Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bertemu Bastian 2


__ADS_3

“Iya Mey, gini! nanti aku mau ngasih ini sebagai kejutan pada Bastian, ia kembali mengulang-ulang rencana kejutannya untuk suaminya


“Aku akan memberikan testpack ini padanya,” kata Rara menunjukkan ada tiga macam model testpack yang menunjukkan dua garis merah yang artinya positif hamil.


“ setelah aku menunjukkan semua ini, aku yakin ia langsung terharu dan memeluk aku deh, jadi kita pelukan ala tele tabies,” Kata rara dengan tawa lepas, ia menyusun rencana dan sudah menghayal tinggi sampai ke langit ke tujuh.


Itulah yang di khawatirkan Sukma, saat ia terlalu percaya pada suaminya dan mengharapkan banyak hal, saat semua itu tidak terjadi seperti yang kita harapkan, maka hal itu bisa jadi amunisi yang bisa melukai diri kita sendiri


Karena itulah yang dialami Sukma pacaran selama bertahun-tahun tidak menjamin setia .


“Ayo kita pergi aku akan menemanimu sampai ke Hotelnya, aku tunggu di mobil tidak apa-apa,” kata Sukma


“Ok,” kata Rara setuju


Rara lagi-lagi menarik nafas panjang sebelum pergi. Ia menatap sukma , seolah ia mau bilang ke sahabatnya semua akan baik-baik saja.


Sukma membalasnya dengan senyuman. Rara yang akan bertemu dengan suaminya, tapi Sukmalah pihak lebih jantungan, ia beberapa kali memegang dadanya, sebelum menghidupkan mesin mobilnya, Mobil hitam milik Sukma meninggalkan kantor itu dan melaju menuju salah satu Hotel tidak jauh dari Kantor mereka.


Bastian memilih di Hotel dengan alasan tidak mau di lihat orang lain, karena berita tentang kelurga mereka sudah menghiasi berita walau sudah mulai menghilang tapi tetap saja masih sering di buru wartawan, mereka jika pergi harus pakai penyamaran.


Kali inipun Rara terpaksa menutup kepalanya dengan selendang di buat seperti kerudung dan ia juga memakai kaca mata. Untuk menghindari incaran wartawan.


“Sudah sana,” kata Sukma setelah mereka sampai depan Hotel itu.


“Baiklah,” kata Rara tapi terlihat wajahnya juga ada rasa takut, terlihat Rara beberapa kali menarik nafas panjang.


Rara melangkah masuk ke meja Resepsionis Hotel. Wanita berpenampilan rapi lengkap dengan seragamnya, menekan nomor teleponnya dan menghubungkannya ke kamar Bastian dan menyuruh Rara naik ke lantai tiga.


Petugas Hotel mengantar Rara menunjukkan kamar yang di tujuh.


Hotel bercat hijau daun , setelah Rara membacanya ternyata itu Hotel milik keluarganya Bastian. Hotel yang bernuansa pedesaan itu terlihat adem dan banyak ornamen-ornamen pedesaan yang mengingatkan kita seperti di sebuah Desa yang sejuk


Hingga tiba di salah satu Kamar “terimakasih iya,” kata Rara pada petugas yang baik hati itu, setelah dengan baiknya mengantar Rara dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan Rara tentang Hotel itu.


Walau memang pekerjaannya harus melayani tamu hotel, tapi Rara tidak lupa memberi tip pada lelaki bertubuh tinggi itu.

__ADS_1


Karena merasa mendapat perlakuan baik , jadi memberinya tip membuat wajah lelaki itu sumringah karena senang.


Ia menarik nafas panjang, sebelum tangannya mengetuk pintu kamar di mana Bastian tinggal. di tangannya sudah ia pegang tempek kejutan itu, seperti yang sudah ia rencanakan tadi di kantornya, kalau ia akan memberikan benda itu pada suaminya.


Tok,,tok


Tok.tok


Pintunya terbuka.


Bastian terlihat berdiri mematung melihatnya , hanya sebuah tatapan ringan dan senyuman kecil yang ditawarkan untuk Rara, jauh dari dari prediksi Rara, membuat nyali wanita cantik itu tiba-tiba padam


Tapi ia tidak perduli, ia melawan hatinya langsung memeluk Bastian dengan erat. Sampai-sampai tubuh kokoh suaminya mundur beberapa langkah ke belakang, karena dorongan pelukan tubuh Rara yang tiba-tiba.


