
“Aku datang ingin menggagalkan pernikahan kamu dan Bastian.”
Mulut Rara tergagap dan sukma juga,
“Terus, loe mau gitu?” tanya sukma terlihat semakin gelisah
“Gue sekarang duda mempunyai anak satu orang , terus apa salahnya.”
“Gile, loe masih saja mulut loe gampang ngomong, seperti yang dulu,” kata Rara terlihat semakin marah.
“ Gue gak peduli kamu di suruh ibu mertuaku menghancurkan pernikahan kami, tapi gue mau bilang gue bahagia sekarang, Bastian lelaki yang baik.” Kata rara dengan nada marah.
“ Jangan coba-coba loe deketin gue lagi.gue buat babak belur,” kata Rara dengan nada mengancam.
“Aku hanya ingin bertemu dengan anak kamu boleh, sugar?”
“Jangan panggil aku sugar, itu panggilan yang aku benci,” Kata Rara dengan tatapan mata tidak suka.
“Aku terbiasa dengan nama itu.” Kata Ridho
“Gue, terbiasa tidak melihat loe, bisa gak, jangan muncul lagi?”
“Sepertinya kamu masih sangat membenciku.” Kata lelaki tampan itu dengan tatapan memelas.
Ting
Bunyi nada notip ponsel Rara.
Pesan chating dari suaminya
Bastian: Dimana?
Rara : Di cafe depan kantor
Bastian : Sama Siapa?
Rara : Ridho, sukma.
Bastian : Tunggu aku datang ,Iya.
Rara : tidak usah , kita udahan, gue mau langsung pulang sama Sukma iya, kepalaku pusing .
Dengan menatap lama ke layar ponselnya, Bastian mengusap dagunya, terlihat ada kegelisahan di wajahnya, ada rasa takut dan rasa cemburu, tapi ia mencoba bersikap dewasa dan mencoba percaya pada istrinya.
Bastian : Baiklah hati-hati sayang,
Rara : Iya,
Hadeh..apa ia marah juga padaku, kata Bastin dalam hatinya.
__ADS_1
Ia merasa tidak bersemangat untuk bekerja, ia ingin menemui ibunya,
Sebelum Rara dan Sukma pulang, ia sudah cabut duluan kearah rumahnya. Ia kembali mengabaikan tanggung jawabnya sebagai direktur di perusaan Ayahnya,
Rara merasa terguncang, dugaan Ayah dari anaknya adalah Ridho muncul begitu saja, setelah Ridho mengetahui banyak tentang Calvin. Ia bertanya apa ia terlibat dalam aksi penguntit yang terjadi pada Bastian belakangan ini,
Ia tidak ingin kelurganya mengetahui kedatangan Ridho, Ia tidak ingin babenya mengingat rasa sakit yang pernah terjadi.
Ia di perjalanan pulang dengan Sukma, ia tidak perduli lagi dengan pekerjaan dan segala sangsi yang akan menjeratnya, ia hanya butuh tidur untuk menenangkan pikirannya.
“Apa kamu mau pulang kerumah loe, apa ke apartemen?” Tanya Sukma melirik kearah Rara
“Gue, mau kerumah babeh aja, gue malas pulang ke apartemen,” kata Rara, masih memijit keningnya yang masih terasa berdenyut.
Tapi mobil Sukma bukannya lurus kearah rumah orang tua Rara malah berbelok ke apartemen .
“Justru di saat seperti ini loe itu harus saling menguatkan dengan Bastian. Kalau loe menghindar, Bastian berpikir kalau loe masih ada perasaan tuh ama si Ridho, tapi kalau kamu pulang ia tidak akan berpikir macam-macam.” Kata Sukma. Memberi saran.
“Tapi , gue masih shock sepertinya belum siap bertemu dengan Bastian, apa mereka sudah saling tau?.” Rara berpikir bastian sudah mengetahuinya.
“Tidak mungkin Ra, gue yakin Bastian juga belum tau kalau loe mantan tunangan Pamannya.” Kata sukma membela Bastian, “ Kalau loe, curiga seperti ini, keinginan Ibu mertua loe tercapai buat misahin kalian berdua.”
“Hadapin Ra, hadapin, loe kenape jadi lemah begini sih ah !” Kata sukma menghentikan mobilnya di depan apartemen Bastian. “ udah, loe turun sana, tidur banyak berdoa biar beban pikiran loe berkurang kata sukma.
Disisi lain Bastian ingin menemui ibunya di rumah, tapi seperti biasanya Ibunya Bastian selalu banyak acara, jarang di rumah.
