
Saat Bastian keluar rumah, menemui ibunya di kantor polisi, Rara merasa tidak enak tinggal di apartemen Bastian.
‘Bagaimana aku akan duduk dan tidur tenang di apartemen ini, saat aku bertengkar dengan pemiliknya dan ibunya’ ucap Rara dalam hati.
Walau kontrak kerja yang mereka sepakati dua tahun lamanya, tetapi saat ini Rara merasa tidak enak hati, kalau harus terus bertahan, di rumah majikan yang orang tuanya ia penjarakan.
“Baiklah, untuk sementara waktu mungkin aku keluar dulu dari sini, jika waktunya sudah membaik, nanti aku akan kembali”
Rara memasukkan beberapa lembar pakai miliknya ke dalam tas ransel miliknya dan ia keluar setelah membereskan pekerjaan rumah. Tetapi saat ia menutup pintu hendak keluar.
Tiba-tiba seorang Lelaki bertubuh tinggi besar, berdiri di depan pintu.
“Astaga! Anda membuat saya kaget” Rara mundur satu langkah.
“Maaf, apa ada Bastianya, Mbak?”
“Lu, siapa?” tanya Rara walau ia sudah tahu siapa lelaki, ia sudah beberapa kali melihat di berita gosip para artis, tetapi Rara bersikap pura-pura tidak kenal.
Ia adalah Kenzo Gumala, seorang aktor , sekaligus penyanyi. Kedua alis lelaki itu menyengit saat Ara pura-pura tidak mengenal aktor berpostur tinggi tersebut.
“Mbak, tidak kenal, gue?”
“Maaf, tidak.” Rara memang ahlinya bagian mematahkan semangat orang lain. “Tapi Pak Bastiannya tidak ada.” Rara berjalan meninggalkan apartemen Bastian, setelah ia mengunci pintu dan menyangkutkan tali tas rangsel di punggungnya. Kenzo mengikuti Ara turun, ia berjalan di samping.
“Tapi Bastianya kemana, Mbak?”
“Tidak tahu soalnya dia tidak melaporkan padaku dia mau pergi kemana. lo bilang tadi siapa? temannya, kan, lalu kenapa tidak meneleponya?”
“Oh, baiklah kalau tidak ada,” ucap Kenzo dengan satu tangan mengaruk bagian belakang kepalanya, ia berpikir baru kali ini ia diabaikan seseorang.
Rara, berjalan acuh dengan gaya cuek bebek, mulutnya sibuk mengunyah permen karet, sebelah lengan kemeja panjang bermotif kotak-kotak itu, ia gulung sampai ke sikut.
Saat tiba dalam lift kenzo tanpa sadar menatap penampilan asburd Rara.
‘ini sebenarnya pembantu apa bukan sih, bagaimana Bastian bisa memperkerjakan pembokat model kayak beginian’ ucap Kenzo masih memperhatikan penampilan Rara yang berdiri disampingnya, ia tidak tahu orang yang ia tatap rendah itu, seorang Rara Winarti yang dijuluki teman kuliahnya dulu si singa betina, karena galak dan berani.
“Lo punya masalah?” Rara berdiri tepat di depan mata Kenzo, jarak wajahny wanita galak itu ke wajahnya kira-kira dua jengkal.
Seketika tubuh Kenzo mundur ke belakang dan menabrak dinding, saking kagetnya dan ia memegang dadanya dengan kedua tanganya.
“Oh, Tuhan kamu membuatku kaget”
__ADS_1
“Lo, kenapa lihatin gue seperti itu, lu tidak tahu? tatapan seperti ini merendahkan martabat seorang wanita”
“Maaf, Mbak, maaf ….”
Paaak ….!
Satu tendangan keras tepat di batang kakinya, hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan dengan tangan mengusap-usap kakinya yang sakit.
“Auh, auh sakit”
“Jangan lakukan itu lagi pada wanita manapun. Bocah kecil,” ujar Rara.
Ia keluar dari pintu Lift.
Ternyata Kenzo masih mengikutinya, ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Ia tidak tahu dengan mengikutinya akan membuat masalah baru untuknya.
“Hei, kamu panggil aku, anak kecil!?” teriaknya dari belakang Rara. "Lu, tidak tahu siapa gue sih! Kalau lo tahu loe tidak akan macam-macam pas minta tanda tangan"
“Bodoh amat!”
