Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Akhirnya Bastian dapat di hubungi


__ADS_3

“Aku berharap ibu tepat menepati janji, karena janji adalah sebuah hutang, aku berharap Ibu menyuruh Bastian menemui ku besok ,” kata Rara.


“Baiklah, tunggulah besok,” katanya menyuruh Rara keluar.


Segala usaha ia lakukan untuk mendapatkan informasi tentang suaminya, usaha kerasnya membuahkan hasil, ibu mertuanya bersedia mempertemukannya dengan Bastian. Walau merasa tidak adil kerena di perlakukan seperti itu, tapi ia mencoba berpikir positif.


Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan suaminya besok . Karena Ibu mertuanya menjanjikan untuk besok. Maka ia harus bersabar


“Bagaimana?.” Tanya Sukma dengan wajah tidak sabar, ia memegang Rara, memberinya minum dan memberinya minum vitamin khusus wanita hamil, Ia takut Rara kecapean dan berpengaruh pada janinnya.


“Ia berjanji akan menyuruh Bastian besok menemuiku, intinya kerja kerasku berhasil ,” kata Rara


“Gila! maksudnya selama ini Pak Bastian sehat-sehat dan bersamanya, tapi tidak mau menemuimu , ia lebih memilih Ibunya dari pada bicara pada istrinya?” Kata Mario.


“ Ada apa dengannya sih, apa ia juga berpikir sama seperti yang di beritakan itu, kalau kamu hanya ingin hartanya saja, Bastian kok begitu sih pikirannya, ia mendengarkan kata Ibunya daripada istrinya, jelas-jelas Ibunya sudah tau salah, ia sudah di kotori otaknya oleh ibunya, ditambah lagi berita-berita bohong di media,” kata Sukma ia terlihat marah.


“Entahlah ,saya berpikir begitu juga, saya menduga Ibu mertuaku memperkeruh, karena wanita itu pintar bangat memutar balikkan fakta kata Rara. “ Karena Bastian juga lebih sayang pada ibunya dari pada Ayahnya,” kata Rara


“Haa, kenapa semua pria, jadi tidak punya pendirian seperti itu sih! harusnya ia tidak usah menikah saja tadinya, kerena untuk apa kalau toh juga tidak percaya pada istrinya, malah percaya pada ibunya,” kata Sukma emosi.


“Kalian pulang saja iya, biar saya dan mbak Sukma yang mengantar Ibu Rara.” Kata Mario pada Supir kantor dan sekretarisnya Rara.


Hingga mobil yang di kemudikan Mario menyusuri jalan Jakarta


“Kalau aku memberitahukan tentang kabar kehamilanku, aku yakin Bastian tidak salah paham lagi kan, Mey,” ia menatap Sukma dan Mario dengan tatapan mata sendu, mata yang ketakutan, ia takut Bastian salah paham padanya dan meninggalkannya. “Ia akan percaya lagi kan?.” Tanyanya kemudian.


“Harusnya sih begitu ,Ra, karena ia sangat mencintaimu,” kata Sukma memberinya semangat.


“Iya, lelaki akan luluh hatinya saat tau istrinya hamil,” Mario ikut menimpali juga. Ia Tidak ingin Rara merasa sedih, ia berusaha keras agar sahabat terbaiknya tidak terluka dan agar tetap bersemangat


“Besok, kami akan bertemu, tidak usah bilang ke ke keluargaku dulu, kerena takut Ibunya berbohong dan tidak menyuruh Bastian, kerena omongan nenek lampir itu susah di pegang, kadang ngomongnya sekarang A, besok sudah B.” kata Rara terlihat wajahnya menahan kemarahan pada Ibu mertuanya.


“Ini kamu minum, jangan sampai terlalu lelah yang ada nanti bayimu juga ikut lelah,” kata Sukma, memberinya minum air mineral


“Aku tidak sabar lagi menunggu besok” kata Rara Tapi matanya melotot karena pesan yang ia kirim pada Bastian menandakan contreng dua, ia tidak tau kapan tepatnya yang pasti Bastian sudah membacanya.


“Mey, ini lihat ia sudah membacanya,” kata Rara terlihat kegirangan dengan mata bulatnya semakin membesar


Mario dan Sukma ikut melihatnya

__ADS_1


“Benar, ia sudah membaca semua, tapi kenapa ia tidak membalas pesan kamu ,Ra, kalau ia tidak marah dan tidak salah paham harusnya, ia membalas semua pesan yang kamu kirim padanya, Ah, ada apa sih dengan lelaki itu kata Sukma dalam hatinya, tapi ia menjaga perasaan Rara makanya ia hanya diam


Dalam perjalanan pulang Keluarga Rara sudah meneleponnya. Babenya selalu memantaunya padahal belum terlalu malam.


“Ra, kamu masih lama pulangnya? Tanya Babenya di ujung telepon.


“Ini udah di jalan beh, tadi kami ada acara di luar kantor. Rara sama Rio sama sukma Beh,” kata Rara.


“Cepatlah, mak, nunggu kamu makan, biar kita makan sama-sama , bilang Rio dan Sukma makan di rumah juga. Mak masak banyak malam ini.” Katanya Babenya kemudian,


“Iya beh,” kata Rara melirik kedua sahabatnya.


