
Calvin begitu penurut, karena sikap kalam yang ditujukan Alvin, merasa sangat nyaman dan merasa dekat,
“Mau main ama Om tidak?” tanya Bastian, setelah mereka selesai makan siang.
“Memang boleh Om, kata ibu tidak boleh dipegang-pegang barang milik, takut rusak, nanti ibu tidak punya uang untuk mengganti”
“Kan, mainan nya barang Om.”Bastian mengeluarkan mobil mainan dari kaca pajangan. Bermain bersama, baru kali ini, ia mengeluarkan mobilan panjangnya dan robot-tobot panjangnya
Rara merasa legah, ternyata Bastian bisa menerima anaknya tadinya, ia khawatir mengingat sikapnya yang tidak menyukai orang asing, tapi pada Calvin ia bisa bersikap baik dan ramah. Sudah larut malam mereka berdua masih saja asik bermain.
*
Kali ini ia dan Alvin bermain PlayStation adu balab mobil . Calvin tidak bisa dipandang sebelah mata, ia jago dalam hal itu. Bastian merasa tertantang ketika seorang anak kecil bisa mengalahkannya.
’Mama sama anak, sama sifatnya’ menjadikan semuanya jadi peluang. Ia menantang Bastian balapan mobil siapa menang harus menuruti perkataan yang menang;
“Om. Ayo kita taruhan,” ujar Alvin menantang lelaki dewasa.
“Taruhan apa?” tanya Bastian melirik Rara, hal ini sikap keduanya sama, semua dijadikan taruhan.
‘Mungkin anak ini belajar dari Emaknya’ Bastian membatin.
“Siapa yang kalah akan menuruti apa dikatakan yang menang”
“Ok siap”
Tapi tidak disangka Calvin memperoleh kemenangan, atau mungkin Bastian yang pura- pura mengalah tidak ada yang tau.
“Oh, sekarang apa permintaanmu?” tanya Bastian penasaran dengan permintaan anak lelaki berwajah tampan itu.
“Om jangan marah, iya … harus menuruti iya”
“Baiklah, Om akan, menuruti”
“Ayo kita jalan-jalan, Om”
“Ha …? jalan-jalan kemana?” Bastian melirik Rara.
Ia meminta dibawa jalan-jalan, melihat kebun Binatang, naik kreta gantung seluncuran. Permintaan yang sederhana. Namun, sangat berat untuk seorang Bastian, karena kebun binatang yang disebutkan Alvin bukanlah kelasnya. Sebagai lelaki kaya raya dari sejak lahir, tentu saja keluarganya memberikan segala yang terbaik dan tentu yang bagus.
Bukan kebun binatang seperti yang disebutkan Alvin, kebun binatang yang perhususkan untuk orang-orang kalangan rendah.
Bastian sepertinya berat menerima permintaan Calvin . Karena harus harus bertemu dengan orang banyak.
Tapi ia orang yang gentelemen, tidak ingin mengecewakan alvin, ia menepati semua janjinya pada Calvin.
“Bagaimana kalau tempatnya kita ganti, kita akan jalan-jalan ke tempat yang lebih bagus”
__ADS_1
“Tapi, aku ingin ke tempat yang diceritakan Rio, Bu,” ujarnya dengan bibir maju.
“Apa Rio tetangga nenek ke Ragunan?”
“Hmmm, dia cerita dia melihat semua jenis binatang, ada buaya, harimau, gajah”
“Kebun binatang Ragunan, itu sangat sumpek banyak orang” Bastian menjabarkan.
“Oh salah, tempatnya tidak seburuk itu. Iya kan, Vin.” Rara memanas-manasi anaknya agar tetap pada pendiriannya, iya itu ke Ragunan.
Tempat yang ingin ia kunjungi, tentunya tempat yang berkelas dan gak mungkin ia mau ke tempat yang padat seperti Ragunan.
Kalau biasanya, liburan keluarganya Rara, tidak jauh dari Ragunan dan sekitarnya TMII, Ancol. Tempat wisata murah meriah, apalagi yang bawa emaknya Rara uda dah …. Kalau itu ke Ancol pasti hanya di pinggir pantainya saja biar gratis dan kalau Ke TMII emaknya Rara akan membawanya hanya melihat-lihat rumah adat dari semua Propinsi biar gratiiis …
Kalau diajak kumpulan dari Rt atau diajak teman-teman pengajian emaknya Rara, paling bawa bekal dan tikar dan gerai dan tiduran di pinggir danau ,
Uda, itu saja, emaknya sudah menganggap itu liburan.
Tapi kali ini, berubah sedikit, lelaki kaya raya teman ibunya Alvin, mengajaknya ke tempat permainan terlengkap di Jakarta, bukan hanya untuk bermain, tapi ini bermain sambil belajar. Berada dalam Mall
Tempatnya berada di Jakarta selatan, Salah satu taman bermain untuk anak-anak dengan konsep edutainment pertama di Asia tenggara .
Di sana banyak sekali ditawarkan, seperti Kota yang dipenuhi segala permandian mulai dari permainan profesi seperti polisi, Dokter guru , pemadam kebakaran.
“Tempatnya lebih bagus, kamu pasti tidak menyesal nanti,” ujar Bastian mencoba menyakinkan bocah tampan itu agar liburannya tidak jadi ke Ragunan.
“Ada buaya gak Om?” tanya Alvin dengan tatapan penasaran. Sepertinya cerita tetangga membuat bocah kecil itu penasaran.
Belum juga Bastian meneruskan kalimatnya alvin sudah terlebih menggeleng, rupanya ia ingin melihat buaya secara langung
“Kamu tidak mau …?”Kedua alisnya terangkat, ia pikir kalau ia membawa alvin tempat yang paling mewah anak lelaki berwajah tampan itu langsung mau. Ia tidak tahu kebahagian dan kesenangan seseorang tidak bisa diukur dari kemewahan.
