Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bersikap posesif


__ADS_3

Bastian meminta Rara untuk bertemu teman-temannya untuk meluruskan kesalahpahaman  saat di club malam itu, di mana Bastian selamat dan teman-temannya malah tertangkap.


Sebelum  mereka berangkat Bastian sudah membuat peringatan keras pada sang istri.


“Ra nanti tidak usah terlalu akrap sama teman-temanku iya”


“Haaa …?”


“Kenapa  “ha”  aku serius.” Ia terlihat serius.


“Baiklah, tidak ingin ribut Bastian aku lagi malas”


 Sebelumnya ia mampir ke salon  sebentar untuk merias wajahnya , ia tidak ingin mempermalukan Bastian dengan penampilannya.


Rara  butuh waktu sebentar karena riasan yang ia minta hanya riasan sederhana, baru sepuluh menit ia keluar dari salon menuju mobil Bastian.


“Ayo”


“Ha … sudah?” wajah Bastian kaget,  ia berpikir butuh 1 jam dan mungkin lebih seperti wanita kebanyakan,


“Sudah”


“Kok cepat bangat, tapi ….  tunggu.” Ia menatap wajah Rara lalu menarik tissu “ Lap bibirnya, itu terlalu merah, Ra”


Rara dengan cepat mengarahkan wajahnya ke depan kaca dengan alis menyengit.


“Merah dari mana sih, ini warna nude Bastian! Aku tidak suka yang warna mencereng dan warna yang heboh,aku suka warna yang kalem” masih menatap bibirnya dipantulan kaca mobil Bastian.


“Ya, seperti ini ini warna yang kalem  yang cocok sama bibirku”


“Iya,  itu aku maksud …  bibirmu  terlalu cantik , hapus!”


“Lah’ ini tidak  norak , hanya manis,” ujar Rara menarik bibirnya kedalam dengan  mencoba meratakan warna lipstik memainkan bibinya.


“Hentikan ,Ra,”


Bastian menatap istrinya yang terus memamerkan bibir indahnya, kadang sedikit di buat monyong, membuat Bastian tahan napas karena ada keinginan yang lain yang ikut bangun,


“Kenapa sih, kan cantik”


“Justru karena terlalu cantik Rara aku yang  melihatnya ingin menggigitnya, apa lagi  orang lain, hapus,” pintanya  ia tidak suka.


Bastian setelah melakukan malam pertama dengan Rara sikapnya jadi berubah menjadi posesif berlebihan seolah- olah Rara hanya miliknya seorang.


“Gak mau, ngapain kesalon tadi, kalau  di hapus juga.”  Rara tidak mau juga.


Ia memang keras, tapi Bastian ternyata lebih keras kalau sudah jealous, tidak ada kata kompromi,  matanya tajam karena Rara menolaknya perintahnya.

__ADS_1


“Kamu gak mau hapus atau aku yang hapus paksa,” ucap  Bastian masih bertahan dengan pendapatnya,.


“Iyee, ella, ini aja di ributin, sudah ayo jalan,” ujar Rara menyingkirkan tissu  dari samping Bastian.


“Tidak mau hapus sendiri?” Tanya Bastian masih dengan nada tegas.


“Tidak mau” eaa” Rara mengeluarkan lidahnya  meledek Bastian dengan tangganya membunyikan tissu di samping tubuhnya.


“Baiklah,aku punya  cara sendiri menghapusnya,” ucap Bastian


Tidak diduga dengan cepat menahan kedua tangan Rara menekannya di dua sisi , tiba tiba-tiba ia menyambar bibir Rara dengan  mulutnya, ia ***** bibir di hisap sampai benar-benar bersih.


“Bastian,  apa yang kamu lakukan banyak orang di sini!” Suara  Ara terdengar aneh dan tidak jelas, karena tertahan bibir Bastian.


Ia meronta mengeluarkan suara seperti suara kumur-kumur karena Bastian benar-benar menghabisi bibir Rara, ia membersihkan lipstiknya sampai benar-benar bersih dengan mulutnya. Rara merasakan bibirnya berdenyut karena di ***** paksa.


“Sudah,” ujar  Bastian melepaskan bibir  Rara,  kini lipstik warna nudenya benar-benar hilang,  tapi malah merah merona karena di  hajar paksa sama Bastian.


“Sakit, gilaaa …!” Pekik Rara memegang bibirnya  mungilnya,  sekarang, malah  tambah sangat merah , seperti habis makan cabe rawit dan terasa sedikit perih, Ia terkejut dengan sikap posesif Bastian.


“Aku sudah  bilang hapus sendiri, kamu  gak mau.” Wajah Bastian  benar-benar terlihat serius tanpa ada nada bercanda.


‘Eh dasar, kok dia berubah jadi posesif begini sih, dasar suami bocah gila' ucap Rara, ia kembali menatap kaca, membasahi bibirnya dengan lidahnya.