Rara menangis sesenggukan di pelukan suami, ia menumpahkan isi hatinya, Bastian membiarkannya menangis menumpahkan isi hatinya , tangannya mengusap punggung istrinya.


“Kamu dari mana sih , Bastian, kenapa tidak ada kabar, apa salahku?,” tanya Rara menuntut jawaban.


“Tapi tunggu..” Bastin hanya diam mengusap punggung Rara.


Ia masih belum melepaskan pelukannya. Hingga kaos yang dipakai Bastian basah karena airmatanya.


“Kok, kamu tidak menjawab pertanyaan ku sih ?” tanya Rara. ia melonggarkan pelukannya mata bulatnya terlihat sendu.


Bastian hanya menatap dalam kedalam manik-manik matanya, ada beban yang ingin ungkapkan pada Rara saat itu. Tapi sepertinya rasanya berat


Ia melepaskan pelukannya dengan lembut, melihat itu Rara merasa dadanya sakit. Bastian memperlakukannya berbeda, ia seperti melihat orang asing.


Rara menatapnya dengan sayu, mata itu seolah memohon agar tidak di perlakukan seperti itu.Ia mengepal kuat tangannya menahan guncangan dadanya.


Melihat perlakuan Bastian, tiba-tiba Rara mematung, hilang sudah bayangan rencana yang sudah ia susun lidahnya terasa kaku dan tenggorokan terasa kering .


Hanya satu yang ia takutkan ia takut Bastian meninggalkannya.


“Mau minum apa .Ra?”

__ADS_1


Mendengar itu Rara menatap bingung, melihat Bastian terasa asing, biasanya Ia memanggil Rara sebutan sayang ,kalau tidak bunda, tapi kali ini di panggil dengan sebutan nama, seperti orang asing.


Rara merasa matanya panas melihat sikap acuh Bastin padanya itu sangat menyakitkan,


Baiklah, kalau aku memberitahukan kehamilanku mungkin, ia akan berubah kata, Rara dalam hatinya


“Aku tidak perlu minum,” kata Rara, “tapi aku ingin bicara padamu apa boleh?.” Tanya Rara dengan suara bergetar menahan tangis.


Inikah balasan rasa rinduku selama ini, sikapmu acuh tanpa penjelasan kata Rara dalam hatinya.


“Baiklah, biar aku bicara padamu terlebih dulu, baru kamu , agar kita tidak salah paham,” kata Bastian lagi-lagi tidak berani menatap mata Rara


.


“Baiklah,” kata Rara, ia ingin lari sejauh mungkin dari tempat itu, melihat Bastian yang mengacuhkannya membuatnya ingin cepat menghilang . Ia ingin berteriak melepaskan gejolak hatinya


“Ra, saya minta maaf telah mengacuhkan mu, tidak menelepon selama ini, aku tau itu berat untukmu dan untukku juga,” katanya . “tapi aku harus melakukan itu, demi ibuku,” kata Bastian


Mendengar kata demi ibuku Rara ingin berteriak, jika kamu memikirkan ibumu bagaimana denganku, akulah yang di sakiti ibu disini kata Rara dalam hatinya, belum apa-apa air mata itu sudah melenggang bebas melewati pipinya.


“Ra, jangan menangis aku mohon,” kata Bastian dengan tatapan mata terluka.


“Aku sangat merindukanmu tapi saya tidak menduga aku hanya merasa rindu sendiri,” kata,” Rara dengan tangisan terdengar sangat menyayat hati.


“Bisakah kamu katakana dimana letak kesalahanku, harusnya kamu bertanya padaku, dari pada kamu menduga duga terus mencurigai ku dan mendengar dari orang lain,” kata Rara.


Ia berpikir kalau Bastian marah padanya karena ia menjabat Direktur mengantikan Bastian.


“Bukan masalah itu Ra, aku percaya padamu masalah itu, kamu bukan wanita yang menggilai harta, bukan karena itu Ra, kata Bastian .


“ Tapi ini tentang Calvin


“Terus masalah apa, ada dengan anakku?,” tanya Rara mata menatap tajam Bastian, otaknya jadi berantakan, rencana kejutan dengan kabar kehamilannya jadi buyer dari otaknya, saat Bastian menyebut anaknya Calvin.


“Ada masalah apa?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2