Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Mengalami Babyblues


__ADS_3

“Katakan, aku juga berhak tau, ada apa denganmu? kenapa kamu bersedih sendirian? kenapa kamu mau menangis sendirian?.”


Ia juga perlu tau ada apa dengan istrinya, kesabarannya sangat diuji apakah wanita hamil di luar sana ada yang seperti Rara? tanya Bastian dalam hatinya.


Saat ia bertanya ada apa dengan istrinya. Rara tidak menjawabnya, hanya menatap Bastian dengan tapan mata yang susah di pahami.


“Aku takut kamu akan meninggalkanku, kamu akan pergi setelah kamu lihat aku jelek, dan bagaimana kalau aku tidak bisa jadi ibu yang baik nantinya? bagaimana kalau aku memukulinya,” ia banyak menghawatirkan banyak hal, mulai dari hal kecil sampai masalah besar mengenai bajunya tidak ada yang muat lagi dan ia takut mati.


Bastian mendengarkan dengan diam segala ocehan istrinya, ia jadi pendengar yang baik, mulai dari awal sampai akhir ia dengar.


“Aku akan selalu ada bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu, percaya deh, aku, kamu dan dia kita akan selalu bersama,” kata Bastian dengan lembut


Rata menatap ke dalam matanya, dengan sangat dalam, ia diantara percaya dan tidak percaya, tapi sebagai suami idaman Bastian tidak pernah berkata keras pada Rara walau kadang ia merasa jengkel dengan sikapnya yang kadang berubah-ubah itu.


Bastian penasaran dengan sikap Rara yang semakin hari semakin membingungkan, ia menelepon Dokter,


Dokter keluarganya, ia menceritakan semua detailnya. Ternyata Rara terkena sindrom atau babyblues, perasaan yang berlebihan dan ketakutan yang berlebihan pada suatu kondisi yang sering menyerang wanita yang hamil dan ibu habis melahirkan.


Dokter menyarankan orang yang bersangkutan butuh pengawasan khusus, kalau tidak ia bisa mengalami depresi dan itu biasa faktor orang-orang sekitar yang tidak menghiraukannya, atau banyak masalah keluarga, membuatnya hingga seperti itu, mungkin semua masalah ia tampung sendiri dan beban itu terlalu berat untuknya sehingga ia bertingkah seperti itu.


Mendengar penjelasan dari Dokter membuat lututnya terasa bergetar.


Bastian duduk lemas, hatinya terasa sakit mendengar penjelasan Dokter. Bagaimana mungkin orang yang selama ini bersamanya merasa kesepian dan menanggung beban pikiran sendiri padahal ada ia mengawasinya sampai 24 jam?


Tiba-tiba ia mengingat waktu mereka bertengkar di jalan, mungkin disitulah titik depresi Rara dimulai, ia ingin Ibunya yang menjemputnya. Tapi lagi-lagi tidak bisa membawa ibunya datang malah hanya membawa Ayahnya, masalah demi masalah yang di alaminya dan di simpan dalam hatinya di pikul sendirian membuat Rara mengalami sindrom baby blues.


Bastian terlihat bingung memikirkan hal itu, padahal ia berpikir sudah melakukan hal yang benar sebagai suami dan ia sudah melakukan semua yang ia mampu, bahkan sangat berusaha keras bagaimana agar Rara dan bayinya nyaman.


Kenapa bisa seperti ini? ini tidak masuk akal, semua sudah aku lakukan yang terbaik, kata Bastian dalam benaknya.


Kejadian yang menimpa Rara memang jarang, biasanya orang mengalami baby blues biasanya setelah melahirkan, Rara mengalaminya pada saat hamil.


Rara masih tidur pulas, Bastian hanya menatapnya disaat tidur, wajahnya terlihat tenang, tidak ada beban sedikitpun terlihat di wajahnya. Bastian melihat istrinya merasa sedih, ia merasa bersalah.


Kenapa kamu menanggung sendirian sih Ra? harusnya kalau kamu sedih kamu harus beritahu aku apa yang kamu alami, kata Bastian dalam hatinya masih menatap wajah wanita cantik yang lagi tertidur pulas itu.


Bastian tidak ingin Rara banyak pikiran lagi, ia ingin mengurangi beban pikiran itu, saat ini ia butuh semangat dorongan dan hiburan, terutama darinya .


Ia ingin penyakit sindrom baby blues yang ada pada Rara bisa hilang dan sembuh, Kasihan bayinya kalau ia seperti ini gumam Bastian.

__ADS_1


“Ra, bangun... ayo! aku akan membawamu berjalan-jalan,”kata Bastian.


“Kemana?,” tanya Rara, matanya masih berat untuk di ajak bangun.


“Kita akan berjalan-jalan, agar kamu tidak pusing di rumah” Bastian mengusap punggung tangannya dengan penuh cinta, ia ingin segala perhatiannya hanya untuk istrinya .


“ Apa kita akan pergi jauh, apa dekat ?”


“Kita pergi yang dekat-dekat saja, bagaimana kalau aku temenin kamu belanja? biasanya kamu paling suka belanja baju baru di Mall ,” kata Bastian


Rara hanya diam, sepertinya tidak niat, dalam otaknya kalau di suruh memilih ia hanya ingin membaringkan tubuh gendutnya di kasur , sepertinya lebih enak gumamnya dalam hati.


