
Bastian mengambil semua tanggung jawan di rumah sakit, mengurus Alvin dan mengurus Rara. Sebelumnya, Rara meminta agar tidak usah memberitahukan keluarganya, karena babe Rara saat itu di rawat di rumah sakit karena penyakit jantung, ia takut kalau ia memberitahukannya keadaan ayah tambah memburuk.
Oleh sebab itu Rara tidak memberitahukannya, ia hanya mengabari keluarganya kalau Alvin ia bawa ke tempat kerja Rara.
Saat Rara bangun dari pingsan, ia buru-buru bangun dan menarik jarum infus di tangannya, keluar menuju kamar Alvin . Anak lelakinya masih tidak sadarkan diri, padahal sudah hampir setengah hari ia berbaring.
“Ra, kamu kenapa bangun?” tanya Bastian
“Bastian, ini sudah hampir malam, tetapi kenapa ia belum bangun?”
“Tenanglah Ra, aku sedang mengurus administrasi nya, ayo kita pindahkan ke rumah sakit yang lebih lengkap, aku sudah meminta dokter keluargaku untuk menyiapkan kamar di sana”
Mendengar dokter keluarga, Rara menggeleng, Bagaimana dengan janji dengan ibu Bastian? Ia sudah berjanji untuk tidak mendekati Bastian. Kini ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit antara perjanjian ya dengan ibu Bastian dan hidup anaknya.
“Rara jangan pikirkan apapun, hal yang terpenting nyawa anakmu,” ucap Bastian.
Rara belum sempat menjawab apa-apa, Bastian sudah bertindak cepat ia melunasi semua biaya rumah sakit dan mengurus ke pindahan Alvin.
Saat memindahkan Alvin ke mobil ambulan Bastian menutup wajah Rara membawanya ke dalam dadanya dan tidak membiarkan Rara melihat Alvin diangkut ia melakukan itu untuk menjaga kondisi Rara yang akan mengalami guncangan saat melihat Alvin.
“Izinkan aku melihatnya,” ujar Rara berontak dengan sisa tenaganya.
“Dia baik-baik saja Ra, tenanglah,kalau kamu lemah, anakmu akan semakin lemah,” ucap Bastian menahan tubuh Rara agar tidak melihat Alvin dipindahkan ke dalam ambulans. Kepala yang terluka dibalut dengan perban .
“Bastian tolong selamatkan anakku, aku akan mati kalau terjadi sesuatu padanya,” ucap Rara dengan suara parauh.
“Tenanglah, dia akan ditangani dokter terbaik, jangan khawatir,” ucap Bastian. Lelaki itu bertindak seperti seorang suami dan seorang ayah untuk Rara.
“Berjanjilah padaku, kalau anakku baik-baik saja Bastian,” ucap Rara mendongakkan kepalanya ia menatap wajah Bastian dengan penuh harap, wajah yang sangat lemah Rara jatuh di titik ter lemah, saat melihat putranya terluka tidak sadarkan diri, beruntung dia bersama Bastian yang bisa menenangkannya dan mengerti keadaanya.
__ADS_1
“Aku berjanji,” ujar Bastian memeluk tubuh Rara dengan penuh perhatian, walau ia bukan Tuhan yang bisa membangunkan orang yang sudah mati. Tetapi ia percaya pada keyakinannya kalau putra Rara akan bangun dan ia juga menyelamatkan kejiwaan Rara kalau seandainya ia bilang keadaan Alvin memburuk kejiwaan Rara akan terguncang ia akan mengalami serangan kepanikan lagi.
"Dia anak yang baik anak Soleh, Allah akan menolong dia Ra, percayalah" Bastian masih memeluk tubuh Rara, untung rumah sakit hanya sebuah klinik, jadi tidak yang begitu mengenal.
Bastian juga masih mengenakan topi dan kacamata hitam, ia takut suruhan ibunya melihat mereka.
"Dia harus sehat Bastian, aku sudah berjanji pada ibunya untuk menjaganya"
"Iya Ra, dia akan sehat. Tenangkan dirimu"
Setelah mengurus semuanya Bastian membawa Rara naik mobilnya, ia tidak membiarkannya ikut ambulans, dalam mobil Bastian, Rara hanya diam bagai patung wajahnya sangat pucat. Bastian sangat menghawatirkan keadaan Rara maka sebelum berangkat , ia sudah membeli vitamin untuknya.
