Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aku bukan bocah


__ADS_3

“Haaa?” Bastian melongo lagi.


“Kamu bilang seumuran mamaku, ternyata kamu ... kok kamu bohong terus sih?” ujar Bastian menatap Rara.


“Aduh kamu kenapa protes terus sih dari tadi?” Ia menatap balik pada sang majikan.


“Lah, kamu yang bilang kamu tante-tente, kan." Bastian sewot.


"Hai boc-“


“Berhenti memanggilku bocah atau aku menyeret mu ke kamar mandi,” potong Bastian kesal.


“Baiklah tidak jadi,” ujar Rara, tadinya ia keseleo lidah, menyebut Bastian dengan sebutan bocah lagi, tetapi saat melihat sangat marah ia berhenti.


“Kalian berdua bisa berhenti bertengkar kalian berdua membuat kepalaku sakit,” ujar Nyonya Marisa memijit keningnya yang terasa pening, karena Rara selalu bertengkar dengan Bastian. “Dari tadi kalian dua seperti Tom dan Jerry aku lihat,” ujar Marisa menghela napas panjang.


“Ini nih, ngaku-ngaku janda, ngaku sudah tua,” ujar Bastian masih terlihat sangat kesal.


“Lah memang kapan aku mengaku janda, aku bilang, kan, seorang ibu, kamu saja yang menyimpulkan sendiri menyebutku janda dengan sebutan Janus segala," ujar Rara.


“Itu karena kamu selalu menyebutku bocah”


“Tetap saja, aku, kan, lebih tua, kamu harus panggil aku tante, atau mbak, kalau tidak bunda juga, biar sopan, jangan panggil aku Ra, Ra lagi,” pinta Rara mengedip-edipkan kedua alisnya ke atas ke bawah.


Rara, tidak nyadar kalau ada Nyoya Besar yang menonton kelakuan mereka berdua.


“Ehhh, dasar.” Bastian makin jengkel.” Aku panggil kamu nenek lampir, puas!” Bastian melipat kedua tangannya di dada, mengalihkan wajahnya yang semakin memerah karena menahan rasa kesal pada Rara.


“Ok, aku panggil kamu bocah lagi,” ujar Rara tidak mau kalah.


“Aduh lama-lama bisa terkena serangan jantung saya nih ... melihat kalian berdua,” ujar Ny Marisa menghela napas panjang ia berdiri.


“Hai, Rara Winarti aku sudah bilang ….” Bastian berdiri ingin menyeret tangan Rara.


Rara kabur dan berlari menghampiri Marisa yang berdiri di depan balkon. Ny. Marisa memilih meninggalkan antara bos dan asisten rumah tangganya masih berdebat itu.

__ADS_1


Tiba-tiba wajah neneknya mencari sesuatu, hidungnya terangkat mencari bau wangi dari Balkon. Matanya menatap takjub dengan bibir menyebut


“Wow"


“Ada apa Omah?” Bastian ikut berlari kearah omanya, Rara menghindar dari Bastian setelah memancingnya marah, ia berdiri berjarak dari nenek dan cucunya.


“Aku merasakan bau sesuatu yang khas seperti di rumah kita.”


“Oh itu dari balkon ini, kembang tanaman Rara ditanam di balkon ini“


Wanita yang sudah tampak sudah menua itu, menyusuri taman mini milik Rara dan Bastian.


Matanya sangat takjub dengan penataan tanaman berwarna cantik yang tergantung mempesona, Rara menata dengan sangat bagus.


“Oh, iya ampun tanaman indah sekali” Wajah Oma Marisa terlihat ceria ketika memandang tanaman kembang milik Rara yang saat itu bermekaran dan mengeluarkan bau harum,bagai berada dalam hamparan yang yang dipenuhi tanaman bunga.


“O, iya ampun … Rara punya anggrek hitam dari Papua?”


Matanya menatap takjub ketika melihat koleksi taman-tanaman langkah milik Rara, ia mengangumi nya, desain taman mini dan penataan yang sangat cantik, kembang-kembang langkah yang mahal juga ada.


“Iya, Bastian memberikannya padaku,” Jawab Rara jujur.


“Ohh jadi yang memberikan Bastian?” Ia tahu, kalau itu sebenarnya untuknya, matanya menatap Bastian dengan tatapan mata melotot dan penuh penyelidikan.


