Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Pilihan yang sulit


__ADS_3

Bastian, menyewa orang mencari Rara yang tiba-tiba hilang kontak dengannya, ia baru saja mengakhiri panggilan dari orang suruhannya yang ia suruh mencari ke tempat  tinggal Rara  lagi.


Nomor Rara tidak aktif, bahkan Mario tidak bekerja saat Bastian dan Rara terlibat perang dingin, alhasil bapak satu anak ini kehilangan satu-satunya orang yang tahu tentang Rara  dan putranya.


Karena Rara dan Babenya memutuskan pergi dari rumah emaknya yang ada di Kramat Pulo Dalam, ia pergi dengan ayahnya sejak ibunya mengaku kalau Rara bukan anak kandung.


Bastian merasa gila karena kehilangan kabar tentang Rara, saat ia sibuk dengan pikirannya tiba-tiba nomor tidak di kenal, meneleponnya.


“Halo siapa ini?”


Suara Bastian meninggi.


“Halo siapa ini? Kalau tidak penting saya tutup,” Rara sampai tidak percaya dengan suaranya di ujung telepon yang terdengar membentak


“Halo. Tian ini aku Rara,” saat itulah, ia merasa  dan bisa melihat dengan jelas kalau warna tembok kamarnya biru bukan coklat.


“Ra. Ini kamu? Kamu dimana, apa yang terjadi, apa kamu baik-baik saja?”


“Dengar Bastian, aku baik-baik saja, ponselku rusak”


“Kamu sekarang di mana?” Rara tidak menjawab, jika ia bilang di hotel, ia yakin Bastian akan berpikir  macam-macam.


“Aku hanya ingin mengabari,  aku mau bilang aku dan Alvin  baik-baik  saja, kata Mario kamu mencariku, dengar Tian. Terjadi sesuatu di keluargaku,  Ayahku sakit keras aku ingin membawanya berobat, mungkin dengan waktu yang lama, aku tidak bisa memastikan sampai kapan aku bisa menemanimu untuk bicara hal serius.


Aku minta maaf bila aku banyak berbuat salah padamu,  Maaf bila harus seperti ini jadinya.”


“Ra, Katakan apa yang terjadi, maaf  jika karena aku menolakmu hari itu. tolong jangan marah lagi, ayo kita bertemu aku akan menjelaskan semuanya tentang Yolanda”


“Tian … ini bukan hanya tentang diriku, ini tentang hidup babe dia dalam kondisi yang tidak baik”


“Apa  yang harus aku lakukan?” Suara Bastian benar-benar bergetar.


“Bastian , untuk saat ini, aku tidak bisa menemuimu dan aku tidak punya waktu  memikirkan hal lain selain kesehatan mental babe”


“Apa kamu  akan meninggalkanku Ra?”


“Aku tidak bilang begitu Bastian, aku hanya ingin Fokus pada keluargaku, beri aku waktu sendiri, ibumu benar-benar mengguncang hidup keluargaku”


“Maafkan ibuku Ra, mari kita hadapi bersama aku akan selalu ada untukmu dan untuk Alvin”


“Aku tidak mau ke rumahmu,”


Rara sangat membenci sang ibu mertua yang menyebabkan babe Rara harus menderita seperti itu.


“Tidak, kamu tidak perlu ke rumahku, kita akan membangun istana kita sendiri”

__ADS_1


“Tidak Bastian, untuk saat ini aku hanya ingin bersama babe, tolong mengerti”


“Ra, kamu istriku saat ini, apa aku harus mengingatkanmu untuk hal itu …? Kita bukan pacaran yang bisa gampang minta putus. Kamu istriku Ra”


“Aku tidak merasa seperti itu, aku akan menutupnya Bastian”


“Ra,  tolong jangan seperti ini, aku berjanji aku memperbaikinya, berikan aku kesempatan lagi.” Bastian memohon agar Rara mau bertemu.


Tetapi Rara menolak dengan alasan ingin ke fokus mengurus sang ayah, tidak ingin Bastian menghubungi dan menemukanya ia , membuang kartunya, nomor yang di gunakan untuk menghubungi Bastian.


Bastian terus saja menekan  nomor yang memangil, tetapi sudah tidak aktif lagi, bahkan sebelum  memangil Rara juga mematikan GPSnya.


“Ra, kenapa kamu menghukum dengan berat seperti ini. Ibuku yang bersalah kenapa kamu menghukum juga.


AHHHH …!”


Bastian berteriak marah, duduk putus asa di lantai apartemennya, sejak Rara menjauh darinya hidupnya berantakan penampilannya sangat kacau rumahnya sangat berantakan, ia hanya makan cepat saji dan minum beberapa  botol alkohol untuk mengalihkan pikirannya dari istri dan putranya.


