
Lamaran yang di tolak Rara membuat Bastian merasa sedih, tetapi bukan berarti ia menyerah, dugaannya benar, Rara seorang wanita yang berbeda, ia bukanlah wanita biasa yang tergila-gila dengan harta dan ketampanan.
Jika itu wanita yang lain, sudah pasti berlari dan menjatuhkan dirinya pada Bastian. Jika sudah dilamar, seperti halnya dengan Olivia yang rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan Bastian.
Tetapi tidak begitu untuk Rara. buatnya orang-orang kaya, orang yang harus ia jauhi karena memiliki lidah yang tajam karena sering merendahkan dan menghina.
Seperti yang dilakukan ibu Bastian padanya, karena ibu Bastian bersikap buruk padanya, makanya Rara ingin menjauh dari Bastian dan tidak ada niat untuk menjalin hubungan.
Ia sudah mengatakan hal itu pada Bastian saat ia menolak lamaran lelaki itu.
Apa yang dikatakan Rara dan bagaimana cara Rara menolaknya Bastian dapat menerimanya, karena itulah ia tidak sakit hati, saat Rara tidak mau menerima cincin pemberiannya.
Bastian menyebutnya bukan di tolak Namun menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya kembali pada Rara
Sikap Rara yang tidak murahan dan selalu bersikap apa adanya, membuat aktor tampan itu jatuh cinta, ia bahkan tidak perduli dengan perbedaan umur, dan tidak perduli bahkan Rara sudah memiliki seorang putra, justru Putra Rara juga yang membuat Bastian kagum, ia yakin kalau wanita pilihannya wanita yang tepat untuk mendampinginya.
Kini tugasnya, untuk meyakinkan ibunya kalau Rara orang tepat untuknya.
Lagian siapa wanita yang menolak lelaki seperti dirinya, kaya, tampan dan mapan dalam karier. Namun, itu tidaklah berarti untuk seorang Rara Winarti, justru orang-orang kaya seperti Bastian dan keluarganya menurutnya orang yang menakutkan.
Saat kejadian malam itu, Rara dan Bastian masih bersikap biasa saja di depan Alvian. Saat pagi tiba mereka serapan bersama-sama dan Bastian masih menghabiskan waktu bermain dengan anak lelaki berwajah tampan dan pemilik mata sejernih mata air.
Kebetulan Villa yang di sewa Bastian saat ini di pinggir pantai. Jadi, Alvian memuaskan dirinya bermain pasir, karena siang nanti rencananya mereka bertiga akan kembali ke Jakarta.
“Om, apa ibuku cantik?" tanya Alvian saat Bastian diam-diam mencuri-curi pandang pada Rara, yang duduk di kursi di dekat pantai, Saat Bastian melirik-lirik Rara, ia tidak sadar kalau ada sepasang mata indah menatapnya dengan polos dengan wajah bertanya-tanya.
“A-a -a kenapa memang?” tanya Bastian tiba-tiba gugup.
“Soalnya dari tadi Om itu melihat ibuku, terus sejak tadi," ujarnya polos, kulit wajahnya mulai memerah diterpa panas mentari pagi.
“Oh, itu Om-”
__ADS_1
“Om mau aku kasih tahu gak rahasia Ibu?’
Mata Bastian seketika menatap dengan serius. “Apa itu?”
“Nanti di jamin ia akan suka sama Om”
“Boleh, boleh …!” Bastian bersemangat karena mendapat dukungan dari putra Rara.
Alvin membisikkan sesuatu ke kuping Bastian dan di sahut anggukan tanda mengerti dari Bastin.
“Ini orang berdua lagi ngapain bisik-bisik juga sih?" tanya Rara dengan bibir di dower kan.
“Untuk cara yang paling utama mendapatkan hati Ibuku, nanti aku kasih tahu iya Om,” ujar Alvin ia mulai mengangkat air dengan ember dan menuangkannya dalam kolam yang mereka buat.
Mereka berdua sangat kompak dan serasi, tampak sekilas seperti bapak dan anak dan Bastian terlihat seperti bapak muda yang sangat tampan.
“Ayo kalian berdua mandi ...! kita serapan, nanti jam satu siang kita akan kembali ke Jakarta”
Tidak pakai lama-lama, Alvian langsung menurut, tidak ada kata nanti, tunggu, sebentar lagi, apa dikatakan Rara selalu di turuti.
Hal itulah yang membuat Kenzo dan Bastian sama-sama menyukai Alvin, ia membereskan mainan nya
Setelah mandi, ia kembali duduk di teras Villa ikut bergabung dengan Rara dan Bastian , terlihat Bastian jadi canggung. Tiba-tiba Alvin berkata.
“Om.mau aku kasih tahu gak cara yang paling ampuh?”
Bastian mengangguk kecil.
“Iya”
“Ayo kita ke mesjid untuk sholat, seketika wajah Bastian memerah, ia merasa malu saat anak kecil itu mengingatkannya untuk melakukan kewajibannya.
__ADS_1
“Kata guru ngajiku, sholat salah satu jawaban yang paling benar”
“Oh, baiklah,” ujar Bastian tidak menolak.
Rara mengambil ponsel nya dan mengabadikan nya dalam kamera ponsel nya, saat kedua lelaki tampan itu berangkat ke mesjid dengan memakai sarung dan peci. Ia tersenyum kecil melihat putranya.
“Ibu sangat bangga padamu sayang,” ujar Rara menatap punggung kedua lelaki yang berjalan meninggalkannya menuju mesjid di dekat villa.
*
“Ra, tidak usah seperti itu juga,” ujar Bastian, saat Rara meminta naik bus dan meminta Bastian naik pesawat, saat ingin kembali ke Jakarta.
“Tapi aku tidak ingin ada orang lain yang melihat kita Bastian, nanti akan dilaporkan ke Ibumu," ujarnya terdengar seperti sebuah alasan yang dibuat-buat.
“Rara, aku mengambil tiket pesawat dengan waktu yang sama, pesawat yang sama, bahkan deretan kursi yang sama," ujar Bastian dengan nada tegas.
“Tapi bagaimana kalau ada yang melihat, Bastian!”
“Tidak akan ada yang melihat, pakai ini,” Bastian memberikan kaca mata hitam, ia juga membeli topi rajut untuk ia pakai.
“Baiklah, nanti kalian berdua, jangan ada yang bicara padaku, cukup kamu dan Alvin yang saling bicara jangan menyapaku,” ujar Rara marah.
“Baik,’ ucap Bastian mengedigkan pundaknya, mengedipkan mata pada Alvin.
Bastian menenteng tasnya jinjing miliknya, memakai kaca mata hitam dan memakaikan kaca mata hitam dan masker juga untuk Alvin lalu ia berjalan bergandengan tangan dengan Alvin, sedangkan Rara berjalan di belakang mengawasi sekitar seperti seorang mata-mata swasta.
Bersambung ...
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa untuk beri hadiah juga.
Terima kasih sudah baca karya saya ya, tolong beri komentar dan masukan di setiap bab nya, biar semakin cepat naik level,semoga kaka suka dan terhibur membaca karya saya dan kita sehat sehat selalu,Salam sehat.
__ADS_1