Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Persyaratan untuk Bebas


__ADS_3

“Kalau kamu bantu aku keluar dari sini, aku akan beri kamu imbalan nanti, kamu taukan aku siapa?” Kata Bastian sedikit sombong.


Perawat tidak mau, karena dalam ruangan itu ada kamera pengawas kalau ia membantu, ia akan mendapat masalah besar.


Bastian harus bekerja keras melumpuhkan perawat lelaki itu dan menukar pakaiannya dengan pakaian pasien.


Akhirnya Bastian bisa melarikan diri dari tempat rehabilitasi.


Bastian melarikan diri dari pusat rehab, tujuan utamanya ke tempat di mana Rara di rawat, dengan langkah ter buru-buru memasuki salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta selatan.


Bastian belum mengganti seragam pakainya keperawatan itu, baju itupun terlihat kekecilan di tubuhnya, memperlihatkan otot tangan yang sedikit menyembul di balik baju berwarna putih itu. Tapi Bastian tidak memperdulikan lagi baju yang ia kenakan ia hanya ingin menemui istrinya.


Ia berdiri di depan meja kasir menanyakan kamar yang di tempati Rara.


“Maaf pak, anda siapa? Kami tidak sembarangan memberi informasi tentang pasien sesuai permintaan keluarga.” Kata seorang perawat dengan tatapan melihatnya penuh penyelidikan,


Itu bisa di maklumi karena pakaian perawat yang ia pakai terlihat aneh di tubuhnya,


“Saya suaminya,” kata Bastian dengan yakin.


Tapi perawat itu melihat dengan tatapan tidak percaya, karena Rara sendiri hampir berminggu minggu di rawat di sana tidak pernah melihat sosok suaminya. Ia melihat penuh kecurigaan.


Baiklah, terserah mau berpikir apapun padaku katanya.


“Kalau Bapak suaminya, tanyakan langsung pada Dokter yang bertanggung jawab,” kata perawat.


“Siapa Dokternya, bolehkah saya bertemu?.”


“Boleh, Dokter Irma yang bertanggung jawab, kebetulan hari ini Dokter Irma lagi cuti,” kata Perawat itu dengan ramah.


Bastian tiba-tiba diam mendengar nama Dokter Irma, ibunya Ken. Ia malu kalau harus menemuinya.


Karena hubungannya dengan Ken belakangan ini tidak baik dan ibunya juga tau hal itu.


Hanya satu yang bisa membantunya Dokter Haris dokter keluarganya. Untung ia juga tadi mengambil ponsel milik perawat.


Aku harus berterimakasih perawat karena sudah meminjamkan ponselnya ucapnya pelan.


Padahal kuntilanak juga tau, kalau ponselnya tidak dipinjamkan sama perawatnya, melainkan di ambil paksa olehnya.

__ADS_1


Ia mengusap layar ponselnya menekan nomor Dokter Haris meminta bantuannya untuk mencari keberadaan rumah sakit Istrinya.


“Tolong Bro, saya tidak bisa masuk,” kata Bastian.


Ia terdiam akhirnya ia tau kalau Rara sudah tidak ada lagi di rumah sakit. Mengetahui Rara pindah rumah sakit keluar negeri, sebagai seorang suami ia merasa tidak berguna sebagai seorang suami. Mau marah pun ia tidak akan ada gunanya, ia harus marah pada siapa. Babe sama Mak pasti sedih dan terkejut gumamnya dalam hati.


Ia duduk terkulai lemas di kursi dekat taman rumah sakit, tidak tau harus berbuat apa. Padahal ia kabur dari pusat pengobatannya demi menemui Rara tapi tidak bisa menemui istrinya.


“Aku sangat merindukanmu, Ra,” katanya memegangi dadanya.


Di sisi lain Viona sudah bangun, tapi belum mau bicara dan tubuhnya juga belum bisa di gerakkan, ia hanya duduk di kursi roda dengan tatapan mata kosong.


Hartati datang menjenguknya sebagai rasa peduli, agar keluarga Viona meminta keluarga itu jangan memperkarakan Bastian, berharap Bastian bisa keluar dari penjara.


“Kami bersedia membebaskan Bastian dari penjara, dengan jaminan saya sendiri,” kata bapak Viona.