Tetapi, karena Rara yang meyakinkan dan membujuk putranya, akhirnya bocah tampan itu setuju untuk ikut ke tempat yang di pilih Bastian, karena Rara sendiri masih belum siap batin ketemu dengan orang-orang yang ia kenal dan lebih menyebalkan lagi untuknya. Jika bertemu dengan tetangganya yang bermulut ember. Rara masih merasa malu karena kegagalan pernikahannya dengan duda bulukan, seperti keset kamar mandi, pilihan emaknya.
**
Bastian terlihat begitu senangnya saat Alvin mau menurut padanya, ia makin suka dengan putra pembantunya saat selera mereka berdua banyak persamaan , mulai makanan, hobby.
Saat Tiba di salah satu tempat bermain di mall di daerah Jakarta Selatan.
Bastian juga ikut menemaninya bermain, mereka kompak seperti bapak dan anak, Rara hanya sebagai penonton dan sibuk mengabadikan moment kedua lelaki tampan itu di ponsel miliknya.
‘Untuk bermain di area bermain di tempat pilihan Bastian, mungkin Calvin hanya akan merasakan hanya sekali ini, biarkan ia memuaskan dirinya menikmati permainan ini, karena hanya orang-orang yang berkantung tebal lah mampu ke sini, ujar Rara dalam hati, tangannya tetap mengarahkan camera ponselnya kearah Bastian . Lelaki yang berprofesi sebagai aktor itu tertawa lepas, saat Calvin menabrak mobil yang ia kendarai.
“Dasar … masa kecil kurang bahagia!” teriak Rara, disanggupi tawa lebar dari Bastian.
Tidak cukup hanya menghabiskan duitnya untuk bermain bersama Calvin, ia juga membelikan beberapa baju dan mainan yang tentunya harga membuat Rara mengucek mata, ia berpikir angka yang tertera dalam kertas harganya itu, karena ada belek di matanya. Namun, setelah ia memastikan kalau harga memang selangit, ia mengelus dada. Jiwa miskinnya mulai bergejolak …
__ADS_1
‘Apa hebatnya ni baju, kenapa harus lebih mahal dari emas sih … emang ini baju bisa di bawa terbang’ ia mengoceh dalam hati, dengan bibir mendesis kesal ia memukul baju-baju mahal yang dipajang.
Karena barang yang dipajang sederet itu barang-barang branded. Karena semua barang impor
Tentu saja membuat Rara mupeng( alias muka pengen)
“Kenapa Ra, kok mukanya kesal gitu?” tanya Bastian, ternyata lelaki itu melihat bibir Rara yang mengoceh tidak jelas dan memaki-maki baju yang tidak punya salah itu.
‘Aku kan, jadi pengen kalau seperti ini, Ah …mau’ Rara membatin dengan mata menatap memelas pada majikan kaya yang saat ini bersamanya.
“Kamu kenapa? Sakit perut?” tanya Bastian pura-pura bloon.
“Hadeeeh sakit perut lagi dibilang, sakit mata,” ujar Rara dengan bibir di majukan dengan sikap membujuk, terlihat seperti anak kecil yang meminta mainan pada bapaknya.
“Ah, gak ngerti.” Bastian membelakanginya, ia sibuk dengan Calvin, anak lelaki itu mendapat banyak mainan.
“Buat aku mana …?”
“Belilah”
Sikap Rara yang membujuk Bastian dan kedekatan keduanya mengundang senyum pegawai butik .
“Aku mau juga dibeliin Tas donk,” kata Rara, seorang pramuniaga yang meminta berfoto pada Bastian, menatap Rara dengan tatapan menyelidiki. Ia tahu kalau Bastian artis yang belum menikah dan masih jomblo.
“Beli saja sendiri.”
“Pelit, itu sangat cantik Bastian, kalau Loe pakai black cardnya pasti dapat potongan 50%,” Ia mulai merayu dan membujuk,
“Kamu panggil Loe, Loe lagi, aku sumpal pakai kertas”
“Ok, Ok, aku suka kebablasan kalau lagi pengen sesuatu, itu tas.” Rara menunjuk rak pajangan tas. Tetapi tiba-tiba Calvin mendatangi Rara dengan wajah kasihan, ia melihat ibunya yang membujuk Bastian dengan raut wajah sedih, padahal ia hanya ber akting.
“Ibu mau beli itu, pakai duit Calvin saja bu.” tangan kecilnya memberikan duit lecek 5000 dari saku celananya.
“Oh anak ibu baik sekali, berhubung Om Bastian gak mau beliin Ibu, terpaksa ibu pakai duit dedek, iya,” ujar Rara dengan licik, mata Calvin menatap Bastian dengan mata sendu, seolah-olah ia memohon untuk di belikan juga sama ibunya.
“Dasar ibu yang licik” Ia tidak ingin mengecewakan Alvin, ia menarik duit lima ribuan dari tangan Rara dan mengembalikan pada Alvin.
“Sini, balikkin duitnya, iya sudah sana beli,” Bastian memberikan kartu miliknya pada Rara untuk membelikan tas yang di inginkan.
“Akhirnya Ibu, punya tas mahal juga, kayak orang-orang” Rara tertawa lebar.
“Karena kamu licik,” bisik Bastian ke kuping Rara, ia sengaja berbisik agar Alvin tidak mendengar.
“Yang penting berhasil, terimakasih,” ujar Rara kembali berbisik ke kuping Bastian.
Ia mengedikkan pundaknya pada Bastian tanda kemenangan.
__ADS_1
Bersambung ….
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa untuk kasih hadiah juga biar bowers naik.