Kenzo, makin kesal karena Rara tidak menghiraukannya , malah berjalan cuek meninggalkan dirinya. Saat semua orang menatapnya dengan teriakan karena ia seorang artis , tetapi Rara malah menendang batang kakinya, Kenzo berlari kecil dengan langkah sedikit pincang, ia ingin mengimbangi langkah Rara,
“Lakukan saja !”
Rara terus berjalan meninggalkannya.
“Gila nih orang,” ujar Kenzo ia berlari lebih cepat dan menghalangi tubuh Rara.
“Kamu mau apa lagiii …,” tanya Rara masih dengan gaya yang super cuek.
“Tunggu, tunggu. Setidaknya kamu minta maaf padaku, karena telah menendangku”
Rara berhenti, lalu menatapnya dengan sinis mendekatkan wajahnya ke depan Ken, lalu ia berkata;
“Dengar .... Suasana hatiku, lagi buruk, kemarin aku baru memasukkan dua orang ke penjara jangan lagi memaksaku memasukkanmu ke rumah sakit”
Rara menginjak dengan sangat keras ujung sepatu Kenzo.
“OH! dasar wanita gila, auh sakit, auh sakit.” Ia melompat kesakitan, sampai-sampai jadi perhatian orang yang melintas di taman apartemen itu.
“Awas minggir, gue udah bilang jangan mengangguku, sekali lagi lo mendekat, gue patahkan tangan itu, jangan menganggu singa betina yang sedang tidur”
__ADS_1
Rara mendorong tubuh Kenzo, untuk minggir dan ia meninggalkannya. Lelaki itu maratapi rasa sakit di kakinya. Dengan kaki yang sudah babak belur, ia berlari lagi mengejar Rara.
“Lo, gak tahu gue, kan? gue juga bisa memenjarakan lu”
“Gue tahu ... lo, aktor yang tidak laku itu, kan?”
“A-a-apa lo bilang, artis yang tidak laku!?” Mata kenzo melotot kaget, sampai ia memegang batang lehernya. Lalu ia mengikuti Rara lagi dengan mulut mengoceh tidak terima di sebut artis tidak laku.
“Aduh, sampai kapan lonmengikuti gue, ini sudah mau di jalan raya, gue khawatir, saking emosi dan tidak bisa, aku tahan, gue takut nanti, mengirim lu ke ruang jenazah, jadi pergilah menjauh, suasana hatiku lagi tidak baik,” ucap Rara membuan permen karet yang di kunya.
“Ok, ok baiklah, mari bicara sebentar”
“Katakanlah cepat, gue ingin pergi”
“Baiklah, aku akan mengantarmu nanti, tapi mari kita bicara sebentar.
Rara menarik napas panjang, lalu ia menganguk kecil.
“Lu mau bicara apa?”
“Ayo kita ke cafe itu dulu untuk ngobrol sambil minum yang dingin,” ucap Kenzo, kali ini ia yang mengalah, karena akhirnya ia sadar, wanita yang ia hadapi bukan wanita sembarangan.
*
Rara menurut, ia berjalan menuju cafe, untuk menenangkan hati Rara yang masih terlihat kesal. Kenzo memesan escream bangkok jumbo ia pernah dengar dari Bastian kalau pembokatnya suka escream rasa vanila. Tidak lupa kenzo juga memesan beberapa macam makanan kecil.
“ Ini makan dulu biar adem hatinya," ucap Kenzo mengelus dadanya sendiri, kali ini, lelaki itu tidak seberani saat bertemu dengan Rara tadi.
Benar saja Rara tidak menolak, ia menarik mangkok escream yang di berikan Kenzo, ia terlihat apa adanya, kalau suka, ia makan, kalau tidak suka ditolak.
“Ngomonglah, kalau escream ini habis, aku juga harus pergi,” ucap Rara, tidak mengalihkan perhatianya dari mangkok ukuran jombo tersebut. Kenzo juga memesan untuknya. Akan tetapi mangkok miliknya ter-abaikan belum disentuh olehnya, ia terlalu sibuk menatap Rara yang punya kebiasaan unik saat makan escream, Rara menuangkan sedikit saos mayonis dalam mangkok escream rasa Vanila itu dan ia menikmatinya.
‘Aneh ini perempuan ... apa rasanya itu, mayonis campur escream’ ucap kenzo dalam hati.
Bersambung.
Jangan lupa kasih like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga.
Mampir ke cerita Tamat juga.
- Cinta Untuk Sang Pelakor
__ADS_1