
Hingga hari yang di janjikan Rara untuk bertemu keluarga akhirnya tiba, Rara sengaja bangun lebih awal dari biasanya, ia ingin mempersiapkan mental yang kuat untuk membawa Bastian ke rumah keluarganya, sebagai suaminya, terlebih pada anak semata wayangnya si tampan Alvin.
Rara beberapa kali menarik napas panjang, setiap kali memikirkan saat mereka akan menemui keluarganya. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar karena tidak meminta restu pada keluarga saat ia menikah. Padahal kedua orang tuanya masih hidup, jantungnya berdetak sangat kencang jika memikirkan kedua orang tuanya, walau sebelumya keluarga Rara sudah tahu, tetapi saja ia merasa salah.
Apa lagi saat ini babe sama emaknya sekarang lagi perang dingin dan pisah rumah karena ulah dirinya juga.
‘Ya, Allah, akan berat rasanya ini’ ucap Rara dalam hati.
“Kalau gue sih gak kenape-kepane dah di omelin emak sama babe, tapi bagaimana Bastian, bagaimana kalau babe marah besar padanya” ucap Rara pelan.
“Ada apa Non Ara, ada masalah?” Tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan mata serius, ia menghentikan aktivitasnya karena melihat Rara beberapa kali menghela napas berat.
“Gak ada Mbok, hanya memikirkan ayah mertua dan oma”
“Tidak apa-apa Non, hidup harus maju ke depan kan, tidak bisa mundur ke belakang jika sudah siap menikah maka siap menerima keluarga suami dan begitu sebaliknya,” ujar wanita paruh baya itu berkata bijak.
“Iya, benar Mbok,”
“Tapi sebaiknya jangan kemana-mana dulu Non, setidaknya waktu dekat ini, karena bermacam-macam berita masih beredar di mana-mana”
Si mbok yang sudah lama hidup bersama keluarganya Bastian, memberinya nasehat untuk menghadapi sikap keras kedua Nyonya rumah itu, dan Raralah yang akan Nyonya ketiga. Untuk mencapai itu, Rara harus menghadapi banyak masalah dan rintangan.
Apa yang dikatakan sang asisten rumah tangga itu pada Rara seolah-olah memberinya sedikit keberanian, ia termotivasi dengan ucapan si Mbok Erna.
“Ah, baiklah mari kit hadapi semuanya, tidak tau bagiamana hasilnya kalau tidak di hadapi,” ucap Rara bicara semangat.
Dibalas anggukan senang, dari si Mbok.
Setelah bangun lebih pagi dari biasanya, Rara ingin berubah sikap malasnya, ingin berubah sedikit demi sedikit untuk Bastian terutama untuk sang putra. Saat Bastian masih tidur karena lelah olah raga membara dengan Rara malam itu, ia masih tidur.
Rara tidak ingin mengganggu sang suami, ia memutuskan olah raga sendiri setelah selesai olah raga.
“Ini, Non minum dulu , si Mbok memberinya satu gelas minuman gandum hangat”
“Itu bagus untuk serapan pagi, Bastian suka meminumnya, ia suka mencampurnya dengan potongan buah-buah dan Roti,” ujar si mbok.
Rara bisa menebak, wanita itu hanya ingin memberitahukannya kebiasaan sehat Bastian,, ia seolah-olah mengajarinya dengan cara halus, cara menyajikan serapan pagi di rumah Bastian.
Padahal lidah Ara katro, makanan seperti itu mana nendang diperutnya. Minum gandum seperti itu malah membuat lambung ennak. Ia duduk di meja makan setelah selesai olah raga. Didepannya ada telur dimasak setengah matang, potongan buah, sayur mentah berbahan organik, roti tawar, melihatnya saja sudah membuatnya kenyang, tidak ingin memakannya,
Ia biasa minum kopi pagi-pagi, kalau tidak teh manis, kebiasaan serapan Rara itu … nasi uduk,lontong, gorengan, itulah serapan Rara pagi. Apalagi saat itu emak Rara jualan .
__ADS_1
Tapi saat ini … ia harus mengikuti gaya hidup suaminya yang punya gaya hidup perfeksionis seperti kebiasaan di keluarga Bastian.
“Ayo Non Ara, di minum di makan rotinya ,Kini di depannya juga sudah di suguhkan roti selai, satu butir telur dadar setengah matang, potong-potongan buah.
