Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bekerjalah untukku


__ADS_3

Saat ini, Rara dan Kenzo,  sedang duduk di salah satu cafe di  lantai bawah apartemen.


Wajah Rara terlihat kurang bersahabat, sesekali ia menghela napas panjang,  melihat hal itu Kenzo paham, wanita yang pernah diceritakan Viona itu memang unik.


“Katakan apa yang ingin lu tanyakan?” Matanya menoleh Kenzo.


“Oh, iya hampir lupa, apa benar kamu yang melaporkan ibunya Bastian dan Viona ke polisi?”


“Iya”


“Apa alasannya?”


“Apa kamu seorang wartawan?” Rara menatapnya  dengan tatapan sinis.


“Oh, oh bukan, hanya sangat penasaran, karena selama ini keluarga itu tidak pernah ada kabar miring sedikitpun, keluarga Bastian,  selalu terlihat sempurna.  Karena omku pengacara keluarga Bastian, aku tahunya dari om”


“Oh”


Rara tidak ingin menceritakan,  justru ia merasa kasihan pada Bastian, ia tidak mau orang lain memojokkannya karena kasus ibunya.


“Apa yang mereka lakukan padamu?”


“Tidak ada”


“Lalu kenap-”


“Lo, bukan pengacara ataupun wartawan , kan, jadilah berhentilah”


Kenzo langsung diam, wajahnya memerah menahan malu, atas sikap penolakan Rara.


“Ok baiklah, kalau kamu tidak mau memberitahukannya, kamu mau kemana, biar aku antar. Oh iya bisa gak jangan pakai bahasa lu gue, lu gue, soalnya dengarnya gak enak jika ... itu-"


“ Jika itu keluar dari mulut pembantu? Baiklah .... Aku ingin mencari pekerjaan baru, rasanya  tidak pantas bekerja di sana lagi,  dalam situasi ini”


“Iya, kamu benar, kalau kamu ingin cari tempat tinggal baru, kamu boleh tinggal  dan bekerja padaku.”


Kenzo menawarkan tempat tinggal dan pekerjaan untuk Rara.


Tetapi Rara sadar, tidak ada  yang benar-benar gratis di dunia ini ' kecuali buang angin, ia merasa kalau Kenzo ingin memanfaatkannya dengan masalah yang di alami keluarga Bastian.


“Tidak usah,  nanti, akan cari pekerjaan sementara, sampai masalah ini benar-benar selesai”


“Sangat kebetulan, aku juga sedang mencari asisten, asistenku sedang pulang kampung,” ucap Kenzo berbohong

__ADS_1


Rara paham, bagaimana dunia hiburan bekerja, memanfaatkan di manfaatkan,  sudah jadi hal biasa,  pansos sudah tidak asing lagi  terdengar di telinganya.


Saat  seseorang terkena masalah dan mendapat musibah, para artis yang tidak laku akan pansos. Hal itulah yang dipikirkan Rara, ia yakin Kenzo memanfaatkannya,  tidak ada teman yang benar benar tulus. Mengaku teman,  tetapi dimanfaatkan itulah dunia hiburan.


‘Baiklah, loe ingin memanfaatkan gue bocah, ayo lakukan, gue ingin lihat sampai dimana loe bisa ... kebetulan gue juga tidak punya tempat tinggal, saat loe ingin memanfaatkan gue , loe juga yang akan  gue manfaatkan’ ucap Rara dalam hati.


“Ok,  baiklah, aku mau kerja ama kamu, tetapi Bastian memberi gaji tinggi sama gue,  apa bisa seperti dia?”


“Ok, berapa?”


“Dia membayar gue sepuluh juta sebulan”


“Apaaa …? gaji ART sepuluh juta sebulan?”


‘Kaget, kan, lu. Jika lo terima gue kerja itu artinya lu punya tujuan buruk’ Rara membatin.


“Iya, Pak Bastian orangnya tidak pernah pelit, bahkan dia membayar gaji gue di muka”


“Ok, aku setuju, gaji dibayar di muka,” ujar  Kenzo.


Rara tertawa dalam hati, ia kasihan pada Bastian, karena punya sahabat penghianat seperti Kenzo.


“Ok, ayo sekarang mulai bekerja, ini nomor rekening gue, masukkan sekarang karena gue mau beli pakaian yang layak untuk bekerja jadi asisten lu"


Kenzo tidak tahu,  terkadang  air yang tenang itulah yang berbahaya.


“Ok, baiklah” Rara mengeluarkan satu lembar kertas dari tasnya.