Dalam ruang rapat dewan yang seharusnya di ikuti Bastian kini ia tinggalkan, Pak Bardi harus membuat alasan lagi. Integritasnya sebagai pemimpin baru di pertanyakan dan nama besar Ayahnya di pertaruhkan.
Usaha Ibunya mengguncang hidup Bastian dan Rara merembet ke kariernya.
Baik Rara ia mencurigai suaminya sudah tau sejak dulu, karena setiap kali ia membahas mantan tunangannya, Bastian selalu mengalihkan pembicaraan.
Rara merebahkan tubuhnya di kasur. Tiba-tiba ia merasa lelah dan pikirannya terasa penuh dengan berbagai pertanyaan dan duga-dugaan.
Ia meletakkan tasnya sembarang dan ia memilih tidur.
Panggilan masuk dari Bastian, ia abaikan karena tasnya ia lempar di sofa ruang tamu dan ia tidur di kamarnya.
Rara tidak pernah seperti itu, biasanya yang namanya ponsel biasanya tidak pernah jauh dari depan matanya,
Bastian yang menghubunginya di buat panik olehnya,
Ia menghubungi Sukma, ia bilang Rara sudah di antar ke apartemennya tapi saat di hubungi tapi tidak ada jawaban. Ia berpikir yang tidak-tidak, mobilnya yang awalnya balik ke kantor kini putar arah kearah apartemennya.
Ia memarkirkan di halaman apartemen. Dengan buru-buru ia menekan tombol liftnya
~Ting~
Ruangan berbentuk tabung itu membawanya naik kelantai atas apartemennya.
__ADS_1
Dengan dada naik turun ia buru memasukkan password dan berlari kedalam ruangan apartemennya.
“Ra..ra,” ia mencari dengan panik ke dapur balkon
Terakhir dengan panik ia melihat rara tidur tengkurap dengan posisi tangan menggantung di sisi tempat tidur.
Bastian berpikir kalau Rara melakukan hal yang aneh, ia memeluk tubuh dengan panik.
“Ra, apa yang sudah kamu lakukan” Bastian hampir saja menangis memeluk tubuh Rara.
Ia bangun tidak kalah bingung melihat Bastian memeluk tubuhnya dengan panik.
“Ada apa sih?” Tanya Rara dengan mata memerah
Khas orang orang yang bangun tidur.
“Kamu tidak apa-apa , sayang?” Tanya Bastian dengan wajah masih tampak panik.
“Tidak.” Jawab Rara masih bingung.
“Ah..kenapa sih, buat orang panik,” kata Bastian kesal, ia berdiri menggaruk kepalanya dengan asal.
“Apa yang terjadi?” tanya Rara belum tahu karena ia tidak mengangkat teleponnya Bastian hampir saja menyenggol motor karena berusaha terus menghubunginya.
“Kamu, kenapa tidak mengangkat teleponnya?” Bastian marah membentak rara
“Oh, ponselku, aku taro dimana Iya? ia mencari di sekelilingnya, dengan mata masih setengah sadar Rara mencarinya dan menemukannya di sofa di ruang tamu.
Dua puluh panggilan masuk dari Bastian , lima dari Sukma, tiga dari Ayah mertuanya.
Waduh apa yang sudah terjadi gumam Rara mengigit kuku jarinya, kebiasaannya kalau ia merasa bersalah dan panik.
“Saya pikir terjadi sesuatu ,Ra, aku hampir saja tadi nabrak motor karena buru-buru,” kata Bastian dengan duduk terkulai lemas.
Ia merasa puasanya hari ini sangat berat dan hari ini sangat menguras tenaganya.
“Maaf. Tadi aku pusing bangat kepalanya, jadi tas aku letakkan di sini dan aku tidur di kamar.” Kata Rara dengan hati-hati.
Ia melirik jam empat sore waktu berbuka untuk bastian masih ada dua jam lebih, melihat suaminya duduk lemas seperti itu Rara merasa tidak enak dan merasa bersalah.
Ia mengusap-usap punggung Bastian dengan perasaan bersalah.
“Maaf iya sayang, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, hanya kepalaku terasa pusing bangat tadi,” kata Rara menjelaskan. “ Kamu istirahat saja disini, biar aku buatkan menu berbuka untuk kita iya,” Kata Rara dengan lembut.
Tapi Bastian menarik tangannya terduduk di pangkuannya, ia memeluk Rara dengan lembut.
“Aku minta maaf ,Bun, aku hanya khawatir dan takut kamu terjadi apa-apa.” Kata Bastian mengecup kening istrinya dan mengusap pipinya satu kecupan mendarat lagi di bibirnya.Rara tidak bisa menolak setiap ia bergerak ingin berdiri. Bastian memeluk tubuhnya dengan erat.
Bersambung ..
__ADS_1