
Maka perdetik itu juga, sahamnya langsung jatuh ke level paling dasar , hingga Kakak lelaki mertuanya terkena serangan jantung. Karena terkejut mendengar berita buruk itu.
“Mampus rasain,” kata Bardi salim terlihat sumringah melihat berita itu, akhirnya keinginannya tercapai, perusahaanya akhirnya lepas dari benalu seperti Pangestu group. Itu semua berkat kejeniusan otak menantunya Rara Winarti.
“Makasih nak Ara, berkat kalian Bapak kini bisa hidup tenang bahkan mati sekalipun, sudah siap.” Kata Pak Bardi salim dengan wajah terlihat seperti hampir menangis, karena rasa sakit selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun akhirnya terobati. Karena selama ini bukan hanya istrinya yang menekannya semua keluarga istrinya ikut mengatur hidupnya. Bahkan di perusahaanya tidak boleh kelurganya bekerja . itu semua karena keluarga Pangestu group tidak memperbolehkan, maka saat itu ia merasa sudah lepas dari belenggu pengikat itu.
“Sama-sama Ayah, itu juga karena Ayah mempercayai Ara, makannya bisa tercapai semua itu, tapi Rara khawatir Bastian belum bisa di hubungi.”Kata Rara mencoba menghubunginya tapi ponselnya belum aktif.
“Percayalah. Ia tidak kenapa-kenapa . Ia hanya ditahan, mungkin agar tidak ikut untuk rencana hari ini, Itu pasti kerjaan ibunya jangan khawatir ia tidak akan kenapa-napa, tapi untuk mengantisipasi saya sudah suruh orang saya menyusulnya ke Bali, berikan saja titik lokasinya biar orang saya yang bekerja,” kata Bardi terlihat jadi muda lagi. Setelah kemenangan besar mereka.
Tapi tiba-tiba ibu mertuanya masuk keruangan suaminya. Ruangan Direktur ruangan yang akan ditempati Rara nantinya.
“Ini tidak boleh, bagaimana anak kampung ini, bisa jadi Direktur di perusaan ini,” Teriaknya seperti kesehatannya.
Mario, Sukma dan pengacara baru pak Bardi terlihat terkejut. Tapi Buat Rara dan Bardi salim menganggapnya radio rusak, karena sudah tau sikapnya.
“Kamu siapa? apa hak mu diruangan Ibu Direktur ini.” Kata Bardi salim melihat istrinya seperti orang lain bahkan terlihat seperti tatapan jijik menatap dan tatapan seperti mengintimidasi.
“Apa, kamu memilih wanita kampung ini dari pada anakmu sendiri?.” Teriaknya lantang dengan jari tangan menunjuk rara dengan kasar.
“Loe sendiri yang menyembunyikan Bastian, entah dimana, terus apa yang loe tuntut, dasar wanita gila, usir manusia gila ini dari sini .”
Kata Bardi terdengar sangat kasar dan kata-katanya sangat menyakitkan untuk seorang istri
Rara sendiri tidak tahan mendengarnya, ia lebih memilih menjauh menatap keluar melalui jendela.
“Bukankah nada bicaramu itu tidak terlalu kasar? Untuk seorang istri dan ibu anakmu,” katanya , suaranya terdengar bergetar mungkin ia malu karena di perlakukan kasar di depan para pegawai.
__ADS_1
“Tidak , untuk wanita jahat dan gila sepertimu tidak, aku juga ingin bilang sekalian , pergilah ke pengadilan karena pengacaraku akan mengurus perceraian kita,”
Kata Bardi salim tiba-tiba.Membuat wanita itu terdiam.
Miris mendengarnya, kenapa aku harus berada di sekitar orang seperti ini sih, kata Rara dalam hatinya matanya menatap sedih kearah jalanan di samping kantor, tapi pikirannya merindukan Bastian sekuat apapun ia berdiri bertahan dan melawan hingga memperoleh kemenangan .
Tapi tetap saja di sisi lain hatinya sebagai seorang wanita dan seorang istri, ia butuh dukungan suami dan butuh pelukan suaminya, saat ini ia merasa letih, ingin rebahan di pelukan Bastian, ia menyeka matanya, ia sangat merindukan suaminya.