“Untuk apa itu?”


“Gue tidak mau, ada salah paham dalam hal bekerja, di sini  harus ada tanda tangan  dan gue tanda tangan di sini, ini surat kontrak kerja, gue tidak mau nanti ada masalah, karena gue dan Bastian begitu,” ujar Rara.


Kenzo  dengan bodohnya  menandatangani kertas kosong itu,  ia juga mau saja,  saat Rara memintanya di foto memegang kertas perjanjian itu dan bukti transfer uang sepuluh juta.


Kenzo tidak tahu,  jika satu kertas kosong ia tanda tangani, itu sama halnya ia menggali masalah untuknya dirinya sendiri, ia tidak tahu.  Rara  bakalan mengisi tulisan apa kelak dalam kertas kosong itu. Ia terlalu sepele pada Rara,  ia berpikir wanita dewasa itu,  hanya seorang IRT. Ia tidak tahu kalau Rara seorang lulusan Sarjana IT terbaik di masanya. Lelaki berpostur tinggi itu, hanya melihat seseorang dari cover nya saja.


“Ok, semuanya sudahkan, tapi jangan pakai ‘gue, loe’ donk dan jangan panggil aku dengan panggilan ‘He’ lagi. Panggil saja .


Bagaimana  saat kamu, memanggil Bastian,” ujarnya, ia ingin seperti Bastian, sebenarnya tujuannya hanya ingin lebih hebat dari Bastian,


Kenzo menyeruput  minuman dingin dalam gelasnya.


“Ok, baiklah. Ayo Bocah!”

__ADS_1


      Buuur ….!


Saat itu juga mulut Kenzo,  menyembur minuman yang ia seruput, ia terkejut saat Rara memanggilnya dengan sebutan Bocah.


“Kok panggil seperti itu!”


“Lah lu,  bilang panggilan sama kayak Bastian.  Iya gue,  panggilnya seperti itu, sama Bastian”


Kali ini,  Kenzo tersentak minuman sendiri, lalu terbatuk-batuk.


“Kamu …  panggil majikan kamu dengan panggilan ‘Bocah’ begitu?”


“Iya”


“Haaa …!?”


‘Dasar pembantu edan, kurang asam, kurang didik, semprul …!’ Kenzo memaki-maki Rara,  dalam hatinya, ia sungguh tidak terima,  kalau Rara sampai memanggilnya dengan panggilan ‘Bocah’


“Tidak ... tidak, panggil saja aku sebutan Mas, atau abang. Jangan panggil aku ‘Hei’ lagi apa lagi dipanggil ‘Bocah’ mau di taruh di mana wajah ini,” ujarnya dengan kepala mulai pening,  karena menghadapi Rara.


“Satu lagi,  jangan pakai bahasa ‘gue loe’  lagi, kamu mengerti’ kan?”


“Baiklah,  bisa diatur semua sesuai permintaan,” ujar Rara, masih dengan sikapnya yang cuek, ia memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas dan ia berdiri.


“Kamu mau kemana?” Kenzo ikut berdiri.


“Katanya mau bekerja, ayo!”


“Sekarang?” Kenzo menyeka keringat di dahinya. ‘Mati aku’ ucapnya dalam hati. Bagaimana tidak,  asistennya padahal ikut mengantarnya ke apartemen,   ia menyuruh menunggu di mobil, asistennya seorang laki-laki bencong yang sangat cerewet.


“Iyalah, masa tahun depan,” ucap Rara menenteng tas ranselnya.


“Maksudku, kamu tidak pamit dulu sama Bastian dan mengemasi barang-barang, kamu?”


“Tidak perlu,  barang-barang ku sudah ada di dalam tas, untuk izin sama Bastian nanti  di kabari lewat ponsel”


“Oh, Ok … ok, tapi tunggu dulu di sini, aku mau telepon supirku untuk menjemput,” ujar Kenzo, Ia keluar, ia meminta Rara menunggu di dalam. Kenzo sampai meminta asistennya,  pulang kampung demi meluluskan rencananya.


Rara hanya  tersenyum mendengus,  saat Kenzo sampai marah-marah meminta asistennya untuk pulang kampung, tetapi tidak mau.


“Nah, makan itu kebohongan , makanya jangan suka memanfaatkan kemalangan orang lain, demi kesenangan lu” ujar Rara, matanya menatap Kenzo yang tampak pakai urat saat menelepon,


                   Bersambung

__ADS_1


__ADS_2