“Hentikan itu,” pinta Bastian lagi.


Tiba-tiba Bastian meminggirkan  mobilnya dan berhenti, lalu  menatap Rara,  tangannya meremas kuat kemudinya seperti menahan sesuatu dari dalam dirinya.


Rara kaget luar biasa, karena ia merasa tidak melakukan apa-apa. Alisnya menyengit  melihat sikap marah Bastian.


Karena pemikirannya tentang sebuah hubungan, lurus-lurus saja dan apa adanya,


Ia tidak tau,  karena Rara cantik, ia takut teman-temannya menggoda Rara.


“Hentikan bibirnya jangan di buat seperti itu,” ujar  Bastian  menatap tegas ke dalam mata Rara.


Mata besar Rara mengerjap-erjap karena bingung, ia tidak mengerti apa maksud suaminya.


Bastian  malah menatap bibirnya saat ini,   semakin menarik membuatnya semakin tersiksa, tangannya  semakin kuat menggenggam kemudinya, menahan hasratnya  yang tiba-tiba datang di waktu yang tidak tepat.


“Apa maksudnya?” Tanya Rara dengan suara pelan seperti berbisik ,  bola mata di putar kanan –kiri.


“Aku tidak tahan melihat bibirmu Ra, itu seperti candu untukku, aku takut menelanmu kali ini,” ucap Bastian  dengan suara pelan.


Ia kembali mendaratkan bibirnya ke  bibir mungil  milik Rara, tapi kali ini dengan sangat lembut dan penuh cinta.


“Tian , hentikan, kita  lagi di jalan ini,” ujar  Rara dengan suara pelan.

__ADS_1


“Harusnya , kamu menurut tadi Ra,” bisik Bastian masih mengecup  lembut dan tangannya memegang dagu istrinya, napasnya berangsur pulih,  ia kembali  tenang dan   bisa menguasai dirinya.


“Jangan membuatku cemburu Ra,” ucapnya menatap dalam wajah Rara.


“Baiklah” Rara menelan savilanya perlahan, ia tidak tahu apa yang ia lakukan tadi membangunkan sesuatu dari tubuh sang suami.


Ia menarik  napas panjang dan kembali menghidupkan mesin mobilnya . Rara masih bingung dalam diam, ketidaktahuannya tentang cinta , membuatnya membangunkan hasrat suaminya. Berdua berada dalam situasi diam, hanya suara mesin mobil yang menderu halus.


Hingga akhirnya tiba di sebuah  café di daerah Sudirman.


                          *


Tiga teman Bastian sudah menunggu, Bambam, Bimo,Kenzo teman –teman dekat Bastian mereka yang ikut tertangkap,  di tempat hiburan malam itu,


Masuk berempat, tapi yang ditangkap polisi mereka bertiga, Bastian selamat  dari razia  malam itu. Itulah yang ingin mereka tanyakan , ia mau  bertemu, karena merasa  tidak salah. Ia bisa selamat karena ada Dewi penyelamat yang menyelamatkannya istrinya.


Tiba di depan  parkiran  Pasific place Mall Bastian  dengan sigap membuka pintu mobil untuk istrinya,


Rara berjalan anggun  dengan tangan  di genggam erat sama Bastian, Ia terlihat modis dengan  baju cardingan  di padukan celana pants. Kalau biasanya ia selalu memakai kaos  yang longgar tapi kali ini. Penampilannya berbeda ia manis, tetapi tetap sederhana,entah kenapa Bastian tidak menyukainya,  setiap kali mata Ara melihat sesuatu,  ia akan  mengikuti arah mata istrinya,


“Jangan jeleletan matanya.” Ia memberi peringatan lagi, saat Ara bertemu mata dengan pria bule yang tampan. Sebagai orang indonesa asli.  saat orang lain senyum harus dibalas dong. Itulah yang pikirkan Rara


Tetapi tidak diduga, prinsip  itupun salah di mata suami tampannya.


Mall Pasific place  banyak lelaki tampan  yang terlihat berkelas bertebaran di dalam Mall .


Rara secara naluri, ia akan  melihat jika ada yang tampan , Hitung-hitung cuci mata,


“Coba aku jalan sama Sukma, dia pasti heboh melihat pemandangan indah seperti ini’Rara membatin


Saat itulah Ia bertemu mata dengan bule tampan lagi. Karena orang  bulenya senyum, maka Ara  sebagai Orang Indonesia yang terkenal dengan keramahannya.  Maka ia juga menjujung tinggi hal itu,  ia  juga membalas senyuman  om bule.


Suami ,brondongnya langsung memasang kuda-kuda  jurus posesif. Tangannya makin menggenggam  tangan Rara dengan erat, dan memakaikannya kaca mata hitam ke  mata Rara.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2