
Rara melabrak Viona karena ia tau Rara benar, Bastian bahkan tidak membela siapapun, ia hanya diam hanya mengawasi dari dekat pintu keluar.
Saat Rara menyuruhnya enyah, Bastian tertawa kecil melihat kemarahan istrinya.
Viona langsung kabur, karena semua ibu-ibu sudah mulai menghujatnya, dan mulai memakai jurus memaki dan meneriakinya.
Ia merasakan saat batu yang ia lempar sendiri memantul mengenai ia sendiri. Saat ia ingin mempermalukan Rara tapi tidak diduga ia sendiri yang di permalukan.
“Maaf aku emosi” Kata Rara menghampiri Bastian
“Tidak apa-apa, itu keren, kamu membungkam mulutnya,” Bastian tertawa kecil
“Kamu tidak marah?.”
“Tidak karena kamu memang benar,” kata Bastian dengan kedipan mata pada Rara
“Tapi saya pikir kamu marah,” Rara menggenggam suaminya dengan yakin tangan Bastian dan dengan pede. Berjalan meninggalkan Mall .
Bastian terlihat membawa tas belanjaan Rara, dan menggenggam tangan istrinya dengan yakin dan langkah dengan langkah Pasti.
Cinta yang indah bukanlah karena ia cantik dan bukan karena ia kaya, Tapi cinta yang pantas kamu perjuangkan cinta yang mampu membawa kamu menuju cahaya, bukan yang menyeret ke dalam kegelapan.
Hal itu yang di pikirkan Bastian saat ini. ia sudah bosan dengan kehidupan lamanya yang yang menikmati kenikmatan dunia dan segala keindahannya dan segala kemunafikan.
Ayah ibunya selalu bertengkar setiap saat, ia di diperhadapkan di tengah antara keluarga ibunya dan keluarga ayahnya. Saat Rara datang menjadi istrinya, ia tidak lagi ragu berdiri di kakinya sendiri.
Ia memiliki keluarga sendiri sebagai pegangannya. Ia tidak lagi harus berpihak pada ibunya dan menyakiti hati kelurga ayahnya. Itu juga alasan ia keluar dari Rumah kelurganya, karena ia tidak ingin di atur-atur harus memihak siapa.
__ADS_1
Karena selama ini baik Ayah dan Ibunya seperti memperebutkannya seperti barang, ia lelah melihat kelakuan kedua orang tuanya yang sering sekali ia menutupi perasaan masing-masing dengan kemunafikan, Di luar terlihat baik-baik saja, di depan orang lain baik di depan rekan bisnis, saling berpegangan tangan tapi sampai di rumah bersikap tidak saling mengenal satu sama lain.
Bahkan tidurpun sampai terpisah, mereka bersikap munafik demi bisnis yang ingin tetap berdiri kokoh tapi rumah tangga di biarkan hancur.
“Kita langsung pulang saja, iya, tadinya masih ada kerjaan tapi gampang, besok kita kerjakan.” kata Bastian masih menggenggam tangan Rara menuju mobilnya.
“Yakin tidak mau kerja lagi? Biar bos tetap kasih contoh buat bawahan Tian, kata rara memangilnya panggilan nama.
“Tunggu deh, kita sudah menikah kan, kamu jangan panggil aku lagi dengan sebutan nama , itu sama panggilan kita sebelum menikah.”
Bastian menuntut Rara memanggilnya dengan sebutan Baru.
“Terus aku harus panggil apa dong,” kata Rara wajahnya terlihat tersipu malu, karena ia tipe wanita yang kaku seperti kanebo.
“Panggil papi boleh,” kata Bastian dengan senyuman menggoda
“Gue gak mau-“
“Baiklah, kalau aku panik biasanya seperti itu” kata Rara masih tersipu malu.
“Tapi aku tidak mau di panggil Mami, sebutan Mami kayak apaan cobaan apa?” Rutuk Rara tidak terima di panggil Mami.
“Terus di panggil apa dong?” Bastian menatap Rara dengan senyuman merekah di wajahnya.
“ Untuk saat ini panggil nama saja dulu, ntar kalau sudah ada dedeknya baru panggil Ayah Ibu,” kata Rara dengan senyuman tersembunyi.
“Oh, jadi di panggil Ibu saja.” Kata Bastian tiba-tiba wajahnya sudah berada di samping Rara saat ia berpaling, matanya saling menatap jarak hanya hitungan beberapa centi meter, nafas hangat dari hidung suaminya menyapu wajahnya. Ia berpaling seketika, tapi tangan Bastian dengan cepat memegang dagu Rara.
__ADS_1
Satu kecupan manis mendarat di bibirnya, ia semakin tersipu malu terkesan seperti anak remaja yang baru mengenal kata Cinta alias cinta monyet.
Bastian menatap gemas melihat tingkah istrinya yang selalu bertingkah malu-malu setiap kali ia mengajak bermesraan.
Ia seperti punya dua tolak ukur dalam dirinya, di setiap kesehariannya ia terlihat tegas dan kritis di setiap tindakan baik dalam pemikirannya. Ia kadang terlihat jauh berwibawa di lihat dari segi tindakan dan keberanian dari suaminya
Tapi di satu sisi, ia terlihat belum berpengalaman dan selalu malu-malu. Umur tidak jadi penentu seberapa banyak pengalaman yang di dapat. Bastian merasa Rara punya dua sisi, satu sisi lembut sebagai istrinya tapi, ia akan tegas dan terlihat jutek dan cuek saat di luar.
Hingga mobil itu melaju meninggalkan, Mall Rara masih bernegosiasi tentang panggilan segala macam panggilan di tawarkan Bastian pada Rara, agar ia tidak memanggil nama jadi kesannya tidak sakral.
Hingga tiba di apartemen, belum juga menemukan keputusan yang valid tentang panggil yang sesuai untuk keduanya.
“Apa dong sayang, kenapa susah bangat memutuskan,” kata Bastian dengan raut memelas pada Rara.
Pantang menyerah sebelum mendapat jawaban, ia mengekor Rara ke dapur ke balkon, “Apa dong sayang, panggil Ami sama umi iya?”
Dengan tarik napas panjang, akhirnya memutuskan, pilihannya “panggil Bunda sama Ayah saja.” Kata Rara akhirnya.
“Gitu dong,” kata Bastian sumringah karena ia tidak ingin di panggil nama.
Saat Rara memilah baju-baju kotor yang akan di giling, Bastian dengan suka rela memegang cucian piring, mereka tidak memakai jasa asisten rumah tangga.
Tapi sebagai gantinya Bastianlah yang membantunya.cinta yang di berikan Rara pada Bastian telah mengubah hidup lelaki itu 180 derajat.
Ia tidak lagi lelaki anak horang kaya yang butuh di layani dan di manjakan oleh banyak uang tapi kali ini, ia berbaur degan kehidupan istrinya yang di ajarkan nilai kehidupan dan kesederhanaan.
Apa kekuatan cinta mereka berdua mempu melawan rencana busuk Ibu mertuanya dan wanita yang menginginkan suaminya? Hanya waktu yang menjawabnya.
__ADS_1
Dan disinilah ujian berat bagi Bastian saat ia harus di suruh memilih membela ibu apa istrinya.
Bersambung