
Ini hari ke Empat Rara berbaring di rumah sakit. sejak hari itu Bastian tidak pernah datang ke rumah sakit, entah apa yang terjadi padanya saat ini.
Ia hilang bak di telan bumi, keluarga Rara tidak habis pikir kenapa ia menghilang saat istrinya berbaring di rumah sakit.
Mereka semua sudah berpikir buruk pada Bastian, bahkan maknya bilang kalau Bastian sengaja meninggalkan Rara karena ia tidak yakin Rara tidak sembuh lagi.
Kenzolah yang selalu datang dan memberikan bantuan, ia pintar, hal yang pertama yang ia lakukan mendekati kedua orang tua, Ken tau mendekati Aisah sangat sulit, maka ia mencoba mendekati kedua orang tuanya.
Bahkan tidak tanggung, ia juga meminta bantuan maminya dan neneknya.
Maka hari itu, seorang dokter paruh baya berpenampilan cantik dan seorang wanita yang lumayan sudah berumur, datang memeriksa Rara.
Aisah tidak tau kalau itu adalah Ibu dari Ken dan neneknya.
“Bagaimana Dok kakak saya?” tanya Aisah dengan sangat sopan pada Dokter.
“Sepertinya ia butuh waktu lama untuk bangun, apa kamu dan keluargamu sanggup membayar biaya rumah sakitnya?” Tanya Dokter, karena pengobatan Rara tidak tanggung-tanggung.
“Tidak apa-apa Dok, lakukan semua yang terbaik buat kakak saya, harta dan uang bisa di cari, tapi kesehatan yang paling utama,”kata Aisah, kata-kata itu keluar dari mulutnya, tapi ada sesuatu yang berteriak dari dalam hatinya, Bagaimana kelanjutan pengobatan kakaknya selanjutnya. Selama ini kakaknya lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka, tapi kalau Rara terbaring di rumah sakit bagaimana kelanjutan pengobatannya, dengan biaya hitungan tiap harinya membuat jantung kembang- kempis.
“Tapi bagaimana kalau ia tidak sembuh selamanya? Apa kalian juga mampu membayarnya?”
Tanya Dokter pada Aisah, saat itulah air mata tumpah dari mata indah itu, mengalir dengan deras.
“Kami akan menjual semua barang-barang dan rumah kami,” kata Aisah dengan sangat lemah.
“Apa kamu ingin pengobatan kakakmu dan operasi jantung babemu semuanya gratis?” Tanya nenek Ken.
“Apa yang ingin nyonya inginkan?” tanya Aisah dengan sangat hati-hati.
“Menikah dengan cucu saya,” katanya langsung ke intinya.
Rara melihat kedua wanita itu dengan tatapan tidak suka, karena memanfaatkan keadaanya.
“Maaf, saya sudah punya orang yang mulai aku sukai nyonya,” kata Aisah.
“Kalau hanya sekedar anda sukai, tapi tidak bisa membantu anda dalam situasi ini apa gunanya,” kata wanita itu lagi.
“Aku menyukai seorang lelaki, bukan dari hartanya nyonya, maafkan aku bila terlalu lancang, bisa anda berdua keluar dari sini,” pinta Aisah.
Aisah merasa sangat jengkel mendengar kedua wanita itu bicara seperti itu padanya, membuat ia sangat marah. Tapi ia tidak tau kalau kedua orang itu, orang tua ken hanya mengetesnya.
__ADS_1
Ternyata kedua wanita itu menemui orang tua Rara, memperkenalkan diri sebagai orang tua Ken.
“Pertama aku meminta maaf Karena harus bertemu dengan cara seperti ini,” kata maminya Ken.
Karena permintaan Ken semua pengobatan Rara akan di tanggung rumah sakit.
Karena rumah sakit itu sebagian milik neneknya Kenzo.
Mereka juga meminta maaf karena telah membuat Aisah tersinggung. Ibunya Ken seorang wanita yang baik dan ramah yang berprofesi seorang Dokter juga.
Berbalik dengan keluarga Bastian. Bastian anak yang baik dan sopan tapi ia memiliki ibu yang seperti penyihir.
Tapi Kenzo, memiliki seorang ibu yang sangat cantik baik ramah dan sederhana, tapi Kenzo hidup layaknya anak yang tidak dapat didikan.
Aisah akhirnya bertemu dengan kedua orang tua itu, kedua orang yang seperti merendahkannya tadi,
“Ini bukan sogokan, nak Aisah, tapi kami ingin membuat kakakmu Rara sembuh dan kami akan membiayai semua biaya rumah sakit,” kata neneknya di depan orang tua Rara.
