Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Dengan usaha keras


__ADS_3

Mario langsung mengganti plat nomornya mobilnya dan meninggalkan rumah itu dengan cepat sebelum mereka di ikuti.


“Apa lo tidak merasa jantungan Ra? Tanya Mario ia juga ikut menyeka keringat di dahinya,  padahal ia hanya duduk mengawasi dari mobil.


“Jantungan,  itu sudah pasti, Mario,  tapi ini seperti sebuah permainan yang mendebarkan, seperti kita menunggu nomor kita di undi,”  kata Rara terbahak-bahak-bahak.


“Gue sungguh takut Ra, aku takut untuk loe,  takut tadi loe akan di sekap seperti yang ingin di lakukan lelaki  tadi,” kata Mario


“Tidak apa-apa , Rio,  kalau loe bersama  gue sih , gue tidak takut,” kata rara melihat situasi dari kaca spion takutnya mereka di ikuti.


Mereka terpaksa berputar-putar untuk memastikan mereka tidak ada yang mengikuti, setelah menunggu hampir setengah 30 menit baru Mario membawa Rara kemudian.


“Kita kemana?” Tanya Mario, menoleh Rara sebentar.


“Tunggu sebentar gue mau telepon Mey-mey dulu,” Ara mengeluarkan ponselnya dari tasnya menelepon Sukma.


“Halo,” Jawab Sukma dari ujung telepon.


“Bagaimana?”


“Kita, bertemu di Rumah sakit, gigiku sakit,” kata Sukma


Tapi  mendengar itu, ia merasa Sukma gagal menjalankan misi, ia berpikir kalau Ridho orang yang sangat pintar jangan-jangan ia yang memanfaatkan Sukma.


“Kenapa muke loe  begitu?"tanya Mario ikut panik bercampur penasaran


“Gue merasa ada yang tidak beres, gue gak pernah bilang kalau kami ingin bertemu di Rumah sakit, bahaya ini, putar balik, kita kerumah sakit kita akan pindahin Ayah mertua gue dari sana.”  kata Ara.


Dengan langkah seribu bayangan, Ara berlari menuju Kamar rawat mertuanya. Dengan nafas terengah-engah ia masuk.  Mertuanya lagi di pegang  dua perawat.  Ia mencurigai kalau kedua perawat itu suruhan seseorang,  karena ia tau jadwal periksa mertuanya belum  waktunya. Ia menutup pintu dan menguncinya,  dan menyuruh Mario ikut masuk.


Ia menangkap kedua perawat itu. Rara memang otaknya jenius, hampir saja Ayah mertuanya mau di suntik obat tidur, kalau saja ia terlambat menyadari kejanggalan yang terjadi.

__ADS_1


Rara memiting satu tangan perawat dengan kasar, dan Mario melakukan hal yang sama pada perawat yang lainnya,


“Siapa yang menyuruhmu?” Tanya Rara terlihat seperti polisi wanita, belum mau menjawab. 


“Baiklah saya akan menghubungi polisi,”  kata Rara, mengeluarkan ponselnya.


Baik Mario dan Ayahnya hanya bisa diam dan bingung belum menyadari apa yang sudah terjadi.


“Ada apa Ra?,”  tanya Pak Bardi duduk, menatap dengan kebingungan bahkan ia belum menyadari apa yang sudah terjadi, bahkan kejadian yang sudah di lalui Rara,  ia juga belum menyadarinya, aksi mereka sudah mengundang macan turun gunung.


“Ada apa Ra? apa mereka juga berbahaya?”  Mario belum  tau, mereka bukan perawat yang memeriksa ayah, mereka suruhan seseorang,”  Kata Rara dengan yakin


Mendengar dirinya dalam bahaya, Bardi terpaksa memaksakan tubuhnya yang lemah berdiri.


Rara tidak ingin berlama-lama dalam ruangan itu sebelum yang menyuruh kedua perawat itu datang.


Ia terpaksa menyuntik keduanya dengan obat tidur yang ingin mereka suntikan pada Pak Bardi.


Kaki mereka berdua gempor rasanya, jadi untuk mendapatkan hal yang besar memang butuh perjuangan yang besar pula.