”Aku sangat merindukan Kalian Ra,” ujar Bastian mengusap wajahnya menyingkirkan air yang memenuhi matanya.


Bastian menerima pukulan yang sangat berat lagi untuk kedua kalinya karena sang ibu, pertama ia merasa sangat sakit saat Yolanda meninggalkannya,  Kini ia  merasakan sakitnya di tinggal dan mungkin ini juga tangisan kesedihan paling berat untuknya yang di rasakan lelaki tampan itu


Di sisi lain Rara masih duduk sendiri di kamar hotel, matanya menatap keindahan di luar hotel, tetapi ia merasa sangat sesak di dalam dada.


Saat ia duduk Sukma bangun juga, ia menemani Rara duduk,


“Mey, bokap gue sangat kasihan”


“Ra,  coba kamu berbagi beban dengan Bastian,” ujar Sukma memberi masukan.


“Mey, gua gak butuh keluarga itu, gue gak butuh orang -orang yang mencoba menghancurkan keluarga gue!"


Suasana menjadi hening,


“Maaf Ra, lo pasti berat menghadapi semu ini, maaf kalau gue membuatmu makin kesal,” Sukma mengusap tangan Rara. “ Gue akan selalu mendukung lu”


“ Lo pasti berpikir gue kejam, gue keras kepala atau gue sok jual mahal.” Rara menatap Sahabat masa kecilnya dengan tatapan lemah.


“Lo hanya keras kepala saja kok gak ada yang lain”


“Gue juga pengen bahagia Mey seperti orang-orang, tapi lihat dari posisi gue, ibunya yang tidak menyetujui pernikahan kami,  malah menghancurkan keluarga gue, andai saja babe tidak depresi seperti saat ini, gue akan balas wanita jahat itu”


“Baiklah Ra, gue mengerti mungkin jika gue di posisimu lo justru tidak tau membuat keputusan. Mungkin kalau gue itu  tidak berani  memutuskan mana yang benar seperti yang loe lakukan”


“Ini bukan keputusan yang benar Mey, ini dadakan tidak ada orang yang ingin jauh dari suaminya”

__ADS_1


“Mungkin ini berat untuk Bastian karena saat dia tahu kalau Alvin adalah putranya, tetapi saat itu juga dia tidak bisa menemui putra, bukankah itu tragis, Mey?”


Wanita berkulit putih itu, hanya diam mengangguk, ia tidak menjawab lagi takut ucapannya salah lagi dan membuat Rara bertambah marah, sepertinya wanita bertubuh ramping itu sedang mencari pelampiasan kemarahan dan ia tidak mau jadi tumbal kemarahan Rara, jadi ia memilih aman, diam adalah sikap yang tepat saat itu.


“Gue gak perlu banyak orang di sisi gue, cukup ada dua seperti kalian berdua gue sudah senang,” kata Rara memuji kedua sahabat masa kecilnya.


                     *


Luka dalam hati babe Rara, tidak mudah disembuhkan, ia tidak mau pulang kerumah, apa lagi menemui istrinya.


“Be kita pulang iya”


“Gak Ra, babe ingin hidup bebas menikmati hidup tanpa beban lagi”


Ia  memilih mengontrak satu rumah, dari  pada kembali kerumah istrinya.  Rara memiliki hati yang keras, ternyata menurun dari babenya. Ia tidak mau memaafkan Istrinya yang sudah melanggar janji mereka.


Sebuah janji sebelum menikah, Bu Soimah berjanji tidak akan memberitahukan Rara kalau ibunya yang melahirkannya  bukan  dia. Tetapi ia melanggar, bukan hanya itu bahkan istrinya mengutukki ibunya Rara, itu yang tidak bisa ia terima.


Walau ibunya sudah meminta maaf bahkan meminta maaf pada Rara, tetapi   suaminya tidak menerima permintaan maaf dari  sang istrinya yang sudah bersamanya puluhan tahun.


‘Karena nila setitik rusak susu Sebelanga’ ungkapan itu cocok untuk hubungan orang tuanya.


Lebih pahitnya lagi, babenya terlihat sangat acuh pada Aisah dan Rizky, mereka anak kandungnya juga , tetapi entah kenapa babenya tidak  menganggap mereka. Ia hanya sayang pada Calvin  yang justru tidak ada hubungan darah sedikitpun dengannya.


.


“Beh, Apa Aisah punya salah?” Gadis cantik berkerudung itu terlihat sangat sedih, saat ia gagal membujuk  Babe pulang


“Tidak, Babeh tidak marah, pulanglah,” hanya  itu terucap


“Mpok, tolong bujuk babe, biar pulang kerumah.” Aisah menatap Ara dengan tatapan sendu


“Baiklah aye akan mencoba.” Rara meyakinkan sang adik.


 ”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2