Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Firasat Buruk Rara


__ADS_3

Pagi-pagi di kediaman Rara matahari sudah mengintip dari upik timur, membawa cahaya mentarinya yang siap mengemban tugas untuk memberikan sinarnya untuk dunia.


Sesosok tubuh masih terjuntai dengan malasnya di atas ranjang, ia enggan menggerakkan tubuh gendutnya, tak satu orangpun yang mau mengusik tidurnya, ia akan di biarkan tidur sepuasnya dan akan di biarkan bangun sendiri kalau ia sudah puas dengan tidurnya. Mentari pagi menyapanya dari balik sela-sela gordenya.


Rara membuka matanya dan mencoba mengejap-ejapkan beberapa kali sampai benar-benar terbuka, matanya tertuju pada benda yang bentuknya melingkar yang menggantung di dinding kamarnya, jarum pendeknya sudah bertengger di angka tujuh, dan jarum panjangnya bertengger di angka dua belas.


Sudah pagi ternyata, ah malas untuk bangun, ia meraih ponselnya


Suaminya meneleponnya dengan nafas berat, ia mengangkat teleponnya.


“Selamat pagi, Bunda sayang, apa aku yang membangunkan mu? apa sudah bangun dari tadi? Bagaimana kabar kalian berdua?,” tanya Bastian, dari ujung telepon dengan suaranya yang lembut.


“Tadi sudah bangun, tapi malas untuk bergerak, rasanya ingin tidur terus.” kata Rara ia mulai mengungkapkan unek-uneknya untuk suaminya.


“Sayang, kalau belum ingin bangun tidur-tiduran saja dulu, tidak apa-apa mungkin ia lelah, tidur jam berapa tadi malam?,” tanya Bastian, ia menanyakan semua dari apa yang dimakan, jam berapa ia tidur, apakah sudah minum susu. Ia sangat perhatian pada Rara.


“Aku tidak bisa tidur sampai pagi, karena kamu, aku merindukanmu karena aku membuka mata, kamu tidak ada di sampingku maka itu aku tidak bisa tidur,”kata Rara.


Tiba-tiba Bastian merasa dadanya sesak karena ia merasa bersalah karena, karena egonya tidak ingin menemui bocah itu, walau kadang ia juga merasa tidak adil untuk Calvin karena sesungguhnya karena bukan salah dari anak itu, kebenciannya pada ibu yang melahirkannya lah yang membuatnya sangat membenci Calvin.


“Sayang, maafkan aku iya, aku akan menjemputmu nanti, kita akan pulang kerumah kita,” kata Bastian.


“Tian..!” Panggil Rara dengan suara yang lembut.


“Iya sayang, ada apa?”


“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, kami berdua sangat mencintaimu, maaf bila aku banyak salah selama ini dan selalu merepotkan mu,” kata Rara terdengar sangat sedih dan terdengar seperti pesan terakhir.


Tiba-tiba Bastian merasa bulu tangannya berdiri.


“Ra, kamu tidak apa-apa sayang? tidak ada niat macam-macam?” saat ngomong seperti itu dadanya terasa sesak pikirannya sudah hal yang buruk-buruk, ia mengeluarkan ponsel yang satunya lagi dari saku jaketnya.


Satu lagi ia gunakan untuk menelepon Aisah.


Bastian: Sah, tolong lihatin kakakmu ke atas, tolong ia lagi menelepon aku tapi aku punya firasat buruk, kata Bastian.


Tidak pakai lama aisah langsung berlari kekamar Rara kakaknya masih tidur-tiduran di kasurnya di kupingnya masih menempel ponsel miliknya lagi bicara pada suaminya.

__ADS_1


“Kenapa Sa?.”


“Kaka tidak kenapa-napa?” tanya Aisah dengan wajahnya yang panik,” di ikuti kedua orang tuanya.


“Ada apa kamu berlari,Sah? bikin jantung emak mau copot,” kata wanita itu di tangannya memegang penggorengannya karena ia buru-buru.


“Ada apa?” kata Rara bingung melihat keluarganya berdiri menatapnya.


Bahkan di ujung telepon Bastian mendengar kehebohan yang di buatnya, tapi Bastian hanya ingin memastikan.


“Tadi kata kak Bastian, kakak aneh-aneh,” kata aisah dengan nafas terengah-engah.


“Aneh bagaimana? Ini lagi ngomong sama orangnya,” kata Rara.


“Tian, apa kamu menelepon, Aisah tadi?” Tanya Rara.


“Aku tadi khawatir denganmu Ra, maka itu aku suruh Aisah untuk melihatmu,” Kata Bastian di ujung telepon.


“Lahh, emang aku kenapa..!, jangan khawatir aku tidak apa-apa jangan berpikiran macam-macam,” Kata Rara.


