Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Kemarahan Ibu Bastian


__ADS_3

’Menjadi orang kaya seperti Bastian memang menyenangkan’ Rara membatin dengan bibir  menyeruput kopi di gelas di tangannya, sesekali matanya menatap surat kabar yang tergeletak di atas meja, berita tentang Bastian sudah hilang dari peredaran, kini surat kabar itu kabar itu di isi kabar tentang perceraian artis si A dan  B.


Pukul 09:00Wib.


Baru saja ia selesai membereskan pekerjaan rumah, tidak ada Calvin di rumah rasanya sepi, karena satu minggu ini anak itu menemani harinya, baik Bastian juga demikian ia senang mempunyai teman bermain.


Rara selonjoran di depan tv menyetel film kesukaannya.


Suara pintu apartemennya terbuka, ia berpikir Bastian lah yang datang, tapi dugaannya, salah yang datang ibunya Bastian dengan Olivia, dengan tatapan bengis yang ditujukan kedua tamu yang tak diundang itu,  ia merasa akan ada masalah.


“ Oh selamat pagi Bu, Pak Bastiannya baru saja berangkat.”


“Saya tau, saya hanya ingin bicara dengan kamu,” ujar wanita berpenampilan berkelas itu.


Ia mendekati Rara dengan sorot mata yang sangat tajam dan penuh kebencian dan tiba-tiba yang terjadi.


 Paaak …!


Tamparan keras melayang di pipi Ara tanpa basa-basi dari ibunya Bastian. Ia melayangkan tamparan yang sangat keras di pipi kirinya.


Rara diam karena kebingungan dan tangan memegang pipinya yang memerah, ia bingung karena tiba-tiba ia mendapat pukulan, dari ibu majikannya,  tanpa tahu letak kesalahannya.


“Apa maksud  ini?” suara Rara tegas, ia berani karena ia merasa tidak melakukan kesalahan.


“Kamu masih berani bicara ya, kamu tidak ada takutnya iya!”


“Paaak …!


Ia menampar lagi untuk kedua kalinya, Ara menggenggam tangannya dengan sangat keras . Viona memanas manasi Ibunya Bastian. Membuat wanita itu semakin kalap mendengar cerita kebohongan yang diutarakan wanita bermulut berbisa itu


Rara  menerima tamparan dua kali,  tidak cukup di situ saja, Ibunya Bastian juga menarik rambutnya hingga wajahnya terluka, terkena aksesoris yang dipakai ibunya Bastian.


Ia tidak pernah menduga, ia akan mendapat perlakuan sepeti ini.


Seandainya ia bukan ibunya Bastian, ia sudah mendorong wanita itu dari balkon apartemen itu, sampai terjun bebas kelantai dasar dan tewas. Tapi ia ibu dari bosnya lelaki yang sudah banyak menolongnya, Bastian beberapa kali mengutarakan, kalau ia sangat menyaingi ibunya dan ia merasa kasihan pada ibunya, karena sikap sewenang-wenang omanya.


Tetapi kali ini, tidak mungkin ia balas menampar. Rara hanya bingung dengan sikap bar-bar kedua wanita kaya itu,  karena mereka berdua melakukan penganiayaan padanya tanpa menjelaskan letak kesalahan yang ia lakukan.


Ibunya Bastian menamparnya, sedangkan Olivia menarik rambutnya, Rara bisa saja mengalahkan keduanya hanya sekali tendangan, kerena ia sendiri, bisa bela diri, menjatuhkan kedua wanita itu ke lantai hal mudah untuknya, Tetapi Rara tidak ingin menjadi pihak yang tersangka nantinya, ia melirik cctv ia  itu artinya ia hanya pelu menahan diri sedikit lagi.


“Itu peringatan untukmu, jika kamu masih memanfaatkan anakku, dan kamu dengan pedenya bermesraan dengan anakku. 


Aku … akan singkirkan anakmu dari dunia ini, menjauh dari hidup anakku!” teriaknya dengan suara lantang dengan satu jari tangan diacungkan padanya.

__ADS_1


”Aku sudah banyak mengenal wanita-wanita sepertimu, kamu itu hanya janda gatal yang ingin merayu anakku.”  Ia berteriak bagai kesetanan memarahi Rara.


Rara wanita yang tangguh,  tidak ada sedikitpun raut takut terpancar darinya, ia seperti sudah kebal dengan hal-hal seperti itu, ia hanya diam  dan mendengarkan apa yang diucapkan wanita itu.


Saat ibunya Bastian ingin menanggalkan bajunya . Rara memegang tangan wanita menatap dengan sangat tajam, saat ia melihat dengan tegas raut kemarahan.


“Jangan teruskan lagi atau kamu menyesal. Kamu wanita terhormat harus bertindak dengan dengan cara yang terhormat juga,” ujar Rara.


“Kamu berani ternyata iya”


Paaak …!


Entah berapa kali wajah itu ditampar dengan kuat.


“Ibu tunggu saja,  bagaimana, aku akan mengajari ibu, nanti,” ujar Rara dengan santai.


Tetapi wajahnya sudah terlihat stempel jari-jari tangan.  Ia tidak melawan lagi ataupun menjawabnya, kalau ia melawan,  ia yakin wanita itu akan semakin marah, Viona yang hanya penonton, tapi mulutnya menyemburkan racun dengan segala ucapannya yang penuh kebohongan dan fitnah.