Bu Hartati terlihat bergembira mendengarnya hal itu.


Tapi seperti kata orang tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali buang angin . kalimat itu harusnya di dengar Hartati, sebelum ia merasa senang.


“Terimakasih, saya sangat senang,” kata Hartati dengan penuh harap.


“Apa itu?” tanya Hartati dengan wajah menatap lelaki dengan wajah menegang akhirnya.


“Bastian harus menikah dengan Viona, ia harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukan,” katanya .


Hartati hanya bisa diam tidak berani menjawab, ia tau Bastian tidak akan mau melakukan itu karena ia tau, kalau Bastian sangat mencintai istrinya.


“Tapi ia sudah menikah.”


“Ceraikan istrinya,” pintanya seenak jidatnya.


“Aku akan bicara padanya dulu,” kata Ibu Bastian.


Sebuah pilihan yang berat. Bastian akan keluar dari penjara dengan pilihan ia akan menikah dengan wanita itu.


Bastian masih merasa tidak berdaya otaknya tidak bisa diajak berpikir. Ingin menemui Rara, ia ingin menyusul pun tidak ada alamat yang ia dapatkan.


Ia pasrah pada keadaan, mau di jemput polisi atau di jemput pihak rumah sakit jiwa ia akan terima. Dari pusat rehab Ibunya tau ia dimana.

__ADS_1


Ia datang ke apartemen Bastian menemukan lelaki itu duduk di Balkon apartemennya duduk sendirian.


“Tian, apa yan kamu lakukan di sini? harusnya kamu bertemu dengan Dokter,” kata Ibunya mendekati Bastian.


“Apa ibu pikir saya gila? justru kalianlah yang membautku gila.”


“Bastian kenapa kamu bicara seperti itu?” Ibunya mendekat.


“Ibu berhenti bersikap sok baik di depanku , ibu sama Oma sama jahatnya, kalian itu wanita berhati Iblis,” kata Bastian emosi membuat Hartati kaget mendengar,” kata-kata kasar itu dari anaknya.


“Tian jangan bicara sepert-“


“Apa ibu mau melenyapkan ku juga sekarang? lakukan lah..! Ibu dan omah hanya ingi harta, bahkan nyawa orang gampang kalian hilangkan! aku benci pada kalian semua, mulai hari ini jangan anggap aku anak ibu” Kata Bastian dengan emosi.


“Bastian kenapa kamu bicara seperti itu sama ibu?


“Bukankah ibu juga ingin menyuruh orang ingin mencelakai Rara juga?”


“Ah..itu a-a-“


“Cukup bu, aku malu lahir dari keluarga ini,” kata Bastian, “Aku harusnya pergi jauh waktu ia mengajakku pergi meninggalkan kalian semua.


Harusnya ku memilih Rara saat itu, mungkin aku masih bisa melihat anakku dan istri saat ini. Tapi saat ini mereka meninggalkanku, aku frustasi, hatiku sangat sakit,” katanya, bahunya terguncang-guncang “ apa ibu tau aku sangat bahagia saat Rara hamil bu? aku selalu merasakan gerakkannya tiap pagi, ia menendang –nendang kecil setiap kali aku memanggilnya,” kata Bastian. m


Mengusap butiran air yang mengucur dari ujung matanya. “Kalian menghilangkan nyawa anakku ,” kata Bastian dengan suara yang bergetar.


“Bastian bukan ibu yang melakukanya, kenapa kamu menyalahkan ibu? ia juga cucuku, ibu juga sedih,” kata Hartati dengan suara lemah, merasa bersalah di depan anaknya.


“Ibu sama saja dengan omah, sama-sama haus harta dan haus kekuasaan sampai-sampai tidak memperdulikan nyawa orang lain,” kata Bastian.


“Mulai hari ini, aku ingin membuang nama Salim dari namaku dan aku tidak mau lagi bagian dari keluarga ini,” katanya, penuh kemarahan.


“Bastian jangan bicara seperti itu, mana anak yang bicara seperti pada orang tuanya.”


“Iya benar, mana orang tua yang tidak memikirkan kebahagian anaknya sendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, bahkan ingin menghilangkan nyawa cucu sendiri,” katanya.


Hartati semakin merasa bersalah, ia menangis mendengar kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut Bastian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2