Bahkan kadang untuk mendapatkan kekuasan terkadang terjadi pertumpahan darah. Walau Rara tidak ingin yang seperti itu, tapi ia sudah mempersiapkan mental sebelum melakukan pertarungan dengan Ibu mertuanya.


Tapi lelaki berbadan tegap itu, tidak menduga bahwa ia akan terlibat jauh seperti ini


Dengan napas terengah-engah Mario membawa Bardi salim ke dalam mobil dan membawanya menjauh dari Rumah sakit.


“Gila loe Ra,  apa loe pernah kerja di bagian Intel apa?” tanya Mario masih memegang kemudi mobilnya dan membawa mereka menjauh meninggalkan rumah sakit. 


  “Dari mana loe tau,  kalau pak Bardi dalam masalah, saat kamu menelepon sukma?  terus dari mana kamu tau kalau perawat itu bukan piket yang menjaga pak Bardi?” Tanya Mario masih dalam kebingungan dan keringat membasahi baju perawat yang ia pakai.


Ia terlihat lucu  dengan seragam itu, karena bajunya kekecilan di badannya yang tinggi besar. Ara masih sempat ingin ketawa, seandainya tidak ada mertuanya dalam mobil itu,  ia mungkin sudah tertawa ngakak melihat penampilan temanya Mario.

__ADS_1


“Pertama, Sukma memberi kode kalau kami ingin bertemu di rumah sakit, kalau ia sakit gigi, itu menandakan ada bahaya di rumah sakit, ia bisa jadi terjebak di depan Ridho. Kedua: perawat di rumah sakit itu mana ada perawat dua orang menjalankan piket bersama-sama yang ada  Dokter dengan perawat,” Kata rara  dengan yakin.


Mario dan mertuanya hanya mengangguk. setuju bahkan mereka juga tidak memahami semua yang terjadi hanya rara yang pertama jeli dan punya otak cerdas yang mampu mengetahuinya.


Untungnya, ia mengambil ponsel kedua perawat yang tadi. Ia mengeceknya  dan seperti dugaannya, si Nyonya yang memerintahkan kedua perawat itu.


“Ini Ayah,”  kata Ara memberikan ponselnya


“Dari mana ia tau saya di rumah sakit?” padahal saya tidak memberitahukan siapa-siapa.”  Kata pak Bardi terlihat masih lemah duduk di jok belakang.


“Bahkan tembok sekalipun sepertinya punya kuping Yah, jika ibu yang menyuruhnya,” kata Rara, ia mengakui kekuatan Ibu mertuanya,  ia  bukan lawan yang mudah. Ia orang yang punya pengaruh yang kuat melampaui suaminya.


Tapi sekuat-kuatnya manusia masih ada yang lebih kuat, tidak ada mampu yang mengalahkannya.  Sang pencipta, Ara hanya memohon padanya,  lewat doanya.  Karena ia sudah berjalan sejauh ini, ia berharap mampu menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.


“Kita mau kemana sekarang?”  tanya Mario setelah setengah perjalanan.


“Ayah, kami sudah mendapatkan semuanya, tinggal satu langkah lagi, kita harus mengamankan Ayah dulu ketempat aman agar semuanya bisa berjalan sesuai rencana kita, Rara menjelaskan semuanya pada mertuanya, beliau hanya mengangguk lemah, dan mengangguk apapun yang dikatakan Rara, ia menyerahkan semuanya pada Rara.


“Terimakasih sudah menolongku-“


“Saya Mario pak,”  jawabnya dengan cepat.


“Terimakasih, pak Mario, saya berhutang budi padamu, jika semuanya ini sudah selesai kita akan bicara lagi,” katanya memberi harapan  dan semangat  pada Mario.


Tentu lelaki berbadan tegap itu merasa senang,  karena bos  besar seperti Bardi Salim membuat janji padanya.


“Baik pak,”  jawabnya dengan semangat


Rara menyembunyikan Ayah mertuanya sementara waktu, sebelum Ibu mertuanya melakukan hal-hal yang buruk lagi ia wanita yang kuat dan punya kekuasaan dan wewenang.


Tinggal menunggu Bastian datang untuk membuat rencana besar.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2