
“Lakukan apapun untuk anakku! aku akan bayar berapapun,” kata teriak Hartati di ruangan Dokter.
“Bu, kami sudah melakukan semua seperti kemampuan kami, tapi juga manusia biasa yang menentukannya hanya yang Kuasa.” Kata salah satu Dokter.
“Kami sudah melakukan apa yang sudah kami bisa,Bu, kami tidak perduli seberapa hartamu dan seberapa duit ibu, kami hanya ingin kesembuhan Pasien,” Jawab seorang Dokter senior, membuatnya bungkam
Bardi salim hanya duduk menatap Bastian, ia tidak tau niat baiknya untuk Rara berdampak buruk untuk putranya.
Flashback
Sebelum Rara terbang ke Italia, Rara menemui Bardi salim, ingin menyerahkan kembali jabatan direktur pada Ayah mertuanya, karena ia dan Bastian sudah memutuskan menjalani kehidupan masing-masing. Karena permintaan Ibu mertuanya mereka harus berpisah dan Rara mengikuti keinginan ibu Wanita itu, demi kebaikan bersama-sama.
Ia merelakan perasaannya.
“Aku ingin mengembalikan jabatan Direktur untuk Ayah lagi,” kata Rara saat itu.
Bardi salim terlihat sangat tenang, banyak persoalan hidup membuat lelaki itu dapat banyak pelajaran , salah satunya belajar bersikap tenang walau takut jangan tunjukkan pada musuhmu kalau kita takut itulah ia pelajari juga dari Rara menantunya.
“Nak, Rara mau kemana?”
“Saya ingin liburan bersama keluarga dulu ,Ayah, banyak masalah membuatku tidak bisa berpikir,” kata Rara, tidak memberitahukan pada Ayah mertuanya kalau ia mengandung anak Bastian, mungkin jika Rara bercerita ia hamil mungkin ia juga tidak akan memberikan usulan untuk pada Rara.
“Baiklah, pergilah berapa lama waktu yang kamu butuhkan dan kembalilah nanti, jika sudah tenang, kalau bisa pergilah keluar Negeri ,Ra aku tidak ingin berpihak pada siapapun.
Bastian dan Ibunya masih keluargaku dan Omah Bastian juga ibuku, aku belum bisa mendamaikan semuanya,” kata Bardi saat itu.Rara bingung mendengar ucapan ayah mertuanya.
Ternyata seperti dugaan Rara, ada Ratu besar yang mengendalikan semuanya Marisa Queen
Keluarga Bastian terlihat sangat rumit dan banyak rahasia yang di sembunyikan.
“Yah, Calvin akan tetap jadi anakku, sampai kapanpun dan ia tidak aku berikan pada siapapun, aku tidak perduli hubungan Ayah dan Yolanda seperti apa di masa lalu, tapi Calvin tidak akan aku berikan untuk siapapun,” kata Rara dengan tegas.
Wajah Bardi terlihat biasa saja, tidak ada kemarahan tidak ada raut wajah terkejut, mendengar ucapan Rara.
__ADS_1
“Karena itulah,Ra, pergilah dari Jakarta untuk beberapa lama,” katanya, Pak Bardi Salimlah yang membuat ide Rara harus meninggalkan Jakarta hari itu juga.
“Memang ada apa,Yah?.”
“Omahnya Bastian, ingin mengambil hak asuh Calvin, ia sudah mengajukan ke kantor pengadilan,” Katanya, mendengar itu Rara terkejut.
“Maka itu, Ra, tinggalkan Indonesia sementara waktu, hingga pengajuan itu selesai tapi tolong jangan bercerai dari Bastian, jika kamu berpisah itu artinya kamu memberi celah untuk mengambil anakmu.” Kata pak Bardi ia memilih memihak Rara dari pada Ibunya.
Wajah Rara terlihat bingung, karena apa yang ia pikirkan tentang semuanya salah.
“Apa maksud, Ayah? Bukankah ayah menginginkan Calvin juga?.” Tanya Rara, matanya menatap Ayah dengan bingung.
“Ra, masa lalu biarlah masa lalu, yang penting masa depan, aku tidak ingin rumah tangga anakku hancur karena aku. Ibu tidak akan merebut Calvin dari kamu.
Tapi, jika kamu tetap bersama Bastian,
Urus surat-surat yang lengkap buat Calvin jadi anak sah, kamu dan Bastian dari hasil pernikahan kalian, dengan begitu, ia tidak akan menyentuh Calvin karena orang tuanya lengkap, jangan takut, aku akan di belakangmu,” kata Bardi salim
“Masalahnya Bastian dan ibu tidak menerima Calvin,yah,” kata Rara.
Rara terlihat sangat bingung, antara percaya dan tidak
“Apa ayah tidak ingin Calvin?” mata Rara menatap Ayah mertuanya.