“Aku juga mempunyai bunga Tahu”


Rara menunjukkan bunga yang memiliki tangkai mirip bakul, yang di yakini tanaman mahal dan langka yang berasal dari hutan di Sumatra dan Kalimantan.


“Oh, iya saya juga sudah lama mencari ini,” kata Oma Marisa, tiba-tiba saja kedua wanita pengemar tanaman hias itu, mendadak sangat akrap dengan. Karena memiliki hobi yang sama .


Bastian juga baru tahu Rara mempunyai banyak pengetahuan tentang jenis kembang dan pernah bekerja di dapertemen di bidang penelitian dan pembudi dayaan tanaman langkah.


Ia menjelaskan semua cara merawat tanaman langka bahkan oma sampai mengeluarkan catatan kecil dari tas jinjingnya, dan mencatat semua apa yang di katakana Rara tentang perawatan tanamannya.


“Apa kamu mau kapan-kapan main ke rumah kami sama Bastian?” tanya Oma Marisa, ia menatap Rara penuh harap, wanita serasa punya teman baru, sama-sama penyuka tanaman hias, apa lagi Rara memilki ilmu tentang tanaman hias.

__ADS_1


Ny Marisa kegirangan sedangkan, cucunya yang kebingungan melihat kedekatan neneknya dengan Rara.


'Bukannya Omah tadi membencinya dan menginterogasinya, kenapa sekarang mendadak akrap? begitu lah kalau ada maunya ia bisa tiba-tiba berubah pikiran' Bastian membatin


Rara pernah bekerja di Kementerian di bidang Lingkungan hidup dan pembudi dayaan tanaman hias. Ia menjelaskan semua cara merawat tanaman langka.


Oma Marisa, sesekali menganggukkan kepalanya.


“Oma, bagaimana, tadi katanya tidak suka sekarang malah akrap suruh ke rumah segala, ah wanita memang susah dimengerti,” ujar Bastian bersandar di dinding balkon, menatap kedua wanita yang sedang sibuk membahas tentang tanaman. Tiba-tiba saja Rara jadi seperti guru untuk Oma Bastian.


“Hai Bocah, dari pada berisik ambil oma minum, geh.”


Rara tertawa terbahak-bahak saat oma Bastian ikut-ikut memanggil cucunya dengan sebutan yang paling di benci Bastian. Wajah Bastian sangat jengkel saat Ny.Marisa memanggilnya dengan sebutan ‘bocah’ lagi.


“Jangan tertawa! Kamu ambil minum sana,” pinta Bastian pada Rara dengan sangat kesal.


“Ehhh yang disuruh, kan, situu,” ujar Rara dengan gaya suara mendayu-dayu aksen meledek, dengan jari tangan di buat gemulai.


Makin panas hati Bastian jadinya, ia berjalan ke dapur memegang sisi meja makan dengan pundak mengeras karena tangannya mencengkram pinggir meja makan dengan kuat.


"Bocah, bocah sudah jembutan begini masih dipanggil bocah, oma ngapain ikut-ikutan? Awas saja kamu Rara, aku gilir beneran baru tahu rasa kamu,” ucap Bastian, ia mengambil satu gelas dan menuangkan air minum untuk omanya, dengan asal, sampai tumpah beluber dari gelas.


“Aaah ini lagi.” Bastian memaki gelas yang jelas tidak punya salah, ia berjalan membawanya lagi ke balkon.


“Ni, oma”


“Makasi,” ujar omanya mengulurkan tangannya, tanpa melihat wajah Bastian yang sudah kusut bagai kain lap yang sebulan tidak dicuci.


“Iya,” ucapnya, dengan nada datar, Rara melirik dan tersenyum kecil, ia tahu lelaki berkulit putih itu sedang dalam kemarahan, terlihat dari gayanya yang memasukkan, ke dua tangannya ke dalam saku celana pendek yang ia kenakan, lalu Bastian menatap janan ibu kota, sorot matanya menggambarkan kalau ia marah sama omanya.


Namun, ia tidak bisa mengungkapkan, ia hanya bisa diam dan menahan perasaan.


‘Aku yakin ia sudah sangat marah, diledek sedikit lagi, aku yakin ia akan meledak, aku lebih baik diam, dari pada dapat masalah’ ujar Rara dalam benaknya ia fokus pada Omah Bastian.


Bersambung.

__ADS_1


BANTU LIKE VOTE DONK KAKAK JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL PAVORIT JUGA IYA


AGAR VIWERS NAIK . TERIMAKASI


__ADS_2