
Bastian meminta Rara untuk bertemu teman-temannya untuk meluruskan kesalahpahaman saat di club malam itu, di mana Bastian selamat dan teman-temannya malah tertangkap.
Sebelum mereka berangkat Bastian sudah membuat peringatan keras pada sang istri.
“Ra nanti tidak usah terlalu akrap sama teman-temanku iya”
“Haaa …?”
“Kenapa “ha” aku serius.” Ia terlihat serius.
“Baiklah, tidak ingin ribut Bastian aku lagi malas”
Sebelumnya ia mampir ke salon sebentar untuk merias wajahnya , ia tidak ingin mempermalukan Bastian dengan penampilannya.
Rara butuh waktu sebentar karena riasan yang ia minta hanya riasan sederhana, baru sepuluh menit ia keluar dari salon menuju mobil Bastian.
“Ayo”
“Ha … sudah?” wajah Bastian kaget, ia berpikir butuh 1 jam dan mungkin lebih seperti wanita kebanyakan,
“Sudah”
“Kok cepat bangat, tapi …. tunggu.” Ia menatap wajah Rara lalu menarik tissu “ Lap bibirnya, itu terlalu merah, Ra”
Rara dengan cepat mengarahkan wajahnya ke depan kaca dengan alis menyengit.
“Merah dari mana sih, ini warna nude Bastian! Aku tidak suka yang warna mencereng dan warna yang heboh,aku suka warna yang kalem” masih menatap bibirnya dipantulan kaca mobil Bastian.
“Ya, seperti ini ini warna yang kalem yang cocok sama bibirku”
“Iya, itu aku maksud … bibirmu terlalu cantik , hapus!”
“Lah’ ini tidak norak , hanya manis,” ujar Rara menarik bibirnya kedalam dengan mencoba meratakan warna lipstik memainkan bibinya.
“Hentikan ,Ra,”
Bastian menatap istrinya yang terus memamerkan bibir indahnya, kadang sedikit di buat monyong, membuat Bastian tahan napas karena ada keinginan yang lain yang ikut bangun,
“Kenapa sih, kan cantik”
“Justru karena terlalu cantik Rara aku yang melihatnya ingin menggigitnya, apa lagi orang lain, hapus,” pintanya ia tidak suka.
Bastian setelah melakukan malam pertama dengan Rara sikapnya jadi berubah menjadi posesif berlebihan seolah- olah Rara hanya miliknya seorang.
“Gak mau, ngapain kesalon tadi, kalau di hapus juga.” Rara tidak mau juga.
Ia memang keras, tapi Bastian ternyata lebih keras kalau sudah jealous, tidak ada kata kompromi, matanya tajam karena Rara menolaknya perintahnya.
__ADS_1
“Kamu gak mau hapus atau aku yang hapus paksa,” ucap Bastian masih bertahan dengan pendapatnya,.
“Iyee, ella, ini aja di ributin, sudah ayo jalan,” ujar Rara menyingkirkan tissu dari samping Bastian.
“Tidak mau hapus sendiri?” Tanya Bastian masih dengan nada tegas.
“Tidak mau” eaa” Rara mengeluarkan lidahnya meledek Bastian dengan tangganya membunyikan tissu di samping tubuhnya.
“Baiklah,aku punya cara sendiri menghapusnya,” ucap Bastian
Tidak diduga dengan cepat menahan kedua tangan Rara menekannya di dua sisi , tiba tiba-tiba ia menyambar bibir Rara dengan mulutnya, ia ***** bibir di hisap sampai benar-benar bersih.
“Bastian, apa yang kamu lakukan banyak orang di sini!” Suara Ara terdengar aneh dan tidak jelas, karena tertahan bibir Bastian.
Ia meronta mengeluarkan suara seperti suara kumur-kumur karena Bastian benar-benar menghabisi bibir Rara, ia membersihkan lipstiknya sampai benar-benar bersih dengan mulutnya. Rara merasakan bibirnya berdenyut karena di ***** paksa.
“Sudah,” ujar Bastian melepaskan bibir Rara, kini lipstik warna nudenya benar-benar hilang, tapi malah merah merona karena di hajar paksa sama Bastian.
“Sakit, gilaaa …!” Pekik Rara memegang bibirnya mungilnya, sekarang, malah tambah sangat merah , seperti habis makan cabe rawit dan terasa sedikit perih, Ia terkejut dengan sikap posesif Bastian.
“Aku sudah bilang hapus sendiri, kamu gak mau.” Wajah Bastian benar-benar terlihat serius tanpa ada nada bercanda.
‘Eh dasar, kok dia berubah jadi posesif begini sih, dasar suami bocah gila' ucap Rara, ia kembali menatap kaca, membasahi bibirnya dengan lidahnya.