Melihatnya sayur mentah saja ia sudah gak minat,
“Ah,aku tidak terbiasa mbok makan-makanan ini, aku merasa kenyang ,tidak merasa lapar , ia tidak ingin memakannya beginian, saya biasa minum teh manis dan gorengan kalau enggak, nasi uduk begitu Mbok, kata Rara menolak,
“Saya tau, Non, saya memberikan ini bukan maksud mengajari non. Tapi saya mau bilang seperti inilah nanti gaya serapan di keluarga Bastian.
Mbok hanya ingin memberitahukan mu di keluarga itu sangat disiplin dan peraturannya ketat.
Ia menjelaskan semua dengan rinci bagaimana kehidupan keluarga bastian
Lagi-lagi rara merasa energinya terkuras
Tujuan mereka saat itu meminta restu dari keluarga besar Bastian dan keluarga Rara.
Dengan berat hati ia mencoba makanan yang disediakan mbok , ia mencoba telur setengah matang yang di campur roti tawar dan potongan sayur-sayur organik
Iya ampun ini seperti makan rumputnya jadinya, orang biasanya makan sayur dengan nasi dan lauk, ini hanya makan sayur mentah, aduh gue gak terbiasa makanan keluarga Bastian, ini terlalu aneh buatku gumam rara dalam hati tapi tetap mencoba menghabiskannya.
Bastian masih tidur tidak biasanya ia terlambat dari jam jadwal bagun paginya, mungkin ia karena terlalu capek tadi malam, entah beberapa ronde mereka berdua melakukanya
Ia terlalu lelah.
Rara masuk kedalam kamar Bastian masih tidur dengan lelap, tidur tengkurap, ia tidak mengenakan baju hanya celana boxer yang biasa yang gunakan saat tidur, otot tangannya menyembul kokoh pundaknya naik turun dengan teratur. Rara berdiri menatap suami tampannya dengan segala beban pikiran yang di pikul .
Ia takut Babehnya tidak merestui mereka berdua. Karena Babehnya tidak menyukai menantu kaya, Babenya pernah bilang: “Karena sudah pasti tidak punya rasa hormat pada keluargaMu nanti” itu kata Babehnya
Ia masih ingat babehnya pernah bilang juga, ia ingin punya menantu dari kalangan biasa saja, hanya PNS seperti babenya ia sudah sangat bagus.
Karena sederhana akan menikah dengan orang sederhana baru pas ,akan saling menghormati dan saling menghargai tidak ada ketimpangan itu dulu yang di katakana babehnya untuknya.
Ia mendekat ingin membangunkan Bastian,
“Tian, bangun kita jadi pergi,kan?” Ara duduk di samping tubuhnya.
“Oh iya jam berapa ?” Bastian bangun dengan mata memerah masih berhasil terbuka setengah,
“iya, bangun” Rara ingin berdiri tapi tangan bastian menarik badannya hingga jatuh tertidur lagi di kasur di samping bastian.
__ADS_1
“Karena kamu, tadi malam badanku remuk” kata Bastian dengan senyum mempesona.
“Kamu selalu menuduhku” kata Rara kurang bersemangat,
Bastian lagi -lagi meminta Jatah , di pagi hari, berdua merasa kasmaran layaknya pasangan pengantin baru, ia dan bastian merasa tidak ada beban karena berpikir mereka berdua pasangan halal
“Kamu mau ngapain, dasar gatal”
“Aku mau yang sensasi di pagi hari ara, katanya sensasi di pagi hari itu yang paling enak” kata bastian belum melepaskan ara.
Kini tubuh rara sudah terkunci di antara dua otot tangannya kekar itu,
“Kita mau bertemu keluargaku, nanti kamu kelelahan, ara memperingatkan
“Justru tambah semangat Ra” kedua tangan mengunci tubuh istrinya.
“Tadi malam sudah sampai berapa ronde, belum cukup juga?” tanya rara
“Tida akan pernah merasa cukup Ra, aku akan meminta seperti makan obat," kata Bastian dengan senyuman nakal.
' Baiklah, istri ia wajib mau, selagi masih di batas normal itu juga satu ibadah'
“Kita akan olah raga dulu, sebelum mandi," Bastian minta jatah lagi pagi itu. Tubuh Rara membuat suami tampangnya ketagihan.
Olah raga membuang stress adalah hal yang tepat untuk untuk mereka berdua pagi itu, sebelum bertemu orang Tua Ara.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1