
“Lupakan masa lalu, kita sekarang mau kemana dulu, rumah keluargaku apa rumah keluargamu?” Tanya Rara mengalihkan bahasan dari masa lalunya
“Kita ke rumah keluargaku dulu, karena keluargaku yang susah untuk di urus, tapi sebelum kita pergi harus makan banyak dulu biar ada tenaga untuk menghadapi mereka semua, kita harus punya tenaga yang yang banyak untuk menghadapi mereka semua, terutama ibuku,”ujar Bastian.
Ia memberanikan diri membawa Rara ke rumah keluarganya. Walau ayah dan omah yang mendukung hubungan keduanya, tetapi ibu yang melahirkannya belum bisa menerima Rara sebagai menantu.
Bastian mengajak Rara serapan dahulu, sebelum mulai peperangan, ia sadar ibunya wanita yang keras, tidak akan mudah menerima Rara walau ia sudah mengaku kalau Rara sudah hamil sekalipun, belum tentu bisa masuk ke rumah itu.
Di meja makan si Mbok sudah menyiapkan menu serapan yang akan mereka santap, Nasi goreng teri kesukaan Bastian.
Setelah bertemu dengan Bastian Rara sering sekali menemukan nasi goreng teri, masakan berbahan dasar nasi itu sepertinya, menu wajib untuk Bastian, minimal satu kali dalam sebulan.
Potongan buah-buahan dan teh manis hangat sudah tersedia di atas meja. Kalau biasanya Rara yang sibuk melakukan itu, maka sat ini si Mbok yang menyiapkannya untuk Rara.
“Makasih iya Mbok,” ucap Rara sopan pada wanita yang saat ini bekerja untuk mereka.
“Ini Ra, biar tenaga kamu kuat.”
Bastian menarik sepiring nasi goreng porsi jumbo, porsi kuli bangunan.
Melihat Rara makan porsi kuli, Bastian hanya tersenyum.
“Apa kamu yakin, itu muat di lambung Rara, perut kamu Rata bagaimana mungkin bisa menampung sebanyak itu?"
“Kan, harus banyak makan”
“Iya, tapi gak gitu juga kali Ra?” Wajah Bastian ragu, kalau menu makan porsi jumbo itu akan habis.
“Ini Non.” Wanita paru bayah itu memberikan gelas, seperti bau jamu, gelas bening berisi minuman berwarna coklat kehitam-hitaman , menyodorkan ke depan Rara, setelah ia menghabiskan nasi goreng.
“Apa ini, Mbok?” Tanya Rara dengan wajah miring dan hidung diangkat
“Itu obat penyubur rahim, Non”
“What?”
“Itu bagus untuk menyuburkan rahim Non, untuk membuat-“
Ia melirik Bastian dan dengan suara sedikit berbisik kearah Rara.
“ Biar tambah keset juga”
Saat itulah Rara langsung batuk-batuk
“Kamu tidak apa-apa .... Bastian berdiri menepuk-nepuk pundaknya, memberikan segelas air putih.
“Tidak apa-apa”
“Maaf Non, apa si Mbok membuatmu jadi kaget,” ujar wanita itu merasa bersalah
“Maaf Mbok aku tidak suka jamu”
“Harus Non, itu perintah nyonya Besar”
__ADS_1
“Apa? Oma maksudnya? aku harus minum gitu?” matanya menatap tajam pada Bastian.
“Iya, itu bagus. Itu juga rencana kita kan, ayo minum saja”
“Kamu , saja yang minum, gue mah ogah dari dulu gak suka jamu,” ucap Rara.
Mendengar penolakan dan melihat wajah seperti itu, Bastian tidak ingin memaksanya. Sebelum ia murka dan susah menjinakkannya kembali, lebih baik Bastian mengalah.
“Gak apa-apa Mbok simpan saja, Rara belum biasa”
Asisten di rumah Bastian suruhan omanya. Ia ingin melihat keadaan Rara dan Bastian selama menikah, orang tua itu juga ingin Rara cepat hamil agar Alvin punya adik.
Rara jadi pendiam saat diminta minum jamu penguat rahim, pikirannya mulai sibuk memikirkan tentang bagaimana untuk urusan malam pertama.
Suasana jadi hening, hanya terdengar suara sendok dan piring yang terdengar saling bersahut-sahutan.
Wanita itu yang melihat kedua pengantin baru itu, hanya senyum menggeleng-geleng. Kalau biasanya Bastian lah yang bersikap semaunya dan keras kepala di rumahnya, kali ini , posisi itu tergeser oleh seorang wanita yang tak lain adalah istrinya.