“Hentikan itu,” pinta Bastian lagi.
Tiba-tiba Bastian meminggirkan mobilnya dan berhenti, lalu menatap Rara, tangannya meremas kuat kemudinya seperti menahan sesuatu dari dalam dirinya.
Rara kaget luar biasa, karena ia merasa tidak melakukan apa-apa. Alisnya menyengit melihat sikap marah Bastian.
Karena pemikirannya tentang sebuah hubungan, lurus-lurus saja dan apa adanya,
Ia tidak tau, karena Rara cantik, ia takut teman-temannya menggoda Rara.
“Hentikan bibirnya jangan di buat seperti itu,” ujar Bastian menatap tegas ke dalam mata Rara.
Mata besar Rara mengerjap-erjap karena bingung, ia tidak mengerti apa maksud suaminya.
Bastian malah menatap bibirnya saat ini, semakin menarik membuatnya semakin tersiksa, tangannya semakin kuat menggenggam kemudinya, menahan hasratnya yang tiba-tiba datang di waktu yang tidak tepat.
“Apa maksudnya?” Tanya Rara dengan suara pelan seperti berbisik , bola mata di putar kanan –kiri.
“Aku tidak tahan melihat bibirmu Ra, itu seperti candu untukku, aku takut menelanmu kali ini,” ucap Bastian dengan suara pelan.
Ia kembali mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik Rara, tapi kali ini dengan sangat lembut dan penuh cinta.
“Tian , hentikan, kita lagi di jalan ini,” ujar Rara dengan suara pelan.
__ADS_1
“Harusnya , kamu menurut tadi Ra,” bisik Bastian masih mengecup lembut dan tangannya memegang dagu istrinya, napasnya berangsur pulih, ia kembali tenang dan bisa menguasai dirinya.
“Jangan membuatku cemburu Ra,” ucapnya menatap dalam wajah Rara.
“Baiklah” Rara menelan savilanya perlahan, ia tidak tahu apa yang ia lakukan tadi membangunkan sesuatu dari tubuh sang suami.
Ia menarik napas panjang dan kembali menghidupkan mesin mobilnya . Rara masih bingung dalam diam, ketidaktahuannya tentang cinta , membuatnya membangunkan hasrat suaminya. Berdua berada dalam situasi diam, hanya suara mesin mobil yang menderu halus.
Hingga akhirnya tiba di sebuah café di daerah Sudirman.
*
Tiga teman Bastian sudah menunggu, Bambam, Bimo,Kenzo teman –teman dekat Bastian mereka yang ikut tertangkap, di tempat hiburan malam itu,
Masuk berempat, tapi yang ditangkap polisi mereka bertiga, Bastian selamat dari razia malam itu. Itulah yang ingin mereka tanyakan , ia mau bertemu, karena merasa tidak salah. Ia bisa selamat karena ada Dewi penyelamat yang menyelamatkannya istrinya.
Tiba di depan parkiran Pasific place Mall Bastian dengan sigap membuka pintu mobil untuk istrinya,
Rara berjalan anggun dengan tangan di genggam erat sama Bastian, Ia terlihat modis dengan baju cardingan di padukan celana pants. Kalau biasanya ia selalu memakai kaos yang longgar tapi kali ini. Penampilannya berbeda ia manis, tetapi tetap sederhana,entah kenapa Bastian tidak menyukainya, setiap kali mata Ara melihat sesuatu, ia akan mengikuti arah mata istrinya,
“Jangan jeleletan matanya.” Ia memberi peringatan lagi, saat Ara bertemu mata dengan pria bule yang tampan. Sebagai orang indonesa asli. saat orang lain senyum harus dibalas dong. Itulah yang pikirkan Rara
Tetapi tidak diduga, prinsip itupun salah di mata suami tampannya.
Mall Pasific place banyak lelaki tampan yang terlihat berkelas bertebaran di dalam Mall .
Rara secara naluri, ia akan melihat jika ada yang tampan , Hitung-hitung cuci mata,
“Coba aku jalan sama Sukma, dia pasti heboh melihat pemandangan indah seperti ini’Rara membatin
Saat itulah Ia bertemu mata dengan bule tampan lagi. Karena orang bulenya senyum, maka Ara sebagai Orang Indonesia yang terkenal dengan keramahannya. Maka ia juga menjujung tinggi hal itu, ia juga membalas senyuman om bule.
Suami ,brondongnya langsung memasang kuda-kuda jurus posesif. Tangannya makin menggenggam tangan Rara dengan erat, dan memakaikannya kaca mata hitam ke mata Rara.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1