siap sesi terakhir, Bastian  kembali mengecup perut rata Istrinya dan turun kepahanya, ia mengusapnya dengan lembut pangkal paha, Bastian baru menyadari kalau kakinya jenjang dengan kulitnya yang lembut menyambut tangan Bastian


Kali ini dengan gerakan yang lembut dan hati-hati, ia membuka pengaman berbentuk segitiga itu,  hingga terlihat satu mahkota indah milik Rara yang  tersembunyi di antara  ke dua pangkal pahanya.


 Mata Bastian tidak berkedip,  akhirnya ia bisa melihat dengan jelas milik Rara yang sudah lama  membuatnya penasaran, dulu pernah pas pertama kali Ara datang, ia menyentuhnya dengan tidak sengaja karena sebuah insiden,  tetapi sejak  saat itu, Bastian selalu penasaran dibuatnya.


Tidak ada bulu satupun  yang tumbuh di area itu, terlihat mulus seperti kulit bayi. Rara tidak mencukurnya karena pas ia raba,  ia tidak merasa risih-risih karena bekas cukuran, tetapi  karena milik Rara mulus tanpa tumbuh bulu dari  sananya,


Matanya tidak berkedip,  tetapi ia merasakan kerongkongannya serasa kering seperti ada butiran pasir di kerongkongan itu, ia menelan savilanya dengan susah payah.


Bastian memberi kecupan di mahkota milik Rara. Membuat mata bulat Ara semakin membelalak panik.


Ia membuka pangkal paha itu pelan dan mengusapnya dan ia merasakan sentuhan lembut dari kulit  paha Rara yang sangat lembut dan halus . Hingga  tangannya meraba  hingga menemukan  pinggir bibirnya yang sudah mulai lembab,


Ia mencari lobang gua itu, memasukkan salah satu jarinya tapi Rara melonjak panik,  ia mencoba memberi penolakan lagi, telapak tangannya menutup wajahnya  saat Bastian membuka  pangkal pahanya, ia terlihat terkejut membuat Bastian semakin penasaran.


“Tidak-tidak apa-apa sayang,” bisik Bastian.


Tetapi wajah Rara hampir menangis karena ketakutan rambutnya benar-benar basah,  ia  bermandikan keringat, baik tubuh Bastian sudah   bermandikan peluh-peluh keringat juga, Rara kembali ketakutan setiap kali Bastian menyentuh mahkotanya.


Bastian dengan sabar menuntunnya, mencoba menenangkannya lagi.


“Bastian a-ku a—ku belum pernah melakukannya,” ucap Rara akhirnya ia mengaku dengan tangisan ketakutan

__ADS_1


Bastian langsung berhenti, wajahnya tiba-tiba ikut tegang, ia diam sejenak.


‘Benarkah istriku masih perawan?  apakah masih ada wanita yang masih perawan di jaman ini?’ ia berbisik dalam hati.


Walau  ia juga ikut panik karena pengakuan dari istrinya, tetapi mencoba bersikap tenang pada Ara. Ia tidak mau terlihat ketakutan  juga,


“Percayalah  ,Ra, sakitnya cuman sebentar saja kok, habis itu,  akan sangat enak” Bastian  berusaha menenangkannya  dengan sabar, ia tidak ingin terlihat bernafsu di mata Rara.


Ia memberi Rara waktu mengambil napas dan menenangkan dirinya.  Rara mencoba menarik napas panjang, membuangnya melalui mulut.


“Baiklah,” ujar Rara ia tidak ingin mengecewakan Bastian kedua kalinya.


 Sadar istrinya belum berpengalaman dan ketakutan. Bastian  mencari posisi tubuh yang membuatnya nyaman. ia memberi   bantal  di bawah panggul Rara,  sebagai penopang, Bastian mengambil posisi berdiri di sisi ranjang,


Dengan  wajah tegang,  ia juga merasakan ketengan yang sama seperti Rara. Ia takut  menyakiti wanita yang sedang ketakutan itu.