“Tidak apa-apa Mak, Be..! Bastian hanya salah salah paham, tadi saya jawab teleponnya karena baru bangun tidur suaranya terdengar aneh, maka itu ia khawatir karena itu dia menelepon Aisah, sudah pada turun Rara tidak apa-apa,” kata Rara menyuruh keluarganya untuk keluar dari kamarnya.


“Tian..!,” Panggil Rara. dengan suara lembut kata-katanya, lagi- lagi terdengar misterius lagi, sebagai suami Bastian sangat takut.


“Iya sayang,” Jawab Bastian yang sangat lembut.


‘Terimakasih untuk cintamu.”


“Ra, berhenti cara bicaramu menakut-nakutiku,” kata Bastian, lututnya terasa bergetar lagi


Ada apa dengannya sih, Ya Allah ini sangat mengawatirkan.


“Aku akan membawa ibu datang kesana, itu tujuanku pulang kerumah ibu, bukan berarti aku meninggalkanmu, aku ingin Ibu datang kerumah keluargamu sesuai keinginanmu, jadi tunggu kami , iya,” Kata Bastian.


“Benarkah aku sangat senang, sayang, jika aku sudah bertemu ibu nanti bisakah kita foto?” Rara lagi-lagi menuntut ingin berfoto maternity saat kehamilannya.


Bastian terdiam. Baiklah persetan dengan pamali tidak ada itu kata bastian dalam benaknya.

__ADS_1


“Baiklah sayang, ayo kita lakukan.” Bastian akhirnya mengalah.


“Benarkah? Jam berapa nanti datang, jangan lama-lama iya,” suara Rara terdengar sangat gembira


“Nanti aku kabarin, ya sayang, kalau kami mau jemput, ya,” kata Bastian.


Rara turun wajahnya terlihat sumringah, dengan senyuman manis ada hal-hal yang berubah dari prilakunya sejak ia datang.


“Sini duduk kak,” kata Rizki ia membantu kakaknya untuk duduk di meja makan.


“Pagi, be,” kata Rara mengecup pipi lelaki paru baya itu.


Mereka semua saling menatap karena Rara tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.


“Ibu, lagi sangat senang iya?” tanya Calvin menatap ibunya.


“Iya sayang, ibu sangat senang,” kata Rara dengan senyuman lebar yang di pamerkan.


“Apa ada hal yang baik Ra?” tanya Emaknya.


“Iya, aku senang jadi seorang kakak, Aku senang bagian dari keluarga ini, aku senang jadi anak Mak sama Babe dan aku bahagia bangat jadi ibu dari Bastian.


“Terimakasih Be, Mak sudah merawatku dari kecil hingga besar, hingga saat ini, maaf bila dulu Rara nakal sama Mak. Rara belum pernah meminta maaf langsung untuk mak dan kenapa aku jadi nakal, tapi kali ini Rara ingin meminta maaf pada mak sama Babe,”kata Rara dengan derai air mata.


“Ada apa Ra, apa kamu merasa kurang enak badan? jangan khawatir ada kami selalu bersamamu, Kata pak agus melihat Rara menangis hatinya jauh lebih sakit.


Jangan menangis sayang, babe sangat sedih saat melihatmu bersedih saat kamu bersedih aku akan ingat ibu yang melahirkanmu dan aku merasa bersalah padanya, karena kamu tidak saya rawat dengan baik,” kata pak agus dalam benaknya, tanpa sadar air matanya meluncur bebas dari pipinya.


Emak, dulu Ara nakal , karena ingin mencari perhatian dari mak, aku ingin di peluk dan sayang, tapi mak tidak pernah melakukanya, tapi saat aku dewasa aku baru mengerti, harusnya aku bersyukur sudah di rawat. Harusnya aku bersyukur saat itu, karena,Mak mau membesarkanku,”kata Rara ia memeluk wanita itu.


Suasana tiba-tiba sangat sedih dan hujan air mata di rumah itu.


“Kenapa seperti ini Ra? mak juga meminta maaf, tapi mak juga sangat menyayangimu,” kata mak Soimah memeluk Rara dengan tangisan.


Ibunya mencoba mengerti Rara karena ini kehamilan pertamanya ia meminta maaf untuk ibu semacam ritual untuk kemudahan proses kelahiran biasanya.


“Jangan khawatir kakak kami ada untuk kakak disini kata aisah ikut penasaran dan khawatir atas perilaku Rara.

__ADS_1


Apa penyakit depresi kakak parah? Apa penyakit sindrom baby bluesnya kakak Rara memang sudah parah bangat, ini perilaku kakak seperti ingin pergi jauh, tunggu apa kakak Rara ingin ada niat menyakiti diri sendiri,Ya Allah, jangan seperti ini kak gumam aisah menatap kakaknya.


Bersambung...


__ADS_2