Kalau biasanya kemauannya lah yang harus di turuti, tetapi kali ini, ia yang harus menuruti kemauan Rara.
'Cinta bisa bisa mengubah sifat orang lain, sepertinya benar ada adanya' ucap wanita paruh baya itu dalam hati, matanya masih menatap mereka berdua yang masih sibuk dengan sendok masing-masing.
“Teruskan makannya, aku mandi dulu,” Bastian bergegas masuk ke kamar mandi.
Rara hanya mengangguk kecil dan fokus pada piring di depannya, tiba-tiba selera makanya hilang,
“Mbok mana Obatnya yang tadi, biar aku minum saja tidak apa-apa"
Buru-buru wanita paruh baya itu memberikan gelas yang berisi obat herbal itu
“Maaf Mbok, tidak sopan, aku bersendawa keras begitu di depan orang tua”
“Gak apa-apa Non, yang penting tidak buang angin saja,” ujar wanita dengan tawa kecil
“Kata emak saya, justru gak boleh Mbok pamali katanya,” ucap Rara.
“Oh gitu yan Non,” wanita berbadan gemuk itu hanya mengangguk.
“Aku juga mau mandi saja Mbok, bilangin Tian aku mandi di kamar mandi di sini saja." Rara menunjuk bekas kamarnya.
Dalam kamar mandi, benar saja yang di takutkan Rara terjadi. Perutnya mules, muter karena aroma jahe yang kuat, itulah yang selalu ia takutkan, selalu sakit perut jika ada berbau jahe.
Hampir setengah jam di dalam kamar mandi, sampai lututnya kram kelamaan berjongkok.
“Ra, kamu mandi apa bertapa sih? Lama amat, buruan ini sudah siang!" Teriak Bastian.
“Tunggu , aku sakit perut,” sahut Rara dengan suara orang lagi ngeden.
Sepuluh menit berlalu lelaki tampan itu masih setia menunggu istrinya. Sepuluh menit terlewatkan lagi, total waktu yang di habiskan wanita itu dalam kamar mandi hampir setengah jam. Hilang sudah batas kesabaran menunggunya.
“Ra, masih sakit perut?”
Tidak ada sahutan, Bastian makin panik tangannya menggedor-gedor pintunya, belum ada sahutan juga, ia membuka paksa.
__ADS_1
Rara meringkuk menahan perutnya yang sakit
“Kamu tidak apa-apa Ra?” mengendong tubuh Rara ke tempat tidur.
“Wah harusnya Non tidak usah memaksa meminumnya tadi, kalau jadi sakit," wanita itu merasa bersalah.
“Memangnya di minum tadi Mbok, obatnya?”
“Ya, dia takut kamu marah, jadi dia meminum”
“Iya, aku diam karena dia tidak bilang alasannya kenapa tidak minum Mbok. Aku juga tidak akan memaksa kalau tahu dia sakit perut seperti ini”
“Sini biar Mbok urut saja”
Tangan wanita menekan perut Rara
“Aduh sakit." Ia terduduk menahan sakit saat si Mbok Erna, menekan perut di bawah pusarnya.
“Jangan bergerak Non, saya pintar mengurut, Tangannya menekan perut Rara lagi.
Kali ini Rara meringis kesakitan. Bastian yang melihat Rara kesakitan, sangat khawatir, meminta wanita itu berhenti mengurut.
“ Sudah Mbok dia kasihan kesakitan”
“Tunggu Pak Tian, Rahimnya terlalu turun harus di naikkan, agar dia nantinya bisa cepat hamil,” ujar wanita itu membetulkan posisi perutnya
Tapi matanya tiba-tiba melihat dada Rara
“Boleh aku periksa dadanya Non?”
Dengan refleks Rara memegang bagian dada. Mata Bastian meyengit melihat sikap sang pembantu.
“ Saya hanya melihat, Non. Oma yang memintaku”
“Tapi dadaku tidak napa-napa Mbok,”ujar Rara menolak.
“ Saya, hanya memastikan buah dadamu sehat apa gak, kamu tau kan perempuan rentan penyakit kangker payu dara, saya hanya di perintahkan nyonya besar”
Rara hanya melihat Bastian ketika wanita itu menekan dadanya
Bastian juga tidak tau kalau Omahnya sampai mengurus sampai sedetail itu.
“Maaf aku tidak tahu kalau oma melakukan itu,” ucap Bastian saat Rara menatapnya tanda protes.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)