Tentu saja membuat mata ibunya melotot menatapnya, berharap Aisah langsung mengangguk tanda setuju.
Aisah tau tidak ada yang gratis di Dunia ini, pasti ada imbalan balik yang mereka harapkan darinya, Aisah semakin tidak menyukai Kenzo karena merasa di manfaatkan atas kejadian yang menimpa kakaknya.
Aisah hanya diam tanpa mengangguk, hanya Bu Soimah yang mengangguk terlihat seperti penjilat.
“Aku berharap kamu memikirkannya Nak, Aisah,” kata wanita tua itu dan pamit pulang.
Aisah hanya mengangguk ramah dan sopan tapi dalam hatinya ia tidak menyukai hal-hal yang seperti itu, memanfaatkan situasi dalam keterpurukan mereka.
Setelah kedua wanita itu pergi emaknya langsung memukul kepala Aisah.
“Apa yang kamu lakukan Haaa?” bentaknya dengan marah.
“Kenapa Mak?”
“Kenapa kamu tidak langsung jawab tadi? Apa kamu bisa melunasi biaya rumah sakit kakakmu dan Babe, apa kamu mampu membayarnya?” Makanya, meneriakinya.
“Apa aku harus menerima pernikahan dengan cara seperti itu, mak? Aku harus mengorbankan perasaanku karena uang?”
“Iya harus, Sah, apa kamu akan membiarkan kakakmu menghentikan pengobatan karena tidak ada Biaya, bagaimana dengan Babe.”
Bu Soimah mendesak Aisah, agar menerima pinangan Keluarga Ken supaya pengobatan babe dan Rara lunas.
__ADS_1
“Tidak mak, aku tidak mau, Aku yakin bang Bastian akan datang, ia akan membayar semua itu tanggung jawabnya ia suaminya,” kata Aisah untuk pertama kalinya, ini pertama kalinya, ia membantah emaknya.
“Bastian..Bastian lagi, ia tidaka akan datang lagi, ia meninggalkan istrinya setelah ia tau kalau Rara tidak akan pulih lagi, ia tidak mau repot mengurusnya nanti,”kata Emaknya terlihat emosi.
Tapi Aisah tau bagaimana sayangnya Bastian pada Rara, ia bisa lihat kalau Bastian memang tulus mencintai kakaknya.
Pucuk dinanti ulam pun tiba.
Baru saja ia bahas lelaki berwajah tampan itu sudah tiba tap-“
“Tidak berapa lama Bastian datang, tapi satu hal yang mengejutkan, ia di kawal polisi dan ia berpakaian baju tahanan.
Aisah yang menjaga di kamar itu terkejut di buatnya.
Bastian menangis meminta maaf pada Rara, dengan tangan di borgol, ia meraih tangan Rara terus saja meminta maaf. Bahkan ia juga bersimpuh di ujung kaki Rara karena rasa menyesalnya, karena tidak bisa mendampinginya di rumah sakit.
“Sah, tolong jaga kakakmu iya,” katanya dengan mata yang terlihat di kelilingi lingkaran hitam.
“Apa yang terjadi?” tanya isah dengan dada terguncang.
“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, ini ambil cardku gunakan ini untuk biaya perawatan kakakmu,” katanya, dengan mata sudah di penuhi gumpalan awan. Ia melirik perut yang sudah mengempes itu, pada akhirnya ia menangis lagi.
Para polisi hanya menonton, ikut melihat keadaan Rara yang memprihatinkan polisi itu keluar lagi memberi Bastian waktu.
Bastian masih menangis di samping ranjang Rara.
Aisah belum tau apa yang terjadi pada Bastian dan Bastian juga tidak mau memberi tahunya. Ia mendekati polisinya yang berjaga di luar.
“Maaf pak, apa yang terjadi dengan kakak ipar saya?.”
Kedua polisi itu awalnya hanya melihatnya.
“Saya adik iparnya pak, kakak saya yang berbaring di dalam” kata Aisah.
“Pak Bastian menembak seseorang yang ia duga mencelakai istrinya.”
“Siapa yang ia tembak pak?” Tanya aisah semakin penasaran.
“Saudara Viona,”
“Haaaa!!” Tangannya menutup mulutnya lututnya terasa bergetar. Ia tidak percaya kemarahan Bastian sampai seperti itu.
__ADS_1
Bersambung...