“Ada apa?” tanya Sukma


“Babeh suruh kita makan di rumah, ingat iya jangan ada yang menyinggung yang terjadi hari ini, dan tidak menyinggung tentang Rencana Bastian datang, jika babeh tau aku bertemu Ibunya Bastian tadi bisa-bisa Babeh serangan jantung karena khawatir,” kata Rara memberi peringatan kedua sahabatnya.


Hingga di depan rumah Rara.


“Gila, rumah loe sekarang bagus iya, Ra,” kata


Mario, kembali bicara santai karena sudah lewat jam kantor, batas suci antara bawahan dan atasan sudah berakhir.


“Itu karena Bastian yang melakukannya,” kata Rara. Tapi kali ini wajahnya terlihat sangat lelah.


Ternyata pertemuan Rara dengan mertuanya di ketahui Babenya, karena kabar itu sudah menyebar di dunia maya.


“Ada apa beh?” tanya Rara melihat kekhawatiran babenya.


“Apa kamu tidak ingin menjelaskan pertemuan dengan wanita itu?.” Tanya Babenya dengan wajah terlihat khawatir.


Mario dan Sukma langsung seperti cacing kepanasan , tidak tau harus berkata apa lagi karena di satu sisi mereka sudah di peringatkan Rara dan sekarang ditanya babenya Rara juga.


“Ara tidak bisa diam diri beh, hanya menunggu makanya aku berusaha,” kata Rara wajahnya terlihat sangat sedih.


“Haaa,” Lelaki paruh baya itu menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak karena menahan rasa takut dan rasa khawatir.


“Apa dia tidak memukulmu lagi?,” tanya emaknya, wajah wanita ikut mendung juga.


“Tidak mak. Ada sukma dan Rio ikut kedalam, menemani Rara.”

__ADS_1


Mario terlihat menunduk takut melihat kemarahan babenya.


“Kita semua takut bangat tadi Ra, Rizki menunjukkan Facebooknya ada kamu disana temannya kirim,” katanya.


Emaknya “Babeh langsung sangat khawatir, tadinya babeh ingin datang kesana, takut kamu di apa-apain lagi sama Ibu mertuamu, kami yang melarangnya,” kata Emaknya Rara


“Tidak ada apa-apa beh, sebenarnya kebetulan perusahan kita di undang, makanya kita datang ternyata Ibu mertuaku di sana juga,” kata rara.


Ia tidak memberitahukan rencana pertemuannya dengan Bastian, karena ia takut Ibu mertuanya berbohong lagi dan keluarga bertambah sedih nantinya. Maka ia menahan diri untuk tidak memberitahukan rencana pertemuannya dengan Bastian


Setelah di jelaskan dan Rara juga tidak terjadi apa-apa, maka kedua orang tuanya, dan kedua adiknya akhirnya tenang


Rara sudah seperti anak yang istimewa saat ini, di perlakukan manja sama keluarganya


Setiap malam keluarganya akan gantian melihatnya kekamarnya, menyelimutinya mengantar air minum ke kamarnya, agar ia tidak capek untuk turun. Bahkan adik lelakinya yang jarang masuk kekamarnya sekarang berlalu- lalang, kekamarnya menanyakan banyak hal.


“Kakak mau apa, kakak ngidam apa, mangga jambu, rujak, ia selalu menanyakan apa yang di inginkan kakaknya


“Kakak jangan sedih iya , Rizky nanti akan menjaga kakak, ada kita, kakak jangan merasa sedih,” katanya suatu malam pada Rara


Malam itu Rara tidak bisa memejamkan matanya, karena ia tidak sabar lagi ingin menemui Bastian. Ia mengusap perutnya.


“Sabar sayang besok kita akan menemui Ayahmu, kita akan beritahu Ayahmu kalau kamu ada di dalam perut bunda sekarang kata Rara. Rasa khawatir rasa takut menyelimuti hatinya airmatanya melenggang bebas lagi dari pipinya, belakangan ini ia lebih gampang menangis dan mudah bersedih bawaannya ia ingin di manja, mungkin bawaan dari kehamilannya.


Satu malam terlewatkan tidak sedikitpun ia memejamkan matanya . Ia terus menatap ponselnya menunggu Bastian meneleponnya atau memberinya kabar, Jantung itu berdetak kencang setiap kali ada panggilan ke ponselnya sayang yang di tunggu tak kunjung meneleponnya.


Hingga ia berangkat kekantor belum juga ada kabar. Ia semakin gelisah sampai-sampai melewatkan makan siang karena menunggu kabar dari Bastian, Untung Sukma mengingatkannya untuk kesehatan bayinya. Dengan berat hati ia menyendok sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya


“Ia berbohong lagi, Mey, ia tidak menepati janjinya kata Rara.


Saat ia masuk lagi ke Ruangannya. Akhirnya memberinya kabar.


“Haaaloo Rara menahan suaranya, Bastian! Kamu kah itu?”


“Ra, iya ini aku jawab Bastian dari ujung telepon


Tapi Rara hanya diam mulutnya bagai terkunci, tapi seolah kerongkongannya seperti di penuhi pasir dan batu sehingga ia tidak bisa bicara.


“Aku..aku merindukanmu Tian, kamu dimana?.” Kata Rara dengan suara bergetar menahan tangisan.

__ADS_1


“Aku tidak jauh dari kantormu, datanglah ke sini mari kita berdua bicara , aku mengirim alamatnya ke ponselmu,” kata Bastian menutup ponselnya.


Bersambung


__ADS_2