“Aku lagi tidak ingin kemana-mana,” kata Rara dengan malasnya.


“Tidak sayang, kita harus pergi mencari hiburan, karena otak cantikmu ini, butuh yang segar-segar,” ungkapnya dengan lembut, ia membantu Rara untuk bangun.


“Nanti, kalau aku capek bagaimana?” Rara menatapnya.


“Kalau kamu capek, aku akan menggendong ,” kata Bastian.


Tubuh Rara di angkat dari tempat tidur dan di bawa ke kamar mandi, ia disuruh untuk membasuh wajahnya, kalau hanya bicara lewat mulut saja sepertinya Rara akan membalasnya dengan alasan-alasan lain.


“Tidak usah sayang, nanti saja sore tadi kan sudah!.”


Jawab Bastian, tangannya sibuk membuka-buka lemari, mencari baju hangat buat istrinya.


“Nanti kalau aku bau, terus kamu tidak mau dekat-dekat aku, terus kamu tinggalkan aku, terus aku tidak bisa pulang sendiri bagaimana?.”


“Haaah” Bastian diam, kupingnya mendengar semua kekhawatiran Rara, ia menarik nafas panjang dan tangannya mengusap dadanya sendiri. Ia bahkan bingung mana duluan yang akan ia jawab.


“ Kamu tidak akan bau, sayang , aku juga tidak akan meninggalkanmu,” sahut Bastian tangannya sudah menemukan baju hangat untuk Rara gunakan.


“Baiklah, kamu berjanji iya, seumur hidup kamu tidak akan meninggalkanku,” Ia meneriakkan dari kamar mandi.


“Iya, baiklah,” kata Bastian, ia datang ke kamar mandi membimbing tangan Rara pelan-pelan ia takut Rara terpeleset.


Akhirnya jadi cuci mata di Mall. Bastian menggenggam tangan Rara dengan erat ia tidak ingin hal buruk terjadi pada istrinya, dirinya jadi suami yang bisa di andalkan .


Hingga tiba di salah satu Mall Elit di Jakarta selatan Mall, terbesar di Indonesia, hanya orang-orang berkantong tebal lah yang sering datang kesana, karena barang-barang yang di jual semuanya barang –barang bermerek dan berlebel mahal, yang harganya bikin dompet langsung kurus.

__ADS_1


Bastian berjalan santai menuntun tangan istrinya, membawanya ke pakaian-pakaian hamil.


“Itu ada pakaian bayi, apa kita perlu melihatnya?” Rara menunjuk gerai yang menjual pakaian-pakaian bayi.


“Boleh, Bun, nanti setelah ia tujuh bulan,” kata Bastian, panggilan Ayah Bunda sudah sering mereka berdua gunakan saat Rara hamil.


“Pamali lagi?” Ia bertanya dengan mata di picingkan sebelah.


“Iya, begitulah, kata orang tua dulu.”


“Kata orang tua, apa kata buku yang Ayah baca?.”


“Iya , dua-duanya ,Bun,” Bastian harus menjawabnya dengan lembut memberitahukannya dengan lembut juga, ia tidak ingin wanita bunting itu ngamuk.


Seperti yang dikatan Dokter padanya Pasien yang mengalami sindrom baby blues berbahaya kalau kemauannya di tentang dan mereka butuh teman untuk berbagi, mereka ingin kenyamanan dan butuh orang untuk ia percayai.


Sindrom Bay blues yang dialami Rara bisa jadi serangkaian dari deretan yang ia alami.


Rara mengalami trauma saat kecil, di mana dua teman sepermainannya di rudal paksa preman kampung yg sudah mabuk dan ia berhasil kabur dari berandalan itu.


Karena ia menjatuhkan tubuhnya dari rumah bedeng bertingkat itu. dan saat ia dewasa ia trauma karena tunangannya meninggalkannya dan membohonginya keluarnya , pada saat waktu pernikahannya sudah dekat.


Trauma ketiga saat ia sudah menikah dengan Bastian Rara tau kenyataan kalau ibu yang membesarkannya bukanlah ibu yang melahirkannya.


Dan keempat, saat ia mulai berumah tangga. Ibu mertuanya menolaknya, bahkan pernah menganiayanya. Ia mengatasinya sendiri semua orang memuji kepintarannya.


Tapi siapa sangka, masalah yang ia bungkus jauh di lubuk hatinya yang paling dalam hatinya, ternyata semua itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ia mengalami baby blues yang parah menuju depresi. Kekhawatiran , ketakutan pada banyak hal, masalah kecil ia anggap besar, ia berubah dari Rara yang dulu berubah 180 derajat.


Kalau minggu sebelumnya ia menyukai lelaki tampan, dan tidak tidak perduli pada Bastian, tapi kali ini dialah yang sangat posesif pada Bastian.


Saat Bastian berusaha keras membuat Rara sembuh.


Tiba-tiba di Mall itu mereka bertemu dengan Viona.


Wah kenapa wanita sial*n ini ada disini sih!? Kata Bastian dalam hatinya.


Mencari jalan lain untuk menghindar dari penyihir kedua, selain Ibunya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2