“Ini minumlah agar kamu kuat, jika kamu kuat putramu yang tampan itu akan pulih, percayalah,” ujar Bastian menyodorkan botol kecil .
Rara tidak mengatakan apa-apa, tetapi tangannya menerima botol vitamin pemberian Bastian, ia meneguknya sampai habis. Padahal Bastian dari pagi sampai malam belum mengisi perutnya dengan makanannya, ia hanya sempat minum air mineral, ia sampai tidak sempat makan karena mengurus ibu dan anak itu.
Saat tiba di rumah sakit Alvin ditangani para dokter ahli dan didukung peralatan yang sangat lengkap.
“Kami sudah mengeluarkan racun dalam tubuhnya dan luka di kepalanya juga tidak terlalu mengkhawatirkan,” ujar dokter.
“Terimakasih dok, terimakasih,” ucap Rara ia sangat terharu,
Bastian, tidak melepaskan tangannya dari pundak Rara, ia selalu memegang tangan Rara, ia hanya takut wanita bertubuh ramping itu jatuh pingsan lagi, maka itu ia bersikap seperti seorang suami bagi Rara.
Padahal kenyataannya, jangankan jadi suami kekasih juga bukan, mereka tidak ada status apa-apa. Tetapi hati keduanya saling mencintai, tetapi harus terpisah karena status sosial. Rara dari kalangan bawah dan Bastian Salim anak konglomerat, bahkan salah satu keluarga terkaya di tanah air, menurut majalah Forbes.
“Kalau Ibu dan Pak Bastian, ingin melihat putranya sudah bisa, kami sudah memindahkannya ke ruangan perawatan," ujar seorang dokter yang masih terlihat muda, tetapi matanya menatap Rara dan Bastian bergantian.
Mendengar seniornya membuat perintah untuk mempersiapkan kamar untuk pasien VIP dari keluarga Salim. Dokter muda itu berpikir kalau Rara adalah istri Bastian.
__ADS_1
Seperti yang ia baca di berita gosip beberapa minggu lalu. Rara tidak menghiraukan tatapan semua perawat dan dokter padanya, karena Bastian membawa Alvin ke rumah sakit yang biasa di gunakan keluarganya.
Rara tidak perduli dengan tatapan mereka, ia hanya peduli putranya. Ia berjalan buru-buru menuju kamar Alvin.
Benar saja Alvin sudah sadar.
“Ibu, Om Tian," panggil Alvin dengan suara lemah, mata indah itu terlihat sangat sayu, ia menatap ibu dan Bastian bergantian.
“Sayang, ibu di sini.” Rara memeluknya dengan tangisan.”Ibu sangat takut sayang, ibu sangat takut,” ujar Rara tubuhnya terguncang-nguncang menangis memeluk Alvin.
“Ibu jangan menangis, aku tidak apa-apa, aku lelaki yang kuat, aku tidak akan meninggalkan ibu,” ujar Alvin. Bastian tersenyum, mengingat dirinya, saat ia masih kecil, kata-kata itu juga yang ia katakan pada ibunya, setiap kali ia sakit.
Bastian saat masih kecil sering sekali keracunan makanan karena alergi yang ia derita, sama seperti Alvin saat ini.
'Melihat mereka seperti ini, tiba-tiba aku merindukan Ibuku' ucap Bastian dalam hati.
Ibunya wanita yang sangat ia cintai di dunia ini. Tetapi, Bastian meninggalkan rumah sudah hampir satu minggu, karena marah padanya.
Kini ia dihadapkan pada pilihan antara ibu yang ia sayangi dan Rara, wanita yang ia cintai, kedua wanita itu sangat berarti untuknya.
'Tidak bisakah aku memiliki keduanya? Kenapa harus memilih? Ibu tidak bisakah kamu mengalah demi kebahagiaanku. Aku sangat mencintai Rara dan Alvin' Bastian bermonolog dalam hati.
Siapakah yang dipilih Bastian ibu yang ia sayangi atau wanita yang ia cintai?
Bersambung.
Bantu like dan vote iya Kakak kasih hadiah juga agar viewer nya naik.
Terimakasih.
__ADS_1