“Kamu pikir aku mau? Mari sengsara sampai mati, aku tidak akan membiarkanmu senang sendirian, jika aku mau bercerai dengan kamu, itu artinya aku membiarkanmu dan memberi kebahagian padamu dengan wanita itu,” katanya dengan tegas.
Mendengar hal itu Rara terkejut, bukan karena ia mendengar ibu mertuanya menyebut Wanita simpanan, lalu hal itu ia sudah tau jauh sebelum ia menikah dengan Bastian.
Bahkan rumor itu sudah beredar luas lingkungan kantor, banyak bilang kalau pak Bardi sudah memiliki anak dari wanita lain. Itu juga membuat Bastian selama ini tidak akur dengan ayahnya
Tapi disisi lain, tidak bisa menyalahkan Bardi Salim siapa yang tahan dengan sikap sombong Hartati. Ia menganggap semua orang harus tunduk padanya termasuk suaminya. Sebagai lelaki Bardi Salim tidak mau menuruti keinginan istrinya.
Bukan hanya Rara yang dibuat kaget Sukma juga, ia malah tambah bersemangat kalau ia juga tidak akan memberi kemudahan pada suaminya . Ia juga berpikir akan memberi pelajaran hidup pada suaminya yang sudah mengkhianatinya. Lelaki tukang selingkuh perlu di kasih pelajaran kata Sukma dalam hatinya.
Kali ini ia menatap tajam kearah Rara dengan tatapan mata kemarahan, ia tidak terima kalau kalah oleh wanita yang dianggap kampungan selama ini.
“Dengar, aku belum menyerah padamu, jangan kamu pikir kamu sudah menang dariku,” ia menatap mendekat dan menatap tajam ke Rara.
“Ibu, kenapa tidak berhenti saja, apa ibu tidak malu? Semua orang mungkin sudah menonton ibu berteriak-teriak tadi, ibu berselisih dengan keluarga ibu sendiri, apa ibu tidak bisa mengalah demi Bastian,” kata Rara bicara baik-baik.
Tapi karena posisi masih marah, ia mendekat ingin menampar Rara, tapi Rara sepertinya tidak ingin diam lagi diperlakukan kasar oleh wanita itu.
“Dasar kurang ajar kamu, masih berani menasehati saya teriaknya mendekat ingin menampar Rara.
__ADS_1
Tapi Rara menangkap tangannya dan menghentikannya.
“Berhenti berlaku kasar seperti itu, saya tidak akan diam terus ibu memperlakukanku dengan kasar dan menyakitiku, saya selalu menghormati ibu, karena saya menantu ibu dan selalu akan menghormati ibu selamanya,” kata Rara. Ia menangkap tangannya ibu mertuanya dan menahannya menariknya dan memeluknya walau dengan paksaan tapi ia berhasil.
.
“Lepaskan saya , aku tidak sudi,” teriaknya meronta tapi Rara menahan ibu mertuanya dalam pelukannya.
“Jika Bastian menyayangi ibu, maka sebagai istri saya juga menyayangi ibu,” kata Rara
Mulut Sukma lagi-lagi mangap melihat kelakuan gila sahabatnya,
“Gila memang Rara, mental baja,” Kata Sukma pelan, Mario dan Sukma saling menatap, baik semua mereka juga sama, tidak ada yang menduga kalau Rara akan membalas pemukulan ibunya dengan pelukan.
“Aku tidak akan pernah menerimamu, kata ibunya dengan suara lemah terdengar bergetar.
“Tidak apa-apa Bu, benci aku sebanyak ibu mampu, tapi tolong jangan bertindak yang bisa membuat Bastian bersedih dan bingung. Karena aku sangat mencintai anak ibu dengan sangat tulus, jika ia bersedih saya juga ikut sedih ” kata Rara masih memeluk wanita dengan begitu erat.
“ Pulanglah bu, biar pak Toni mengantar pulang,’ kata Rara, melepaskan pelukannya, dan menyuruh supir mengantarnya pulang.
Karena kelakuannya gila Rara wanita itu mendadak jinak dan terlihat lemas tidak bertenaga.
Bardi Salim ikut bingung dan hanya menatap istrinya yang mendadak berhenti berteriak dan menurut saat ini.
“Bawa ibu pulang kerumah,” perintah Rara pada pak Toni.
“Iya bu,” Tapi matanya ikut heran, kenapa majikannya bisa jinak seperti itu di tangan menantunya.
__ADS_1
Bersambung