Puas dengan menganiaya Rara, Viona dan Ibunya pergi dan meninggalkannya, rasa sakit di wajahnya tidak sebanding dengan rasa sakit dari dalam hatinya.


Ibunya Bastian melakukan pemukulan dan penghinaan yang bertubi-tubi, bukan hanya padanya tapi pada putranya. Itu yang tidak bisa ia terima. Anaknya tidak salah apa-apa, tetapi ia ikut menerima sumpah serapah dari wanita super galak itu.


’Jangan pikir aku takut, karena kamu kaya’ Ia membatin.


Ia sudah berpikir panjang , rekaman cctv itu yang akan memberinya alat untuk memberi kedua wanita sombong itu sedikit pelajaran .


Kemampuannya sebagai lulusan dari IT bisa membuat satu rekaman cctv jadi satu saksi kuat untuk memberi kedua wanita itu pelajaran.


**


Tidak perlu menunggu lama, bahkan ia tidak perlu menangis atau sedih, ia pergi ke kantor polisi.


Rara, membuat laporan ke kantor polisi hari itu juga dan berkat bantuan hasil visum dari dokter, laporannya langsung ditanggapi polisi. Ia sengaja tidak ingin membocorkannya ke media karena takut dilihat keluarganya nanti.


Tapi untuk Viona, wanita penyihir itu, tadinya ia ingin membuat tambahan memberikan ke media , kejadian memalukan dan sikap murahannya pada Bastian malam itu.


Malam itu ia merengek agar Bastian memperbolehkannya tidur bersama dan merayunya dengan membuka bajunya


Tapi ia berpikir ulang lagi, ia tidak ingin melibatkan Bastian dan tidak ingin lelaki tanpa itu ikut terjerat, ini antara ia dan Ibu Bastian dan Viona.


Setelah melaporkan ke dua wanita itu, ia pulang kembali ke apartemen.


Saat malam tiba, Bastian pulang, wajah lelah ia sepertinya tidak tahu tentang kejadian itu.

__ADS_1


“Kakiku pegal bangat, tolong olesin kakiku minyak gosok dong, Ra”


“Apa ?” tanya  Rara, ia sedang sibuk dengan pikirannya di depan televisi


“Obat gosok, tolong olesin,” ucap Bastian kedua kalinya.


Ia mengeluarkan satu botol dari tasnya, obat gosok untuk digosok ke betisnya. Rara yang duduk di depan Televisi sengaja menutupi luka di wajahnya,


“Masa syuting begituan langsung capek?” Rara mengoles kaki Bastian.


“Kamu gak pernah ikut syuting si Ra, kita bisa sampai lebih sepuluh kali diulang-ulang terus, pokok sampai harus oke, pengen muntah rasanya, apa lagi adegan bermesraan di ulang selama puluhan kali,  jadinya langsung kram,maunya langsung minta pemain pengganti.


Apa lagi sedang syuting  kolosal, sinema kerajaan jaman jaman dulu , harus menaiki kuda dan di ulang terus, udah sakit bangat pelernya karena bolak balik turun naik ke punggung kuda, belum lagi kudanya yang tidak penurut,” ujar Bastian, cerita seperti biasa, tidak tahu apa yang telah terjadi antara ibunya dan Rara.


Mendengar cerita Bastian, Rara ngakak, tetap beberapa lama kemudian, akhirnya Bastian,  menyadari wajah Rara yang terluka.


“Kenapa Ra wajah kamu?” tanya dengan tatapan mata serius, ia ingin mendekat dan ingin melihat lebih dekat lagi. Tapi Rara keburu menghindar.


“Hanya terjatuh dan dan bengkak,” kata Rara tanpa menoleh , ia berlalu ke dapur.


Bastian walau ia penasaran tapi melihat sikap Rara yang menghindar,  ia lebih baik diam.


“ Sudah diobati, Ra?”


“Sudah”


“Kok bisa jatuh begitu sih, bagaimana ceritanya?” Bastian bertanya.


Bukanya mendapat jawaban dari ceritanya. Ia malah izin tidur dan masuk ke kamarnya


“Aku mau tidur mengantuk .”


“Tumben Ra, ini baru jam berapa?”


Biasanya ia hampir setiap malam tidur larut, tapi kali ini ia tidur cepat, Bastian mulai sedikit tahu dengan sikap Rara yang tidak ingin membebani orang lain dengan ceritanya.


Bastian merasakan ada yang terjadi karena vas bunga yang di dekat televisi, mendadak hilang dan waktu. Ia melangkah ke Balkon ia mendapati ada beberapa serpihan beling di pojokan di dalam serokan.


“Ra, kamu jatuh dimana sih sebenarnya, kalau sakit ayo kita ke rumah sakit masa hanya di tempel plester saja!” teriak Bastian dari balik jendela.


”Tidak usah , aku mengantuk memilih untuk tidur saja ,” jawab Rara mencoba untuk menutup matanya, melupakan kejadian tragis yang ia alami hari ini.


Bersambung ….

__ADS_1


Bantu like dan vote dong Kak. Kasih hadiah juga.


Agar viewer naik nih biar ceritanya lanjut.


__ADS_2