Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Merasa seperti ayah yang hebat


__ADS_3

Saat tiba dalam pesawat, harusnya dalam tiket, Bastian yang duduk di dekat jendela dan Alvin di tengah, tetapi bocah itu meminta pada Bastian kalau dirinya yang duduk di dekat jendela.


Jadi Bastian dan Rara duduk bersebelahan dan membisikkan sesuatu pada Bastian. Ada sesuatu yang ia ingin tunjukkan pada Bastian tentang ibunya. Sedangkan Bastian tampak tidak sabar ingin melihat kira-kira apa yang terjadi. Kenapa Rara menolak keras untuk naik pesawat bersamanya.


Benar saja, saat duduk di dalam pesawat Rara sudah kelihatan sangat tegang, beberapa kali ia menyeka keringat di dahinya. Alvin dan Bastian sama-sama tersenyum. Rahasia itulah yang dibocorkan Alvin pada Bastian, Rara takut naik pesawat.


Saat pesawat take of, Rara pucat bagai mayat hidup, Bastian yang sudah tahu, lalu memberikan lengannya untuk dipegang, tetapi bukan lengannya yang di pegang. Ia memeluk Bastian dengan erat, dengan tubuh menegang bagai terkena sengatan listrik. Bastian tidak ingin Rara mati ketakutan, ia membalas memeluk dan menepuk-nepuk pundak Rara, barulah tubuhnya, sedikit mengendur dan tenang.


‘Wanita tangguh ini, ternyata punya kelemahan juga. Aku pikir selama ini, ia tidak takut apa-apa, ternyata ia taku naik pesawat’ Bastian tersenyum, wajahnya sangat senang saat dapat kesempatan memeluk tubuh Rara seperti saat itu,


Bastian tertawa dalam hati, saat ibunya mati ketakutan. Namun, kebalikannya untuk putranya, Alvin malah kegirangan, menatap takjub gumpalan awan putih, ia bahkan meminjam ponsel Bastian dan mengambil beberapa gambar.


‘ Anak yang pintar, orang tua Rara pasti orang yang hebat, bisa mendidik anak seperti Alvin dengan sangat baik’ ucap Bastian dalam hati , matanya tidak pernah lepas melihat Alvin, matanya menatap kagum pada Alvin dan satu tangannya masih memeluk erat tubuh Rara yang masih ketakutan, padahal pesawat sudah terbang sekitar lima belas menit.


“Ra, bangun .... Tadi katanya, gak usah saling sapa, sekarang kamu malah menempel,” bisik Bastian ke kuping Rara.


“Diam Tian Aku benar-benar sangat pusing, aku takut mengangkat kepalaku, jika aku bergerak rasanya sangat pusing dan mual, biarkan dulu aku seperti ini,” ucap Rara dengan suara seperti orang mabuk.


“Ok baiklah, buka saja jaket yang kamu pakai, sudah basa karena keringat." Rara mengangguk dan membiarkan Bastian membuka jaket yang di pakai. Lalu Bastian merogoh kantung jaketnya dan mengolesi minyak angin ke badan Rara dan memijat kening nya.


Penghuni kursi di seberangnya sepasang suami istri yang sudah tua hanya tersenyum kecil melihat perhatian Bastian pada Rara. Berpikir wanita yang mabuk itu istrinya  dan Alvin putranya karena memiliki wajah yang sama-sama tampan.


“Ini berikan untuk istrimu, ini bagus untuk orang mabuk,” ujar wanita itu dengan ramah.

__ADS_1


Bastian mengulurkan tangannya dan mengoles ke kening dan leher Rara.


“Terimakasih Bu." Bastian mengembalikan minyak angin dengan merek terkenal itu.


“Tidak apa-apa Nak, kamu suami yang sangat baik, perhatian sama istri,” ucap wanita itu dengan senyum lebar sampai-sampai memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal.


“Putramu juga sangat tampan, kamu pintar bikin anak dan pilih istri,” ujarnya lagi dengan tawa yang lebih lebar.


Bastian hanya tertawa mendengarnya, Baru kali ini dirinya dipuji sebagai lelaki yang baik, ia merasa menjadi suami keren.


Rara benar-benar tepar tidak berdaya dalam pelukan Bastian, Alvin benar, Rara paling anti naik pesawat. Saat pesawat setengah perjalanan, ternyata Alvin sudah mulai layu ia mengantuk.


“Om, Alvin ngantuk,” ujarnya setelah matanya lelah main ponsel.


“Apa kamu lapar?’ tanya Bastian.


“Oh baiklah sini tidur di pangkuan Om,” ujar Bastian melonggarkan sabuk pengaman dan melepaskan sandaran tangan di kursi Alvin lalu membiarkan ibu dan anak itu menjadikan tubuhnya jadi sandaran untuk tidur.


Alvin tidur di pangkuan di bagian kiri dan Rara tidur di bagian kanannya, Bastian mengambil ponsel miliknya dan mengambil gambar mereka bertiga, saat ia melihat foto dari ponselnya.


Tiba-tiba Bastian merasa ada sesuatu yang sakit dalam hatinya, dalam foto itu ia merasa sangat nyaman memeluk tubuh Rara, seakan hari itu akan berakhir.


Bastian merasa seperti seorang suami yang sempurna, ia memperbesar gambar wajah Rara dalam ponselnya wanita itu punya cara tidur yang sama dengan Alvin mulutnya sedikit terbuka dan terdengar dengkuran halus.

__ADS_1


Wajah Bastian seketika sedih mengingat lamaran yang di tolak Rara tadi malam. Lalu ia dengan iseng merogoh saku jaketnya dan memakai cincin lamaran itu di tangan Rara, lalu memfotonya, ia tersenyum bahagia saat menyadari cincin yang ia pesan itu sangat pas di jari-jari Rara, cincin yang bertuliskan namanya dan nama Rara. Belum juga ia sempat melepaskannya Rara terbangun.


“Apa kita sudah sampai?"tanya Rara dengan kepala mendongak dan mata setengah terbuka, ia masih terlihat masih mabuk udara.


“Belum nanti aku bangunkan kalau kita sudah tiba, tidurlah lagi,” ujar Bastian memintanya tidur, agar ia bisa melepaskan cincin yang ia pakaikan tadi.


‘Bisa gawat nanti, kalau sampai ia tahu, aku memakaikan cincin ke jari-jarinya tanpa seizinnya’ ucap Bastian dalam hati, berharap Rara tidur terlelap seperti tadi lagi.


Rara menggeser tubuhnya dan menyadarkan tubuhnya di dada Bastian dan kepalanya tepat di leher Bastian. Tetapi tangannya ia lingkarkan di di bagian pinggang.


Lalu ia melanjutkan tidur.


‘Oh, Rara ... tanganmu kamu kemana?’ tanya Bastian, ia panik karena tangan Rara ada di belakang punggungnya. Tidak bisa ia lepaskan cincin itu dari jari-jari Rara.


"Oh gawat ini." Bastian gelisah.


"Apa yang gawat ... Apa ketinggalan barang?"tanya Rara.


"OH Tidak tidurlah lagi"


Bastian panik, karena Bastian belum sempat melepaskan cincin itu dari jari Rara.


Bersambung

__ADS_1


Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga agar viewer naik.


"


__ADS_2