Dengan lembut, ia membuka pangkal paha Rara  lagi dan mengarahkan senjatanya tumpul ke lobang kecil milik Rara.


Butuh kerja keras untuk menerobos lobang kecil itu, dengan senjata  tumpul milik Bastian,  setelah  hampir sepuluh menit lamanya, akhirnya  senjata milik Bastian bisa menerobos masuk berkat bantuan pelumas yang dioleskan Bastian ke bagian batangnya.


 Tab


Kreeek …


 Suara seperti kain kasa robek,  terdengar dari pangkal Rara  Perawannya akhirnya robek, darah segar itu mengalir deras mengotori seprai dan bantal yang di bawahnya


Rara meringis kesakitan, menyambar lengan Bastian dengan kuku panjangnya meninggalkan  jejak di area lengan.


 Tap ....


Dorongan kedua Rara mengerang Kesakitan dan kembali mencakar badan Bastian


Tap-tap-tap


Ia menggeliat dan  menjadikan badan Bastian pelampiasan rasa sakit yang di berikan suaminya,


Bastian memeluknya dengan erat membiarkan tubuhnya di cakar sepuasnya.


Untuk selanjutnya ia  tidak meringis kesakitan lagi,  tapi mengeluarkan erangan –erangan kecil dari tubuhnya. Ia masih memeluk tubuh suaminya meninggalkan banyak jejak cakaran di tubuh Bastian.


Bastian masih berkutat dengan iramanya,  dari tempo lambat  hingga  tempo cepat, setelah sekian menit memberi hentakan naik turun ke tubuh Rara, Bastian akhirnya mengerang panjang seperti auman singa jantan, di susul Rara juga mengerang panjang, junior milik Bastian akhirnya memuntahkan lahar hangat di goa milik istrinya, bercampur dengan cairan merah dari Rara  hingga mereka berdua lemas, aktivitas halal itu, membuat Bastian merasa sangat puas tanpa beban.

__ADS_1


 Saat Bastian menarik senjata yang sudah tak berdaya itu dari lobang  gua milik  Rara.


Ia merintih  lagi merasa nyeri dan berdenyut di antara kedua pangkal pahanya.


“Ah sakit”  rintihnya, hingga benar-benar lelah.


Bastian memberinya kecupan di kening istrinya, akhirnya ia ikut tepar di samping istrinya, dengan napas ter engah-engah dan dada naik turun.  Ia memeluk tubuh Rara  dari belakang.


 “Apa aku menyakitimu Ra?” Tanya Bastian, dari  belakang,  dagunya diletakkan di pundak Rara, tangannya memeluk pinggang ramping istrinya, merasakan kulitnya menyatu  dengan kulit Rara, ia  menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


“Sangat sakit,” jawab Rara pelan,


Mendengar itu Bastian tersenyum, ia benar-benar puas dan sekaligus sangat bahagia, senyuman manis mengembang di bibirnya, mengecup pundak Rata dengan lembut.


“Apa aku perlu menggendong mu ke kamar mandi?”


“Aku lelah," ucap Rara  membelakanginya, tapi dengan pundak terisak seperti menangis, ia menangis karena ia merasa bahagia. Akhirnya ia bisa melewati trauma yang selama ini membelenggu hidupnya.


“Kamu tidak apa-apa , sayang?”  Tanya Bastian  dengan wajah panik, ia membalikkan tubuh Rara, melihat Istrinya benar-benar menangis tanpa suara.


“Apa, a-pa  sangat sakit?”  tanya Bastian panik.


Tetapi yang terjadi ....Rara memeluk tubuhnya dan berkata;


“Terimakasih Bastian telah melepaskan ku dari  rasa ketakutan selama ini,”ucap  Rara,  wajah cantiknya dipendamkan di dada Bastian.


“Aku yang berterimakasih  padamu Ra, karena sudah percaya padaku,” ucap Bastian, mengecup pipi Rara dengan lembut.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2