“Ra, saya sudah bilang masa lalu biarlah masa lalu, hanya Ibu yang menginginkan hal seperti itu, itu semua idenya .Ra, dialah yang berkuasa, Ibu sayalah Ratu yang sebenarnya , lakukan seperti yang aku bilang, jangan berpisah dari Bastian jika kamu hanya bertengkar tidak apa-apa nanti ia juga akan sadar, pergilah liburan.Tapi tolong jangan berpisah dengan Bastian nak Ara , ia sangat tulus sama kamu, maafkan kami orang tua Bastian dan maafkan juga ibunya dan omahnya Bastian, karena mencampuri rumah tangga kalian, kasihan Bastian,
aku diam selama ini agar tidak ada pertumpahan darah, makanya aku mengikuti apa kata Ibu, bukannya aku tidak peduli pada masalah Bastian aku hanya ingin semuanya redah dulu.” Kata Pak Bardi saat itu.
Itulah alasan Rara kenapa ia harus meninggalkan Jakarta hari itu. Karena Ratu besar Marisa Queen ingin mengambil Calvin, ia sudah mengajukan surat ke pengadilan.
Untuk orang kaya seperti Marisa merebut Calvin dari keluarga Rara mungkin hal mudah baginya.
Ia bisa membeli Jaksa dan Hakim untuk memenangkannya. Bardi salim tidak ingin keluarganya bercerai- berai lagi. Makanya beliau memberitahukan pada Rara untuk membawa Calvin meninggalkan Jakarta, sampai surat itu kedaluarsa. Bardi juga mengajari Rara bagaimana menyangkal tuntutan Omahnya. Bastian dengan cara Calvin harus mempunyai orang tua yang lengkap ayah dan ibu.
__ADS_1
Karena dalam catatan adopsi Calvin masih tercacat di suratnya. Rara sudah menikah tapi bercerai. Itulah yang ingin di manfaatkan Marisa
Tapi jika Rara memasukkan Calvin ke dalam kartu keluarganya (KK) dan Bastian ayahnya tidak ada celah buat Marisa mengambil hak asuh Calvin,
Marisa mendengar kabar kalau Bastian memutuskan untuk berpisah, saat itu juga Marisa mengambil kesempatan mengajukan gugatan itu, untung Bardi memberitahukan semua niat busuk Ibunya pada Rara.
Hingga Rara bisa mengambil tindakan cepat, ia menyuruh Sukma dan Mario mengurus semuanya dan ia terbang ke Italia dan Bardi salim menggantikan menantunya sementara di perusahaanya.
Flas-on
Bardi salim masih menatap Bastian dengan pikiran di rundung kebingungan, ia tidak tau harus berbuat apa, karena idenyalah menyuruh Rara untuk pergi, tapi menyebabkan anak satu-satunya berbaring koma karena kepergian Rara.
Saat Hartati memarahi Dokter karena tidak bisa membangunkan Bastian. Bardi menunduk lemas di samping ranjang anaknya, bahunya terguncang hebat, dadanya sakit melihat Bastian tidak kunjung sadarkan diri.
Hartati masuk melihat lelaki itu menangis , ia tiba-tiba merasa sedih, akhirnya ia menyadari satu hal inilah keluarga sesungguhnya, saat ia merasa sedih suaminya juga ikut bersedih.
“Tian, maafkan Ayah nak, karena aku selama ini egois,” kata pak Bardi
“Bangunlah nak, apa artinya hidup ayah di masa tua ini, kalau tanpa anak, aku tidak tau, kalau istrimu mengandung anakmu, sungguh, aku tidak tau, jika aku tau, aku akan melarangnya pergi, Ayah juga senang mendengarnya kalau Ayah akan punya cucu” kata bardi menumpahkan semuanya dalam tangisan.
Hartati bagai patung, ia tidak tau kalau suaminya sesedih itu melihat Bastian, ia berpikir kalau Bardi salim tidak perduli selama ini padanya dan anaknya . Itu juga yang membuatnya seperti orang gila, kerena suaminya tidak perduli padanya.
Tapi saat ini ia melihat lelaki yang berbeda.Ia mendekati pundak Bardi Salim dan mengusap-usap pundaknya.
“Aku ingin, Bastian sembuh,Bu , aku ingin anakku sembuh, ya Allah, bahkan aku rela menggantikannya berbaring di sana,” kata Bardi Salim membuat Hartati ikut menangis.
Ia baru merasakan bagaimana rasanya sakit, sepertinya kejadian yang menimpa Bastian membuat pelajaran buat Hartati. Ia merasakan ketakutan dan merasa bersalah yang amat dalam.
Akhirnya ia menyesali sikapnya yang mengusir Rara dari kehidupan anaknya.
Tapi selalu ada hikmah di balik masalah, Bardi salim yang selalu melihatnya seperti setan, sekarang saat Bastian sakit, ia memperlakukan Istrinya dengan sangat baik, bahkan di berikan kasih sayang dan perhatian layaknya suami yang baik. Mereka berdua sama-sama menangis dan saling menguatkan satu sama lain.
Saat masalah besar itu datang. Bardi tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya terpuruk, karena Bastian sudah hampir satu minggu tak kunjung bangun bahkan kata Dokter jika ia tidak bangun beberapa hari lagi, ia akan mengalami lumpuh.
__ADS_1
Bersambung....